PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Kereta Kuda itu berjalan dengan pelan, saat itu Raden Kanigara Lakeswara saat itu hendak bergerak. Akan tetapi pada saat itu Arya Susena Memberi kode padanya agar tetap tenang.


"Raden tidak perlu cemas. Ini hamba, arya susena." Arya Susena memberi hormat.


"kau?!." Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut dengan sosok Arya Susena yang berbeda dari apa yang ia lihat terakhir kalinya.


"Tenanglah raden. Nanti akan hamba ceritakan di tempat yang lebih aman." Arya Susena terlihat sangat santai.


"Tapi kenapa kau bisa mengetahui? Jika aku berada di dalam tempat ini?." Itulah yang menjadi pertanyaannya saat itu.


"Raden. Kami ini pendekar kegelapan." Arya Susena tersenyum kecil menatap Raden Kanigara Lakeswara. "Melalui jurus yang hamba pasang pada tubuh raden, hamba dapat mengetahuinya." Dengan sangat mudanya ia berkata seperti itu?.


"Jadi seperti itu?." Raden Kanigara Lakeswara tidak menyadari itu sama sekali. Ia tidak menduga jika Arya Susena dapat melakukan itu dengan sangat mudanya.


"Apakah raden telah mengetahui kebenarannya?. Kebenaran tentang siapa ayahanda raden yang sebenarnya." Arya Susena sangat penasaran, walaupun ia telah mengetahui kebenaran itu melalui jurus yang ia tanamkan pada Raden Kanigara Lakeswara.


Pada Saat itu Raden Kanigara Lakeswara hanya diam saja. karena kekuatan hatinya saat itu benar-benar sangat diuji. Hatinya sangat pedih, sakit, Sesak untuk menerima kenyataan itu. "Aku telah mengetahuinya." Jawabnya dengan perasaan yang sangat terluka. "Jika kau mengetahui aku akan ke sini melalui jurus yang kau tanamkan padaku, maka kau juga mengetahui kebenaran itu, bukan?." Raden Kanigara Lakeswara merasa sangat enggan untuk menjawabnya. Hatinya sangat hancur lebur setelah mengetahui semua itu.


"Hamba memang dapat mendengarkannya dengan sangat jelas raden. Sangat jelas, hingga rasanya hamba ingin segera menyusul raden ke istana untuk membebaskan raden, dan memberikan pelajaran yang sangat berharga pada raja kejam itu." Entah kenapa ia merasa sangat sakit hati ia berkata seperti itu.


"Tapi kenapa kau bisa mengetahui?. Jika aku bukan putra dari prabu maharaja kanigara rajendra?. Apa yang sebenarnya yang ingin kau rencanakan padaku?." Tiba-tiba saja Raden Kanigara Lakeswara berpikiran buruk tentang Arya Susena yang mungkin saja memiliki niat jahat padanya, memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan keuntungan bagi kelompok pendekar kegelapan.


"Hamba hanya ingin menyelamatkan raden dari penyingkiran kejam itu. Karena jika pemegang tahta sah terbunuh, maka mereka bisa membuat tatanan pemerintahan baru." Arya Susena tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan kerajaan. "Apakah raden mau meninggalkan kerajaan ini dalam keadaan porak poranda?. Kecuali jika raden memang menginginkan itu terjadi. Raden sama saja dengan keluarga istana lainnya?. Mereka yang sama sekali tidak memiliki hati nurani untuk melihat penderitaan rakyat?." Arya Susena memberikan pandangan seperti itu.


Raden Kanigara Lakeswara saat itu sedang memikirkan apa yang telah dikatakan Arya Susena padanya. "Apakah aku harus percaya padanya?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara mencoba untuk memikirkan itu dengan hati yang jernih.


"Karena itulah, raden harus mengembalikan tahta itu." Arya Susena memberikan patikan api.


