Pencuri Hati

Pencuri Hati
Keceplosan


__ADS_3

...****************...


Rein yang juga mendengar teriakan Abian tiba-tiba merasa gelisah. Perempuan hamil itu langsung mengunci pintu kamarnya. Hatinya resah dengan keringat dingin yang mengucur deras. Abian pulang tentu bersama Aska. Kenapa mereka pulang tanpa memberikan kabar sebelumnya?


"Bagaimana ini? Kenapa mereka pulang tanpa bilang dulu, sih?" dengus Rein sambil menggigit kuku jari tangannya. Berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Terlalu lama melakukan itu, membuatnya kelelahan. Rein pun mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat gusar sembari mengusap perutnya yang sudah besar.


"Papa kamu pulang, Nak. Tapi mama nggak mau ketemu dia," lirih Rein berinteraksi dengan anak dalam kandungannya. Ia berharap bisa segera kabur dari sana.


****


Sedangkan di luar sana, Aska sudah menyusul sang keponakan ke dalam rumah. Tak lupa ia menyalami kedua tangan orang tuanya dengan sopan. Diikuti oleh seorang perempuan.


"Kamu juga ikut ke sini?" tanya Ranti pada perempuan yang mencium tangannya juga.


"Iya, Ambu. Bian yang minta Asti ikut."


Ranti tersenyum tipis mendengar Asti berkata seperti itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah sekarang Abian sudah bisa melupakan Rein? Dan posisi menantunya sudah terganti oleh seorang Asti? Ia pun teringat dengan Rein yang masih berada di rumahnya. Terlalu bahagia dengan kepulangan cucu dan anaknya, membuat Ranti lupa jika Rein adalah buronan Aska.


"Aku mau ke kamar dulu, Mbu. Tolong antar Asti ke kamar tamu. Biarkan dia juga istirahat dulu," ucap Aska sambil menjinjing tas besar miliknya.


"Eh, sebentar dulu, Aska. Kamu nggak boleh masuk kamar kamu!" sergah Ranti langsung menghadang tubuh anaknya. Pasalnya Rein sedang berada di sana.


Selama ini Rein memang tidur di kamar suaminya. Itu adalah permintaannya sendiri. Jika tidur di tempat tidur suaminya, Rein bisa merasakan jejak aroma tubuh Aska di sana. Dengan begitu, rasa kerinduannya bisa sedikit terobati.


"Kenapa nggak boleh? Itu, kan, kamar Aska?" Aska memicing curiga pada sang ibu. Pun dengan Abian dan Asti yang masih bergeming di tempat yang sama. Seketika suasana pun jadi hening. Ranti bingung mau beralasan apa pada anaknya tersebut. Ranti sudah terlanjur berjanji kepada Rein, agar tidak memberitahukan keberadaannya kepada Aska.


"Kamar kamu masih berantakan, Aska. Masih kotor. Kamu, sih, pulangnya dadakan. Jadi Ambu kamu belum sempat untuk membersihkannya." Bahar ikut menimpali. Sekaligus memecahkan keheningan yang terjadi.


"Nggak apa-apa, atuh. Biar nanti Aska yang bersihkan. Lagian Aska nggak pernah ninggalin kamar dalam keadaan berantakan. Paling juga kena debu dikit doang. Itu mah gampang," cetus Aska sambil melanjutkan langkah, tetapi lagi-lagi berhasil dicegah.


"Ih, biar Ambu aja yang bersihin, atuh, ya! Kamu pasti capek abis perjalanan jauh. Kamu mau istirahat di kamar tamu atau di kamar Ambu?"

__ADS_1


"Mbung, ah! Aska nggak mau. Maunya di kamar sendiri, Ambu. Ada apa, sih? Ada yang kalian sembunyikan dari Aska, ya? Atau ada seseorang yang kalian sembunyikan di sana?" Aska menolak cepat. Rasa curiga semakin menguatkan firasatnya.


"Nggak ada, ngapain kita sembunyiin orang lain. Apalagi istri kamu. Memangnya dia pulang ke sini. Eh ... keceplosan ...." Bahar meringis dan langsung mengatupkan bibirnya, manakala ia baru sadar jika dirinya salah bicara.


"Ari si Abah. Naha ngomong kitu, atuh?" Ranti langsung memukul bahu suaminya dengan keras.


(Itu si Abah. Kenapa ngomong kayak gitu?)


Bahar meringis sakit, "Maaf, atuh, Ambu. Abah keceplosan," ucapnya menyesal.


