
...***...
Darsana, Patari, dan Bajra saat itu hanya berada di Hutan Larangan saja. Karena Arya Susena melarangnya untuk ikut dengannya, karena menurutnya itu adalah masalah pribadi yang harus disegera ia selesaikan kepada orang yang bersangkutan.
"Kalian tetaplah berada di sini untuk menjaga nismara. Atau kalian boleh membantu Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara untuk mengatasi beberapa masalah yang ada di istana."
"Tapi kami ingin ikut bersamamu arya. Kami takut terjadi sesuatu kepadamu nantinya."
"Kalian tenang saja. Jika terjadi sesuatu kepadaku maka gagak-gagak yang ada di dalam hutan ini akan memberitahukan kondisiku kepada kalian."
Ya, gagak hitam yang ada di dalam hutan itu memang telah bersahabat sangat dekat dengan Arya Susena. Bahkan saking dekatnya?. Gagak itu seperti nyawa bagi Arya Susena yang memberikan alarm yang sangat berbahaya.
"Kalau begitu aku berangkat dulu." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Apakah kalian yakin akan membiarkannya pergi sendirian?."
"Aku rasa biarkan saja dia menyelesaikan masalah pribadinya. Lagi pula dia adalah arya susena, jadi biarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri."
"Iya, aku rasa dia mampu menyelesaikan masalahnya sendiri."
Setelah itu mereka benar-benar pasrah saja, karena Arya Susena tidak akan suka jika ada seseorang yang mengganggu masalah pribadinya. Dan saat itu ia melihat ada seorang pendekar yang telah menunggu kedatangannya dengan raut wajah yang sangat sombong.
"Heh!. Ternyata kau datang juga. Aku pikir kau akan mengabaikan tantanganku ini."
"Aku tidak ingat kau siapa. Tapi dari surat matamu kau memiliki dendam yang sangat dalam padaku. Jadi aku datang ke sini karena penasaran dendam seperti apa yang engkau sampaikan kepadaku."
"Bajing busuk!. Dengan mudahnya mulut kotormu itu mengatakan lupa kepadaku?. Bangsat!." Amarahnya semakin membuncah. "Bagaimana sakitnya hatiku ketika kau membunuh kekasihku di hadapanku!. Aku tidak akan pernah lupa apa yang telah kulakukan kepadaku saat itu!."
"Jadi seperti itu?." Arya Susena hanya cuek saja. "Kalau begitu kau tidak usah banyak berbasa-basi lagi. Aku ke sini hanya bukan untuk menjadi sasaran balas dendammu saja. Aku juga ingin melepaskan semua amarah yang aku rasakan dua hari ini."
"Bedebah!. Kau memang sangat bedebah!. Arya susena!." Dengan amarah yang semakin membara ia segera menyerang Arya Susena dengan pukulan yang sangat kuat.
Namun saat itu Arya Susena hanya menghindarinya saja, hanya sesekali saja ia menangkis serangan itu. Raut wajahnya tampak bosan, seakan-akan ia tidak menikmati pertarungan ini sama sekali. Meskipun pukulan dan tendangan yang diarahkan ke tubuhnya menggunakan tenaga dalam yang sangat besar, tapi sayangnya bagi Arya Susena itu seperti pukulan anak kecil yang baru saja belajar ilmu kanuragan.
"Kau benar-benar sangat kurang ajar." Jalak Suren semakin emosi melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Arya Susena. Dengan sangat gencarnya ia menggunakan pukulan tenaga dalamnya, bahkan sesekali tendangannya itu hampir mendarat ke kepala Arya Susena.
Karena belum ada juga tanda-tanda Arya Susena akan mengeluarkan jurusnya?. Jalak Suren melompat ke belakang dengan salto, setelah itu ia memainkan jurus tapak racun hitam. Jurus pukulan yang dialiri dengan tenaga dalam yang mengandung racun yang sangat berbahaya.
"Aku tidak akan main-main lagi. Aku akan segera menuntaskan semua dendam yang aku rasakan kepadamu!." Setelah itu ia melompat ke arah Arya Susena.
