
Sebelum berangkat mereka semua pamit pada Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara. Tentunya sebagai abdi yang telah terikat dengan istana, mereka tidak akan berani berbuat sewenang-wenang di istana.
"Rasanya aku mengalami hal yang aneh sejak menjadi raja."
"Gusti prabu hanya belum terbiasa saja."
"Tapi rasanya aku sangat malu sekali Raden. Apa kata rakyat nantinya juga mengetahui aku mendapatkan tahta ini karena bantuan orang lain?. Rasanya aku tidak pantas menjadi raja."
"Gusti Prabu jangan merasa berkecil hati. Biarkan saja mereka berpendapat seperti apa. Namun kita semua telah mengetahui, bagaimana perjuangan Gusti Prabu selama ini."
"Benar itu Gusti Prabu. Semua yang telah kita dapatkan pada hari ini adalah wujud dari perjuangan."
"Yah kalian benar. Semua yang telah kita dapatkan hari ini adalah karena perjuangan."
Saat itu mereka hanya merasakan suasana yang sangat canggung, bagi mereka itu adalah hasil yang telah mereka capai selama ini.
"Untuk saat ini gelar Patih belum ditemukan tepat kepada siapa. Aku harap kamu menerima gelar itu arya susena."
"Mohon ampun Gusti Prabu. Bagi hamba gelar itu tidak pantas. Dan lagi pula kami memiliki tugas yang belum selesai sebagai pendekar kegelapan."
"Bukankah negeri ini telah aman?. Lalu kenapa kau masih ingin melumuri darahmu dalam lingkaran pendekar kegelapan?."
"Sebagai pendekar kegelapan kami belum menyelesaikan tugas kami Gusti. Sebab masih ada banyak para pengikut Raja kejam itu yang masih bersembunyi di luar sana."
"Tapi setidaknya dengan gelar patih yang kau miliki kau bisa melakukan banyak hal yang kau bisa."
Arya Susena saat itu menetap keempat temannya, ia tersenyum kecil. "Bagi kami, pendekar kegelapan tetaplah pendekar kegelapan yang akan selalu melindungi istana ini dengan darah." Ia cengkram kuat tangannya. "Kami para pendekar kegelapan tidak cocok berada di istana. Pemerintahan di istana kami serahkan kepada Gusti Prabu. Sementara kami akan menjadi tameng utama tombak ini, kami akan menusuk siapa saja yang akan melakukan pemberontakan. Ataupun kepada mereka yang berani menindas rakyat secara terang-terangan."
"Bagaimana pendapat paman Senopati warsa jadi?. Apakah menurut paman?. Benar Patih muda kita berikan kepada arya susena?."
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Hamba mengenal betul bagaimana watak arya susena. Tentunya ia tidak akan melibatkan dirinya dengan hal-hal yang berbaur dengan kerajaan. Ia adalah seorang anak yang dibesarkan dengan pedang, jika Gusti hadapkan tahta pemerintahan tentunya ia tidak akan mau melakukan itu. Jadi menurut hamba biarkan saja arya susena berada di luar untuk melindungi istana ini."
Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara saat itu memikirkannya. "Sangat disayangkan sekali, padahal aku sangat berharap banyak padamu arya susena. Tapi sepertinya aku tidak bisa memaksa dirimu seperti itu." Sedikit banyak yang mengetahui bagaimana sikap pemuda itu.
"Terima kasih atas pengertiannya Gusti Prabu. Kalau begitu kami pamit untuk menuju desa tebing tinggi. Sebab menurut informasi yang kami dapatkan mereka berada di sana."
"Kalau begitu mohon bantuannya. Aku harap kalian bisa melakukan tugas kalian dengan baik."
"Sandika Gusti Prabu."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan pertemuan itu. Tentunya mereka tidak akan berlama-lama berada di sana.
