
...***...
Mereka semua telah berkumpul, untuk memutuskan siapa yang akan memegang tahta kerajaan Telaga Dewa, dan tentunya mereka tidak akan membiarkan tahta kosong tanpa adanya seorang Raja yang memerintah di negeri besar itu. Arya Susena yang mengambil alih pembicaraan itu, dan tentunya disaksikan oleh mereka semua. Termasuk Ratu Aristawati Estiana, Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda yang saat itu menjadi saksi pengangkatan Raja muda dengan nama Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara.
"Hadirin yang berbahagia. Pada kesempatan ini kita telah diberikan kesehatan yang tiada batas oleh sang pencipta untuk menyaksikan pengangkatan Raja baru yang telah kita sepakati bersama." Ia menatap mereka semua dengan tatapan yang sangat dingin. "Putra dari mendiang gusti prabu maharaja kanigara maheswara. Dan pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua kami yang senantiasa telah bersumpah setia kepada mendiang gusti prabu bahwa mereka akan melanjutkan perjuangan beliau melalui putranya. Putra sah yang akan menduduki tahta yang sah pula." Matanya melihat ke arah Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara. "Pengangkatan raja sah melalui keturunan sah, dan tentunya kita sangat berharap jika kita negeri ini akan dipimpin oleh Raja yang sangat adil, bijak, mampu mengambil keputusan yang benar dalam menyelesaikan masalah." Ia terus memperhatikan mereka semua dengan sangat baik. "Hari ini kita akan mengangkat putra dari mendiang Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara, yaitunya Raden kanigara lakeswara sebagai raja baru. Ini semua telah sesuai dengan apa yang telah menjadi amanat mendiang gusti prabu, juga aturan yang ada di kerajaan ini. Bahwa yang berhak menjadi raja di kerajaan ini adalah keturunan langsung dari raja sebelumnya, dan ada tanda bukti bahwa raden kanigara lakeswara adalah keturunan raja yang sah. Jadi?. Hadirin yang berbahagia?. Tidak perlu ragu lagi, walaupun raden kanigara lakeswara masih muda untuk memimpin kerajaan ini. Sebab ada paman Senopati warsa jadi, paman Senopati jande ingaspati, paman Senopati bumi teladan, dan juga paman Senopati baruh tandan yang akan membimbing raden kanigara lakeswara untuk menjalankan tahta pemerintahan ini."
"Jika memang dia adalah pewaris tahta yang sah?. Apa buktinya?." Raden Kanigara Ganda sangat tidak setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena.
Sehingga ia menjadi pusat perhatian mereka semua, dan saat itu mereka semua ribut karena ucapan itu.
"Ya, memang agak diragukan memang. Tapi selama ini kita berjuang untuk anak manja seperti raden kanigara lakeswara?."
"Dulu mendiang Gusti Prabu menunjukkan bukti bahwa beliau adalah pewaris yang sah. Tapi raja yang baru sekarang?. Apa bukti bahwa dia adalah pewaris yang sah?."
"Aku juga ingin melihatnya."
Setidaknya seperti itulah bunyi suara ribut itu, sehingga saat itu Arya Susena menjentikkan jarinya dengan sangat kuat. Mereka semua terdiam dengan apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena, dan juga mereka semua merasakan panas yang tidak biasa.
Deg!.
__ADS_1
Bagi mereka yang mengetahui panas itu?. Tentunya mereka sangat panik, mereka tentunya sangat mengetahui dari mana asal panas itu.
"Apakah kalian tidak ingin mendengarkan penjelasan dari aku yang baik hati ini?." Senyuman yang ia perlihatkan saat itu adalah senyuman yang paling mematikan yang pernah mereka lihat.
"Hawa panas ini sama persis dengan hawa panas ketika kanda patih sedang marah." Dalam hati Dewi Astagina sangat kenal dengan marah itu.
"Sial!. Panas dari mana ini?. Rasanya kulitku sampai terbakar seperti itu." Dalam hati Raden Kanigara Hastungkara sangat heran dengan apa yang telah terjadi saat itu.
"Ayolah arya susena. Jangan bunuh kami dengan hawa panas yang kau tebarkan ini. Apakah kau tidak kasihan dengan kami?." Raden Kanigara Lakeswara tidak ingin melihat ada banjir darah di istana.
"Maafkan kami arya susena."
Mereka semua sangat tidak tahan dengan panas yang ditebarkan Arya Susena dalam ruangan itu.
"Jangan bunuh kami dengan panas ini arya susena!." Ucap mereka yang telah mengetahui itu.
"Hufh!." Arya Susena saat itu menghela nafasnya. Namun setelah itu ia mengeluarkan sesuatu dar dalam tubuhnya, dan itu membuat mereka semakin terkejut dengan apa yang telah dikeluarkan oleh Arya Susena saat itu.
"Arya susena. Bukan kah itu adalah keris sukma pemilih raja?. Bagaimana mungkin kau menyimpan benda berharga sebagai pengangkatan Raja itu?."
__ADS_1
"Benar itu arya susena. Karena tidak sembarangan orang dapat menyimpan keris itu di dalam tubuhnya."
"Dan yang kabar beredar itu, jika orang yang memiliki kemampuan untuk menyimpan keris sukma pemilih raja artinya dia adalah orang yang berhak untuk menentukan siapa yang akan menjadi Raja di kerajaan ini dengan bantuan keris itu."
Mereka semua semakin terkejut dengan penjelasan dari sepuh petinggi istana yang telah mengetahui prihal itu.
"Paman benar. Karena itulah saya sangat percaya diri untuk mengambil alih tahta ini, dan berniat untuk mengembalikan kepada yang berhak atas tahta ini."
"Tapi tidak sembarangan orang yang bisa memegang ataupun menyimpan keris itu!. Karena keris itu adalah simbol seseorang yang dapat menilai orang lain, bukan hanya luar saja. Melainkan dari lahir dan batin yang dapat melihat kelayakan menjadi seorang Raja, jadi tidak semua orang yang dapat menggenggam keris sukma pemilih raja."
"Apakah paman lupa?. Apakah kalian semua lupa?. Siapa arya susena?." Dengan senyuman yang sangat ramah ia berkata seperti itu. "Arya susena adalah putra dari mendiang patih agung arya saka. Apakah para sepuh lupa?. Jika mendiang ayahanda saya yang telah memberikan gelar kepada mendiang Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara?."
Deg!.
Bagi yang memahaminya dan menyaksikan langsung acara itu?. Tentu saja mereka semua sangat ingat dengan peristiwa itu.
"Apakah memang ada seperti itu ibunda?." Raden Kanigara Hastungkara berisik pada ibundanya.
"Itu sangat benar sekali. Dan aku juga ada di dalam acara itu." Balas Ratu Aristawati Estiana. "Namun aku tidak mendekat sama sekali, bahkan orang yang belum lahir pun mengetahuinya. Sungguh sangat pintar sekali anak itu." Dalam hati Ratu Aristawati Estiana merasa kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena.
__ADS_1
"Nah?. Raden kanigara lakeswara. Jika Raden merasa pantas untuk memerintah kerajaan ini, maka cabutlah keris ini. Semuanya bisa melihat bagaimana pantasnya Raden untuk menjadi seorang raja di kerajaan ini." Saat itu Arya Susena menyerahkan keris itu kepada Raden Kanigara Lakeswara untuk ia cabu dari warangkanya.
...***...