Pencuri Hati

Pencuri Hati
Pura-pura


__ADS_3

...****************...


"Apa Abah yakin ini akan berhasil?" tanya Aska yang tengah pasrah diperban kepalanya oleh seorang perawat. Lelaki itu tengah berada di sebuah klinik kesehatan milik sahabatnya Dhana—kakak kandungnya. Dokter Danu yang mempunyai klinik tersebut sebenarnya tidak setuju dengan usulan Bahar, yang memintanya berbohong perihal kecelakaan yang menimpa Aska. Namun, karena Bahar bilang kebohongan ini untuk menyatukan dua hati yang saling mencintai. Akhirnya dokter itu pun menyetujui.


"Tenang, weh, kamu mah. Abah yakin si Rein pasti langsung menyesal udah cuek selama ini sama kamu. Dia bakalan langsung perhatian lagi sama kamu. Kan, di sana ada si Ambu yang pinter memprovokasi. Ambu pasti bisa bikin Rein mengakui perasaannya sama kamu," tutur Bahar dengan yakin.


Aska menghela napasnya. Semoga saja apa yang dikatakan Bahar benar adanya. Setelah ini Rein akan mengakui perasaannya dan lebih perhatian kepada Aska.


"Udah selesai, Pak." Suara perawat membuyarkan lamunan Aska. Dia pun menoleh dan tersenyum kepada perawat tersebut.


"Terima kasih," ucapnya.


*****


Sementara di sisi lain, Rein yang sebelumnya diajak berbelanja ke pasar oleh Ranti, begitu terkejut saat mendengar kabar suaminya kecelakaan. Katanya, Bahar sudah lebih dulu menemui Aska, dan Ranti bersama Rein secepatnya menyusul ke sana.


"Mang, bisa lebih cepat sedikit, nggak?" pinta Rein pada Umar—adik kandung Bahar yang mengantarkan Rein dan Ranti ke klinik tempat Aska dirawat. Wajahnya terlihat begitu panik, memikirkan bagaimana kondisi suaminya yang tengah terbaring di klinik.


"Ini udah ngebut atuh, Rein. Mamang nggak bisa lebih ngebut dari ini," seru Umar berusaha tetap fokus mengendarai mobil bak terbuka milik kakaknya. Mobil yang biasa dipakai untuk membawa ikan-ikan Bahar ke kota.


"Ya, Allah ... kenapa si Aska nyampe kecelakaan gitu, sih? Biasanya, kan, dia selalu fokus kalau ngerjain sesuatu. Ini pasti ada ada hubungannya sama sikap kamu sama dia, Rein." Ranti berkata dengan nada panik.


Rein sontak menoleh pada Ranti yang duduk berdua dengannya di samping kemudi. "Maksud Ambu apa?" tanya Rein tidak mengerti. Raut kepanikan belum juga luput dari wajahnya, kini ditambah dengan rasa bingung dari perkataan mertuanya.


"Kalau kamu nggak bersikap dingin sama si Aska, mungkin dia nggak akan banyak melamun kalau lagi ngapa-ngapain. Ambu sering lihat anak Ambu itu sering melamun sendiri semenjak ketemu sama kamu lagi. Dia juga pernah cerita, katanya kamu masih jauhin dia. Malah mau bercerai juga. Gimana hidupnya mau tenang, atuh, Rein. Si Aska teh, cinta mati sama kamu. Hati dia udah berhasil kamu curi, jadi kamu harus bertanggung jawab atas semua ini."


Rein menelan salivanya mendengar penuturan Ranti. Apa benar perbuatannya sejahat itu? Rein hanya tidak mau Aska terlalu berharap jika sikapnya masih menunjukkan rasa cinta. Rein harus bersikap seolah dirinya sudah melupakan Aska. Namun, Rein tidak mau jika harus seperti ini hasilnya.

__ADS_1


"Jangan salahin Rein, atuh, Teh! Mungkin saja, kan, si Aska emang nggak hati-hati bawa mobilnya. Rein yang nggak tahu apa-apa disalahin. Kasian, atuh!" Umar yang tengah mengemudi ikut menimpali.


Kedua mata Ranti memicing tajam. Ia yang duduk di antara Rein dan Umar sengaja mencubit pinggang Umar hingga lelaki itu meringis kesakitan.


"Adududuh, Teh. Kenapa nyubit saya, ih? Saya lagi nyetir ini!" protes Umar berusaha menepis tangan Ranti.


"Makanya diem! Nggak usah ikut campur urusan Teteh. Kamu tugasnya cuma nganterin kita ke tempat Aska dirawat. Ngerti!" tandas Ranti penuh penekanan.


