
...***...
Sepertinya kelompok pendekar kegelapan telah beraksi kembali setelah beberapa hari larut dalam masalah istana?. Mereka semua sangat tidak nyaman sama sekali berasa di lingkungan istana, dan saat itu mereka memutuskan untuk mencari keberadaan Senopati Jenar Tapa yang mungkin saat ini sedang menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan kembali ke istana. Saat itu Arya Susena dan Darsana melihat ada seorang yang berpakaian rapi sedang menganiaya beberapa warga.
"Cepat berikan harta kalian!. Jika kalian tidak memberikannya?!. Aku akan membunuh kalian semua!."
Tentu saja mereka sangat ketakutan dengan apa yang telah diucapkan oleh lurah itu. Sungguh sangat keterlaluan sekali apa yang telah ia lakukan saat itu.
"Ampuni kami lurah. Bukankah kami semalam telah memberikan harta kami?. Tidak ada lagi simpanan uang kami."
"Jika kami terus memberikannya kepada lurah?. Lantas kami mau makan apa setelah itu?."
"Jangan ambil lagi harta kami. Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa kau ingin merampas harta kami berkali-kali?."
Perasaan hati mereka sangat sedih karena mereka selalu saja diperas dengan semena-mena. Apakah mereka hanya digunakan seperti itu untuk para penguasa yang serakah?. Arya Susena dan Darsana dapat menyimak dengan benar apa yang telah terjadi sebenarnya. Setelah itu Arya Susena melompat dan menerjang tubuh lurah itu hingga tersungkur ke tanah. Hatinya sangat panas mengetahui situasi itu.
Duakh!.
"Eagkh!."
"Hiya!."
Seketika suasana di sana menjadi tegang karena apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena. Mereka semua berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing dengan mencari tempat persembunyian yang aman. Tentu saja mereka tidak ingin menjadi korban akibat pertarungan itu?. Bisa saja mereka melakukan pertarungan jika dilihat dari situasinya.
"Bagus sekali atas apa yang kau lakukan!." Arya Susena hampir saja tidak dapat menahan dirinya saat itu. "Sungguh kejam sekali kau ingin menganiaya mereka. Atas dasar apa kau ingin memeras mereka?!. Kau pikir kau orang yang berhak untuk melakukan itu?!." Begitu banyak pertanyaan yang keluar darinya saking panasnya hatinya saat itu.
Lurah Jengir sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh pemuda itu. Ia segera bangkit dan dengan perasaan marah ia membentak. "Kau benar-benar sangat kurang ajar!. Memangnya kau ini siapa?. Berani sekali kau menendang aku. Apakah kau sudah bosan hidup?."
"Aku langsung bisa saja menikam tubuhmu ketika aku menendangmu tadi. Jadi kau jangan bicara sombong dengan bertanya kepadaku apakah aku bosan hidup?. Bfueh!."
"Bangsat!. Rupanya kau ingin mati!. Akan aku kabulkan permintaanmu itu!." Iya memandang rendah terhadap Arya Susena. "Sayang sekali anak muda seperti kau harus mati di ujung keris ku ini. Tapi jika kau masih ingin selamat?. Aku akan memberikan ampunan padamu." Saat itu ia cabut keris yang terselip di belakang pinggangnya.
Akan tetapi pada saat itu ia merasakan hawa panas yang sangat berbeda. Rasa panas yang sangat menusuk kulitnya, Begitu juga dengan yang lainnya yang masih berada di area yang sama. Benarkah?.
"Kurang ajar!. Kenapa tiba-tiba saja suasana di sini menjadi panas?." Ia sangat heran dengan apa yang telah terjadi.
Namun pada saat itu Darsana datang menghampiri Arya Susena, ia tepuk pelan pundak temannya itu.
"Jangan kau gunakan kemarahanmu itu untuk membunuh mereka semua di sini. Kau boleh marah kepada lurah keji ini, tapi kau jangan sampai membunuh mereka yang tidak berdosa itu."
Arya Susena menghela nafasnya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak melepaskan hawa kemarahannya itu. Seketika suasana kembali menjadi tenang, dan itu membuat lurah Jengir merasa bingung.
