
...****************...
Hingga sampai larut malam Rein tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya selalu terganggu dengan ucapan Abian. Dengan susah payah ia meyakinkan anak itu, jika sahabatnya bukanlah seorang pembunuh. Abian memang tidak bilang jika memercayai perkataan Rein, tetapi dari sikap anak itu yang tidak terlalu dingin, Rein berpikir jika Abian sedikit yakin.
Rein mencoba berkali-kali menghubungi nomor Daren, tetapi nomor pria tersebut selalu di luar jangkauan. "Ke mana, sih, ni orang?" decak Rein kesal sambil mencoba lagi menekan tombol panggilan pada nomor yang sama.
"Sial!" Akhir Rein menyerah. Ia membanting ponselnya ke tempat tidur, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Dengan gusar ia mengusap wajahnya dengan kasar. Rein hanya ingin bertanya kepada Daren, tentang peristiwa perampokan yang pernah mereka lakukan di rumah seorang perwira beberapa bulan silam. Rein sudah ingat, waktu itu mereka memang sempat ketahuan oleh pemilik rumah dan Daren sempat adu fisik dengan perwira tersebut.
Rein kabur lebih dulu karena diperintah oleh Daren, dan kejadian setelah itu Rein tidak tahu. Apakah Daren benar membunuh perwira itu? Hingga pagi menjelang, rasa kantuk pun mulai menyerang. Perempuan itu tertidur sebelum adzan subuh berkumandang.
"Gawat! Gue kesiangan lagi." Rein terperanjat ketika kedua matanya terbuka dan langsung mengecek ponselnya. Penunjuk waktu di sana sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sedangkan dirinya belum menyiapkan sarapan untuk Abian.
Rein bergegas keluar kamarnya. Ia langsung menuju dapur hendak membuatkan sarapan untuk Abian. Namun, langkahnya tiba-tiba tertahan saat melihat Abian ternyata sedang makan. Di sampingnya anak itu ada seorang perempuan yang duduk sambil tersenyum. Dia adalah Asti, tetangga sekaligus perempuan yang mencintai sang suami.
"Eh, Mbak Rein. Baru bangun?" Asti yang terkejut melihat Rein langsung berdiri. Merasa tidak enak karena sudah tidak sopan berkunjung di pagi hari tanpa izin yang punya rumah.
Pagi itu Asti membawakan sarapan untuk keluarga Aska. Namun, saat Asti mengetuk pintu, yang membukanya adalah Abian. Dari Abian ia mengetahui jika Aska masih bertugas dan Rein belum terbangun dari tidurnya. Asti pun mengajak Abian untuk memakan sarapannya lebih dulu, karena anak itu harus pergi ke sekolah pukul tujuh.
Rein tersenyum pelik mendengarkan penjelasan Asti. Ia merasa menjadi istri yang tidak berbakti. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba menyerang sanubarinya. Padahal dari awal dia sudah merencanakan untuk mendekatkan Aska kepada perempuan yang kini berada di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, sudah merepotkan, Mbak. Terima kasih atas sarapannya." Rein duduk di samping Abian. Mengusap lembut kepala anak tersebut. Abian hanya melihat Rein sejenak, lalu kembali melahap makanan yang masih ada di piringnya.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kalau aku lagi masak banyak, aku memang sering membaginya ke sini. Kata Mas Aska, masakan aku itu enak. Dia sangat suka masakan aku, loh. Eh, maaf. Mbak Rein nggak tersinggung, kan?" tutur Asti seolah ada arti terselubung dalam kata-katanya itu.
Rein mengulas senyuman. Menatap Asti dari tempatnya yang bersebrangan dengan posisi perempuan tersebut. Mereka berhadapan, tetapi terhalang oleh meja makan. "Memasak memang bukan keahlian aku, Mbak. Tapi kata Mas Aska, ia lebih suka dengan keahlianku yang lain. Mbak ngerti, kan, keahlian apa yang aku maksudkan?" Rein berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. Sebagai perempuan dewasa, Asti tentu tahu apa yang dimaksudkan oleh rivalnya itu.
