PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 37


__ADS_3

...***...


Arya Susena ini sedang menemui seseorang dalam istana. tentunya ia hanya ingin memastikan apakah orang itu baik-baik saja atau tidak.


"Hormat hamba gusi ratu." Ia memberi hormat pada Ratu Arundaya Dewani.


"Kenapa kau datang padaku prajurit?. Apakah ada pesan dari kanda prabu yang menyuruh aku menemuinya?." Ada perasaan luka yang ia perlihatkan saat itu.


"Hamba hanya ingin menyampaikan perasaan rindu seorang anak pada ibundanya, bahwa ia akan datang menjemput ibundanya pada saat yang tepat." Ia tatap mata Ratu Arundaya Dewani yang dipenuhi dengan kesedihan yang sangat dalam.


"Apa yang kau katakan padaku prajurit?. Kau jagan membuat aku terlalu banyak berharap dengan kedatangan anakku." Ratu Arundaya Dewani tidak dapat lagi menahan perasaan sedihnya, hingga tanpa sadar ia menangis.


"Tunggu saja kabar bahagia itu gusti ratu. Percayalah dengan apa yang hamba sampaikan pada hari ini." Hanya mampu tersenyum saja.


"Gusti ratu?."


Saa itu ada sua orang emban yang masuk ke dalam bilik Ratu Arundaya Dewani, Arya Susena segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin pembicaraan itu didengar oleh siapapun juga.


Deg!.


Ratu Arundaya Dewani sangat terkejut, ia tidak melihat prajurit itu?. "Ke manan ia pergi?." Dalam hatinya sangat bingung, hingga ia melihat ke segala arah, namun ia tidak menemukan keberadaan prajurit itu.


"Gusti ratu mencari apa?."


"Apakah tadi ada seseorang yang masuk ke dalam bilik gusti ratu?."


Kedua emban itu sangat cemas dengan kondisi Ratu Arundaya Dewani yang masih belum stabil mentalnya?.


Arya Susena saat itu yang sedang menyamar menjadi prajurit langsung menemui Triasti atau nama aslinya adalah Sardala Saguna.


"Paman sardala saguna." Ia peluk pamannya itu dengan penuh kerinduan.


"Arya susena. Keponakanku." Begitu juga dengan Triasti yang sangat merindukan Arya Susena. "Kenapa kau malah masuk ke sini sendirian?. Apakah kau tidak datang bersama kakangmu?. Di mana dia?." Ia lepaskan pelukan itu.


"Jangan banjiri saya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi seperti itu paman. Nanti nafas saya bisa putus karena menjawab pertanyaan paman sekaligus." Arya Susena menahan tawanya.


Sedangkan Triasti malah tertawa cekikikan mendengarkan apa yang telah dikatakan keponakannya itu. "Ya sudah. Jawab satu-satu saja." Ia tepuk pelan pundak Arya Susena yang duduk tak jauh darinya. "Tapi aku sangat bersyukur, karena kau masih sehat dan aman sampai sekarang. Maaf jika aku tidak bisa bersama mu sampai sekarang." Ada kesedihan yang ia rasakan saat itu.


"Paman tenang saja. Tugas paman lebih berat di sini. Saya harap paman masih menjaga tempat itu dengan baik." Arya Susena mencoba menguatkan hatinya.


"Tentu saja aku selalu melihat tempat itu. Hanya saja aku tidak bisa masuk ke sana sembarangan. Ilmu kanuragan yang aku miliki tidak sekuat milik ayahanda mu." Hatinya sangat sedih dengan itu semua.


"Semoga saja aku bisa membukanya paman." Arya Susena telah memikirkan itu semua. Ia bahkan belum bisa masuk ke sana walaupun telah ia coba berkali-kali untuk menghancurkan pintu itu.


"Lalu bagaimana dengan kakangmu?. Apakah dia baik-baik saja?. Kenapa dia tidak bersama mu?." Perasaanya sangat cemas dengan keadaan kedua keponakannya.


"Saat ini kakang restapati sedang melakukan pengembaraan." Jawabnya. "Katanya ia tidak ingin terlibat dengan pertumpahan darah."


