PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 70


__ADS_3

...**...


Arya Susena sedang menjelajahi kehidupan sebuah kerajaan tersembunyi, kerajaan baru yang di buat tak lama setelah pemberontakan itu terjadi?.


"Sejak kapan mereka mendirikan istana sebesar ini?." Dalam hatinya merasa bingung ketika melihat bagaimana keadaan kota raja yang sangat megah itu berdiri?.


Dan bahkan dalam wujudnya kucing hitam?. Ia dapat memperhatikan itu semua dengan heran. "Eh?." Saat itu ia sangat terkejut, karena ia diangkat oleh seorang wanita muda yang sangat cantik?.


"Kucing yang sangat manis." Wanita cantik itu mengelus kepalanya dengan sangat lembut, hingga terpaksa ia mengeong layaknya kucing pada umumnya. "Oh?. Aku akan membawamu ke bilik ku." Dengan senang hati ia berjalan meninggalkan tempat itu.


"Hei!. Nimas asih purnama. Apakah kau baik-baik saja?." Saat itu ada seorang laki-laki muda yang menyapa wanita cantik yang bernama Nimas Asih Purnama.


"Aku baik-baik saja Raden." Balasnya dengan senyuman ramah.


"Kenapa kau membawa kucing itu?. Katanya kucing hitam itu sangat berbahaya jika dipelihara. Katanya lebih mengandung hawa tidak baik."


"Itu hanyalah mitos saja. Jangan mudah percaya dengan berita-berita yang mengerikan seperti itu."


"Ahaha!. Kalau begitu mari kita pulang. Sebentar lagi senja. Tidak baik kalau keluar malam-malam."


"Baiklah. Kalau begitu kita kembali ke istana."


Mereka segera kembali ke istana, karena mereka memang mendapatkan larangan untuk tidak keluar saat sebelum senja menyapa.


"Mereka ini masih polos ternyata." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Arya Susena mengenai mereka. "Tapi aku sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam istana itu." Dalam hatinya mencoba melihat apa saja yang ada di sana. Karena ia belum sempat masuk ke dalam tempat itu.


***


Ketika senja telah menyapa?.


Arena pertarungan itu mendadak sepi, karena mereka yang meminta pertarungan untuk sementara waktu dihentikan. Nismara, Darsana, Bajra dan Patari saat itu mendapatkan tempat penginapan sementara mereka berada di desa itu?.


"Aku tidak menduga jika mereka merekrut prajurit dari kaum pendekar."


"Tapi jika dilihat dari tujuan mereka?. Sepertinya ada satu orang pendekar yang mungkin akan menjadi pemimpin."


"Ya, aku rasa seperti itu. Tapi tetap saja intinya mereka akan merekrut para pendekar untuk mengajak mereka bergabung."


Mereka dapat menangkap itu dengan sangat jelas, bagaimana rencana mereka yang sangat aneh?. Mengajak para pendekar untuk menyerang sebuah kerajaan?.


"Tapi dari pertandingan yang kita lakukan tadi, aku melihat ada sekelompok pendekar yang merasa paling berkuasa. Aku sangat muak dengan gaya mereka yang sangat sombong."

__ADS_1


"Jangan bilang kau ingin menghajar mereka, nismara." Patari dapat menangkap itu.


"Akan aku hajar mereka, karena aku tidak suka dengan gayanya yang sombong itu."


"Ahaha!. Jangan terlalu dibawa serius. Ingat, tujuan kita hanyalah untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kerajaan baru ini."


"Jika masalah menyelidiki serahkan pada kucing liar itu. Kita nikmati saja pertarungan besok dengan tanpa beban."


Mereka semua tertawa terbahak-bahak mendengarkan itu, hanya Nismara yang berani mengatai Arya Susena dengan sebutan kucing liar.


"Kau ini terlalu brutal. Kalau arya susena mendengarkan itu?. Aku sangat yakin dia akan mengeluarkan hawa panasnya, dan aku sangat yakin kita akan jadi manusia rebus."


"Ya, itu benar. Jaga ucapanmu itu."


"Jangan buat dia marah dalam misi penting ini."


Mereka mencoba untuk mengingat Nismara agar tidak berkata mengatai Arya Susena dengan sebutan yang aneh. Tentu saja mereka faham dan memahami bagaimana dengan sikap Arya Susena yang sadis itu. "Tapi pertandingan hari ini." Dalam hatinya masih ingat dengan pertarungan itu.


Kembali pada pertarungan saat itu.


