Pencuri Hati

Pencuri Hati
Kondisi Daren


__ADS_3

...****************...


Daren segera dilarikan ke rumah sakit, sedangkan Aska dan timnya masih mencari keberadaan Rein dan Abian. Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi ketika api berhasil dijinakkan oleh tim pemadam kebakaran.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan orang saya sebutkan tadi?" Aska bertanya pada beberapa anak buahnya dan tim pemadam.


"Kami tidak menemukan siapa-siapa lagi, Pak. Rumah yang terbakar juga sudah diperiksa, dan tidak ada korban jiwa," jawab salah satu di antara mereka.


Aska mengusap wajahnya kasar. Ia kebingungan mencari Rein dan Abian. Ke mana mereka pergi? Apakah mereka diculik oleh orang-orang yang menyakiti Daren? Penyergapan kali ini bisa dinyatakan berhasil, karena tersangka utamanya sudah ditangkap. Namun, Aska masih belum puas, karena tujuan dia bukan hanya Daren, melainkan Rein dan Abian. Tujuan Aska yang kedua adalah menjemput mereka.


"Kalau begitu misi penyergapan malam ini saya nyatakan selesai, karena tersangkanya sudah ditahan. Saya akan pergi ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan target kita. Bripda Heru dan Bripda Deni ikut saya, dan yang lainnya bisa kembali ke markas," titah Aska.


"Siap, Pak!" Serempak anak buahnya menjawab.


...******...


Di sebuah ruangan ICU, Aska berdiri kaku. Di depannya terbaring seorang Daren yang tidak sadarkan diri. Tubuh lelaki itu dipenuhi oleh kabel penyangga kehidupan yang sengaja dipasang oleh dokter. Daren ditanyakan koma, dengan tubuh penuh luka luar dan dalam. Bisa dikatakan, dia ... sekarat!


Hal itu tentu membuat pikiran Aska jadi tidak tenang. Bukan karena mengkhawatirkan Daren, melainkan karena Aska bingung ke mana lagi ia harus mencari istri dan keponakannya. Satu-satunya orang yang bisa dia tanyai, malah koma seperti orang mati.


"Ke mana kamu, Rein?" Aska bermonolog pelan, lalu menghela napas panjang sebelum ia kembali berucap di depan tubuh Daren yang terbaring tidak berdaya itu, "jika kamu memang mencintai laki-laki ini, aku rela melepaskan kamu pergi. Tapi setidaknya izinkan aku untuk menyaksikan anakku lahir ke dunia, karena aku yakin anak yang kamu kandung adalah anakku. Mungkin waktu itu kamu melakukannya karena terikat kewajiban sebagai istri aku. Maaf, karena aku terlalu egois mencintai kamu. Aku janji tidak akan mengambil anak kita. Aku akan selalu berdo'a agar kalian bahagia."


Setelah berkata seperti itu, Aska ke luar ruangan ICU. Ia harus kembali ke markas untuk melaporkan hasil penyergapan yang dia timnya lakukan semalam kepada atasannya.


"Kalian berdua tetap di sini untuk menjaga tersangka. Jika ada sesuatu atau ada yang orang yang mengaku keluarga ingin menjenguknya, cepat informasi ke saya! Tersangka tidak boleh dijenguk oleh sembarang orang. Mengerti!"


"Siap, Pak!" Serempak kedua anak buah Aska menjawab titahnya.


"Oh, iya. Nanti saya kirim dua petugas untuk menggantikan kalian jaga. Kalian boleh pulang setelah mereka datang," ujar Aska lagi.


"Baik, Pak. Terima kasih," sahut salah satu anak buah Aska.

__ADS_1


Aska tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu berjalan pergi meninggalkan rumah sakit tempat Daren dirawat. Sinar mentari sudah menerangi jagat raya, saat Aska meninggalkan rumah sakit tersebut.


****


Setelah kembali ke markas besar dan melaporkan hasil penyergapan, Aska diizinkan untuk pulang. Semalaman dia belum tidur melakukan tugasnya.


Namun, alih-alih mengistirahatkan badan, Aska malah berkeliaran. Lelaki itu memilih untuk mencari istri dan keponakannya berkeliling kota. Berharap bisa menemukan mereka di suatu tempat.


Di saat seperti itu Aska jadi menyesal, karena dia tidak lantas mencari Abian ketika anak itu menghilang. Menunggu Rein mengantarkan Abian pulang adalah suatu kesalahan. Aska pikir Rein akan berubah pikiran karena adanya Abian, ternyata tidak. Perempuan itu lebih memilih untuk tetap bertahan bersama Daren, dan malah membiarkan Abian tinggal bersamanya.


Aska yang merasa jalannya buntu menghentikan mobilnya di bahu jalan. Ia tidak tahu lagi harus ke mana mencari istrinya. Berkali-kali ia meraup wajahnya sendiri. Aska terlihat begitu frustrasi.


