Pencuri Hati

Pencuri Hati
Soto Lamongan


__ADS_3

...****************...


Dua bulan kemudian ....


"Kayaknya lo sakit, deh. Untung tadi nggak ketangkep," seru Daren ketika mereka sudah tiba di rumah lelaki itu. Mereka baru kembali setelah melakukan operasi. Ya, Rein kembali menjadi pencuri. Dia bersama Daren mengganti target mereka yaitu rumah judi. Selain rumah judi menyimpan banyak uang cash, tempat seperti itu tidak akan lapor ke polisi ketika tempat mereka mengalami perampokan. Sama seperti bunuh diri, begitulah pikir Daren yang mengusulkan tempat judi sebagai target operasi.


Saat melakukan operasi kali ini, Rein dan Daren hampir saja tertangkap oleh penjaga, lantaran Rein lengah dan memecahkan sesuatu yang membuat penjaga curiga. Rein berkata jika dirinya mengalami sakit kepala. Beruntung mereka masih bisa kabur, dan selamat dari preman yang menjadi backing di tempat judi tersebut.


"Nggak tahu. Kepala gue pusing banget, Ren," sahut Rein sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


Sudah dua bulan Rein tinggal bersama Daren. Selama itu pula Aska tidak berhasil menemukan dirinya. Rein juga meminta ibu panti untuk tidak memberitahukan keberadaannya kepada Aska, saat sesekali ia berkunjung ke sana.


Rein tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya kepada Bu Wanda. Tentu saja Rein belum siap untuk mengungkapkan pekerjaan haramnya kepada perempuan yang sudah merawatnya sejak kecil tersebut.


"Ya udah, lo istirahat sana! Udah malem juga. Besok kita ke dokter," titah Daren.


Rein mengangguk lalu beranjak dari sofa. Tubuhnya terasa lemas saat menyeret kakinya untuk melangkah. Kepalanya seolah berputar, dan pandangannya pun berbayang. Entah apa yang terjadi dengan tubuh Rein beberapa hari ini. Rein merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Mungkin dia memang sakit, dan butuh istirahat saja.


...****************...


Kicauan burung-burung kecil yang hinggap di pepohonan terdengar begitu nyaring di sisi kamar Rein. Pagi itu sang gagah tak menampakkan sinarnya. Awan kelabu menguasai langit di ufuk timur. Menyembunyikan cahaya kehidupan yang seharusnya sudah memenuhi jagat raya.


Rein duduk di kursi meja makan sambil memainkan ponsel miliknya. Tepat di atas meja di hadapannya ada sebuah mangkok kosong dan sendok yang sudah siap pakai. Ia tengah menunggu seseorang membawakan makanan. Pagi-pagi sekali Rein merasa lapar.


Suara mesin kendaraan yang terdengar parkir di depan rumah, membuat Rein beranjak berdiri. Seperti anak kecil yang kesenangan saat pesanannya datang, Rein begitu semringah. Ia langsung membuka pintu dan menyambut orang tersebut.


"Mana pesenan gue?" Rein langsung menadahkan tangannya ke hadapan Daren. Pria itu yang disuruh Rein untuk membelikan makanannya pagi-pagi sekali. Daren mendengkus, lalu menyerahkan plastik berwarna hitam yang dia bawa kepada sahabatnya tersebut.


Rein menerima plastik tersebut, lalu melihat isinya. Senyum cerah yang semula terbingkai indah di bibirnya sontak memudar, kala ia melihat isi dari plastik itu ternyata bukan makanan yang dia minta.

__ADS_1


"Ini bukan pesenan gue, Daren. Gue, kan, minta dibeliin Soto Lamongan. Masa lo beli ini? Ini, kan, mie instan?" protes Rein dengan kesal. Rasa lapar yang mendera perutnya membuat emosinya cepat berkobar.


"Itu mienya rasa apa?" Bukannya menjawab, Daren malah bertanya balik.


"Soto Lamongan," jawab Rein membaca tulisan rasa di bungkus mie instan.


"Nah, gue nggak salah beli, kan? Itu Soto Lamongan," celetuk Daren sambil melengos masuk ke rumahnya. Menyerobot tubuh Rein yang menghalangi jalannya dengan santai. Sesekali bibirnya menguap, karena rasa ngantuk yang masih terasa. Pagi-pagi sekali Rein sudah memaksa Daren untuk mencari Soto Lamongan.


Dikarenakan Rein sedang sakit, Daren pun setuju. Namun, ternyata soto tersebut sulit didapatkan di daerah itu. Akhirnya Daren memutuskan untuk membeli mie instan dengan rasa Soto Lamongan. Atas usul penjual bubur yang ia tanya tentang keberadaan penjual soto itu di mana.


Penjual bubur itu berkata, "Beli aja indomie rasa Soto Lamongan, Mas. Takut istrinya lagi ngidam, nanti anaknya ileran. Yang penting ada cap soto lamongannya."