"Siapa kalian sebenarnya?."
"Kelompok pendekar kegelapan."
Deg!.
"Apakah salah satu dari kalian ada yang bernama arya susena?." Rasanya detak jantungnya saat itu tidak normal, karena ia teringat salah satu dengan orang yang bernama Arya Susena?. Walaupun ia tidak mengenal pasti orangnya seperti apa.
"Aku!. Aku adalah arya susena. Kau mau apa?. Hah?!."
"Tidak!. Tidak!. Aku tidak!." Seketika raut wajahnya terlihat sangat pucat, kakinya seperti karet yang lentur. Saat itu pula ia mengambil ancang-ancang melarikan diri dari sana. "Akan aku balas perbuatan kalian nantinya." Dalam pelariannya itu ia tidak lupa berteriak seperti itu.
"Kau itu benar-benar sangat menyebalkan. Bisa saja aku bunuh kau menggunakan jurusku melalui jarak jauh. Tapi aku penasaran dengan ancamanmu itu."
"Ahaha!. Sudahlah!. Biarkan saja dia melarikan diri dengan ancamannya itu."
Setelah itu mereka yang bersembunyi mulai keluar karena mereka sempat mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh lurah Jengir.
"Benarkah tuan adalah arya susena?."
Tatapan mata mereka seperti sedang memohon, sehingga membuat Arya Susena tidak tega. Dan yang lebih tidak tega lagi adalah, ketika mata itu melihat mereka semua yang terluka akibat dianiaya oleh orang-orang yang sangat kejam.
"Ya. Saya adalah arya susena."
Seketika itu mereka semua berlutut di hadapannya, mereka semua menaruh hormat kepada pemuda itu.
"Apa yang kalian lakukan?. Kenapa kalian malah berlutut di hadapanku?."
"Kami mohon bebaskan kami dari penderitaan ini tuan arya susena."
"Tolong bebaskan kami."
"Kenapa kalian berkata seperti itu padaku?."
__ADS_1
"Sebab kabar yang kami dengar, tuan beserta anak buah tuan adalah kelompok pendekar kegelapan yang membela rakyat yang tertindas seperti kami."
"Benar itu tuan. Kami selama ini telah mendengar kabar sepak terjang tuan terhadap orang-orang yang berhati binatang. Tolong bebaskan kami dari penderitaan ini tuan."
Arya Susena dan Darsana saling bertatapan satu sama lain karena mereka merasa prihatin dengan apa yang telah dirasakan oleh penduduk desa.
"Kalian semua tenang saja. Raja kejam itu telah berhasil kami tumpas. Saat ini Raja baru telah memulai berkuasa." Arya Susena dapat melihat raut wajah terkejut mereka semua saat itu.
"Benarkah itu tuan?."
"Ya. Itu sangat benar." Darsana juga melihat itu.
"Lantas?. Apakah kami akan mengalami perubahan setelah ini tuan?."
"Masalah orang tadi biar kami yang mengurus. Dan kalian tunjuklah seseorang yang kalian anggap lebih baik menjadi lurah di sini. Setelah itu datanglah ke istana dengan cara yang baik-baik, sebab Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara akan memberikan sumbangan kepada siapa saja yang datang ke istana."
"Oh!. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan sekali."
Saat itu terlihat sangat jelas bagaimana kegembiraan yang mereka rasakan. Sungguh mereka tidak menduga sama sekali jika raja baru adalah?.
"Tapi, bukankah Raden kanigara lakeswara telah lama tewas tuan?."
Ya, rasanya sangat aneh ketika mereka mendengarkan nama itu.
"Raden kanigara lakeswara masih hidup, dan sekarang beliau telah menjadi raja Agung yang akan membawa perdamaian di kerajaan ini."
"Hidup Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara!."
Saat itu mereka mengagung-agungkan nama raja baru itu, dan tentunya mereka sangat berharap, adanya perubahan yang berbeda dari yang sebelumnya.
...***...
Sementara itu Bajra yang sedang berada di kawasan desa tebing tinggi. Pada saat itu matanya menangkap beberapa orang yang keluar masuk ke desa itu dengan membawa senjata.