"Jika itu yang kau inginkan, maka aku akan melakukan hal yang sama." Arya Susena juga memainkan jurus andalannya. "Jika kau memang ingin mati." Dalam hatinya saat itu sedang memikirkan jurus apa yang sangat cocok untuk mengalahkan musuhnya.
Akan tetapi pada saat itu ada seseorang yang datang menyerang keduanya sehingga keduanya terpaksa melompat menjauh.
"Kurang ajar!. Berani sekali kau ikut campur dalam pertarungan ini!."
Ada seorang pemuda yang terlihat aneh, matanya ditutupi dengan kain hitam?. Apakah dia mengalami kebutaan?. Atau dia sengaja melakukan itu?.
"Kau?. Arya susena. Aku sangat kenal dengan hawa murni mu itu." Pemuda asing itu menunjuk ke arah Arya Susena yang masih tampak tenang meskipun tadi ia hampir saja terkena serangan dadakan itu.
"Hei!. Aku bertanya kepadamu!. Berani sekali kau mengabaikan aku!."
"Aku ini ranta palu. Orang yang dulunya dikalahkan oleh arya susena. Dia yang telah membuat aku jadi seperti ini. Sekarang aku datang untuk membalas apa yang telah dia lakukan kepadaku."
"Memangnya apa yang telah dia lakukan kepadamu?. Sehingga kau ingin balas dendam kepadanya?."
"Mata. Mataku ini buta karena jurus jari penusuk sukma yang dia gunakan beberapa tahun yang lalu kepadaku."
Deg!.
Jalak Suren sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh pemuda itu kepadanya. "Jadi dia memiliki dendam yang sama kepada pemuda busuk ini?." Setidaknya itulah yang muncul di dalam pikirannya saat itu.
"Aku telah bersumpah. Meskipun mataku tidak bisa melihat lagi, tapi itu tidak akan menghentikan aku untuk membunuhmu!. Arya susena."
Arya Susena sama sekali tidak menanggapi apa yang telah dikatakan oleh pemuda itu. Sebab apa yang dilakukannya di masa lalu adalah demi melindungi rakyat yang telah ditindas oleh mereka. Jadi apakah sepenuhnya itu adalah salah dirinya?.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan bergabung denganmu. Karena aku juga memiliki dendam untuk membunuhnya. Jadi aku rasa tidak ada ruginya kita bekerja sama untuk membunuhnya."
"Jadi kamu miliki dendam yang sama?."
"Ya. Dia telah membunuh kekasihku. Orang yang sangat aku cintai. Aku dendam kepadanya, sehingga aku ingin membunuhnya secepatnya." Hatinya masih saja belum bisa menerima dengan apa yang telah terjadi. "Karena kita memiliki dendam yang sama, bagaimana kalau kita bekerja sama?." Saat itu ia mengeluarkan sebuah pedang yang sangat berbahaya. Pedang itu terlihat sangat kecil akan tetapi padang itu mengandung hawa yang sangat berbahaya.
"Aku rasa itu tawaran yang sangat bagus. Aku rasa aku tadinya akan sendiri berhadapan dengan bajing busuk itu." Ranta Palu sedikit tersenyum. "Jika ada kawan yang memiliki tujuan yang sama?. Kenapa tidak segera lakukan saja?.
Bagaimana pertarungan mereka nantinya?. Simak dengan baik bagaimana pertarungan itu terjadi nantinya.
...***...
Di Hutan Larangan.
Seekor gagak masuk ke alam sukma, tepatnya menuju tempat Nini siluman Gagak Hitam.
"Ada apa kau datang kemari?. Apakah kau ingin mengabarkan berita yang sangat penting kepadaku?."
"Mohon ampun Gusti Ratu. Arya susena telah meninggalkan tempat ini."
"Bukankah sudah biasa jika dia pergi meninggalkan tempat ini?. Lalu apa yang penting dari laporan itu?."
