PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 56


__ADS_3

...***...


Malam hari di Hutan Larangan.


Saat itu mereka semua berkumpul di pondok biasa mereka tinggal.


"Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak kembali ke sini."


"Kau benar patari. Aku juga sangat merindukan tempat ini. Rasanya hutan larangan seperti rumahku sendiri."


"Selama ini kita tumbuh bersama, tinggal bersama, dan lakukan banyak hampir sama-sama di sini. Rasanya hatiku sangat lemah ketika mengingat itu semua."


Patari, Bajra, dan Darsana saat itu benar-benar menuangkan bagaimana apa yang mereka rasakan saat itu. Berbeda dengan Arya Susena yang hanya mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh ketiga temannya itu. Karena pada saat itu suasana hatinya sedang diselimuti oleh kegelisahan yang sangat dalam.


"Kau mau ke mana arya?." Patari melihat Arya Susena yang pergi meninggalkan mereka.


"Aku ingin keluar sebentar." Setelah ia memberikan jawaban seperti itu ia segera meninggalkan pondok itu.


"Sepertinya dia memang memiliki perasaan yang sangat khusus kepada nismara. Karena kita ketahui jika dia adalah orang yang sangat cuek akan di sekitarnya. Kita semua telah mengetahui bagaimana dia yang sebenarnya."


"Mungkin karena teman pertama yang dimiliki oleh arya susena adalah nismara, jadi wajar saja jika ia sangat cemas."


"Tentunya kita semua sangat mencemaskan keadaan teman kita. Apalagi setelah sekian lama bersama, tentunya kita akan sangat khawatir jika terjadi sesuatu terhadap teman kita."


Patari, Bajra dan Darsana sebenarnya dapat melihat bagaimana rasa khawatir yang dirasakan oleh Arya Susena saat itu. Karena mereka juga sangat khawatir terhadap keselamatan Nismara.


Sementara itu di tempat Nini siluman Gagak Hitam.


Wanita siluman itu sedang berusaha untuk mengobati Nismara. Wanita siluman kakak yang memiliki untuk mengobati siapa saja yang terluka parah termasuk terluka akibat tenaga dalam. Perlahan-lahan hawa hitam yang menyelimuti tubuh Nismara keluar. Hawa hitam yang sangat jahat yang dapat menggerogoti tubuh seseorang hingga mati.


"Syukurlah. Dengan bantuan tekanan hawa murni yang disalurkan oleh arya susena, aku dapat dengan mudah mengobati anak ini." Dalam hatinya sangat lega.


Tak berselang berapa lama ia telah menyelesaikan pengobatannya itu. Nini siluman Gagak Hitam mencoba mengatur hawa murninya. Cukup mengeras tenaga juga apa yang telah ia lakukan saat itu.


"Hanya menunggu waktu saja untuk kau bangun kembali cah ayu." Ia tersenyum lembut menatap wanita muda yang kini sedang terbaring di atas batu dengan keadaan yang tidak sadar. "Kau sangat beruntung memiliki orang-orang yang sabar perhatian kepadamu." Ia elus dengan lembut kepala Nismara. "Untuk saat ini coba istirahatlah, aku yakin kau sangat lelah setelah pertarungan itu." Ia kembali tersenyum.


Sementara itu di alam bawah sadar Nismara.


Saat itu ia seperti sedang melihat ayahnya yang sedang bersama anggota keluarganya yang lain. Saat itu ayahnya mendekatinya dengan senyuman ramah.


"Kemarilah anakku. Apakah kau tidak ingin bersama kami?."


Deg!.


Nismara sangat terkejut ketika melihat mereka yang telah menyambut hangat dirinya. "Apakah aku sedang bermimpi?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu.


"Mari anakku. Kau telah melakukan pekerjaan yang benar. Kau adalah anakku yang sangat kuat tangguh dan sangat hebat." Itulah ungkapan seorang ayah yang sangat kagum akan kekuatan yang dimiliki oleh anaknya.


