PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 55


__ADS_3

...***...


Arya Susena terlihat sedang fokus mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Nismara. Hatinya tidak akan tenang sebelum ia memastikan sendiri mata gadis itu terbuka, dan ia bergerak.


"Nismara. Bangunlah nismara!. Bangunlah, kau marahi aku dengan mulutmu yang kasar itu. Jangan kau seperti itu. Aku tidak akan memaafkan mu jika kau tewas!." Dalam hati Arya Susena sangat kesal, hatinya sangat bergemuruh dengan apa yang ia rasakan saat itu.


"Arya susena. Kau bisa tewas jika memaksakan diri untuk menyalurkan tenaga dalammu padanya."


"Arya susena. Segera kita bawa nismara menuju istana untuk diobati."


"Arya susena!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang kami katakan?."


"Diam kalian!."


Bentaknya dengan suara yang sangat keras, membuat Darsana, Patari dan Bajra terkejut. Apalagi saat itu mereka melihat ada hawa hitam yang menyelimuti tubuh Arya Susena. Setelah itu ia kembali fokus untuk mengeluarkan hawa hitam yang ada di dalam tubuh Nismara.


"Kau tidak boleh mati di sini." Dalam hatinya sangat cemas.


Hingga saat itu Nismara terbatuk, memuntahkan darah hitam yang sangat kental.


"Uhuk!. Uhuk!."


"Oh!. Syukurlah." Arya Susena terlihat sangat senang dan lega. Namun bukan hanya sampai di sana saja, ia totok beberapa titik aliran tenaga dalam di bagian tubuh Nismara.


"Oh nismara." Patari sangat cemas.


"Arya susena?." Suaranya terdengar sangat lemah saat itu.


"Untuk saat ini kau aman, karena aku telah berhasil mengeluarkan sebagian racun hitam yang ada di salam tubuhmu." Ucapnya sambil menggendong Nismara di depan layaknya menggendong seorang putri.


"Terima kasih arya." Dengan suara yang sangat lemah ia berkata seperti itu. Nismara memeluk leher Arya Susena dengan sangat erat, karena ia sangat takut, jika terjadi sesuatu padanya.


"Bertahanlah. Aku akan membawamu ke istana."


"Hei!. Tunggu!."


Bajra, Patari dan Darsana sangat terkejut, karena Arya Susena pergi begitu saja dari sana.


...***...


Di istana.


Tempat tinggal Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda mungkin ini bersebelahan dengan wisma prajurit. Tampaknya mereka sama sekali tidak suka dengan apa yang telah mereka terima saat itu.


"Ibunda. Kenapa ibunda terlihat sangat santai sekali?. Apakah ibunda tidak merasa sakit hati dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kita?."


"Benar itu ibunda. Mereka benar-benar telah menghina kita dengan memindahkan kita tinggal di sini."


"Tenanglah putraku." Ia genggam tangan kedua anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Jangan mudah terbawa emosi yang akan merugikan kalian."


"Apakah ibunda takut menghadapi mereka?. Apakah karena ada pendekar kegelapan yang bersama mereka?."


"Kita harus melawan itu ibunda."


"Sekarang ibunda akan bertanya pada nanda berdua. Bagaimana rasanya kehilangan ayahanda yang selalu menyayangi kalian?." Ia mencoba untuk menekan perasaan sakit itu.


Untuk sesaat keduanya terdiam, karena hati mereka sangat sakit mengingat apa yang telah mereka lihat saat itu.


"Tentunya sangat menyakitkan sekali ibunda. Sangat sakit sampai ingin mati rasanya."


"Hati nanda sangat sakit ketika melihat ayahanda terbunuh di hadapan nanda."


Keduanya menggigit kuat bibir mereka agar tidak mengeluarkan isak tangisnya. Hati mereka sangat sesak mengingat itu semua, hati mereka yang terima sama sekali dengan apa yang telah terjadi.