"Arya susena akan bertarung dengan seorang pendekar yang memiliki kekuatan hitam yang sangat dahsyat. Lalu apa yang akan kita lakukan?."
"Kau tenang saja. Jika dia marah dia akan menggunakan kekuatan kita. Sama seperti yang dia lakukan ketika ia membunuh Prabu Maharaja kanigara rajendra." Tentunya ia dapat mengetahui itu meskipun tidak melihat langsung ke lokasinya. "Kita terhubung dengan baik melalui tenaga dalam milik arya susena. Jadi tidak ada perlunya kita khawatir berlebihan terhadapnya."
"Baiklah. Kalau begitu hamba akan kembali bertugas."
"Ya. Lakukan pengamatan dengan baik di hutan ini."
Setelah itu Gagak Hitam itu kembali menuju tempat ia biasanya bertengger. Sementara itu, Nini siluman Gagak Hitam sedang mengamati Nismara yang masih terbaring di tempat yang sama. "Mungkin besok akan bangun. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi melihatmu cah ayu." Nini siluman Gagak Hitam tersenyum kecil menatap Nismara yang masih saja tertidur.
...***...
Sementara itu di kediaman keluarga Dewi Astagina.
"Selamat pagi yunda."
"Selamat pagi adi."
"Selamat pagi ibunda."
"Selamat putraku."
Saat itu mereka duduk bersama di meja makan untuk sarapan pagi. Akan tetapi pada saat itu mereka sama sekali tidak melihat senyuman manis dari wanita yang bernama Dewi Astagina.
"Ada apa ibunda?. Kenapa raut wajah ibunda terlihat sangat gelisah seperti itu?. Apakah ibunda sedang memikirkan sesuatu?."
"Benar itu yunda. Apa yang telah membuat yunda merasa gelisah di pagi ini?."
Dewi Astagina sedikit menghelan nafasnya ketika ia menjawab pertanyaan dari dua orang yang sangat ia cintai itu. "Entah kenapa aku sangat khawatir kepada arya susena. Rasanya pikiran-pikiran buruk menari begitu saja di dalam kepalaku."
Tentu saja ucapan itu membuat Sardala Saguna dan Arya Restapati sangat terkejut.
"Demi Dewata yang Agung. Kenapa malah berpikiran seperti itu yunda?. Aku sangat yakin saat ini keponakanku arya susena baik-baik saja."
"Benar ibunda. Adi arya susena saat ini pasti dalam keadaan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu kepadanya pasti pihak istana akan mengabari kepada kita ibunda."
Dengan sangat yakinnya Arya Restapati dan Sardala Saguna berkata seperti itu?.
"Tapi entah kenapa firasat ku sebagai ibundanya mengatakan jika ia akan mengalami bahaya." Ia menatap sedih ke arah Arya Restapati dan Sardala Saguna. "Apakah kalian tidak bisa memastikan keadaannya seperti apa sekarang?."
Arya Restapati dan Sardala Saguna saat itu saling bertatapan satu sama lain. Apa yang akan mereka katakan untuk membalas ucapan itu?.
"Tenang saja ibunda. Putra ibunda itu adalah seorang pendekar yang sangat ganas jika bertarung. Jadi ibunda tenang saja." Arya Restapati kadang-kadang mendengar gosip yang sangat menyeramkan tentang adiknya itu selama ia menjadi pendekar pengembara.
__ADS_1
"Benar sekali yunda. Putramu arya susena adalah pendekar yang sangat kuat. Aku rasa dia tidak akan mengalami kesulitan jika bertarung dengan pendekar lainnya yunda." Sardala Saguna juga mendengarkan kabar yang masuk ke istana. Bagaimana keganasan yang dilakukan oleh keponakannya itu jika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki hati yang kejam menindas rakyat.
