
...***...
Kondisi Istana saat itu ramai, karena saat itu dipenuhi oleh rakyat. Saat itu Darsana, Bajra, Nismara, dan Patari juga telah bergabung di sana. Begitu juga Arya Restapati yang ikut bersama mereka.
"Arya susena." Nismara sangat terkejut dengan penampilan Arya Susena yang terlihat berantakan.
"Aku hanya lelah sedikit saja. Raja kurang ajar itu telah menggunakan keris pusaka yang membuat aku menggunakan banyak tenaga dalam."
"Kalau begitu kau beristirahatlah. Kami akan melanjutkan berbenah di sini."
"Lalu bagaimana dengan pasukan perang lainnya?. Apakah telah mendapatkan kabar dari mereka semua?."
"Masalah perang telah selesai. Mereka semua tewas di lokasi perang masing-masing. Termasuk patih palasara mada."
"Baguslah. Jika memang seperti itu."
Saat itu Raden Kanigara Lakeswara bersama Senopati Jande Ingaspati mendekati mereka semua.
"Apa yang akan kita lakukan terhadapnya?."
"Tentu saja kita kubur dia dengan layak, paman. Meskipun dia adalah seorang raja yang sangat kejam, namun ia tetap akan kembali ke tanah."
"Ya. Aku rasa yang kau katakan itu sangat benar."
"Arya susena. Kau istirahat lah. Kau telah melakukan hal yang sangat besar hari ini. Kau adalah pahlawan kami semua."
Arya Susena melihat ke arah mereka semuanya saat itu memperhatikan dirinya. Entah kenapa dadanya sangat sakit melihat mereka yang memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan. Akan tetapi saat itu, matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenal?.
"Kakang restapati?."
Mereka semua melihat ke arah seseorang yang telah disebutkan namanya oleh Arya Susena.
"Syukurlah kakang datang."
"Kau terlihat sangat berantakan sekali adi." Ada perasaan haru yang ia rasakan saat itu.
"Itu karena kakang tidak mau membantu saya. Jika kakang membantu saya, mungkin keadaan saya tidak akan berantakan seperti ini."
__ADS_1
Setelah itu tidak ada pembicaraan diantara mereka, saat ia melihat ke arah Raden Kanigara Lakeswara.
"Temui lah ibunda Raden. Pasti Raden sangat merindukannya, bukan?."
"Terima kasih arya susena. Tanpa adanya bantuan darimu, aku rasa aku tidak akan pernah mengetahui ini semua."
"Raden tidak perlu mengatakan terima kasih kepada hamba. Segera temui ibunda Raden. Itu lebih baik, daripada Raden berlama-lama berbincang di sini."
"Baiklah arya. Aku pergi dulu. Sampurasun."
"Rampes."
Setelah itu Raden Kanigara Lakeswara pergi ke Kaputren, tentunya ia ingin menemui ibunda yang sangat ia cintai dan sangat ia rindukan.
"Dan untuk kalian. Tetaplah berjaga di istana." Ia melihat ke arah mereka yang sepertinya menunggu perintah dari seseorang. "Jika kalian ingin istirahat, jadikan wisma prajurit untuk istirahat. Tapi jangan sampai bertengkar jika tempatnya tidak besar. Dan jangan sampai aku yang melerai pertengkaran kalian itu nantinya."
Mereka malah tertawa mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh Arya Susena pada saat itu.
"Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin mereka akan bertengkar." Senopati Jande Ingaspati pun ikut tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Arya Susena.
"Dia ini ya?. Masih saja sempat bercanda di dalam kondisi yang seperti ini?." Dalam hati Arya Restapati merasa heran dengan melihat sikap adiknya yang kaku ternyata memiliki sifat humoris yang sangat tinggi. Suasana yang tadinya sempat ke aku ketika menjadi cair hanya karena ucapan Arya Susena yang seperti itu.
"Rampes."
Mereka semua juga pergi meninggalkan tempat itu. Mereka akan berjaga-jaga di istana, karena ada kemungkinan pengikut Prabu Maharaja Kanigara Rajendra akan melakukan penyerangan terhadap mereka nantinya.
"Kau juga beristirahatlah."
"Baik paman."
"Kalau begitu kau istirahat di tempat ku saja arya susena."
"Paman sardala Saguna?."
"Apakah aku perlu menyeretmu untuk istirahat?. Kau ini sangat keras kepala sekali, arya susena. Anak yang nakal!."