"Nanda ingin balas dendam ibunda. Mereka yang telah membunuh ayahanda."


"Nanda tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan pada ayahanda prabu."


"Nanda berdua dapat merasakan bagaimana kehilangan ayahanda bukan?. Rasanya sangat sakit, sesak, dan ingin balas dendam kepada orang yang telah membunuh ayahanda kalian." Ratu Aristawati Estiana juga hampir tidak dapat menahan tangisnya ketika berkata seperti itu. Hatinya semakin sesak, ketika bayangan suaminya Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menari-nari di dalam pikirannya. "Begitu juga dengan mereka yang orang tuanya telah dibunuh oleh ayahanda kalian saat itu. Mereka juga merasakan hal yang sama, hal yang serupa dengan apa yang kita rasakan." Saat itu tangisnya pecah, ia genggam kuat tangan anaknya dengan sangat kuat untuk menyampaikan betapa sakitnya hatinya saat itu.


"Apa yang ibunda katakan?."


"Tidak mungkin ayahanda melakukan itu."


Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sangat tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan Ratu Aristawati Estiana.


"Arya susena, putra dari patih arya saka. Ayahanda kalian yang telah membunuhnya. Begitu juga dengan ayahanda dari raden kanigara lakeswara. Ayahanda kalian lah telah membunuhnya, karena ayahanda kalian menginginkan tahta yang dimiliki oleh kanda prabu Maharaja kanigara maheswara. Ayahanda kalian lah yang telah melakukan pengkhianatan kepada kakang kandungnya." Hatinya semakin sakit dengan apa yang menjadi ingatannya masa lalu. "Ayahanda kalianlah yang telah memulai semua ini." Dengan perasaan ia menyampaikan ide sama kepada kedua anaknya.


Deg!.

__ADS_1


Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda tentunya sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.


"Itu tidak mungkin ibunda."


"Ya, tidak mungkin ayahanda yang mulai duluan. Rasanya tidak mungkin."


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Apakah kalian tidak mendengarkan?. Bagaimana penderitaan rakyat selama dipimpin oleh ayahanda kalian?. Apakah kalian tidak mendengar kabar buruk yang selalu berdatangan di negeri ini?. Alasan kenapa ayahanda kalian membenci rayi kalian sendiri?." Hatinya semakin terasa sakit. "Ayahanda kalian telah membunuh kakangnya yang merupakan ayahanda kandung dari kanda prabu Maharaja kanigara maheswara. Bukankah ibunda telah menceritakan sedikit kepada kalian sebelumnya?." Dadanya semakin sesak.


"Apakah itu benar?."


Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka saat itu. Apakah benar ayahanda mereka adalah orang yang sangat jahat?. Apakah mereka sanggup menerima kenyataan itu?.


...***...


Sementara itu.


Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara saat ini sedang bersama Senopati Warsa Jadi.


"Sebaiknya Gusti Prabu beristirahat terlebih dahulu. Sepertinya Gusti Prabu terlihat sangat kelelahan."


"Tidak apa-apa paman. Aku hanya belum terbiasa saja. Aku hanya tidak menduga jika tugas menjadi seorang raja itu sangatlah berat."


Senopati Warsa Jadi malah terkekeh kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara.


"Menjadi seorang raja, bagi seorang awam memang terlihat sangat mudah. Akan tetapi terasa sangat sulit ketika seorang raja dihadapkan oleh berbagai masalah negeri yang tidak ada habisnya. Jadi Gusti Prabu harus memahami peran Gusti Prabu sekarang dengan tabah dan penuh keikhlasan."


"Ya. Paman sangat benar sekali."


Tentu saja itulah yang ia rasakan, ia dapat merasakan perbedaan hidupnya setelah menjadi seorang raja walaupun di bawah bimbingan seorang Senopati Agung?.


"Paman. Sebelum arya susena pergi meninggalkan istana ini. Dia sempat berpesan kepadaku untuk mengangkat paman menjadi seorang patih. Aku ingin mendengarkan pendapat paman."


