
...****************...
Aska menatap tajam Rein. Menyudutkan perempuan itu dalam kegugupan. Rein jadi salah tingkah melihat Aska yang benar-benar marah.
Sedangkan di sisi lain, Daren tengah duduk di belakang kemudi mobilnya dengan santai. Kedua matanya terpejam sambil mendengarkan musik dengan headset di telinga. Daren memang tidak tidur sepenuhnya, ia hanya mengalihkan rasa bosan saat menunggu sahabatnya selesai berbincang dengan Aska.
Begitu asyiknya Daren mendengarkan musik, sampai-sampai dia tidak tahu jika ada seseorang yang masuk ke dalam mobilnya secara diam-diam lewat pintu belakang. Orang tersebut langsung membungkuk, dan bersembunyi di celah kursi mobil tersebut.
Kembali pada Aska dan Rein. Sepasang suami-istri yang tengah bertengkar itu masih saling diam. Hingga Rein memutuskan untuk segera mengakhiri perbincangan mereka. Rein pamit pada Aska, tetapi lelaki itu malah mencekal tangannya.
"Kamu pikir semudah itu cerai dari aku, Rein," cibir Aska dengan nada sinis. Salah satu sudut bibirnya menyunggingkan senyuman licik.
"Maksud Mas apa?" Rein mengernyitkan keningnya. Satu tangannya berusaha melepaskan cekalan Aska.
"Selain kita tidak bisa bercerai karena kamu sedang hamil, aku juga nggak yakin jika anak itu adalah anak orang lain. Aku yakin jika akulah orang yang pertama menyentuh kamu. Jadi, bisa saja dia adalah anakku."
Kedua mata Rein melotot sempurna. Ia tidak menduga ternyata Aska juga berpikir ke arah sana. Walaupun sudut hatinya merasa bahagia, tetapi Rein tidak boleh mengakuinya.
"Bukan, dia bukan anak kamu, Mas," sanggah Rein sambil menghalangi perutnya dengan tangan.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan? Aku jadi semakin yakin kalau dia adalah anak aku." Seringai tipis masih tercetak di bibir Aska. Tangannya masih setia mencekal tangan istrinya.
"Lepasin, Mas! Aku udah nggak mau sama kamu."
Perkataan itu membuat Aska jadi geram. Ia tarik tangan istrinya, hingga tubuh mereka berbenturan, hingga tidak ada jarak yang memisahkan. Rein menelan salivanya. Kedua matanya mengerjap takut menatap manik tajam milik Aska.
"Jawab jujur, Rein! Dia anakku, kan?" cecar Aska lagi.
Rein sudah kehabisan akal, sepertinya naluri tajam seorang Aska tidak mampu dibohongi olehnya. Tak ada pilihan lain, Rein berpikir jika dirinya harus segera kabur dari lelaki itu.
"Argghhh!"
Aska menjerit kesakitan, saat satu tonjokan mendarat sempurna di perutnya. Rasa sakit yang menghantam perutnya membuat lelaki itu refleks melepaskan tubuh Rein, sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. Rein yang jago bela diri terpaksa melakukannya. Hanya dengan cara itu, Rein bisa lepas dari Aska.
"Maafkan aku, Mas." Rein berkata seperti itu sebelum dirinya lari menuju mobil Daren.
"Rein!" teriak Aska, tetapi sama sekali tidak digubris oleh perempuan itu.
__ADS_1
"Cepat jalan, Ren!" Rein yang sudah mencapai mobil Daren langsung masuk dan duduk di kursi depan, lalu mengguncangkan tubuh Daren agar lelaki itu segera membawanya kabur dari sana.
Tentu saja Daren terkejut dan langsung membuka headset yang menyumpal telinganya. "Kenapa? Ada apa? Dia nyakitin lo?" tanyanya beruntun.
"Jalan dulu! Nanti gue jelasin."
Daren pun menurut. Dia tidak lagi banyak bertanya, dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Terlebih saat dirinya melihat Aska yang sedikit lagi mencapai mobilnya. Lelaki itu hendak menghentikan mobil Daren, tetapi mobil itu tetap melaju dan meninggalkan parkiran.
Aska pun tidak tinggal diam. Ia segera kembali ke mobilnya, berniat untuk mengejar mobil Daren. Namun, saat dirinya masuk ke dalam mobil. Ada sesuatu yang membuatnya kebingungan. Abian menghilang.