"Sangat disayangkan sekali. Padahal tadinya aku sangat berharap dia akan menjadi Patih yang akan memberikan nasehat yang luar biasa kepadaku."
"Wataknya memang seperti itu Gusti. Bahkan jika apapun yang Gusti sodorkan kepadanya supaya ia mengambil tahta itu?. Maka ia tidak akan pernah merasa silau, karena ia telah terbiasa dengan apa yang telah ia miliki selama ini."
Mereka semua hanya manggut-manggut saja mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Senopati Warsa Jadi.
"Jika arya susena tidak setuju?. Lalu apa yang akan kita lakukan?. Apakah kita akan membiarkan istana ini tanpa adanya seorang Patih?."
Suasana tampaknya sedikit gaduh, karena mereka semua sangat penasaran siapa yang akan memegang jabatan Patih jika tidak ada yang merasa cocok?.
"Bagaimana untuk sementara waktu?. Untuk jabatan Patih kita serahkan kepada putra pertama mendiang Gusti Patih arya saka?. Raden arya restapati."
Pada saat itu mereka semua melihat ke arah Arya Restapati yang tampak terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Sardala Saguna. Memang mereka semua belum mengenal sosok putra pertama dari mendiang Patih Arya Saka.
"Mohon ampun Gusti Prabu. Hamba rasa hampa tidak cocok untuk menjadi seorang Patih. Karena hamba tidaklah sepintar adik hamba, apalagi selama ini hamba hanyalah seorang pengembara. Mungkin ada calon patih yang lebih hebat daripada hamba."
__ADS_1
Kembali mereka merasa bingung dengan apa yang telah diucapkan oleh Arya Restapati. Tentunya mereka semua sangat bingung jika tidak ada satu orang pun yang menginginkan pangkat jabatan sebagai seorang Patih.
"Baiklah, untuk sementara waktu kita tunda saja siapa yang berhak menjadi seorang patih. Untuk saat ini kita masih fokus dalam masa pembangunan. Kita akan mengembalikan upeti yang telah direbut paksa sebelumnya kepada rakyat yang sangat membutuhkan." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara pada saat itu sedang tidak ingin memusingkan dirinya. "Kalau begitu mari kita lihat bagaimana lembung dari persediaan makanan yang ada di kerajaan ini."
"Masalah itu kami telah memeriksanya dengan sangat baik Gusti. Banyak sekali persediaan, dan hamba rasa itu adalah persiapan sebelum perang."
"Terima kasih Paman Senopati warsa jadi. Kita akan mengambil data dari penduduk, supaya kita bisa membaginya dengan rata." Pada hari itu mereka benar-benar mendiskusikan apa saja yang patut mereka utamakan.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah mencukupi kebutuhan rakyat yang selama ini telah menderita. Mereka semua berharap dengan pemberian sumbangan itu memberikan keringanan kepada mereka yang selama ini tersiksa akibat pajak yang sangat besar dijatuhkan kepada rakyat.
...***...
Sementara itu di sebuah tempat.
Senopati Jenar Tapa saat itu masih mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka gunakan untuk menyerbu istana nantinya.
"Bagaimana himpunan kekuatan yang telah kalian lakukan?. Apakah kalian telah menyiapkan semuanya?."
"Tentunya kami sudah siap Gusti. Saat ini kami semua menunggu aba-aba dari Gusti."
"Baguslah jika kalian telah siap. Malam ini kita akan menyusup ke istana. Lalu kita gempur mereka ketika mereka istirahat dan lengah."
"Kami akan menuruti apapun yang Gusti katakan kepada kami. Rasanya kami sudah tidak sabar lagi ingin menggempur mereka semua."
"Kalian harus tetap berhati-hati. Karena yang akan kita hadapi adalah pendekar kegelapan." Perasaan cemas yang ia rasakan pada saat itu telah membuatnya waspada. "Kekuatan mereka sangat dahsyat. Bahkan tanpa menggunakan pasukan khusus, mereka telah berhasil membunuh patih palasara mada. Selain itu mereka juga telah membunuh semua pasukan hanya menggunakan pasukan bayangan. Jadi kita harus berhati-hati ketika berhadapan dengan mereka."