"Ayah." Nismara memeluk ayahnya dengan sangat kuat. Sosok seorang ayah yang selalu ia dambakan di dalam hidupnya, Dan kini ia telah bertemu dengan ayahnya?. Tentunya ia sangat bangga sangat bahagia dengan apa yang ia rasakan saat itu.


Sementara itu Arya Susena. Saat itu matanya tertuju pada gerbang gaib yang menuju tempat Nini siluman Gagak Hitam. Hatinya belum tenang jika iya tidak menerima kabar baik tentang Nismara. Dan kebetulan saat itu?.


"Kau tenang saja anak muda. Semua masalah yang terjadi pada kekasihmu itu telah aku atasi dengan sangat baik."


"Nini?." Arya Susena terlihat sangat takut karena ia terkejut dengan suara yang datang mendadak itu. Apalagi Nini siluman Gagak Hitam duduk tepat di atasnya saat itu, lebih tepatnya di atas pohon.


"Kau tidak perlu cemas. Untuk saat ini aku telah berhasil mengobati lukanya. Aku jamin dia akan sembuh dalam dua atau tiga hari ini."


Arya Susena belum menanggapinya, ia sandarkan tubuhnya ke pohon itu. Tatapan matanya saat itu terlihat sangat lega. Begitu juga dengan suasana hatinya setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nini siluman Gagak Hitam.


"Terima kasih atas bantuannya nini." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ada perasaan lega yang ia rasakan pada saat itu, karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya kehilangan Nismara kala itu.


...***...


Keesokan harinya.


Mereka kembali ke istana untuk melaporkan apa yang telah mereka lakukan. Tentunya itu kabar yang sangat luar biasa bagi pihak istana.


"Hormat kami Gusti Prabu."


"Duduklah saudaraku arya susena, nini Patari, kakang darsana, juga kakang bajra."


"Terima kasih Gusti Prabu."


Namun saat itu sambutan yang diucapkan oleh Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara terdengar sangat asing bagi mereka. Apakah beliau telah mengistimewakan mereka semua karena telah berjasa membantunya untuk mengambil tahta itu?.

__ADS_1


"Rasanya sangat aneh sekali dipanggil seperti itu." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka pada saat itu.


"Sepertinya kalian kembali. Tapi, rasanya ada yang kurang." Ya, matanya tidak melihat satu orang lagi.


"Nismara saat ini sedang dalam masa pengobatan karena mengalami luka yang cukup dalam setelah kami berhadapan dengan Senopati jenar tapa."


Tentunya jawaban yang diberikan oleh Arya Susena membuat mereka semua terkejut.


"Jadi nini nismara terluka?."


"Benar Gusti Prabu. Tapi setidaknya kami bisa menghabisi mereka semua. Bibit pemberontakan telah berhasil kami hentikan."


"Aku sangat sedih dengan kabar tentang nini nismara. Semoga saja nini nismara cepat sembuh."


Ya. Tentu saja mereka sangat berharap jika Nismara akan sembuh dalam waktu yang sangat cepat karena mereka sangat perhatian kepada pendekar wanita itu.


"Kalau begitu, kalian beristirahatlah. Untuk beberapa hari ini kita akan merencanakan kesejahteraan rakyat. Aku harap kalian juga ikut terlibat dalam tugas ini."


"Sandika Gusti Prabu."


Dalam laporan itu mereka semua menceritakan apa saja yang telah mereka dengar ketika mendapatkan informasi bagaimana pemberontakan yang dilakukan oleh Senopati Jenar Tapa.


...**...


Di hutan Tebing Tinggi.


Seorang pemuda yang saat itu sedang melatih ilmu kanuraganya seorang diri. Hatinya pada saat itu sedang dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam.