"Apakah kakangmu itu tidak menyadari?. Jika apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita adalah pertumpahan darah?. Terutama pada ayahanda kalian?." Hatinya sangat sakit mengingat apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Paman tenang saja. Saat ini saya sangat yakin kakang restapati akan membantu kita, karena saya telah mengatakan padanya melalui pesan. Bahwa saya telah menemukan keberadaan ibunda. Saya yakin dia akan kembali ke sini dalam waktu dekat ini."


"Benarkah?."


"Semoga saja kakang restapati tidak berubah pikiran, hanya itu saja harapan saya paman."


"Ya, semoga saja."


Itulah harapan keduanya saat itu. Namun apakah mereka masih bisa berharap?. Suatu hari nanti mereka akan berkumpul bersama?.


"Apakah kalian tidak terlalu terburu-buru untuk melakukan perang ini?. Apakah kalian memiliki pasukan yang sangat cukup untuk melakukan perang?." Triasti kembali terlihat cemas.


"Kita tidak perlu menggunakan otot paman. Mesipun kita adalah seorang pendekar, tapi kita hanya perlu menggunakan otak untuk mengalahkan ribuan pasukan prajurit yang hanya mengandalkan otot, bukan ilmu kanuragan." Arya Susena terlihat sangat percaya diri.


"Rasanya aku sedang melihat kakang patih yang menjelma di dalam dirimu arya susena." Tanpa sadar ia meneteskan air mata. "Apa yang kau rencanakan memang sama persis yang dikatakan kakang patih ketika kami kehilangan banyak prajurit yang berperang mempertahankan kerajaan ini, ketika musuh dari kerajaan lain menyerang kami." Dadanya terasa sesak untuk mengingat semua yang telah terjadi di masa lalu.

__ADS_1


"Paman jangan menangis. Saya datang ke sini hanya memastikan keadaan paman baik-baik saja. Bukan berarti saya membuat paman menangis." Arya Susena sedikit panik ketika melihat pamannya menangis.


"Aku hanya terharu saja, karena aku sangat ingat bagaimana kakang patih yang sangat baik padaku, pada yundaku." Ia mencoba untuk menguatkan hatinya, serta menguatkan mentalnya ketika ia melihat Patih Arya Saka yang mendapatkan hukuman mati di hadapannya.


"Paman tenang saja. Jika paman memang teringat dengan mendiang ayahanda arya saka, paman lakukan saja yang selama ini diperlihatkan oleh ayahanda pada semua orang." Arya Susena memang tidak pernah mengetahui bagaimana ayahandanya, akan tetapi ia hanya berharap jika ayahandanya adalah orang yang sangat baik.


"Lalu apa tujuanmu masuk ke sini selain memastikan rencana mereka?. Kau pasti memiliki tujuan lain, kan?." Triasti sangat penasaran.


"Saya sedang mengamati senopati jenar tapa. Orang yang telah membunuh senopati badana sakti, orang tua dari teman saya nismara." Ia masih ingat dengan janji yang ia ucapkan pada Nismara.


"Dia memang seorang penjahat sejati." Triasti sangat ingat dengan itu. "Dia yang memberitahukan di mana tempat persembunyian senopati badana sakti pada kerajaan, sehingga terbunuh dengan sangat mengenaskan." Rasanya ia tidak sanggup untuk mengingat itu. "Akan tetapi saat itu nasib baik masih berpihak pada anaknya yang telah diselamatkan kakang warsa jadi." Ingatannya masih kuat dengan peristiwa itu. "Lantas bagaimana dengan keadaan kakang senopati warsa jadi yang sekarang?. Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya."


"Jika paman kangen sama paman warsa jadi, paman akan bertemu dengannya di area perang nanti."


"Jadi ia ikut dalam perang itu?."


"Semangatnya masih membara. Terutama pada orang-orang yang telah membantai keluarganya dengan keji, serta pembunuhan teman-teman seangkatan dengannya."


"Aku yakin ia akan ganas nantinya."


