PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 38


__ADS_3

...***...


Sebelum berangkat perang. Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sempat minta izin pada Ratu Aristawati Estiana.


"Kalian masih muda, tapi kenapa kalian malah dilibatkan dalam perperangan ini?."


"Ibunda tenang saja, kami tidak akan lama."


"Benar itu ibunda. Lagi pula di sini ada paman triasti yang akan menjaga ibunda."


"Hamba akan menjaga gusti ratu dengan sangat baik."


"Terima kasih paman triasti."


Setelah itu kedua putra dari Ratu Aristawati Estiana segera meninggalkan istana bersama prajurit yang telah siap untuk berperang.


"Semoga kalian bisa menjalani tugas gaib kalian dengan lancar." Dalam hati Sardala Saguna atau yang mereka kenal dengan nama Triasti.


Mereka semua pergi dengan penuh kebanggaan, sebagai bagian dari prajurit perang kerajaan Telaga Dewa?. Apakah mereka tidak menyadari?. Jika tidak ada satupun penduduk kota raja yang saat itu melihat kepergian mereka?. Namun hanya beberapa pasang mata saja yang memperhatikan kepergian mereka?.


"Seperti yang dikatakan arya susena. Mereka benar-benar bergerak ke empat arah yang berbeda dengan jumlah pasukan yang sangat banyak."


"Tapi aku tidak menduga jika rencana yang dibuat oleh arya susena sangat sederhana, hal yang tidak pernah terpikirkan oleh senopati perang manapun." Raden Kanigara Lakeswara sangat heran, sekaligus takjub. "Bahkan sebuah negara besar pasti akan memikirkan cara mengalahkan prajurit dahulu, baru rajanya. Tapi arya susena berbeda. Dia malah mengusir prajurit dengan menentukan tempat perang dengan menggunakan pasukan bayangan?. Setelah itu ia masuk ke istana untuk membunuh rajanya?. Ini rasanya sangat mustahil aku terima ada taktik perang yang seperti itu." Kepalanya terasa panas memikirkan ide aneh seperti yang dibuat oleh Arya Susena.


"Tenanglah Raden. Meskipun kita berada di tempat yang aman, jangan sampai Raden mengacaukan semua rencana yang telah dibuat arya susena." Nismara malah menatap tajam ke arah Raden Kanigara Lakeswara. "Jika itu terjadi, aku yakin Raden adalah orang pertama yang akan digantung arya susena di alun-alun istana."


Deg!.


Tentunya Raden Kanigara Lakeswara sangat takut membayangkan apa yang telah dikatakan Nismara, mengingat Arya Susena bukanlah orang yang akan memberi belas kasihan pada siapapun yang ia anggap telah membuatnya marah.


Di sisi lain.


Gerbang menuju Bukit Semak.


Beberapa pemuda yang dipimpin Jande Ingaspati sedang mengamati mereka semua yang baru saja memasuki gerbang Bukit Semak. Sepertinya mereka hanya ingin memastikan apakah semua prajurit yang dipimpin oleh Patih Palasara Mada telah meninggalkan kota raja.


"Bagaimana kakang?. Apakah kita perlu melapor pada kakang warsa jadi?. Bahwa mereka telah meninggalkan perbatasan?."


"Nanti saja. Setelah kita memastikan mereka semua, bahwa mereka telah memasuki bukit semak."


"Baiklah kakang. Kalau begitu akan saya ikuti mereka sampai memasuki kawasan bukti semak."


"Baiklah. Cepat kembali jika kau telah memastikan mereka masuk ke kawasan itu."


Setalah itu ia pergi meninggalkan tempat, ia hanya perlu ikut dari jarak yang cukup aman saja. Sebab sesuai dengan rencana, setelah mereka memasuki kawasan Bukti Semak?. Maka mereka akan bergerak masuk ke dalam istana.


"Kita lihat, siapa yang akan tertawa pada bagian akhir." Ucapnya dengan penuh kemenangan?. Benarkah seperti itu?. Lanjut.


...***...