"Iya, iya, meni galak pisan!" cicit Umar lalu fokus lagi dengan kemudinya.


Sementara Rein masih sibuk dengan pikirannya. Perempuan yang tengah hamil besar itu masih berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari mulut mertuanya tadi. Aska kecelakaan karena tidak fokus mengemudi, dan suaminya itu tidak fokus karena ulah Rein sendiri.


Rein bingung, dalam hatinya merutuki segala kebodohannya. Kedua matanya yang sedari tadi sudah berkaca-kaca, kini menumpahkan air mata. Kilatan bening itu mencair melewati pipi mulusnya.


"Neng, kamu nggak sakit hati sama omongan Ambu, kan? Maaf, ambu cuma ngeluarin unek-unek Ambu aja barusan. Kamu nggak marah sama Ambu, kan?"


"Syukur, atuh." Ranti tersenyum, "Ambu teh mau tanya sama kamu, Rein. Apa bener kamu udah nggak mencintai anak ambu lagi? Udah yakin juga mau bercerai sama dia?"


Rein mengerjap kaku hendak menjawab pertanyaan itu. Ia merasa ragu, karena sesungguhnya rasa cintanya masih sangat besar untuk suaminya.


"Jujur aja atuh, Neng! Kebohongan kamu hanya akan menyakiti kalian berdua. Seperti sekarang ini. Aska dan kamu sama-sama terluka," sambung Ranti lagi.


"Iya, Ambu. Rein masih sangat mencintai Mas Aska. Rein sebenarnya nggak mau berpisah sama dia. Tapi Rein terpaksa berpura-pura, karena Rein nggak mau Mas Aska malu punya istri kayak Rein." Rein menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. Akhirnya dia menumpahkan segala beban yang ada dalam hatinya itu.


Ranti memeluk tubuh Rein, dan mengusap bahunya dengan lembut. "Kamu jangan berpikir seperti itu lagi. Aska nggak pernah malu punya istri kamu. Malah dia bangga sama keberanian dan kejujuran kamu. Ambu juga bangga, Neng."


Rein tidak menanggapi apa-apa. Hanya tangisan yang terdengar begitu memilukan keluar dari bibirnya. Rein mengakui kesalahannya. Dalam hatinya dia berjanji akan lebih peduli dengan Aska, dan tidak lagi menghindarinya.

__ADS_1


******


"Pelan-pelan, atuh, Neng! Inget kandungan kamu!"


Rein tidak menggubris peringatan yang didengungkan berkali-kali oleh Ranti. Saat dirinya sudah sampai di parkiran Klinik Sehat Selalu milik Dokter Danu, perempuan itu langsung berlari menuju tempat Aska dirawat. Tanpa mengajak mertuanya, Rein meninggalkan Ranti yang berjalan biasa saja.


"Orang si Aska nggak kenapa-napa. Ngapain lari-lari?" kekeh Ranti menahan tawa. Walaupun begitu, ia sedikit khawatir melihat Rein yang tergesa-gesa.


"Mas Aska!" Rein cepat menghambur pada tubuh Aska yang terbaring lemah di ranjang klinik. Lelaki itu pura-pura tidak sadar.


"Dia masih belum sadar, Rein. Kata dokter, kalau masih belum sadar juga sampai setengah jam, Aska mesti dipindahkan ke rumah sakit besar." Bahar menjelaskan pada menantunya.


Rein menoleh pada Bahar. "Kenapa tadi nggak langsung dibawa ke rumah sakit besar aja, Abah? Kenapa harus ke klinik dulu?" tanyanya heran.


"Namanya juga pura-pura, atuh, Neng."


Tentu saja ucapan itu hanya terlontar dalam hati Bahar. Mana mungkin lelaki itu akan sejujurnya mengatakan rencana mereka.


"Klinik ini adalah yang paling deket sama tempat kecelakaannya Aska. Jadi orang yang menolongnya membawa dia ke sini. Benar, kan, Dokter?" terang Bahar, lalu menoleh pada Dokter Danu sambil mengedipkan sebelah matanya. Seperti memberikan kode agar dokter itu mengiyakannya.


Dokter Danu mendengkus pelan. "Iya," jawabnya malas. Sebenarnya ia kasihan dengan istri Aska yang terlihat sangat sedih melihat suaminya yang berpura-pura kecelakaan. Dokter Danu pun tidak habis pikir, kenapa keluarga itu kompak sekali memerankan drama untuk membuat menantunya menangis seperti itu? Benar-benar keluarga tega.


...****************...


...To be continued...


...Makasih, udah dukung karya othor dengan tekan like, favorit, dan kasih gift dan komentar. Berkah selalu. ...

__ADS_1


__ADS_2