PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 5


__ADS_3

...***...


Sudah beberapa kali memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigakan?. Nismara dan Patari berhenti di perbatasan desa, sekalian untuk istirahat sejenak.


"Kau ini sangat gila sekali nismara!. Nafasku benar-benar hampir saja putus!."


"Kau saja yang lemah. Jangan salahkan aku!."


"Kau ini memang sangat keterlaluan sekali!."


Patari sangat kesal, karena Nismara hanya terbawa amarah, sehingga ia tanpa berhenti terus berjalan?. Namun pada saat Patari marah-marah?. Bajra dan Darsana datang, keduanya hanya pasrah saja melihat pertengkaran kedua pendekar wanita itu.


"Makanya aku malas melakukan pekerjaan apapun denganmu!. Karena kau sangat menyebalkan!"


"Hei?!. Ada masalah apa?. Sehingga kau marah-marah seperti itu?."


"Akhirnya kalian datang juga."


Patari  mendekati Bajra dan Darsana, ia merengek mengadu atas apa yang ia alami saat itu.


"Nismara sangat jahat sekali padaku bajra. Dia memaksa aku hingga jalan terus."


"Heh!. Dasar wanita lemah!. Sekarang kau malah mengadu pada laki-laki yang belum tentu bisa membelamu!."


"Ahaha!."


Bajra dan Darsana hanya mampu tertawa saja atas apa yang dikatakan Nismara.


"Dia ini punya dendam apa sebenarnya pada laki-laki?. Sehingga seperti itu?." Dalam hati Bajra.


"Rasanya aku tadi tidak salah dalam menghidangkan makanan untuknya?. Tapi kenapa dia ini sangat pemarah sekali?." Dalam hati Darsana.


"Aku kadang bertanya-tanya pada diriku ini?. Apakah aku kategori wanita yang suka marah-marah seperti dia?." Dalam hati Patari tidak bisa membayangkan dirinya yang memiliki sifat pemarah seperti itu.


"Apakah pekerjaan kalian telah selesai?. Membebaskan tahanan dari tangan ampas busuk itu?!."


"Tentu saja kami telah berhasil melakukannya."


"Wah!. Hebat sekali."


Patari sangat terkesan dengan apa yang ia dengar saat itu. Mereka hanya melakukan berdasarkan tugas masing-masing saja, tentunya itu sangat mudah untuk mereka selesaikan.


"Kabar yang aku dengar. Bukankah ada banyak pendekar tanding yang menjaga rumah itu?. Bagaimana mungkin kalian bisa aman keluar dari sana tanpa adanya luka satupun?."


"Benar itu. Apakah kalian menggunakan ilmu aneh untuk keluar dari sana?."


"Jangan mengada-ada. Kami ini adalah pembunuh yang sudah berpengalaman. Tentu saja kami akan melakukan dengan sangat baik."


Ada raut wajah penuh kepuasan saat itu, terlihat bagaimana mereka melakukan pekerjaan utu dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Kembali ke masa itu.


Saat kelima wanita tahanan itu sedang menyiapkan diri?. Bajra dan Darsa sedang menyusun rencana untuk kabur?.


"Kau tenang saja. Aku akan menggunakan tukar sukma, jadi kau jaga tubuhku agar aman."


"Baiklah, jika memang itu yang dapat kita lakukan saat ini untuk kabur dari sini."


"Apa yang akan tuan lakukan?. Apakah tidak akan berbahaya jika mereka mengetahui jika taun ampas telah meninggal?."


"Kalian tenang saja. Serahkan saja masalah ini pada kami. Dan kalian akan aman bersama kami."


"Akan kami percayakan semuanya pada tuan."


Setelah itu Darsana menggunakan jurus merasuki jiwa, tuan Ampasutra hidup?. Dan ia bisa berjalan seperti biasanya?. Tentunya kelima wanita utu sangat takut dengan apa yang mereka lihat.


"Kalian tenang saja. Aku tidak akan berbuat hal yang mencurigakan."


"Kalau begitu langsung saja. Kita tidak boleh terlalu lama berada di sini." Bajra membantu Darsa untuk bangun.