"Tapi bagaimana caranya?. Aku pasti telah dianggap tewas oleh mereka semua dalam perjalanan ini. Aku sangat yakın dengan itu." Raden Kanigara Lakeswara sedikit takut dengan apa yang ia bayangkan. "Aku sangat mencemaskan keselamatan ibundaku, jika mereka mengetahui. aku sedang bersekongkol dengan kalian. Nasib ibundaku sedang dipertahankan saat ini."


"Jika masalah itu, raden tidak perlu cemas. Hamba akan menyiapkan semua yang raden butuhkan."


"Jangan memberikan harapan padaku. Aku tidak mau membahayakan ibundaku."


"Apakah rencana yang telah hamba lakukan pada raden telah membahayakan nyawa raden?." Itulah pertanyaan dari Arya susena.


"Apakah kau bisa aku percaya?. Tentu saja raden. Jangan ragukan kesetiaan hamba pada raden." Arya Susena terlihat sangat tulus, sehingga Raden Kanigara Lakeswara harus berhati-hati.


"Bisa jadi tu adalah siasat mereka untuk menyingkirkan aku." Dalam hati Raden kanigara Lakeswara masih memikirkan, apakah mereka dapat dipercaya atau tidak?.


"Jika raden masih belum percaya pada hamba, maka akan hamba berikan setengah dari kekuatan tenaga dalam hamba pada raden. Supaya raden percaya pada hamba."


"Tidak perlu arya susena. Aku percayakan padamu. Tapi kau jangan khianati kepercayaanku."


"Tentu saja aku raden."


Arya Susena sangat senang dengan kepercayaan yang telah diberikan Raden Kanigara Lakeswara.


...***...


Sementara itu di istana, tepatnya di kediaman para istri prabu Maharaja Kanigara Rajendra.


"Rayi arundaya?. Ratu Aristawati Estiana melihat keberadaan Ratu Arundaya Dewani yang sedang bersedih.


"Yunda?." Ia segera menghapus air matanya.


"Jangan bersedih rayi. Aku masih bersama denganmu di sini."


"Bagaimana aku tidak sedih yunda?. Putraku lakeswara sedang dibawa ke luar istana dalam keadaan terluka parah." Ia tidak dapat menyembunyikan hatinya yang sakit luar biasa. "Putraku satu-satunya yang tersisa dari kisah cinta kami. Antara aku dengan kanda maheswara." Itulah ungkapan perasaan suasana hatinya yang sangat sakit, pedih, dan tidak terah lagi pikirannya.


"Bagaimana pun juga kau harus kuat rayi." Ratu Aristawati Estiana mencoba untuk menguatkan hati Ratu Arundaya Dewani.

__ADS_1


"Setiap hari aku selalu menguatkan suasana hatiku yunda. Ketika kanda prabu rajendra memperlakukan putraku dengan cara yang sangat tidak adil." Hatinya semakin pedih mengingat itu semua. "Apakah yanda tidak melihat itu?. Bagaimana kanda prabu memperlakukan anakku." Hatinya tidak bisa menerima itu semua.


"Tentunya aku melihat apa yang telah kanda prabu lakukan pada putramu. Tapi aku mohon kuatkan hatimu."


"Aku selalu mencobanya yunda. Bahkan ketika putraku pergi meninggalkan aku dalam keadaan sakit parah."


Ya, itulah yang dirasakan oleh Ratu Arundaya Dewani. Hatinya bahkan dipenuhi dengan ketakutan yang sangat luar biasa ketika membayangkan anaknya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Sementara itu di istana utama.


Ada seorang prajurit istana yang datang melapor perihal tugas mereka yang telah mereka rencanakan sebelumya.


"Hamba menghadap gusti prabu."


"Cepat sekali kau datang?. Apakah kau telah menyelesaikan tugas yang aku berikan padamu dengan baik?."


"Tentu saja gusti prabu. Hamba telah menyelesaikan tugas yang hamba dengan sangat baik."


"Bagus. Katakan padaku bagaimana kejadian saat itu."