"Tentu saja kita harus berhati-hati Gusti. Tidak mungkin kita mati sia-sia hanya karena siasat busuk yang mereka gunakan."
Pada pertemuan rahasia itu mereka benar-benar menyiapkan segala hal untuk mengambil alih kembali istana. Tapi apakah mereka akan berhasil mengambil alih istana?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
"Rasanya aku kembali mengembara. Lebih tepatnya kembali ke alam bebas."
"Kau jangan terlalu berlebihan menggambarkan suasana hatimu itu darsana."
"Aku yakin kau juga merasakan seperti itu, patari."
"Kalau begitu mengapa kita tidak singgah dulu ke hutan larangan?. Aku takut rumah kita telah berdebu karena kita meninggalkan hutan larangan terlalu lama."
"Aku rasa benar apa yang kau katakan nismara." Arya Susena tentunya merasakannya. "Rasanya aku sangat rindu melihat mereka."
Deg!.
Seketika tubuh mereka menggambang mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena.
"Kenapa wajah kalian terlihat pucat?. Apakah kalian tidak merindukan sosok-sosok yang berada di sana?."
"Kau ini memang bajing busuk. Kenapa kok malah merindukan hal-hal yang aneh seperti itu?."
"Kau memang aneh arya. Jangan kau takuti kami dengan kata-katamu yang menyebalkan."
"Jika kau merindukan mereka, kau tidak usah menyebutnya di hadapan kami. Karena yang dapat melihat mereka hanyalah kau saja!. Apakah kau tidak mengerti betapa takutnya kami jika kau membuka mata batin kami untuk melihat sosok menyeramkan itu?!."
Tampaknya Darsana, Patari, Bajra, dan Nismara sangat ketakutan mendengarkan kata mereka yang berarti sosok-sosok gentayangan yang berada di dalam hutan larangan. Selain itu bukan hanya mereka saja yang membuat suasana hotel larangan menjadi seram. Ada kakak hitam yang hitamnya sangat pekat, memiliki mata yang sangat merah, memiliki cakar yang sangat tajam jika memangsa.
"Ho?. Apakah kalian tidak merindukan mereka?. Jika kalian ingin melihatnya. Dengan senang hati aku akan memerintahkan mereka untuk menampakkan diri di hadapan kalian." Dengan senyuman yang menyeramkan, serta suasana panas yang tidak biasa.
__ADS_1
Sepertinya suasana yang seperti itu telah kembali lagi, di mana mereka dapat merasakan hawa panas yang sangat berbeda. Tentunya itu adalah dampak dari kemarahan Arya Susena yang sangat berlebihan.
Deg!.
Saat itu tubuh mereka semakin menggampang ketika merasakan uap panas yang tidak biasa.
"Kau ini memang sangat menyebalkan!. Kalau begitu aku akan memeriksa desa tebing tinggi sebelum mereka semua kabur." Bajra, rasanya ia sangat rindu dengan suasana yang seperti itu. "Tentunya aku tidak akan lupa dengan tugasku yang selalu mencari informasi terlebih dahulu sebelum kami bergerak." Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merasakan kerinduan akan kebersamaan mereka yang seperti itu.
"Kalau begitu aku juga tak akan memeriksa keadaan sekitar desa ini. Bisa jadi ada seorang pejabat istana atau orang kaya yang bertindak semena-mena." Nismara langsung melompat menjauhi mereka semua.
"Hei!. Nismara!. Kau mau ke mana?. Tunggu aku!. Kau jangan seenaknya pergi sendirian tanpa aku!." Patari tentunya sangat takut jika berada di sana, berada di bawah tekanan tenaga dalamnya dikeluarkan oleh Arya Susena.