Daren yang masih dikuasai rasa ngantuk tidak terlalu memperhatikan perkataan tukang bubur tentang masalah ngidam. Ia hanya fokus dengan usul tukang bubur tersebut untuk membeli mie instan, agar dirinya segera pulang dan melanjutkan tidurnya lagi.


"Heh, buaya buntung! Anak ingusan aja tahu kalau ini itu mie instan, bukan Soto Lamongan."


"Ck, Daren, gue maunya Soto Lamongan beneran!" Rein berdecak kesal. Sudah sejak subuh dia membayangkan untuk memakan soto lamongan. Namun, ekspetasinya tidak sesuai realita. Soto Lamongan yang begitu menggiurkan dengan kuah khasnya, tiba-tiba berubah menjadi mie instan.


Daren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasa ngantuknya pun sedikit berkurang. Sikap aneh sahabatnya itu membuat dirinya kesal. "Gue masih ngantuk, Sapi! Entar siang, deh, gue cari lagi. Lagian permintaan lo ada-ada aja. Pagi-pagi gue disuruh cari Soto Lamongan. Lo tahu, nggak? Gue udah muter-muter kompleks buat cari itu soto. Kagak ada yang jual. Kalau gue nggak inget lo lagi sakit, ogah banget gue," cerocos Daren tidak kalah sengit.


"Eh, jadi lo nggak ikhlas? Bilang, dong, kalau nggak mau! Gue bisa cari sendiri."


"Nggak gitu juga, Sap! Lo kenapa, sih, beberapa hari ini aneh banget? Kayak orang ngidam tahu, nggak? Permintaan lo aneh-aneh." Daren jadi ingat, saat dua hari yang lalu sahabatnya itu minta dibelikan mie ayam, tetapi tidak pakai mie. Membuat Daren tidak bisa berpikir jernih.


Rein tercekat. Ia sejenak terdiam mendengar ucapan Daren barusan. Tiba-tiba ia ingat dengan siklus menstruasi yang belum ia dapat selama dua bulan ke belakang. Apa mungkin dia sedang ... hamil?


"Jangan-jangan iya," ucap Rein tiba-tiba khawatir.


"Apanya yang iya?" Daren balik bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan. Tenggorokannya terasa kering setelah berdebat dengan Rein. Lelaki itu menuangkan air ke dalam gelas kaca yang di hadapannya, setelah itu meminumnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan gue beneran hamil, Daren."


"Uhuk, uhuk!" Daren tersedak minumannya mendengar perkataan Rein, "gue cuma asal nyebut aja. Kenapa lo jadi serius gitu, sih?" Daren menatap tajam Rein yang ikut duduk di kursi kosong yang bersebrangan dengannya. Hanya terhalang meja makan. "Eh, bentar-bentar! Jangan bilang kalau lo udah pernah ... ngasih tubuh lo sama polisi itu?" Daren memicing curiga kepada Rein.


"Biasa aja, dong, lihatnya! Lo pikir gue cewek gampangan. Lo lupa kalau polisi itu suami gue?" protes Rein yang tidak suka melihat tatapan Daren kepadanya. Seolah menghakimi Rein yang sudah memberikan mahkota berharganya kepada sang suami. Padahal mereka halal melakukan itu.


"Jadi beneran? Ah, bego banget lo, Sap! Lo yang bilang sendiri kalau pernikahan lo itu cuma sementara. Kenapa lo mau aja?" Daren menyimpan gelas bekas minumnya sedikit keras. Membuat Rein berjengit kaget lalu bergeming sesaat.


Rein tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sungguh, pesona suaminya terlalu sayang untuk dilewatkan. Ia bahkan rela memberikan apa saja karena cintanya. Rein seolah lupa diri jika bersama dengan Aska.


"Lo ikut gue sekarang?" Daren tiba-tiba berdiri, sambil menarik tangan Rein.


"Ke mana?" tanya Rein masih pada posisinya duduk di kursi. Kepalanya mendongak menatap Daren dengan bingung.


"Periksain perut lo. Bener, nggak, di dalamnya ada bayi?"


"Kalau beneran ada gimana?" tanya Rein lagi dengan raut serius.


"Gugurin!"


"Gila! Lo pikir semudah itu!" Rein langsung menepis tangan Daren dengan kasar.


"Terus lo mau rawat anak itu tanpa bapaknya? Atau lo mau balik lagi sama polisi itu terus masuk penjara?" Daren memberikan pilihan yang membuat Rein menelan ludahnya takut. Ia bingung jika dia benar-benar hamil anaknya Aska.


...****************...


...To be continued...


...Othor mau ucapin makasih buat yang masih setia nunguin novel ini. Othor masih berusaha buat up tiap hari. Makasih atas dukungannya yang udah ngasih like, komentar dan juga hadiahnya. Semoga diberikan kesehatan buat kita semua 🥰...

__ADS_1


__ADS_2