"Kenapa arya susena malah berkata seperti ini kepada Gusti Prabu?."


"Sebab, kemampuan yang dimiliki oleh paman hampir sama dengan kemampuan yang dimiliki oleh Patih arya saka. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh arya susena kepadaku paman." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara masih ingat dengan percakapan mereka pada malam harinya.


Kembali pada percakapan mereka malam itu.


"Apakah kau yakin ingin pergi ke sana tanpa bantuanku arya?."


"Gusti prabu tenang saja. Ini adalah tugas kami sebagai kelompok pendekar."


"Paman Senopati warsa jadi. Beliau adalah orang yang cocok untuk menjadi Patih. Sebab beliau adalah orang kepercayaan mendiang ayahanda patih. Sekaligus orang yang sangat mengenal mendiang Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara." Jawabnya. "Selain itu beliau juga adalah sosok yang sangat bertanggung jawab, dapat dipercaya, dan juga memberikan nasehat yang sangat bagus kepada siapapun juga bahkan termasuk Gusti Prabu nantinya."


"Kenapa kau sangat yakin jika paman Senopati warsa jadi bisa dipercayai untuk menjadi seorang Patih?."


"Hatinya sangat bersih, tidak ada kedengkian ataupun rasa pamrih yang ia tunjukkan selama ini kepada kami. Rasa kasih sayang sangat tulus kepada kami, itulah yang telah membesarkan kami selama ini. Amanah yang telah diberikan kepadanya oleh mendiang ayahanda Patih, benar-benar beliau pegang dengan teguh. Jadi tidak ada alasan untuk meragukan kesetiaan beliau jika ia menjadi seorang pelatih."


Kembali ke masa ini.


"Itulah yang dikatakan arya susena kepadaku paman. Arya susena hanya percaya kepada Paman saja."


Untuk sesaat lelaki setengah baya itu terdiam, ya tidak menduga jika Arya Susena memberikan penilaian yang seperti itu terhadap dirinya. Tanpa sadar pada saat itu air matanya menetes begitu saja, rasa haru telah menyerapi dirinya. "Anak itu selalu saja pandai berbicara, Gusti Prabu tidak perlu mendengarkan ucapannya."


"Tapi paman menangis. Tentu saja Paman memiliki penilaian yang sangat bagus terhadap arya susena. Mungkin baginya, paman adalah sosok ayah yang selalu mengayominya, yang selalu membimbing dirinya ke arah yang lebih baik."


Senopati Warsa Jadi memang mengerti betul bagaimana watak Arya Susena yang memiliki penilaian bagus terhadap orang lain. Namun kasih sayangnya terhadap pemuda itu memang telah ia anggap sebagai anaknya, karena ia telah kehilangan seluruh keluarganya setelah perang itu.


...***...


Arya Susena dan yang lainnya hampir saja meninggalkan desa Tebing Tinggi. Suasana desa itu mulai gelap, karena malam hampir menggantikan siang. Namun pada saat itu ada seorang pendekar yang mencegah langkah mereka.


"Akhirnya aku menemukanmu, arya susena." Sorot matanya yang tajam seakan-akan hendak menerkam Arya Susena. "Setelah sekian lama aku tidak menemukan dirimu, maka hari ini aku akan menuntaskan semua perasaan sakit hati yang aku rasakan selama ini."


"Aku tidak ada urusan denganmu hari ini. Ada kepentingan yang harus aku utamakan. Jadi datanglah besok saja jika kau ingin menuntaskan dendam untuk kepadaku."


"Kurang ajar!. Kau pikir kau siapa berani memerintahkan aku seperti itu?!." Dengan perasaan yang sangat sakit ia segera melompat dan berdiri di hadapan Arya Susena yang saat itu sedang menggendong Nismara.


"Kau pergi saja ke istana, biarkan kami yang mengurus bajing busuk ini." Patari telah siap-siap untuk menyerang.