"Jadi mereka benar-benar berniat untuk melakukan pemberontakan?. Kalau begitu aku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut lagi, supaya aku mengetahui apa yang telah mereka rencanakan sebenarnya." Dengan menggunakan pakaian seadanya ia mencoba menyamar dan berbaur dengan orang-orang di sekitar itu.
"Hei!. Kau!."
Deg!.
"Cepat masuk karena kita akan mengadakan pertemuan."
"Baik."
Bajra hanya pasrah saja dan ikut dengan orang itu.
"Aku memang tidak ahli dalam menyamar seperti arya susena. Tapi setidaknya aku bisa melakukan hal yang lain untuk melakukan penyamaran."
Setelah itu ia masuk ke sebuah tempat yang merupakan tempat rahasia dari para pemberontak.
...**...
Berbeda lagi dengan Patari dan Nismara. Saat itu kedua pendekar wanita cantik itu sedang berjalan santai. Namun pada saat itu mereka sama sekali tidak melihat adanya penduduk desa yang mungkin masih berada di luar rumah.
"Apakah kau tidak merasakan ada hal yang aneh dari tempat ini?."
"Ya. Aku rasa memang seperti itu. Aku tidak melihat adanya tanda-tanda penduduk berada di sini."
"Kalau begitu mari kita cari tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Patari dan Nismara berjalan lebih jauh lagi menuju pemukiman.
"Tapi rasanya ada hal yang ganjal yang ingin aku katakan kepadamu."
Nismara tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Patari pada saat itu.
"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan arya susena?. Apakah kau memiliki hubungan yang khusus dengannya?."
Deg!.
Nismara sedikit terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh temannya itu.
"Kenapa tiba-tiba saja kau ingin mengetahui bagaimana hubunganku dengan orang sinting itu?."
"Heh!." Patari langsung mendekati Nismara. "Mulutmu boleh mengatakan jika dia adalah orang sinting. Akan tetapi gerak-gerik tubuhmu dan hatimu mengatakan hal yang berbeda."
__ADS_1
"Kau jangan menghakimi aku seperti itu. Lalu bagaimana hubunganmu dengan darsana?. Bahkan saat itu aku mendengar kabar bahwa kau selalu dilindungi oleh pemuda itu. Dan kau telah jatuh hati kepadanya?."
Untuk sesaat keduanya terdiam karena itu mungkin adalah sebuah kenyataan yang mereka hadapi. Namun setelah itu mereka menghela napas karena merasa heran.
"Karena kondisi kita sedang melaksanakan tugas, mungkin lain kali kita akan berbagi cerita mengenai mereka yang sinting itu."
"Baiklah. Kalau begitu aku setuju dengan apa yang kau katakan."
Entah kenapa mereka tiba-tiba saja tidak bersemangat untuk membahas masalah percintaan. Rasanya sangat gugup untuk keduanya bahas ketika menghadapi tugas yang sangat penting itu. Tapi apakah keduanya tidak bisa merasakan perasaan cinta terhadap orang yang mereka sukai?. Hanya waktu yang akan menjawab semua itu.
...***...
Di istana.
Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara, Senopati Warsa Jadi, dan yang lainnya saat itu sedang melayani kedatangan lurah Adipati dan juga beberapa jajaran perangkat desa yang hadir pada hari itu.
"Saudara-saudara sekalian. Maaf jika selama pemerintahan ayahanda Prabu Maharaja kanigara rajendra belum bisa memberikan yang terbaik kepada rakyatnya. Atas nama keluarga besar istana meminta maaf kepada seluruh rakyat kerajaan Telaga Dewa. Semoga dalam pertemuan ini kita bisa membahas masalah apa saja yang sedang terjadi selama ini. Dan semoga saja kita bisa memberikan solusi pemecah masalah dari apa yang telah terjadi."
Pada pertemuan itu mereka benar-benar membahas masalah perekonomian rakyat yang mulai merosot sejak lama. Namun pada saat itu mereka sedang memulihkan keadaan perekonomian rakyat secara perlahan-lahan. Dengan mencoba memberikan beberapa sumbangan terhadap desa yang sangat membutuhkan, selain itu mereka juga menjaga hasil panen agar dapat digunakan untuk beberapa bulan ke depan.