Keduanya malah tertawa sambil membayangkan apa yang akan dilakukan Senopati Warsa Jadi ketika berhadapan dengan orang-orang yang telah membuat ia menderita di masa lalu. Malam  itu Arya Susena benar-benar bercerita banyak pada adik ibundanya itu. Ia memang tidak sempat bertemu dengan keluarga ayahandanya, karena mereka semua telah dibantai habis oleh para prajurit yang telah diperintahkan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.


...*** ...


Darsana, Nismara, Patari, Bajra dan Raden Kanigara Lakeswara saat itu hanya bisa jalan-jalan saja. Namun tentunya mereka menyamar dengan pakaian biasa, dan menggunakan beberapa atribut lainnya agar wajah mereka tidak dikenali. Karena mereka bukanlah Arya Susena yang dapat menggunakan ilmu malih rupa yang sangat sempurna.


"Mau sampai kapan arya susena bermain-main di dalam istana?. Dan dia malah membiarkan kita menunggunya seperti ayam tidak laku?. Kurang ajar sekali dia."


"Kali ini aku setuju dengan apa yang telah dikatakan nismara. Rasanya aku sangat gerah menunggunya di sini."


"Mungkin dia sedang keliling istana, sambil melihat emban yang menyajikan makanan yang sangat banyak."


"Aku rasa tidak. Palingan dia itu mau mengerjai prajurit. Dia itu sebenarnya memiliki sifat bodoh yang harus kita ketahui."


"Aku harap dia benar-benar menyampaikan perasaan rinduku ini pada ibundaku." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara sangat berharap jika Arya Susena menyampaikan salam rindunya pada ibundanya?.


"Arya, apakah kau akan menyusup ke istana?."


"Memangnya apa yang akan raden lakukan?. Jika hamba memang akan ke sana?."


"Aku ingin ikut denganmu."


"Raden jangan meminta hal yang sangat mustahil."


Deg!.


Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut, ketika ia merasakan hawa panas yang sangat berbeda. "Apakah dia marah padaku?." Dalam hatinya sangat panik. "Ka-ka-kalau begitu sampaikan saja salam rinduku pada ibundaku?. Bahwa aku sangat merindukannya."


"Memangnya orang yang telah dianggap mati?.  Ucapannya masih bisa dipercaya?."


"Arya susena!. Sampaikan saja apa yang aku katakan. Kau sangat kejam sekali padaku!." Setelah berkata seperti itu ia malah pergi begitu saja dari sana?.


Ya, begitulah yang diingat oleh Raden Kanigara Lakeswara tentang pembicaraan mereka sebelum Arya Susena masuk ke dalam istana untuk menyusup.


"Arya susena benar-benar sangat kurang ajar!. Awas saja jika tidak ia sampaikan apa yang aku titipkan padanya." Dalam hatinya sangat gregetan dengan sikap Arya Susena yang seakan-akan tidak peduli sama sekali padanya.


...***...


Di malam yang sama.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra tidak berkecil hati meskipun ia tidak dapat menggunakan benda pusaka milik kerajaan, namun ia masih memiliki benda pusaka lainnya yang akan ia gunakan untuk membunuh musuhnya. Namun saat ini sang prabu sedang bersemedi di dalam bilik pribadinya. Ia berharap akan mendapatkan petunjuk tentang apa yang akan ia lakukan selama perang berlangsung nantinya.


"Gusti prabu tenang saja. Kami semua telah setuju akan berpihak pada gusti prabu. Jadi, gusti prabu tidak perlu cemas dengan masalah perang. Hamba sangat yakin dengan pasukan gusti prabu yang sangat banyak itu?. Gusti prabu akan dengan mudah menghabisi mereka semua." Itulah bisikan hatinya yang dipenuhi oleh perasaan penuh percaya diri.


"Kami akan menjamin itu dengan segenap hati kami gusti prabu."

__ADS_1


Dalam semedinya itu tergambar dengan sangat jelas, perperangan itu dimenangkan oleh prajurit kebanggaan miliknya.


...***...