"Benar itu arya. Kami tidak akan membiarkannya mengganggu kau untuk mengantar nismara sampai ke istana." Darsana juga siap untuk bertarung.


"Tidak usah kalau ada ini orang bodoh seperti dia. Cukup kami saja yang menghadapinya. Segeralah pergi ke istana karena nyawa nismara lebih penting." Bajra terlihat sangat tidak suka dengan kedatangan orang asing itu.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan duluan." Arya Susena tanpa banyak bicara lagi ia segera melompat meninggalkan mereka.


"Hei!. Mau ke mana kau?!." Pemuda itu sepertinya sangat tidak suka dengan apa yang terjadi.


Ketika ia mencoba mengejar Arya Susena?. Saat itu pula Patari menggunakan selendangnya untuk menyerang pemuda itu.

__ADS_1


"Hyah!." Pemuda itu tampaknya memiliki refleksi yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menghindari serangan itu dengan melompat tinggi. "Heh!. Ternyata aku harus mengurus kalian terlebih dahulu." Hatinya sangat sakit dan tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh salah satu dari mereka.


"Jika kau ingin bermain-main sebentar, maka dengan senang hati kami akan melayanimu."


"Maju saja kalian bertiga. Aku sama sekali tidak takut dengan kalian."


Pertarungan antara 3 melawan 1 tidak bisa dihindari lagi karena mereka saat itu sedang dikuasai oleh amarah masing-masing. Pertarungan antara pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Sementara itu Arya Susena saat itu benar-benar kesal karena hampir saja ada hambatan baginya ketika ia ingin menuju ke istana.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun juga menghalangi perjalananku menuju istana. Jika terjadi sesuatu terhadap nismara?. Aku tidak akan mengampuni siapa saja yang berani menghalangi aku." Hatinya sangat geram, apalagi ketika ia melihat keadaan Nismara yang masih pucat. "Bertahanlah nismara. Aku yakin kau bisa sembuh." Dalam hatinya sangat gelisah, ia sangat takut kehilangan Nismara.


Namun saat itu ia teringat sesuatu, ia tidak jadi melangkah menuju Istana. "Hutan larangan." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu. "Aku harus menemuinya." Dengan langkah yang sangat buru-buru, ia segera menuju Hutan larangan yang sebenarnya tidak jauh lagi dari desa Tebing Tinggi. "Aku sangat berharap, jika dia mau membantu aku." Dalam hatinya sangat berharap.


Kembali ke pertarungan.


Saat itu pemuda itu sedikit kewalahan menghadapi tiga orang sekaligus. Sehingga pada saat itu ia memilih untuk mundur.


"Rasanya sangat bosan sekali aku berhadapan dengan kalian." Itulah yang ia katakan?. "Urusanku pada arya susena belum selesai. Katakan kepadanya jika aku akan menemuinya dua hari lagi. Di desa ini, aku menunggunya dua hari lagi. Jika dia tidak datang?. Aku yang akan mendatanginya." Setelah berkata seperti itu ia segera menghilang seperti angin yang datang tidak diundang dan pergi begitu saja meninggalkan bekas.


"Pengecut!. Berani sekali dia menantang arya susena, dan dia malam menghina kita dengan mengatakan bosan bertarung dengan kita?." Patari sangat tersinggung dengan apa yang telah dikatakan oleh pemuda yang tidak diketahui identitasnya itu.


"Sudahlah. Yang penting kita susul saja arya susena. Itu lebih baik." Bajra tentunya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Apalagi dalam kondisi yang seperti itu.


Bajra, Darsana dan Patari pergi meninggalkan tempat itu, tentunya mereka ingin menyusul Arya Susena.


...***...


Arya Susena pada saat itu telah sampai di Hutan Larangan.


Saat itu ia masuk ke alam, alam Sukma yang hanya ia saja yang dapat melihat alam gaib itu. Alam gaib yang tersimpan dengan baik di dalam Hutan Larangan itu.