Nismara tanpa ampun menyerang musuhnya, ia benar-benar tampak sangat serius menyerang musuhnya. Sehingga arena Pertarungan dipenuhi dengan suara teriakan penonton dari pendekar lainnya yang ikut bertarung?. Nismara yang menggunakan tarian kipas bidadari saat itu menyerang pendekar api. Sehingga pertarungan itu benar-benar sangat menegangkan.


"Sepertinya dia benar-benar melepaskan stres yang dia rasakan karena arya susena." Bisik Darsana sambil tertawa aneh.


"Sudahlah. Nikmati pertarungannya. Tidak ada gunanya berdebat sekarang." Patari sebenarnya juga sangat lelah dengan perdebatan mereka yang tidak ada ujungnya.


"Kurang ajar, ternyata wanita ini memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Aku tidak menduganya sama sekali." Dalam hati pendekar pedang api.


"Kenapa kau terlihat panik seperti itu?. Apakah kau sudah tidak sanggup lagi berhadapan dengan aku?." Nismara seakan-akan tidak memberinya kesempatan untuk menyerang. Ayunan kipasnya?. Bahkan bisa menahan serangan api yang datang padanya.


"Kau jangan sombong dulu Nini. Aku tidak suka pada orang yang sombong seperti kau!."


"Kalau begitu mari kita bertarung lagi."


Selain itu, kadang Nismara melakukan gerakan tipuan untuk mengecoh musuhnya, sehingga pendekar pedang api benar-benar kewalahan, hingga akhirnya mengakui kekalahannya.


"Sial!. Pedang api ini lumayan panas juga." Dalam hati Nismara sangat kesal, dan ia menyerang musuhnya tanpa ampun?.


"Kurang ajar!. Ternyata wanita ini memang sangat hebat. Aku akan mengikutinya nantinya jika pertarungan ini selesai." Dalam hatinya merasa kagum, tapi saat itu ia tidak ingin kalah begitu saja.


Duakh!.

__ADS_1


"Eagkh!."


Pukulan dan tendangan mendarat dengan sangat telak di tubuh pendekar pedang api, hingga pemuda itu keluar dari arena pertandingan. Mereka yang melihat itu bersorak senang, karena telah terlihat siapa yang menjadi pemenangnya.


"Baiklah. Pertandingan hari ini kita tunda dulu, karena kita harus masuk ke rumah masing-masing." Pendekar Bunga Hitam memberikan informasi yang sangat aneh pada mereka. "Itu adalah aturan yang harus kita taati." Lanjutnya. "Tapi untuk para pendekar yang tidak memiliki tempat penginapan?. Kami semua telah menyiapkannya." Ia menunjuk beberapa orang anak buahnya untuk mengantar mereka.


Kembali ke masa ini.


"Aneh, dan sangat tidak biasa." Dalam hati Nismara merasakan ada yang mereka sembunyikan.


Namun pendekar kegelapan tidak akan menyerah begitu saja, mereka tentunya akan menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya.


...*** ...


Di istana.


Dharmapati Sardala Saguna, Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda telah sampai. Mereka disambut oleh Senopati Jande Ingaspati yang terlihat sangat gelisah, dan raut wajahnya sangat kusut.


"Kakang Senopati."


"Paman Senopati."


Mereka memberi hormat.


"Syukurlah jika Kalian telah sampai."


"Memangnya apa yang terjadi kakang?. Kenapa nanda prabu murka pada Raden kanigara hastungkara?."


Senopati Jande Ingaspati saat itu menghela nafasnya. "Sebaiknya kalian istirahatlah, besok saja temui Gusti prabu."


"Tapi masalahnya apa paman?. Sehingga rayi prabu marah kepada saya?."


"Aku juga belum mengetahui duduk perkaranya seperti apa. Tapi aku harap kalian untuk saat ini jangan bertemu dengan Gusti Prabu dulu." Ia terlihat panik?. "Biarkan amarah Gusti Prabu reda dulu."


"Sangat aneh, tidak biasanya rayi prabu sampai murka padamu rayi. Aku yakin ada masalah yang sangat berat yang telah kau lakukan."


"Aku tidak melakukan apapun raka. Bukankah kau melihatnya sendiri?."


Tentu saja itu membuat mereka semua sangat heran. Apa yang menyebabkan Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara slo marah seperti itu?.


"Baiklah. Kalau begitu kalian istirahat di rumah paman dulu. Besok baru menemui nanda Prabu." "Baiklah paman."

__ADS_1


Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda hanya nurut saja.


...***...


__ADS_2