Di tempat persembunyian para pemberontak yang dipimpin oleh Senopati yang dulunya berjaya di masa Prabu Maharaja Kanigara Maheswara, mereka masih berdiskusi dan tinggal bergerak besoknya.


"Apakah kalian semua telah mengungsikan rakyat kota raja melalui jalur aman ini menuju bukit duri?."


"Kami telah melakukannya kakang. Kami telah mengungsikan mereka semua ke tempat yang sangat aman sesuai dengan rencana yang telah kita buat."


"Bagus." Senopati Warsa Jadi sangat lega. "Lantas?. Bagaimana dengan pendekar yang berjaga-jaga di desa?. Apakah mereka telah berada di sana?. Jangan sampai para prajurit yang melewati bukit topan, bukit semak, lembah curam, dan hutan larangan malah menyakiti para penduduk di sana."


"Semuanya telah waspada di sana kakang. Kami telah memastikan semuanya akan aman besok."


"Bagus adi. Lantas bagaimana dengan pengamanan kita mengenai istana besok?. Apakah semuanya aman?."


Namun semua itu belum ada jawaban, karena yang bertanggung jawab untuk memantau area istana hanya berani dilakukan oleh Arya Susena. Akan tetapi pemuda itu belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaanya?.


"Di mana arya susena?. Apakah belum kembali?."


Pertanyaan itu belum juga dijawab oleh mereka.


"Jadi di sini?. Kalian para pemberontak itu berada?."


Deg!.


Mereka semua saat itu sangat terkejut ketika melihat sosok yang sangat mereka benci. Sehingga saat itu mereka semua berhamburan berlari ke belakang Senopati Warsa Jadi.


"Ba-ba-bagaimana mungkin dia ada di sini?."


"To-tolong ampuni kami."


"Kau!. Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?."


Baruh Tandan, Jande Ingaspati dan Bumi Teladan telah mencabut keris mereka untuk siap-siap menyerang.


"Kalian tidak usah panik seperti itu. Aku hanya datang menyapa saja. Bukankah kalian adalah musuhku?."


Senopati Warsa Jadi terlihat sedang menghela nafasnya, ketika itu jantungnya memang berdegup kencang. Apa lagi suasana mendadak tegang, namun pikirannya masih jernih saat itu.


"Kau jangan menakuti mereka dengan jurus murahanmu itu arya susena. Apakah kau ingin aku kepret kepalamu supaya kau tidak membuat ruangan ini kejang semua?."


"Hehehe. Maafkan saya paman warsa jadi." Tanpa perasaan ia malah cengengesan seperti itu?.


Apakah ia tidak menyadari jika jantung mereka semua hampir saja melompat dari tempatnya?.


"Kau arya susena?!."


Mereka semua tampak marah, apalagi pemuda itu memperlihatkan wujud aslinya pada mereka. Sehingga mereka benar-benar lega, dan kembali duduk. Begitu juga dengan ketiga senopati yang telah terlanjur mencabut keris mereka tadi.


"Untung saja kau memiliki wajah rupawan seperti mendiang gusti patih arya saka. Jika tidak?. Sudah aku lukai wajahmu itu dengan keris cakar harimau milikku ini."


"Hehehe, maafkan saya paman jande ingaspati."


"Baiklah. Kalau begitu kami ingin mendengarkan laporanmu mengenai kondisi istana."


"Mereka semua akan bergerak dengan jumlah pasukan yang sangat banyak." Jawabnya. "Sesuai dengan rencana kita. Sisa prajurit jaga di istana adalah prajurit yang ingin mendukung raden kanigara lakeswara. Jadi kita benar-benar aman bertarung dengan raja bodoh itu."


"Bagus kalau begitu. Dan kau gunakan wajah gusti prabu maharaja kanigara maheswara untuk membuat raja bodoh itu kebingungan."


"Tentu saja paman. Serahkan masalah itu padaku."


Apakah mereka akan berhasil melakukan perang besok?. Apakah langkah yang mereka lakukan itu sudah sangat tepat?. Semoga saja mereka akan berhasil dalam menyelamatkan negeri mereka dari kekejaman para pemerintah negara.


...***...

__ADS_1


__ADS_2