*****
"Kok, dia nggak ngejar kita?" ucap Rein sembari menatang kaca spion di sisi mobil tempatnya duduk. Ia memindai kendaraan yang berada di belakang mobil mereka, dan tidak terlihat mobil Aska yang mengejar. Mobil mereka sudah keluar dari area rumah sakit, bahkan sudah terbilang jauh dari rumah sakit tersebut.
Ucapan itu pun sontak membuat Daren mengernyitkan kening. Ekor matanya sejenak melirik pada Rein.
"Lo sebenarnya niat kabur dari dia nggak, sih?" tanya Daren merasa heran. Tadi sahabatnya terlihat ketakutan dan buru-buru meninggalkan Aska, tetapi sekarang malah ingin dikejar oleh suaminya.
"Ehm ... mau kabur, lah. Tapi setidaknya ada scane kejar-kejaran dulu, kek, kayak di drama TV itu." Rein terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rein mencebikkan bibirnya meledek Daren, lantas menghirup napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Rein sebenarnya merasa lega, karena sudah terbebas dari Aska. Ia pun mengusap perutnya dengan lembut. Senyuman manis tersemat kala ia menyapa anaknya tersebut.
"Maafkan mama, ya, Sayang! Mama janji akan berusaha buat kamu bahagia, walau tanpa papa. Suatu saat kamu pasti ngerti kenapa mama lari dari papa kamu, Nak." Rein berbicara sambil menatap perutnya. Membuat Daren melirik perempuan itu sejenak. Rasa kasihan pun menyergap sanubarinya.
"Jangan lupa ada gue juga yang bakalan jagain dia. Lo tenang aja!" ucap Daren.
Rein menoleh sambil tersenyum kepada Daren. "Thanks, ya," ucapnya.
Daren hanya tersenyum tipis, tetapi senyuman itu tiba-tiba pudar lantaran hidungnya mencium sesuatu yang sangat mengganggu.
"Bau apa, nih?" tanya Daren sambil mengendus-endus.
"Nggak tahu." Rein pun mencium bau tersebut. Tangannya refleks menutup lubang hidungnya.
"Lo kentut, ya?" tuding Daren.
"Enak aja. Nggak, kok. Lo kali yang kentut."
__ADS_1
"Nggak, lah. Gini-gini pantatt gue punya etika. Dia nggak pernah sembarangan membuang gas beracunnya," celetuk Daren juga menutup hidungnya dengan telapak tangan.
"Terus ini bau apa?" Rein semakin penasaran. Dia pun melongok ke arah belakang. Seseorang yang bersembunyi bawah kursi mobil pun akhirnya keluar, lalu berkata,
"Ma—maaf, Tante. Tadi Bian yang kentut. Bian lagi sakit perut."
"Bian!" Daren dan Rein terkejut bersamaan. Sampai-sampai Daren menginjak pedal rem secara mendadak. Mobil itu itu berhenti di tengah jalan. Beruntung tidak ada kendaraan lain di belakang, sehingga tidak menimbulkan kecelakaan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Bian?" tanya Rein. Rein dan Daren sama-sama memiringkan tubuhnya untuk melihat anak tersebut.
Abian menatap Rein dan Daren bergantian sedikit takut. Melihat itu Rein pun pindah ke belakang, membantu anak tersebut agar duduk di atas jok mobil.
"Jangan takut, Sayang! Jawab pertanyaan Tante, ya. Kenapa Bian bisa ada di sini?" tanya Rein dengan nada lebih lembut. Posisinya kini duduk bersebelahan dengan Abian.
"Bian pengin ikut Tante," jawab Abian sendu.
"Om kamu tahu?"
Abian menggeleng menanggapi pertanyaan itu.
"Wah, cari masalah baru, nih, anak!" celetuk Daren dari arah depan.
"Tadi Bian lihat Tante masih bertengkar sama Om Aska. Jadi, Bian pikir kalau Tante pasti nggak mau pulang sama kita. Makanya aku diam-diam masuk mobil Om itu. Aku mau ikut sama Tante," tutur Abian sambil menunjuk ke arah Daren.
"Tapi, Bian. Kalau nanti om kamu nyariin gimana? Nanti tante yang kena masalah."
"Pokoknya Bian nggak mau pulang kalau nggak sama Tante Rein," rengek Abian. Tangisnya pun pecah seketika.
Daren berdecak, "Udah, turunin aja di sini! Cari masalah aja, sih," usul Daren sinis.
Mendengar itu Abian ketakutan sambil merangkul erat tangan Rein. Tentu saja Rein tidak tega melakukannya. Sekarang dia bingung harus berbuat apa?
...****************...
...to be continued...
^^^Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya🥰 ^^^
__ADS_1