Darsa merapikan pakaian tuan Ampasutra dengan baik, agar tidak terlihat mencurigakan?. Setelah itu mereka keluar dari sana, dan seperti yang telah diperkirakan sebelumnya. Para pengawal yang berjaga-jaga di rumah mewah itu akan curiga.


"Tuan?. Kenapa tuan keluar bersama para tawanan?."


"Apa yanng kau bicarakan dihadapan tamuku ini?. Mereka ingin membeli semua wanita ini!."


"Apakah yang akan tuan lakukan?. Kenapa tuan ikut keluar juga?."


"Apakah tuan perlu pengawasan dari kami?."


"Tidak usah!. Aku masih bisa melindungi diriku!. Dan kalian tidak perlu ikut denganku!."


"Tapi tuan?."


"Apakah kau tidak dengar apa yang aku katakan?."


"Baiklah tuan."


Setelah itu mereka meninggalkan gerbang itu dengan sangat aman, tanpa adanya yang merasa curiga sedikitpun.


Kembali ke masa ini.


Darsana tampak tidak ikhlas atas apa yang ia lalukan saat itu. "Aku sangat benci masuk ke dalam tubuh babi kampung itu. Rasanya sukmaku langsung kotor setelah merasuki tubuh itu."


"Hahaha!. Kau ini terlalu berlebihan sekali."


"Tapi kalian sangat hebat bisa menggunakan jurus itu untuk kabur. Sangat luar biasa sekali."


"Jadi pekerjaan kita hari ini selesai dengan sangat aman?."

__ADS_1


"Satu pekerjaan belum selesai."


"Apa?."


Dengan serentaknya Bajra, Darsana, dan Patari melihat ke arah Nismara yang tampak kesal?.


"Si bodoh arya susena belum juga kembali. Jadi pekerjaan kita belum bisa dikatakan selesai."


Mereka semua tentunya menyadari apa yang telah dikatakan Nismara. Hanya Arya Susena saja yang belum kembali.


"Apakah pertarungannya dengan senopati itu sangat berat?. Sehingga dia belum juga kembali?."


"Aku rasa dia saat ini sedang bermalas-malasan kayaknya seekor kucing yang sedang mencari tempat tidur."


"Oh?!. Maaf ya?. Jika kau memberikan penilaian seperti itu tentang diriku."


"Arya susena?!."


Saat itu mereka semua sangat terkejut melihat Arya Susena yang sedang berdiri di atas sebuah pohon yang cukup tinggi.


"Maaf jika aku membuat kalian menunggu." Ucapnya dengan sangat santai, dan setelah itu ia malah melompat tanpa adanya perasaan takut.


"Sepertinya kau telah melakukan hal yang besar, sehingga kau terlihat tersenyum puas."


"Apakah kau berhasil membunuh senopati biadab itu?."


”Apakah kau mengalami kesulitan?. Sehingga kau lama datangnya?."


"Bagaimana dengan nasib senopati bedebah itu?. Apakah kau membiarkannya hidup?."


"Kalau bertanya jangan beruntun seperti itu." Balasnya. "Aku jadi bingung ingin menanggapi ucapan siapa?." Malah mengeluh.


Siapa yang diakan keteteran menengadahkan pertanyaan seperti itu?. Empat orang teman yang menyerbu dengan pertanyaan yang beruntun. Siapa yang mampu menjawab itu?. Hanya orang-orang tertentu mungkin?. Mereka malah tertawa mendengarkan ucapan Arya Susena, dan bahkan melihat reaksi Arya Susena diserbu dengan pertanyaan seperti itu.


"Hehehe!."


"Maaf ya arya susena. Itu karena kami sangat cemas padamu."


"Huffh!."


"Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan. aku merasakan ada yang mendekat ke arah kita."


"Kalau begitu kita langsung saja pergi dari sini."


"Baiklah."


"Kau ini sangat curang sekali arya susena!. Kau malah berubah menjadi burung elang!."


Mereka semua sangat marah, karena Arya Susena mengubah dirinya menjadi Elang untuk mengelabui musuhnya?. Pada saat itu mereka terpaksa pergi dari sana karena ada hawa yang tidak biasa mendekati mereka saat itu. Sebagai pendekar kegelapan yang membunuh banyak musuh?. Tentunya mereka dapat membedakan hal yang berbahaya dan hal yang harus mereka tanggapi.

__ADS_1


Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2