Tanpa berpikir panjang, Aska langsung bergegas menuju kamarnya. Ia berani menerobos tubuh Ranti yang menghalanginya. Sorot di matanya tersirat kerinduan dan kemarahan pada perempuan yang sedang mereka bicarakan. Siapa lagi kalau bukan Rein. Suasana rumah itu pun menjadi sedikit tegang.


"Gimana ini, Abah? Rein pasti marah sama ambu," ucap Ranti merasa khawatir. Ia juga takut Rein akan ditangkap oleh anaknya tersebut.


"Kita ikutin aja," usul Bahar.


Ranti, Abian, dan Asti pun berjalan bersama menuju kamar Aska.


"Rein, buka pintunya!" Aska menggedor pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Berkali-kali melakukannya, masih belum juga ada jawaban.


"Eleuh, jangan didobrak, atuh! Nanti pintu abah rusak, kamu mau ganti?"


"Satu!"


Aska tidak memedulikan ucapan Bahar yang menentang perkataannya ingin mendobrak pintu itu. Beberapa detik tidak kunjung mendapatkan jawaban, Aska melanjutkan hitungannya.


"Dua!"


"Aska! Kamu jangan keterlaluan! Rein bisa ketakutan kalau kamu teriak terus kayak gitu!" hardik Ranti.


Aska terdiam sejenak. Mengalihkan pandangannya pada wajah sang ibu yang terlihat marah. Namun, hal itu tak menggoyahkan pendiriannya sedikit pun. Aska kembali beralih pada pintu yang mau dia dobrak.

__ADS_1


"Rein, sekali lagi aku minta, buka pintunya! Kesabaranku udah habis, ya. Ti—"


Ceklek!


Sebelum angka tiga disebutkan, terdengar suara seperti membuka kunci pintu dari dalam. Aska menghela napas kasar, dan langsung membuka pintu tersebut dengan tidak sabar.


Pandangan Aska langsung menangkap sosok perempuan yang sangat dia rindukan. Dengan perut yang membesar dan pipi chubby yang menggemaskan. Bentuk tubuh Rein sudah sangat berbeda semenjak mereka tidak bertemu. Aska menatap sengit tubuh itu. Rasanya ingin sekali memeluknya tanpa ragu.


Rein masih terpaku di tempatnya. Berdiri menatap Aska sambil menutupi perut buncitnya dengan telapak tangan. Walaupun hal tersebut tidak berhasil menghalangi pandangan Aska sedikit pun.


"Semuanya keluar! Aku mau bicara berdua dengan Rein," titah Aska pada semua orang di sana.


"Tapi, As—"


"Ambu, tolong. Cukup Aska kecewa karena kalian sudah menyembunyikan Rein dari Aska. Jangan biarkan Aska lebih kecewa lagi, Ambu! Ini urusan rumah tangga Aska. Biarkan kami selesaikan berdua saja." Aska langsung memotong perkataan ibunya yang hendak menyanggah. Akhirnya mereka pun mengalah.


Setelah Aska menutup pintu, keheningan cukup lama melingkupi kamar itu. Rein dan Aska hanya berdiam diri tanpa ada yang memulai pembicaraan. Rein terus menundukkan kepala, tidak berani melihat tatapan Aska yang seolah menusuk retinanya.


"Daren sudah meninggal, tapi sebelumnya dia sempat sadar dan menceritakan semua tentang peristiwa perampokan itu sama aku."


Rein tercekat dan langsung mendongak mendengar penuturan Aska. Tentu saja dia terkejut mendengar sahabat baiknya telah meninggal dunia. Pun dengan kenyataan jika Aska sudah mengetahui siapa sebenarnya penyebab kematian kakaknya.


"Da—Daren meninggal?" tanya Rein gagap. Kedua matanya langsung memupuk cairan bening.


"Iya, lukanya terlalu parah. Jadi dokter tidak bisa menyelamatkan nyawanya pasca operasi dilakukan."


Meluncur sudah butiran kristal yang Rein tahan sekuat tenaga. Dunia seolah runtuh menimpa tubuhnya. Sahabat yang sudah dianggap seperti kakaknya tersebut kini telah tiada. Cita-cita yang sudah digadang-gadang kini terasa percuma. Tubuh Rein merosot seketika. Punggungnya bersandar di tepian ranjang dengan lemas.


"Sekarang aku pasrah jika kamu mau menangkap aku, Mas. Aku akan menggantikan Daren masuk penjara," ucap Rein ketika sudah berhasil meredam tangisnya. Hatinya harus kuat menghadapi kenyataan yang ada. Rein menganggap sosok Aska sebagai abdi negara. Lelaki itu tidak akan pandang bulu dalam menjalankan tugasnya.


...****************...

__ADS_1


...to be continued...


...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya 🥰...


__ADS_2