"Kekasihku pergi, telah meninggalkan aku sendirian. Sakit hati yang aku rasakan ketika aku melihat dia terbunuh di hadapanku oleh pendekar yang sangat kejam. Aku tidak akan pernah melupakan rasa sakit aku rasakan pada saat itu." Dalam setiap gerakan yang ia lakukan pada saat itu, ia teringat masa lalu yang sangat menyakitkan. Masa lalu yang tidak akan mudah dilupakan begitu saja walaupun telah berlalu beberapa tahun yang lalu.


"Arya Susena. Kau telah menoreh kalah saya sakit yang aku rasakan pada saat ini. Aku tidak akan melupakan begitu saja walaupun kau meminta ampun kepadaku nantinya." Dalam keadaan yang membara seperti itu ia mengerahkan semua tenaga dalamnya. Seakan-akan pada saat itu ia hendak membunuh Arya Susena dalam bayangannya. Dendam yang membara telah menontonnya untuk melakukan sesuatu.


...***...


Di kediaman kediaman Dewi Astagina.


Dewi Astagina mendapatkan rumah yang sangat istimewa dari keluarga istana. Itu adalah bentuk penghormatan yang mereka berikan kepada Arya Susena yang telah berjasa mengembalikan tahta pemerintahan kepada yang berhak.


"Ibunda, kakang restapati."


Arya Susena tanpa menghala nafasnya dengan sangat lelahnya. "Sekarang aku mengerti kenapa paman sardala saguna begitu beruntun menyerang saya dengan pertanyaan seperti itu. Ternyata sifat turunan itu berasal dari ibunda."


"Hahaha!." Arya Restapati tidak dapat menahan tawanya saat itu.


"Apakah seperti itu?." Dewi Astagina salah tingkah mendengarkan ucapan anaknya itu.


"Jika ingin bertanya satu-satu ibunda. Jangan Serang saya dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Nanti napa saya bisa sesak menjawab semua itu."


"Hahaha!. Kau ini sangat berlebihan sekali adi. Mana mungkin kau akan mati hanya dengan menjawab pertanyaan ibunda yang sangat beruntun itu."


"Apakah kakang tidak merasakannya?. Ketika saya bertemu dengan paman sardala saguna, saya bertemu dengan ibunda. Begitu banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada saya."


Arya Susena pada saat itu tempat pasrah saja ketika ia mengingat apa yang ia alami ketika bertemu paman dan ibundanya.


"Baiklah. Kalau begitu ibunda akan bertanya satu-satu kepadamu putraku." Dewi Astagina hanya mampu tertawa kecil saja. Ia tidak menduga anaknya akan protes dengan sikapnya yang seperti itu. Namun setidaknya pada malam itu mereka benar-benar menikmati bagaimana situasi dan kondisi keluarga yang sangat harmonis.


...***...


Jauh di luar istana.


Seorang pemuda sedang meringkuk dingin, ia sedang berada di hutan yang entah apa namanya.


"Mata ini boleh saja buta, akibat perbuatan pendekar busuk itu." Ingatan masa lalunya yang sangat menyakitkan tidak akan pernah ia lupakan bagi itu saja meskipun telah berlalu. "Dengan mata batin ini, tujuanku sekarang adalah membunuhnya. Akan aku habisi dia dengan segala kekuatan yang aku miliki."


Di malam yang gelap gulita seperti matanya yang tidak dapat lagi melihat secara sempurna, Begitu juga dengan hatinya yang telah gelap, dan hanya ada satu yang tersisa di hatinya yang akan ia pertahankan saat itu adalah dendam. Dendam yang begitu berkobar di dalam dadanya tidak akan pernah ia lupakan begitu saja.


Apakah mereka tidak bisa melupakan dendam yang ada di dalam hati mereka?. Simak bagaimana kisah itu terjadinya intinya.


...***...


Saat itu Patari dan Darsana sedang duduk bersama di pendopo Istana. Sedangkan Bajra saat itu sedang bersama prajurit yang lainnya yang sedang berjaga-jaga di lingkungan istana.