Asti menekuk wajahnya tidak suka. Baru pertama kali Rein berkata seolah ingin membuatnya cemburu. Padahal sebelum-sebelumnya Rein selalu bersikap seolah mendukung cintanya untuk Aska. Namun, hari ini Rein membuatnya tidak bisa berharap apa-apa.
"Aku pamit dulu, ya, Mbak." Asti memilih pergi daripada lebih sakit hati. Rein tersenyum tertahan. Hatinya begitu senang melihat Asti yang begitu kecewa. Gara-gara kejadian semalam, kini Rein tidak mau kehilangan Askanya.
Setelah sarapan, Abian duduk di teras ditemani Rein untuk menunggu jemputan sekolahnya. Tak ada obrolan di antara mereka. Aska sibuk memainkan permainan di ponsel Rein. Anak itu memang sering melakukannya jika sedang menunggu jemputan seperti itu. Aska belum mengizinkan Abian untuk memiliki ponsel sendiri, karena takut mengganggu waktu belajarnya.
"Aku pergi dulu, Tante." Abian mencium punggung tangan Rein, setelah jemputan sekolahnya tiba. Tangan Rein melambai sampai mobil jemputan itu menghilang dari pandangan.
"Lagi telepon siapa, sih?" Rein tersentak saat ponselnya tiba-tiba ada yang merebut dari arah belakang. Rein tidak sadar jika suaminya sudah pulang.
"Mas, balikin HP aku!" pinta Rein sambil berusaha merebut ponsel miliknya dari tangan Aska.
"Daren? Masih suka hubungin dia, ya?" Aska memasang wajah masam saat melihat nama Daren terpampang di layar depan ponsel Rein.
__ADS_1
Rein berhasil merebut ponselnya berbarengan dengan munculnya pemberitahuan, jika panggilannya tidak terjawab oleh Daren.
"Dia itu sahabat aku, Mas. Kamu nggak bisa nyuruh aku buat ngejauhin dia, ya!" ucap Rein sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
Aska juga melakukan hal yang sama. Ia duduk di samping istrinya. "Tapi kamu udah janji buat nggak mencuri lagi. Kalau kamu masih bergaul sama dia, kamu pasti susah buat berubah."
Semalam Rein juga cerita kepada Aska, jika Darenlah yang mencuri uang yang ada di dompetnya Aska waktu mereka sedang di Mall tempo lalu. Aska sebenarnya ingin marah. Namun, karena ingin istrinya berubah, Aska hanya meminta Rein untuk berjanji agar tidak bergaul dengan Daren lagi. Lelaki itu membawa pengaruh buruk terhadap istrinya tersebut.
"Aku sudah janji sama kamu buat nggak mencuri lagi, tapi nggak pernah janji buat ngejauhin sahabat aku juga. Daren itu udah kayak kakak bagi aku, Mas. Jadi kalau kamu mau maksa aku buat ninggalin dia, aku nggak akan bisa." Rein berdiri hendak meninggalkan Aska, tetapi tangan Aska berhasil mencekal tangan Rein sehingga perempuan itu tidak jadi melangkahkan kakinya.
Aska tidak mau hubungan mereka yang baru saja dimulai, tetapi sudah ada pertengkaran. "Oke, Aku minta maaf. Aku cuma takut kamu kembali ke kerjaanmu yang dulu. Kamu jangan marah, ya!" bujuk Aska.
Rein menoleh pada suaminya. Menatap lekat kedua netra yang memohon dengan tulus. Senyuman di bibirnya pun mengembang sempurna. Hatinya langsung luluh melihat sorot mata itu. "Kamu udah makan?" tanya Rein kemudian.
Aska langsung berdiri ketika sang istri sudah tidak menunjukkan wajah garang. Senyuman manis di bibir perempuan itu menandakan kemarahannya telah hilang. Aska pun berani memeluk tubuh Rein dengan kencang.
"Ih, apaan, sih. Ditanya, kok, malah peluk aku?" protes Rein sambil meronta minta dilepaskan, "engap, tahu!" imbuh Rein saat suaminya tidak mau melepaskan.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
...Minta tolong buat ramein komentarnya, dong. Berasa sepi banget novel ini. Biar aku lebih semangat buat nulis lagi ðŸ˜...