Mereka yang berada di sana tertawa kecil melihat raut wajah Sardala Saguna yang sedang memarahi Arya Susena. Setidaknya pada saat itu mereka semua merasa lega karena mereka dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara itu, Raden Kanigara Lakeswara yang menemui ibundanya.
"Sampurasun."
"Rampes."
Deg!.
"Putraku."
"Ananda kembali ibunda."
"Putraku."
Ratu Arundaya Dewani tidak dapat menahan air matanya ketika ia melihat anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Ia luapkan perasaan yang ada di dalam hatinya saat itu dengan tangisan.
"Maafkan nanda, karena telah membuat ibunda cemas."
"Jadi kau selama ini baik-baik saja putraku?." Ratu Arundaya Dewani memeriksa keadaan anaknya.
"Jangan menangis ibunda. Nanda selama ini baik-baik saja. Nanda baik-baik saja ibunda." Raden Kanigara Lakeswara juga ikut menangis, perasaan rindu itulah yang membuatnya menangis.
"Ibunda sangat senang kalau kau baik-baik saja putraku. Ibunda sangat cemas ketika kau pergi dalam keadaan sakit nak." Perasaannya saat itu sangat berkecamuk sehingga ia tidak dapat memikirkan apa-apa lagi. "Tapi kenapa Nanda melakukan itu?. Apa yang membuat nanda melakukan itu nak?."
"Saat nanda pergi melaksanakan tugas yang diberikan oleh ayahanda Prabu. Saat itu pula ada seorang pemuda yang mengatakan jika nanda bukanlah putra kandung dari ayahanda Prabu Maharaja kanigara rajendra." Raden Kanigara Lakeswara mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada hari itu. "Tentunya awalnya nanda tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Akan tetapi dia menggunakan jurus aneh kepada nanda. Sehingga tubuh nanda seperti mati rasa, tapi sebenarnya nanda dapat melihat dan mendengar apa yang telah anda dengar di sekitar. Termasuk pengakuan ayahanda Prabu bahwa ia bukanlah ayah kandung dari nanda."
"Oh, putraku. Maafkan ibunda nak." Ia dekap anaknya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan jika ibunda tidak bisa menceritakan kebenaran itu kepadamu." Hatinya sangat sakit mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. "Sebab saat itu, ketika ayahandamu Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara dibunuh, ibunda sedang mengandung mu nak." Kembali air matanya berderai jatuh begitu saja. Perasaan sedih dan perih yang mendesak dadanya, membuat ia menjadi wanita yang sangat lemah di muka bumi ini. Tentunya itu karena ia kehilangan orang yang sangat ia cintai.
"Lalu apa yang kau lakukan selama berada di luar istana putraku?. Sebab ibunda menganggapmu telah tiada, apalagi kabar yang telah disebarkan oleh kanda Prabu Maharaja rajendral tentang dirimu nak."
"Nanda mengikuti kelompok pendekar kegelapan untuk melihat apa saja yang telah terjadi di luar istana."
"Kau ikut bergabung dengan mereka?."
"Ya. Itu benar ibunda." Ia melepaskan dekapan ibunya. Ia duduk dengan tenang sambil mengingat apa yang telah ia lalui bersama Arya Susena dan keempat anggota lainnya. "Sekarang nanda mengerti mengapa mereka melakukan pembunuhan terhadap petinggi-petinggi istana. Dan beberapa pedagang serta orang-orang yang memiliki kekayaan ibunda."
"Kejahatan tetaplah kejahatan anakku. Jangan campur adukkan kejahatan dengan rasa keadilan."
__ADS_1
"Jika ananda lihat dari kondisinya ibunda. Para tinggi istana lah yang telah membuat mereka seperti itu." Raden Kanigara Lakeswara menatap lekat ibundanya. "Mereka sama sekali tidak peduli dengan penderitaan rakyat. Selama hampir satu bulan nanda bersama mereka. nanda dapat melihat bagaimana keganasan mereka, hasrat membunuh mereka ingin menumpaskan rasa ketidakadilan itu." Raden Kanigara Lakeswara menatap jauh dalam ingatannya. "Mereka melakukan itu, karena petinggi istana yang telah menindas mereka dengan sangat keji. Jadi siapa yang harus disalahkan ibunda?. Apakah takdir?. Takdir yang telah mempermainkan kita semua ibunda. Termasuk takdir ketika mereka ingin membunuh ananda." Hatinya sangat bergemuruh gelisah.
...***...