Pencuri Hati

Pencuri Hati
Candu


__ADS_3

...****************...


Sedari sore, Rein tidak bisa tenang. Ajakan untuk tidur di kamar Aska membuatnya kelimpungan. Mondar-mandir di dalam kamar kerap dia lakukan, tetapi hal itu tidak juga menghasilkan jalan keluar. Hingga petang berganti malam. Senja di ufuk barat juga sudah tenggelam.


Rein terlonjak saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia yakin kalau itu adalah suaminya. Keyakinannya bertambah saat suara Aska memanggil namanya.


"Rein, bisa buka pintunya. Ini aku," panggil Aska di balik pintu.


Rein merasakan hawa panas tiba-tiba menyerang tubuhnya. Padahal pendingin ruangan di sana berfungsi dengan sempurna. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, dadanya begitu sesak menahan rasa gugup yang mendera. Membuat Rein harus mengatur napasnya berulang-ulang. Agar pasokan oksigen di dalam paru-parunya tetap aman.


Ceklek!


Rein membuka pintu kamarnya. Terlihat Aska tengah berdiri di ambang pintu sambil mengulas senyuman. "Gimana? Udah siap pindah ke kamar aku?" tanyanya kemudian.


"Ehm ...." Rein menggaruk pelipisnya bingung. Mau menolak juga tanggung. Rein jadi menyesal kenapa tadi langsung setuju begitu saja. "Besok aja, ya, aku belum siap tidur bareng sama kamu," tolak Rein kemudian.


"Belum siap kenapa? Tadi sore kamu bilang iya. Lagian cuma tidur bareng aja, apa yang perlu disiapin?" Aska tersenyum getir. Padahal dalam hatinya dia ada maksud lain.


"Beneran, tidur bareng aja?" Kedua mata Rein memicing curiga.


"Beneran, tapi kalau nanti tiba-tiba aku ngelindur, kamu jangan marah!"


"Memangnya kamu suka ngelindur?" tanya Rein merasa tidak percaya dengan kebiasaan suaminya.


Alih-alih menjawabnya, Aska malah tertawa. "Aku nggak tahu. Kan, aku lagi tidur," serunya setelah tawanya reda.


Rein menggigit bibir bawahnya. Ia semakin ragu untuk tidur bersama Aska.


"Ayolah, Sayangku. Nggak baik, loh, nolak ajakan suami. Apa perlu aku gendong kamu?"


"Eh, nggak usah!" Rein sontak mundur satu langkah saat tangan Aska seperti hendak menggendongnya. Sekarang saja jantungnya seperti mau meledak menahan malu, apalagi kalau digendong lelaki itu.

__ADS_1


Rein dan Aska berjalan beriringan menuju kamar Aska. Aska membuka pintu kamarnya, dan mempersilakan istrinya masuk layaknya seorang putri raja. Kamar itu terlihat rapi dan bersih, dengan tempat tidur berukuran king size dengan dibalut sprei berwarna putih. Ruangan itu pun juga sengaja dibuat redup. Aska ingin membuat kesan romantis untuk istrinya tersebut.


"Lampunya, kok, gelap? Kamu lagi hemat listrik, ya?" tanya Rein yang membuat Aska tertawa.


"Biar romantis aja," ujar Aska. Ia pun duduk di tepi ranjang, dan bersandar di kepala ranjang," ayo, sini!" ajaknya pada Rein yang masih berdiri. Tangannya menepuk bagian kasur di sampingnya yang belum berpenghuni.


Dalam cahaya yang temaram, Rein masih bisa melihat senyuman penuh arti yang terbesit di bibir Aska. Perempuan itu sebenarnya sudah curiga. Suaminya itu akan melakukan apa selanjutnya.


"Mau tidur sambil berdiri?" tanya Aska lagi. Ia mulai tidak sabar dengan sikap istrinya yang penuh hati-hati. Seolah suaminya itu adalah orang jahat yang hendak melukainya. Aska hanya berniat menyentuh istrinya saja. Memangnya salah?


Dengan ragu Rein melangkah maju. Ia duduk di sisi tempat tidur yang bersebrangan dengan Aska.


"Deketan, atuh! Jauh amat," kelakar Aska.


Rein mendengkus. Perangai suaminya tersebut sudah mulai terendus.


Tidak sabar menunggu gerakan Rein untuk mendekat kepadanya. Aska pun menggusur tubuhnya, kepalanya condong mendekati wajah Rein.