Akan tetapi jawaban Arya Restapati dan Sardala Saguna belum juga membuat hati Dewi Astagina merasa tenang. "Dengan keganasan kekuatan yang dia miliki itulah, aku semakin cemas kepadanya. Jika suatu hari nanti ada yang ingin membalaskan dendam kepadanya. Itulah yang membuat aku merasa sangat cemas kepadanya." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat buruk sehingga ia tidak dapat menenangkan dirinya. Dalam pikirannya hanya terbayang putranya yang sedang terluka parah setelah bertarung dengan seseorang yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi. "Semoga saja anakku baik-baik saja." Hanya seperti itu yang ya harapkan saat itu. Apakah berlebihan baginya mengkhawatirkan anaknya yang berada di luar jangkauannya saat itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Sementara itu di istana.
Pengangkatan Patih telah ditetapkan, mereka semua setuju jika Senopati Warsa Jadi diangkat menjadi Patih. Mereka semua juga mengetahui siapa Warsa Jadi, sehingga mereka tidak meragukan sama sekali kemampuan yang dimiliki oleh lelaki setengah baya itu.
"Demi Dewata Agung yang telah memberikan kita kesempurnaan untuk menjalankan roda pemerintahan ini. Maka hari ini kita akan merayakan pengangkatan Patih Agung yang akan membantu raja dalam melaksanakan tugas-tugas negara. Aku sebagai raja muda yang telah dipercaya oleh kalian semua, aku mengucapkan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya atas apa yang telah kita lakukan bersama-sama selama ini." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara memberikan ucapan rasa syukur yang sangat dalam atas apa yang telah mereka dapatkan sampai sekarang.
"Hamba juga mengucapkan rasa terima kasih kepada Gusti Prabu yang telah memberikan kepercayaan kepada hamba." Patih Warsa Jadi hampir saja meneteskan air matanya karena haru yang ia rasakan saat itu.
"Kita semua sangat berterima kasih kepada paman. Jika arya susena berada di sini mungkin ia akan mengatakan hal yang sama." Dengan sang Prabu berkata seperti itu. "Kami semua telah mengetahui jika paman adalah orang tua yang telah membesarkan anak-anak dari para petinggi istana sebelumnya. Paman adalah ayah yang sangat hebat bagi mereka. Seorang ayah yang membesarkan dengan kasih sayang dan juga keterampilan yang sangat luar biasa. Melalui ucapan ku ini, mewakili kami yang hadir termasuk arya susena, kami semua mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada paman."
"Oh. Gusti Prabu. Hamba rasa-." Saat itu ia tidak dapat lagi menahan air matanya. Tentu saja ia teringat dengan semua pengorbanannya untuk membesarkan anak-anak dari petinggi istana ketika masa perang yang sedang terjadi masa itu. Dengan segenap hatinya ia telah menjadi sosok ayah bagi mereka semua yang telah kehilangan orang tua mereka. Ia korbankan hidup dan matinya untuk membesarkan mereka semua agar menjadi orang-orang yang berguna di masa depan.
"Dalam pertemuan yang sangat berbahagia ini, mari kita rayakan dengan hati yang sangat bergembira. Ayahanda kita, ayahanda Patih. Ayahanda yang akan membimbing kita semua ke arah yang lebih baik. Semoga kita bisa memajukan negeri ini dengan lebih baik lagi di bawah bimbingan ayahanda Patih. Hidup ayahanda Patih warsa jadi."
"Hidup ayahanda Patih warsa jadi!."
Saat itu mereka mengeluh-eluhkan nama Patih Warsa Jadi yang telah resmi diangkat sebagai patih yang sangat mereka hormati. Dan ia juga tidak akan menduga akan diangkat menjadi Patih diusianya yang hampir senja.
...***...
Arya Susena saat itu sedikit kewalahan menghadapi kedua pendekar yang sangat berambisi untuk membunuhnya. Keringat telah membasahi tubuh mereka karena mereka telah banyak menggunakan jurus-jurus andalan yang cukup menguras tenaga dalam mereka.
Saat itu mereka sedang mengatur tenaga dalam mereka, karena kekuatan tenaga dalam mereka hampir kacau, akibat pertarungan yang telah mereka lakukan sebelumnya.