"Seperti yang gusti rencanakan. Saat kami tiba diperbatasan, kami memang oleh kawanan Perampok."


"Bagus. Kalian memang bisa diandalkan." Prabu Kanigara Rajendra sangat senang dengan apa yang telah dikatakan prajuritnya. "Kalau begitu umumkan kematian lakeswara pada rakyat, jika ia telah dibunuh oleh kawanan Pendekar lempa kegelapan."


"Akan tetapi hamba laksanakan perintah gusti prabu dengan sebaik-baiknya."


"Kalau begitu lakukan dengan cepat."


"Sandika gusti prabu." Prajurit itu segera meninggalkan tempat, tentunya mengerjakan apa yang telah diperintahkan junjungannya.


"Bagus juga rencana yang telah aku buat. Semuanya tidak sia-sia." Dalam hatinya merasakan bagaimana sensasi luar biasa bahagianya. "Kanda maheswara. Apakah kau telah menyaksikannya?. Bagaimana kerajaan ini akan aku susun menjadi kerajaan dengan sistem yang baru." Ucapnya Sambil membayangkan bagaimana Rakanya itu membangun istana ini dengan penuh cinta dan kedamaian?. "Maaf saja maheswara. Aku tidak akan membuat kerajaan yang seperti itu, dan aku tidak akan mengikuti langkah lemah mu." Itulah yang membuatnya bersemangat untuk mendapatkan semuanya. "Selamat tinggal aturan kerajaan yang berdaulat, dan selamat datang kepemimpinan penuh dengan tangisan terjajah di negeri sendiri." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra tertawa dengan penuh kemenangan. Saat itu ia merasakan bagaimana bagaimana menjadi raja yang berdiri di atas kerajaan yang sangat megah.


...***...


...***...


Di hutan larangan.


Saat itu mereka semua telah sampai di sana dengan aman tanpa adanya gangguan dari prajurit jaga. Raden Kanigara Lakeswara dan Arya susena baru saja turun dari kereta kuda.


"Arya susena tidak punya akhlak!. Berani sekali dia memerintahkan aku mengiringi kereta kuda ini sampai ke dalam hutan larangan." Dalam hatinya sangat mengutuk Arya Susena.


"Dia ingin membunuhku atau apa?. Tega sekali dia menjadikan aku budaknya." Dalam hati Bajra juga mengutuk itu.


Darsana dan Bajra yang menggiring Kereta kuda?. Sekarang Keduanya terlihat sangat kelelahan berjalan sangat jauh.


"Jadi selama ini kalian bersembunyi di hutan larangan?."


"Raden tidak usah terkejut seperti itu. Karena kabar yang beredar telah jelas mengatakan, jika kami berada di sini."


"Kabar itu memang mengatakan seperti itu. Tapi aku hanya tidak menduganya, jika kalian memang berada di sini."


"Kalau begitu hamba harap raden mulai terbiasa di sini. Karena tempat ini akan menjadi rumah raden, hingga raden mendapatkan kembali tahta yang sah."


Deg!.


Bajra, Darsana, Patari dan Nismara sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Arya Susena.


"Kau merencanakan hal yang sangat gila arya!."


"Kau ini masih waras, kan?. Kenapa kau malah merencanakan hal yang sangat gila arya!."


"Jika kau mati?. Maka jangan seret kami dalam rencana kau yang gila itu!."

__ADS_1


"Kau ini memang gila arya!."


Patari, Nismara, Bajra, dan Darsana sangat kesal, hingga mereka semua menyerang Arya Susena dengan ucapan yang membuat pemuda itu marah.


"Kalian jangan menyerang aku dengan ucapan seperti itu?. Kalian telah berani menyerang aku?!. Hm?!.."


Deg!.


Namun saat itu mereka semua sangat terkejut dengan hawa yang ditunjukkan Arya Susena. Tentunya membuat mereka semua merinding Melihat aura hitam yang selalu mencengkram siapa saja, dan tak lupa hawa panas yang membuat suara sekitar menjadi panas.