Getaran di saku celananya membuat Aska tercekat. Ia langsung merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya yang bergetar di sana.


"Ambu?" gumam Aska, manakala ia melihat layar ponsel yang menunjukkan nama kontak sang ibu yang menghubungi. Aska bergeming beberapa saat hingga layar yang berkelip-kelip itu tiba-tiba jadi redup. Panggilan itu berakhir lantaran Aska tak kunjung menjawabnya.


Namun, beberapa detik kemudian layar itu kembali menyala. Sang ibu kembali menghubunginya, dan untuk kali ini Aska langsung menekan tombol terima.


"Waalaikumsalam," balas Ranti di seberang teleponnya.


"Ambu ada perlu apa telepon Aska?" tanya Aska memuliakan percakapan mereka.


"Nggak ada perlu apa-apa, Aska. Ambu cuma tiba-tiba kangen sama kalian. Gimana sama Rein? Apa dia udah pulang ke rumah kamu?" tanya Ranti yang sebelumnya memang tahu Rein pergi dari rumah Aska.


"Belum, Ambu. Tapi Aska sudah pernah ketemu sama dia. Katanya dia mau tinggal di panti dulu untuk sementara." Aska terpaksa berbohong kepada ibunya, agar perempuan yang sudah melahirkannya itu tidak lagi menanyakan keberadaan Rein.


"Oh, gitu. Ya udah, atuh, nggak apa-apa. Biarin Rein sama keluarganya dulu. Ambu ngerti, kok, perasaan dia. Setelah kejadian ini, kamu harusnya introspeksi diri, Aska. Istri kamu itu bukan boneka yang cuma dijadikan pajangan di rumah aja. Ambu minta Rein buat nikah sama kamu bukan cuma buat ngurus Abian, tetapi jadi biar istri kamu yang sebenarnya. Kamu itu harusnya bisa belajar mencintai Rein, atuh. Dia udah baik selama ini sama keluarga kita. Ini kamu malah nyakitin hatinya dia."


Aska menghela napasnya mendengar nasihat panjang Ranti. Pasalnya, semua yang dikatakan ibunya itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Justru Rein yang meninggalkan Aska, saat lelaki itu sudah menyatakan jatuh cinta pada istrinya tersebut.


Kala itu, Aska pura-pura setuju dengan tuduhan orang tuanya, yang mengira Rein kabur gara-gara disakiti oleh Aska. Lelaki itu tidak punya alasan lain, karena dirinya pun tidak tahu alasan kepergian Rein yang sebenarnya.

__ADS_1


"Iya, Ambu. Aska ngerti. Nanti kalau Rein udah tenang, Aska jemput dia di panti asuhan," ujarnya berbohong lagi.


"Nah, kitu, atuh! Itu baru anaknya Ambu. Eh, Bian mana? Ambu mau bicara sama dia."


Aska tercekat, guratan di keningnya menandakan jika dirinya kebingungan untuk menjawab.


"Aska? Kamu, teh, masih di sana?"


Pertanyaan sang ibu membuat pikiran Aska kembali terjaga.


"Iya, Ambu. Aska masih di sini. Ehm ... tapi Aska lagi nggak lagi sama Bian. Aska lagi kerja, Ambu. Bian di rumah sama Asti."


"Asti masih sering ke rumah kamu? Kamu, teh, kumaha? Jangan biarin si Bian akrab sama Asti, atuh! Nanti kalau Rein tahu, dia bisa cemburu."


"Terus Aska mesti titipin Bian ke siapa lagi, Ambu. Bian nggak bisa dititipin ke sembarang orang," kelit Aska, "lagian itu juga yang Rein mau, biar Asti jadi pengganti dia," Aska melanjutkan kata-katanya dengan nada pelan.


"Kamu, teh, ngomong apa? Ambu nggak denger." Ranti tidak bisa mendengar kalimat terakhir Aska.


"Nggak penting, kok. Ambu, udah dulu atuh, ya. Aska mau lanjut kerja." Aska mengalihkan perhatian ibunya, dan ingin mengakhiri panggilan mereka.


"Ya, udah. Ambu tutup dulu teleponnya. Nanti kalau Rein udah pulang, kabarin Ambu, ya! Ambu mau ngobrol sama dia."


"Iya, nanti Aska telepon Ambu lagi. Assalamu'alaikum."


Setelah mendengar balasan salam dari seberang, Aska menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan. Pikirannya benar-benar dibuat kacau. Bagaimana dia bisa menjelaskan kepada kedua orang tuanya, jika sebenarnya Rein dan Abian menghilang bersamaan?


...****************...


...to be continued...


...Makasih, udah dukung karya othor dengan tekan like, favorit, dan kasih gift dan komentar. Berkah selalu. ...

__ADS_1


__ADS_2