Deg!.
Saat itu hanya tinggal Darsana saja. Ia sangat gugup ketika Arya Susena melihat ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku tahu pembawaanmu memang seperti itu. Tapi setidaknya untuk kali ini apakah kau bisa meredamnya?. Aku takut jika ada seorang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat lemah, dia bisa mati seketika karena hawa tekanan yang kau berikan kepadanya." Rasanya ia hampir tidak bisa bersuara untuk mengatakan apa yang ia rasakan saat itu. "Sial!. Entah kenapa hawa panas ini semakin terasa panas dari yang sebelumnya." Dalam hatinya mulai panik. Padahal saat itu mereka hanya bercanda saja untuk memancing amarah Arya Susena. "Aku tidak menduga jika dia memang sangat marah." Dalam hatinya sangat takut jika Arya Susena akan menghajarnya.
Arya Susena menghela nafasnya dengan pelan. "Kalau begitu kau ikut aku."
"Ikut ke mana?."
"Ke neraka."
Deg!.
"Kau ini jangan berkata yang tidak tidak arya!. Kau ini sangat suka sekali membuat orang lain emosi !. Padahal kau sendiri yang emosi berlebihan, sehingga membuat kami hampir mati dengan hawa panas yang kau tebarkan itu!." Bentaknya dengan suara sangat keras bahkan ia menunjuk ke arah Arya Susena dengan perasaan yang sangat marah luar biasa.
Namun saat itu Arya Susena malah menertawai Darsana yang masih tampak ketakutan dengan apa yang telah ia lakukan.
"Apakah ada sesuatu yang sangat lucu dari ucapanku?. Sehingga mengundang tawamu arya?."
"Sudahlah. Sudah lama kita tidak berdua mencari informasi yang lebih menarik. Kalau begitu mari kita bergerak."
Darsana terdiam sesaat mendengarkan ucapan itu. Saat itu otaknya sedang merespon apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena padanya.
"Apa yang sedang kau lamunkan?. Kau akan mati jika melamun seperti itu." Dengan sangat santainya ia berkata seperti itu, dan bahkan ia segera bergerak meninggalkan tempat itu.
"Ya, ya, ya. Perintah Gusti patih pasti akan hamba turuti." Dengan suasana hati yang sedang jengkel ia berkata seperti itu sambil memberi hormat kepada Arya Susena.
"Ahaha!. Kau tidak perlu melakukan itu."
Arya Susena hanya mampu tertawa saja dengan apa yang telah ia dengarkan dari Darsana. Rasanya pada saat itu mereka benar-benar merasakan bagaimana kehidupan mereka yang sebelumnya. Perasaan rindu akan alam bebas, membuat mereka semakin memper erat hubungan yang pernah terjalin di antara mereka.
***
Di sisi lainnya.
Saat itu ada seorang pemuda yang sedang menatap gerbang menuju hutan larangan. Sorot matanya begitu tajam, dan perasaannya pada saat itu benar-benar sangat tidak nyaman sama sekali.
"Jadi ini yang dinamakan hutan larangan?. Sungguh hawa mistis yang sangat luar biasa. Hawa spiritual yang sangat kental, pantas saja tidak ada berani yang masuk ke dalam hutan ini kecuali pendekar kegelapan." Itulah informasi yang ia dapatkan dari sumber yang dapat dipercaya. "Tapi aku rasa saat ini hutan larangan sedang kosong. Aku tidak dapat merasakan hawa keberadaan manusia di dalam hutan larangan saat ini." Dengan kekuatan yang ia miliki ia dapat merasakan hawa keberadaan seseorang bahkan dari jarak yang sangat jauh sekalipun.
"Arya susena. Pendekar dengan julukan seribu wajah. Aku ingin melihat wajah aslinya yang seperti apa. Akan aku tantang dia." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran pemuda itu.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.
Next.
__ADS_1
...***...