"Panas. Kenapa tiba-tiba saja terasa panas. Apa yang terjadi?. Arya susena. Kenapa tiba saja hutan ini terasa panas?. Apakah akan turun hujan?." Dengan raut wajahnya yang sangat polos itu, Raden Kanigara Lakeswara berkata seperti itu.


Sedangkan Patari, Darsana, Bajra dan Nismara segera menjauh dari Arya susena yang sedang marah. "Raden tenang saja. Kadang hutan ini terasa sangat panas." Balasnya dengan senyuman ramah, Akan tetapi terlihat sangat menyeramkan.


Deg!.


Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu. "Kenapa dia terlihat sangat menyeramkan ?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara benar-benar merinding at melihat penampilan Arya Suena yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya.


"Raden jangan dekati pendekar sinting itu." Nismara memberikan peringatan.


"Benar itu raden. Dia itu pendekar sinting!. Sebaiknya raden jangan mendekatinya." Patari semakin ketakutan dengan aurat Arya Susena saat itu.


"Sebaiknya raden jangan bergaul dengannya!. Dia itu sinting, nanti raden ikutan sinting." Darsana juga memberi peringatan pada Raden Arya Susena.


"Apakah benar itu arya susena?." Raden Kanigara Lakeswara merasa khawatir dengan itu.


"Berani sekali kalian berkata buruk tentang diriku pada raden kanigara lakeswara?. Arya Susena semakin terlihat semakin menyeramkan.


"Benar itu raden. Hawa panas itu berasal dari tubuhnya!." Balas Bajra dengan Penuh ketakutan.


"Raden bisa melihat gampangnya seperti itu." Dengan penuh ketakutan ia berkata seperti itu.


"Kalian sudah bosan hidup rupanya?. Dengan senang hati aku akan menumbalkan kalian pada raja kejam itu." Ucapnya dengan suara yang mengerikan.


Deg!.


Entah kenapa saat itu mereka seperti melihat malaikat maut di dunia nyata. "Jangan mendekat kau pendekar sinting." Ucap Mereka bersamaan.


"Ah!. Aku ingat, aku akan mencari kayu kualitas bagus, Tentunya kita harus membuat bilik yang baru untuk raden kanigara lakeswara. Aku akan mencarinya hari ini juga. Supaya raden kanigara lakeswara bisa istirahat malam ini." Darsana langsung ambil langkah seribu untuk melarikan diri.


"Tunggu!. Kau tidak akan bisa mengerjakan itu sendirian!. Aku akan membantumu!." Bajra juga menyusul Darsana yang sudah melarikan diri duluan.


"Hei!. Kalian pengkhianat!. Jangan lari!." Patari dan Nismara juga ikut lari. Keduanya juga tidak mau menerima amukan Arya Susena.


"Aku harus lari juga?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara sedikit gugup dengan apa yang telah ia rasakan pada saat itu.


"Huufh!." Arya Susena menghela nafasnya dengan sangat lelah. "Mari masuk raden. Mari kita bahas beberapa masalah yang akan hamba sampaikan pada raden."


"Tidak bisakah kau tidak tersenyum seperti itu arya susena?. Senyuman mu itu sangat mengerikan. Sehingga aku tidak bisa konsentrasi sedikitpun."


"Oh?. Senyuman hamba memang seperti ini. Mari masuk."


"Baiklah. Aku akan masuk. Tapi aku harap kau tidak melakukan hal yang aneh."


"Raden tenang saja. Hamba tidak akan melakukan hal yang aneh."


"Ucapanmu membuat aku semakin takut."


"Ahaha!. Raden tenang saja."


Raden Kanigara Lakeswara tidak mengetahui, jika Arya Susena ternyata memiliki sifat yang mengerikan. Teman-temannya saja langsung kabur dengan kemarahannya. "Aku harap aku masih dalam keadaan aman." Dalam hatinya hanya berharap.


...***...

__ADS_1


__ADS_2