Sementara itu di istana.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedang duduk di singgasana sana miliknya, sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini?.


"Aku ini adalah raja yang sempurna, tapi kenapa mereka masih saja ingin memberontak padaku?." Itulah yang menjadi tanda tanya dalam pikirannya saat itu. "Harusnya mereka bersyukur padaku, karen aku telah mengizinkan mereka untuk tinggal di kerajaan ini." Ia menatap lurus ke depan.


"Siapa yang mau bersyukur tinggal di kerajaan yang dipimpin oleh raja kejam seperti kau?." Tiba-tiba saja ada suara yang berkata seperti itu padanya?.


Deg!. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan suara itu, sehingga ia bangkit dari duduknya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ketika ia melihat sosok Prabu Maharaja Kanigara Maheswara dengan pakaian yang sangat rapi?. Pakaian seorang perwira perang yang sangat gagah berani?.


"Bertahun-tahun kau memimpin istana ini, kau malah memberikan penderitaan pada rakyat, dan kau mengatakan mereka harusnya bersyukur?. Bersyukur untuk apa?." Ada bentuk kemarahan yang hendak ia sampaikan saat itu. "Bersyukur karena memiliki raja kejam seperti kau?. Heh!. Itu terdengar sedang menghibur diri yang terluka."

__ADS_1


"Diam kau maheswara. Kau telah lama tiada. Kenapa kau masih saja menampakkan dirimu yang lemah itu di hadapanku?!."


"Sudah aku katakan padamu. Aku hidup sampai sekarang karena pikiranmu yang sangat takut, jika suatu hari nanti aku akan mengambil tahta yang telah kau ambil dariku dengan cara yang sangat keji."


"Diam kau maheswara!." Ia keluarkan keris api yang telah ia siapkan untuk menghadapi orang mati?.


"Aku akan mengambil tahta ini, dan akan aku berikan pada putraku, raden kanigara lakeswara."


Namun bagaimana dengan tanggapan dari Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu?. Ia malah tertawa puas dengan apa yang telah ia dengar saat itu. "Kau jangan terlalu berharap maheswara!. Aku telah membunuh anakmu!. Ahahaha!."


Prabu Maharaja Kanigara Maheswara tersenyum kecil menanggapi itu. "Siapa yang telah mengatakan jika anakku telah tiada?." Ia melihat ke arah belakangnya.


"Kau jangan coba-coba menghibur diri maheswara. Anakmu telah tewas dihabisi para perampok!. Ahahaha!."


"Kalau begitu akan aku panggil dia." Prabu Maharaja Kanigara Maheswara sedikit memiringkan tubuhnya menghadap kirinya. "Putraku raden kanigara lakeswara. Ke sini lah putraku. Pamanmu ingin melihat kau masih hidup." Panggilnya dengan penuh kasih sayang.


Deg!.


Rasanya detak jantungnya saat itu benar-benar sangat tidak stabil setelah melihat Raden Kanigara Lakeswara yang pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Hormat saya paman prabu." Dengan nada yang sangat sopan ia memberi hormat.


"Kau?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra seperti kehilangan kata-kata. "Kau bukanlah lakeswara. Jika kau adalah lakeswara, maka kau akan memanggil aku dengan sebutan ayahanda prabu, bukan paman prabu."


"Saya telah mengetahuinya ketika kondisi saya dalam keadaan setengah mati. Paman prabu yang mengatakan pada ibunda saya ratu arundaya dewani, bahwa saya bukanlah putra daru maharaja kanigara rajendra, akan tetapi saya adalah putra dari prabu maharaja kanigara maheswara." Ucapnya dengan penuh rasa sakit. "Dengan sangat jelas paman prabu yang mengatakan itu." Lanjutnya.


"Jadi saat itu kau hanya berpura-pura terluka parah untuk mengelabui aku?. Kau memang kurang ajar!."


"Itu semua aku lakukan demi mengetahui kebenarannya." Hatinya sangat sakit atas perlakuan ayahandanya itu?.


...***...