"Setelah sekian lama akhirnya kau datang juga anak muda."


"Mohon bantuannya nini. Aku tidak ingin kehilangannya."


"Apakah karena kau mencintainya?." Nini siluman gagak hitam mendekati Nismara yang telah diberikan Arya Susena di atas sebuah batu besar.


"Aku hanya tidak ingin kehilangannya. Karena selama ini kami telah dibesarkan bersama-sama. Jadi aku mohon segera tolong dia, karena luka dalam yang ia terima sangat parah."


"Baiklah. Kau memang sulit sekali untuk jujur dengan perasaanmu. Tapi aku mengetahui dengan pasti bagaimana kalau sebenarnya."


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Nini gagak hitam langsung mengobati Nismara dengan menggunakan kekuatan yang ia miliki.


"Aku serahkan semuanya kepadamu nini." Arya Susena memberi hormat. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan tempat itu karena ia ingat bahwa teman-temannya pasti akan menyusunnya ke istana.


"Lukanya memang sangat parah. Aku rasa ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengeluarkan semua racun hitam yang ada di dalam tubuhnya." Ia melihat hawa hitam yang menyelimuti tubuh Nismara. "Tapi, sepertinya pekerjaanku agak ringan karena, arya susena telah menekan hawa hitam itu dengan menggunakan tenaga dalamnya. Rasanya aku sangat iri sekali kepadamu, karena kau mendapatkan perhatian yang sangat lebih dari arya susena." Senyumannya mengembang saat itu. Namun tidak ada rasa iri yang terselip di hatinya karena pada dasarnya ia mengetahui bahwa, Arya Susena sebenarnya memang memang sangat mencintai wanita yang bernama Nismara. Hanya saja ia tidak mau mengakui apa yang ada di dalam hatinya, dengan alasan telah tumbuh bersama sejak kecil.


"Aku ingin melihat sejauh mana hubungan kalian setelah ini. Kau tenang saja cah ayu, aku akan mengobatimu dengan segenap hatiku. Aku juga tidak ingin melihat arya susena bersedih dengan kondisimu yang seperti ini."


Setelah itu ia memulai pengobatannya, karena ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama.


Sedangkan Arya Susena mencoba mencari keberadaan teman-temannya, dan benar saja.


"Arya susena?."


Patari, Darsana, dan Bajra saat terkejut ketika melihat kedatangan Arya Susena.


"Apa yang kau lakukan di sini?. Lalu bagaimana dengan nismara?. Apakah terjadi sesuatu padanya?."


"Kau tenang saja. Saat ini nismara sedang diobati nini gagak hitam."


"Oh, syukurlah kalau begitu."


Mereka semua sangat senang mendengarnya, karena mereka sangat takut terjadi sesuatu kepada Nismara.


"Lalu bagaimana dengan pendekar yang kalian hadapi?. Apakah kalian telah berhasil mengatasinya?."


"Bedebah busuk itu pergi begitu saja setelah mengatai kami. Dan dia juga berpesan, bahwa dia akan menunggumu di desa tebing tinggi. Dia ingin bertarung denganmu sampai mati." Patari terlihat kesal.


"Dua hari lagi?."


"Aku yakin dia memiliki rencana untuk membunuhmu arya. Sebaiknya kau tidak usah meneladaninya."


"Sebagai pendekar kegelapan. Pantang bagi kita untuk menghindari pertarungan. Kalian tenang saja, aku akan menghadapinya apapun resiko yang aku dapatkan nantinya."


"Tapi kami hanya berharap kau berhati-hati arya. Sepertinya dia adalah pendekar yang sangat. Aku dapat melihat dari sorot matanya itu."


Saat itu Arya mencoba mengingat seseorang yang dulunya berhadapan dengannya. Sepertinya pendekar itu masih menyimpan dendam terhadap dirinya. "Aku harus menyelesaikan masalah ini." Dalam hati Arya Susena sangat tidak tenang.


Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2