"Dalam kesempatan yang sangat berbahagia ini marilah kita membahas masalah pendapatan penduduk yang mungkin masih di bawah garis yang seharusnya. Dan kami juga memohon kepada penduduk yang memiliki pendapatan yang agak di atasnya untuk membantu saudara kita yang mungkin mengalami kesulitan dalam masalah pendapatan di tempatnya."
"Mohon ampun Gusti Prabu. Di desa sungai panjang saat ini sedang menunggu panen. Jika berkenan mohon bantuannya untuk tenaga kerja untuk menambah jumlah penduduk yang untuk memanen hasil besok pasti. Karena jumlah laki-laki yang berada di sana agak kurang Gusti."
"Baiklah jika masalah itu aku akan memerintahkan prajurit untuk membantu kalian. Terima kasih karena telah bersedia mengatakan dengan jujur bagaimana kondisi desa sungai panjang saat ini."
"Sama-sama Gusti."
Begitu banyak masalah yang mereka selesaikan pada hari itu. Bukan hanya menyelesaikan masalah anda mencoba memberikan solusi dan saran yang baik kepada mereka yang hadir.
...***...
Desa Tebing Tinggi.
Bajra memperhatikan dengan baik apa saja yang telah mereka rencanakan pada saat itu. Termasuk ketika ia melihat bagaimana Senopati Jenar Tapa yang sedang memberikan patik api pemberontakan kepada mereka semua.
"Aku yakin saat ini mereka semua sangat lemah karena merasa menang setelah mendapatkan tahta itu. Dan saat kelengahan itu kita manfaatkan untuk menyerang mereka pada malam hari besoknya. Kita sudah tidak bisa menunggu lama lagi untuk menyerbu istana."
"Hamba juga sudah tidak sabar lagi ingin menyerang istana itu Gusti. Hamba telah menyiapkan seluruh kekuatan hamba untuk menyerbu malam besok."
"Bagus!. Kita semua harus percaya diri dengan apa yang akan kita lakukan. Jangan sampai kita kalah pada orang-orang yang licik itu!. Maka kita juga akan menggunakan kelicikan yang sama dengan mereka. Kita gunakan ajian serap jiwa untuk membuat mereka semua tertidur lelap. Namun setelah itu kita bunuh mereka semua dalam keadaan tertidur!."
"Kami dengan senang hati akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh Gusti. Kita rebut kembali istana dengan kekuatan kita."
"Harus!. Kita harus merebut kembali istana!. Kita bunuh mereka dengan menggunakan ajian serap jiwa. Dan kita bunuh kelompok pendekar kegelapan yang telah berani ikut campur selama ini!."
Pada saat itu mereka tidak menyadari bahwa salah satu anggota kelompok pendekar kegelapan telah hadir bersama mereka.
"Jika itu rencana kalian?. Aku telah mengetahuinya dengan sangat jelas. Sangat disayangkan sekali, Senopati jenar tapa. Namun orang yang akan membunuhmu bukanlah aku, melainkan nismara. Karena kau telah membunuh kedua orang tuanya dengan sangat keji." Dalam hati Bajra merasa kasihan kepada Senopati Jenar Tapa.
...***...
Arya Susena dan Darsana sedang duduk sejenak di sebuah pondok yang cukup nyaman. Sebenarnya itu adalah tempat perbatasan desa Tebing Tinggi dengan desa Hutan Jati.
"Kenapa kita malah duduk di sini arya?."
"Karena aku rasa di sinilah tempat yang cocok untuk bertemu dengan mereka semua nantinya."
"Apakah kau yakin mereka akan bertemu di sini?."
"Apakah kau meragukan aku?."
"Kenapa kau selalu saja membalikkan pertanyaanku dengan pertanyaan lain?."
"Baiklah. Karena tempat ini merupakan perbatasan jadi aku rasa ini tempat yang mudah untuk diketahui siapa saja."
Darsana hanya menghela nafasnya.
"Oh?. Rupanya kalian berada di sini?."
Deg!.
Darsana sangat terkejut ketika ia mendengarkan suara Patari yang berada di belakangnya?.
"Sudah aku katakan bukan?." Arya Susena tersenyum dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
...***...