...***...


Sebelum berangkat perang. Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sempat minta izin pada Ratu Aristawati Estiana.


"Kalian masih muda, tapi kenapa kalian malah dilibatkan dalam perperangan ini?."


"Ibunda tenang saja, kami tidak akan lama."


"Benar itu ibunda. Lagi pula di sini ada paman triasti yang akan menjaga ibunda."


"Hamba akan menjaga gusti ratu dengan sangat baik."


"Terima kasih paman triasti."


Setelah itu kedua putra dari Ratu Aristawati Estiana segera meninggalkan istana bersama prajurit yang telah siap untuk berperang.


"Semoga kalian bisa menjalani tugas gaib kalian dengan lancar." Dalam hati Sardala Saguna atau yang mereka kenal dengan nama Triasti.


Mereka semua pergi dengan penuh kebanggaan, sebagai bagian dari prajurit perang kerajaan Telaga Dewa?. Apakah mereka tidak menyadari?. Jika tidak ada satupun penduduk kota raja yang saat itu melihat kepergian mereka?. Namun hanya beberapa pasang mata saja yang memperhatikan kepergian mereka?.


"Seperti yang dikatakan arya susena. Mereka benar-benar bergerak ke empat arah yang berbeda dengan jumlah pasukan yang sangat banyak."


"Tapi aku tidak menduga jika rencana yang dibuat oleh arya susena sangat sederhana, hal yang tidak pernah terpikirkan oleh senopati perang manapun." Raden Kanigara Lakeswara sangat heran, sekaligus takjub. "Bahkan sebuah negara besar pasti akan memikirkan cara mengalahkan prajurit dahulu, baru rajanya. Tapi arya susena berbeda. Dia malah mengusir prajurit dengan menentukan tempat perang dengan menggunakan pasukan bayangan?. Setelah itu ia masuk ke istana untuk membunuh rajanya?. Ini rasanya sangat mustahil aku terima ada taktik perang yang seperti itu." Kepalanya terasa panas memikirkan ide aneh seperti yang dibuat oleh Arya Susena.


"Tenanglah Raden. Meskipun kita berada di tempat yang aman, jangan sampai Raden mengacaukan semua rencana yang telah dibuat arya susena." Nismara malah menatap tajam ke arah Raden Kanigara Lakeswara. "Jika itu terjadi, aku yakin Raden adalah orang pertama yang akan digantung arya susena di alun-alun istana."


Deg!.


Tentunya Raden Kanigara Lakeswara sangat takut membayangkan apa yang telah dikatakan Nismara, mengingat Arya Susena bukanlah orang yang akan memberi belas kasihan pada siapapun yang ia anggap telah membuatnya marah.

__ADS_1


Di sisi lain.


Gerbang menuju Bukit Semak.


Beberapa pemuda yang dipimpin Jande Ingaspati sedang mengamati mereka semua yang baru saja memasuki gerbang Bukit Semak. Sepertinya mereka hanya ingin memastikan apakah semua prajurit yang dipimpin oleh Patih Palasara Mada telah meninggalkan kota raja.


"Bagaimana kakang?. Apakah kita perlu melapor pada kakang warsa jadi?. Bahwa mereka telah meninggalkan perbatasan?."


"Nanti saja. Setelah kita memastikan mereka semua, bahwa mereka telah memasuki bukit semak."


"Baiklah kakang. Kalau begitu akan saya ikuti mereka sampai memasuki kawasan bukti semak."


"Baiklah. Cepat kembali jika kau telah memastikan mereka masuk ke kawasan itu."


Setalah itu ia pergi meninggalkan tempat, ia hanya perlu ikut dari jarak yang cukup aman saja. Sebab sesuai dengan rencana, setelah mereka memasuki kawasan Bukti Semak?. Maka mereka akan bergerak masuk ke dalam istana.


"Kita lihat, siapa yang akan tertawa pada bagian akhir." Ucapnya dengan penuh kemenangan?. Benarkah seperti itu?. Lanjut.


...***...