"Bagaimana menurutmu dengan sikap yang ditunjukkan oleh arya susena?. Apakah menurutmu dia mencintai nismara?."


"Kita sama-sama mengetahui dan pasti. Hanya saja sikap arya susena yang super dingin itu, membuat kita beranggapan bahwa dia benar benar tidak mencintai nismara. Padahal kita telah melihatnya dengan jelas bahwa tindakan yang seperti itu menunjukkan hal yang sebaliknya."

__ADS_1


"Hahaha!. Terkadang kita bisa melakukan hal yang aneh-aneh tanpa kita sadari."


Saat itu mereka sedang membahas masalah percintaan, karena mereka bosan terus membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kedamaian. Sesekali mereka juga ingin membicarakan masalah percintaan yang terjadi di antara mereka.


"Lalu bagaimana perasaanmu sendiri terhadapku?. Apakah kau tidak memiliki perasaan apapun terhadapku?." Entah keberanian dari mana yang ia rasakan pada saat itu, sehingga ia berani berkata seperti itu?.


Patari sejenak terdiam, karena sesungguhnya ia memang memiliki perasaan terhadap Darsana. Hanya saja selama ini ia tidak berani mengatakan apapun, sebab dari sikapnya yang kasar seperti itu ia sangat ragu apakah Darsana memiliki perasaan yang sama atau tidak terhadap dirinya.


"Apakah kita harus membahasnya sekarang?. Rasanya jantung kau sangat berdebar-debar ketika kau bertanya seperti itu kepadaku."


Deg!.


Darsana dapat menangkap dengan jelas bagaimana gelagat yang ditunjukkan oleh patari pada saat itu. Darsana dapat tersenyum dengan lega, karena sejujurnya selama ini ia sangat takut jika perasaannya akan ditolak oleh Patari. Pada malam itu kedua insan yang memiliki perasaan yang sama sedang merasakan indahnya jatuh cinta.


...***...


Di Hutan Larangan.


Nini siluman Gagak Hitam pada saat itu sedang mengamati perubahan yang telah dialami oleh Nismara. Ia sangat bersyukur karena perlahan-lahan obat yang telah ia masukkan ke dalam tubuh Nismara mulai bekerja.


"Obat ini akan meresap ke dalam tubuhmu. Memang sangat membutuhkan waktu yang lama, tapi setidaknya obat yang telah aku berikan kepadamu benar-benar mampu memulihkan semua tenaga dalammu yang terkuras itu." Ia usap sayang kepala Nismara. "Kulitmu tidak se pucat seperti yang sebelumnya. Dan kau juga terlihat tampak segar, meskipun saat ini kau masih terbaring di sini. Tapi setidaknya kau benar-benar aman." Ia duduk di samping Nismara yang masih terbaring di batu besar itu. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana gilanya pemuda itu jika kehilangan dirimu. Aku sangat yakin dia akan gila dan membunuh siapa saja, yang mencoba menyentuh dirimu, walaupun orang yang telah membunuhmu mati di tangannya." Ya, Nini siluman Gagak Hitam dapat melihat bagaimana sikap Arya Susena yang sebenarnya. "Meskipun aku jatuh hati kepadanya, namun bagiku dia adalah satu-satunya orang yang dapat menyentuh aku dengan cara yang berbeda."


Kembali ke masa lalu.


Hutan Larangan.


Siapa yang tidak kenal dengan keangkeran Hutan Larangan?. Kecuali dia memang tidak ingin tahu tempat itu memiliki hawa mistis yang sangat luar biasa. Hutan Larangan yang dipenuhi dengan Gagak Hitam yang sangat berbahaya. Namun saat itu ada seorang pemuda yang menantang maut datang ke dalam hutan itu.


"Untuk apa nini mengikuti aku?. Dari tadi aku perhatikan ini terus saja mengikuti aku di belakang." Arya Susena menghentikan langkahnya.


Deg!.