"Kau benar-benar bajing loncat busuk." Jalak Suren terlihat ngos-ngosan saat itu. "Tenggorokanku hampir saja kering karena bertarung dengan biadab ini." Dalam hatinya sangat kesal karena ia belum juga berhasil melumpuhkan musuhnya.
"Sial!. Tubuhku rasanya sangat sakit sekali menerima pukulan dan tendangannya itu." Dalam hati Ranta Palu juga sangat kesal. Saat itu ia berusaha untuk mengatur tenaga dalamnya agar tidak kacau balau karena dampak dari pertarungan itu.
"Uhuk!." Arya Susena sedikit terbatuk karena nafasnya sedikit sesak. "Heh!. Boleh juga tenaga dalam yang kalian miliki. Tapi aku rasa aku tidak sekedar bermain-main begitu saja dengan kalian." Saat itu ia mengeluarkan pedang Wira Bagaskara. Pedang itu tampak terlihat bercahaya yang sangat menyilaukan seperti matahari.
Deg!.
Keduanya dapat merasakan hawa yang tidak biasa dari pedang Wira Bagaskara. Wira yang bisa jadi artinya tentara dan Bagaskara artinya matahari. Jika digabungkan tentara matahari. Pedang yang memancarkan pamor yang sangat menyilaukan mata.
"Aku sudah muak bermain-main dengan kalian. Keluarkan saja senjata andalan kalian untuk membunuhku. Bukankah itu tujuan kalian datang kepadaku?." Arya Susena kali ini yang menantang mereka.
"Kurang ajar!. Jika kau benar-benar ingin mati maka akan aku kabulkan." Jalak Suren mengeluarkan kapak besar yang sangat mengerikan. Karena senjata yang ia gunakan tadinya terpental entah ke mana akibat pertarungan mereka.
"Akan aku kabulkan dengan senang hati." Ia keluarkan panah Banaspati, panah api yang dapat mengejar siapa saja yang ia targetkan.
"Ini baru pertarungan yang sesungguhnya antara pendekar." Arya Susena merasa bersemangat dengan apa yang ia lakukan saat itu.
"Kau hadapi dia dengan jarak dekat, dan aku akan memanahnya dari jarak jauh." Ia sedang menyeringai lebar sambil membayangkan jika anak panahnya itu tepat pada sasarannya.
"Baik. Mari kita lakukan." Dengan senang hati ia akan mengikuti apa yang diinginkan oleh Ranta Palu.
Jalak Suren segera menyerang Arya Susena dengan kapak miliknya, namun Arya Susena tidak akan diam begitu saja. Ia gunakan pedang Wira Bagaskara untuk menghadapi musuhnya. Kembali terjadi pertarungan antara mereka, kembali ilmu kanuragan mereka kerahkan untuk menghadapi musuh.
"Bajing busuk itu memang sangat liar." Dalam hati Ranta Palu sedikit kesal, karena Arya Susena bergerak dengan sangat lincahnya, sehingga ia kesulitan untuk membidik sasarannya.
Arya Susena sepertinya sangat menguasai ilmu pedang, sehingga dengan gerakan yang sangat lincah ia hampir saja membuat tangan, kaki, dan kepala Jalak Suren putus dari tempatnya.
"Kegh!. Bajing busuk ini memang sangat tangguh. Tapi aku tidak akan kalah begitu saja darinya." Pikirannya saat itu sangat kacau, ia kewalahan menghadapi Arya Susena yang telah memiliki banyak pengalaman bertarung selama ini. Tentunya ia dapat membaca arah dengan sangat baik.
"Kau jangan banyak melamun saat bertarung dengan aku. Atau kau akan kehilangan nyawamu."
"Diam kau bedebah busuk!. Kau telah menghina aku!."
Saat itu pertarungan mereka seperti orang kesetanan, saling menyerang dan terkadang mereka melindungi diri mereka dari serangan musuh. Apakah mereka benar-benar ingin saling membunuh?. Apakah memang seperti itu dunia pendekar yang sesungguhnya?. Sangat mengerikan sekali memang.
__ADS_1
...***...