"Heh, mau ngapain?" Rein sontak menarik mundur kepalanya. Tatapannya menyipit penuh waspada.


Rein terpaku sambil mengerjapkan mata. Dirinya seperti disengat aliran listrik tegangan rendah. Tatapannya tidak bisa berpaling dari Aska, walaupun lelaki itu kini sudah menutup mata.


"Kamu mau tidur, apa mau terus natap aku?" Merasa seperti diperhatikan oleh istrinya, Aska mengintip dengan sebelah matanya. Rein jadi salah tingkah dan langsung berbaring di sebelah Aska. Perempuan itu tidur membelakangi suaminya.


Aska tersenyum tertahan. Tingkah istrinya begitu menggemaskan. Ia pun dengan berani mengulurkan tangan, lalu memeluk tubuh Rein dari belakang.


"Aku hanya mau meluk doang. Nggak apa-apa, kan?" Sebelum Rein memprotes aksinya, Aska sudah minta izin duluan.


Rein diam saja, tetapi jantungnya sudah berdendang tak karuan. Apalagi saat embusan napas Aska menerpa bagian pundaknya. Lelaki itu bahkan berani mengecup bagian lehernya yang terbuka.


"Mas!"

__ADS_1


"Aku sudah lama menunggu momen ini. Wangi tubuh kamu membuat aku candu, Rein. Waktu kamu merawat aku yang sedang sakit dulu, rasanya moment selalu membuat aku rindu."


Rein terenyuh dengan kata-kata itu. Kedua matanya sontak terpejam. Merasakan kehangatan yang membuat darahnya berdesir kencang. Sampai tidak menyadari saat Aska membalikkan tubuhnya. Hingga kini mereka saling berhadapan.


Saat membuka mata, Rein sempat tercekat. Karena kini jarak wajah mereka sangatlah dekat.


"Ehm ... apa kamu udah yakin mau menerima aku apa adanya, Mas? Jujur, aku masih ragu. Karena aku ini penjahat dan kamu polisi. Kita ini nggak serasi," tutur Rein untuk menyakinkan perasaannya. Ia masih belum yakin dengan kesungguhan cinta Aska. Mungkin kelanjutan hubungan mereka tidak akan mudah ke depannya, karena status mereka memang berbeda.


"Kata siapa kita nggak serasi. Kita bisa jadi pasangan paling fenomenal di negeri ini. Masalah profesi kamu, anggap saja masa lalu. Kamu mau berubah, kan, demi aku?" Rein mengusap pipi Rein dengan lembut, lalu tangannya menjalar menuju bibir Rein yang ingin sekali dia kecup.


Rein masih bergeming. Tidak ada salahnya jika dirinya berubah. Selama ini hidupnya memang penuh dengan dosa. Mungkin Tuhan mengutus Aska untuk menjadi cahaya dalam dunia gelapnya.


"Aku mau, Mas." Jawaban Rein membuat senyuman Aska terbit seketika. Namun, maksud Rein adalah mau berubah menjadi orang baik, sedangkan dalam pikiran Aska, Rein mau memberikan tubuhnya.


"Makasih, Sayang. Kalau gitu, ayo kita mulai!" Aska langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Namun, Rein langsung membukanya dengan paksa.


"Mulai apa?" tanya Rein polos.


"Malam pertama kita, Rein. Masa kamu nggak ngerti juga?" Aska mendengkus. Kedua matanya sudah berkabut. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Bagian bawahnya dari tadi sudah berdiri.


"Tapi—"


"Please ...." Aska memelas penuh harap, "boleh, ya? Aku udah nggak kuat." Aska memasang wajah nelangsa. Rein pun jadi tidak tega. Ia pun menganggukkan kepala.


"Yes, makasih, ya." Aska langsung bahagia, ia daratkan kecupan hangat di kening Rein sebelum dirinya menuntaskan gejolak rasa yang menguasai tubuhnya itu.


Rein memejamkan kedua matanya. Ia harus ikhlas memberikan apa yang menjadi hak suaminya tersebut. Dengan senang hati Rein memberikan mahkota yang selama ini ia jaga. Walaupun ada sedikit takut dan ragu. Malam itu pun terlewati dengan banyak candu.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


^^^Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya ^^^


...Kalau adegannya kurang hot, tambahin aja kayu bakarnya di imajinasi kalian, biar membara sekalian 🤣🤣...


__ADS_2