Sementara itu di istana.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedang duduk di singgasana sana miliknya, sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini?.


"Aku ini adalah raja yang sempurna, tapi kenapa mereka masih saja ingin memberontak padaku?." Itulah yang menjadi tanda tanya dalam pikirannya saat itu. "Harusnya mereka bersyukur padaku, karen aku telah mengizinkan mereka untuk tinggal di kerajaan ini." Ia menatap lurus ke depan.


"Siapa yang mau bersyukur tinggal di kerajaan yang dipimpin oleh raja kejam seperti kau?." Tiba-tiba saja ada suara yang berkata seperti itu padanya?.


Deg!. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan suara itu, sehingga ia bangkit dari duduknya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ketika ia melihat sosok Prabu Maharaja Kanigara Maheswara dengan pakaian yang sangat rapi?. Pakaian seorang perwira perang yang sangat gagah berani?.


"Bertahun-tahun kau memimpin istana ini, kau malah memberikan penderitaan pada rakyat, dan kau mengatakan mereka harusnya bersyukur?. Bersyukur untuk apa?." Ada bentuk kemarahan yang hendak ia sampaikan saat itu. "Bersyukur karena memiliki raja kejam seperti kau?. Heh!. Itu terdengar sedang menghibur diri yang terluka."


"Diam kau maheswara. Kau telah lama tiada. Kenapa kau masih saja menampakkan dirimu yang lemah itu di hadapanku?!."


"Sudah aku katakan padamu. Aku hidup sampai sekarang karena pikiranmu yang sangat takut, jika suatu hari nanti aku akan mengambil tahta yang telah kau ambil dariku dengan cara yang sangat keji."


"Diam kau maheswara!." Ia keluarkan keris api yang telah ia siapkan untuk menghadapi orang mati?.


"Aku akan mengambil tahta ini, dan akan aku berikan pada putraku, raden kanigara lakeswara."


Namun bagaimana dengan tanggapan dari Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu?. Ia malah tertawa puas dengan apa yang telah ia dengar saat itu. "Kau jangan terlalu berharap maheswara!. Aku telah membunuh anakmu!. Ahahaha!."


Prabu Maharaja Kanigara Maheswara tersenyum kecil menanggapi itu. "Siapa yang telah mengatakan jika anakku telah tiada?." Ia melihat ke arah belakangnya.


"Kau jangan coba-coba menghibur diri maheswara. Anakmu telah tewas dihabisi para perampok!. Ahahaha!."


"Kalau begitu akan aku panggil dia." Prabu Maharaja Kanigara Maheswara sedikit memiringkan tubuhnya menghadap kirinya. "Putraku raden kanigara lakeswara. Ke sini lah putraku. Pamanmu ingin melihat kau masih hidup." Panggilnya dengan penuh kasih sayang.


Deg!.


Rasanya detak jantungnya saat itu benar-benar sangat tidak stabil setelah melihat Raden Kanigara Lakeswara yang pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Hormat saya paman prabu." Dengan nada yang sangat sopan ia memberi hormat.


"Kau?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra seperti kehilangan kata-kata. "Kau bukanlah lakeswara. Jika kau adalah lakeswara, maka kau akan memanggil aku dengan sebutan ayahanda prabu, bukan paman prabu."


"Saya telah mengetahuinya ketika kondisi saya dalam keadaan setengah mati. Paman prabu yang mengatakan pada ibunda saya ratu arundaya dewani, bahwa saya bukanlah putra daru maharaja kanigara rajendra, akan tetapi saya adalah putra dari prabu maharaja kanigara maheswara." Ucapnya dengan penuh rasa sakit. "Dengan sangat jelas paman prabu yang mengatakan itu." Lanjutnya.


"Jadi saat itu kau hanya berpura-pura terluka parah untuk mengelabui aku?. Kau memang kurang ajar!."


"Itu semua aku lakukan demi mengetahui kebenarannya." Hatinya sangat sakit atas perlakuan ayahandanya itu?.

__ADS_1


__ADS_2