Tentu saja wanita yang memiliki sayap gagak itu sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh pemuda itu.


"Kau bisa melihat aku anak muda?."


"Tentu saja aku bisa melihatmu. Apakah menurutmu jika aku manusia biasa tidak bisa melihatmu Nini?."


"Ya. Sebab tidak ada satupun orang yang dapat melihat aku dengan mata biasa. Kecuali dia memiliki kemampuan untuk melihat alam sukma."


"Aku tahun nini adalah golongan siluman. Tapi aku tidak menduga jika nini memiliki pasukan yang sangat banyak di hutan larangan ini."


"Memangnya apa saja yang kau lihat anak muda?. Apakah kau dapat melihat istanaku?."


"Aku akan dapat melihat anak-anak nini yang sangat banyak di sini. Mereka semua menjaga gerbang masuk Hutan Larangan ini dengan sangat baik. Sungguh anak-anak yang berbakti kepada ibunya." Matanya menangkap betapa banyaknya sosok gagak muda yang bertengger di pohon yang tak jauh dari ia berdiri saat itu.


"Ho?. Ternyata kamu memiliki pandangan yang sangat berbeda. Lalu apa yang kau inginkan dengan datang ke hutan ini?."


"Aku hanya ingin meminta izin kepada nini. Aku hanya ingin tinggal di dalam hutan ini bersama teman-temanku. Karena menurutku hanya tempat ini yang aman untuk kami singgahi setelah kami membunuh siapa saja yang telah melakukan kejahatan."


"Kenapa kau sangat yakin jika hutan ini sangat aman untuk kau tinggali bersama teman-temanmu?."


"Karena kami tinggal bersama gagak yang sangat cantik. Gagak cantik yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa."


Blush!.


Entah kenapa tiba-tiba saja pipi Nini siluman Gagak Hitam merona mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena kepadanya.


"Sebaiknya kau jangan menggombal anak muda. Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa?." Sebisa mungkin ia menutupi apa yang telah ia rasakan pada saat itu.


"Aku sedang tidak menggombal nini. Karena apa yang aku katakan adalah sesuai dengan kenyataan yang terjadi." Balasnya dengan senyuman yang sangat ramah. "Ini adalah bukti nyata siluman gagak yang memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, serta memiliki ilmu bukan warganya yang sangat mumpuni. Sehingga tidak ada satupun orang atau pendekar hebat yang bisa masuk ke dalam hutan ini dan keluar dengan aman."


Ucapan Arya Suseno pada saat itu membuat Nini siluman Gagak Hitam terasa ingin meleleh. "Kau ini pandai sekali berbicara anak muda. Jangan gombali aku yang tua ini dengan kata-kata kamu yang dapat menjatuhkan aku nantinya."


"Aku sama sekali tidak berniat untuk menjatuhkan nini. Aku ke sini untuk mencari perlindungan dari wanita cantik seperti nini. Apakah aku boleh tinggal bersama di wilayahmu ini?. Nini yang sangat cantik dan baik hati?."


Deg!.


Perasaannya pada saat ini sangat berdebar-debar, selama ini ia tidak pernah mendengarkan gombalan yang seperti itu. Memang iya akui selama ini ia menjaga hutan Larangan dengan sepenuh hatinya sehingga tidak ada yang berani masuk ke hutan itu secara sembarangan. "Anak sialan ini telah berani menggoda aku. Lalu apa yang akan aku lakukan?." Dalam hatinya pada saat itu sangat gelisah dengan apa yang ia rasakan.


Kembali ke masa ini.


Itulah yang terjadi di masa lalu ketika Arya Suseno datang kepadanya untuk mencari tempat perlindungan bagi mereka. Dengan sangat mudahnya ia mendapatkan itu hanya dengan kata-kata yang sangat manis. Tapi menurutnya saat itu tidak ada ruginya melindungi pemuda itu. Sebab mereka memiliki kedekatan yang sangat luar biasa dari yang sebelumnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2