
...***...
Saat itu mereka berhadapan dengan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, sepertinya sang prabu sedikit terdesak, sehingga ia kewalahan berhadapan dengan mereka.
"Kalian sangat kurang ajar!. Berani sekali kalian bermain keroyokan."
"Katakan itu pada saat kau mengeroyok ayahandaku!. Ayahanda Patih arya saka!. Orang yang telah kau bunuh dengan sangat kejam!." A
"Kau juga telah melakukan hal yang sama pada mendiang Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara kala itu. Jadi kau tidak usah merengek rajendra."
"Kau akan menerima akibat perbuatan yang kau lakukan semua ini."
"Kalian lah yang akan menerima hukuman dariku."
Setelah berkata seperti itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menggunakan jurus angin topan membawa petaka?. Tentunya pasangan mereka saya saat terhalang oleh angin itu.
"Kalian akan merasakan akibat pemberontakan yang telah kalian lakukan padaku!."
Angin semakin kencang, seakan-akan mereka saat itu berada di tengah badai yang sangat dahsyat.
"Kegh!. Sial!. Aku tidak bisa melihat apa-apa."
"Apa yang harus kita lakukan kakang?."
"Kita lakukan sesuatu untuk menghentikan ini. Arya susena!. Lakukan sesuatu."
Namun tiba-tiba saja mereka mendapatkan pukulan yang sangat kuat dari arah belakang mereka.
Duakh!.
"Egakh!."
Tubuh mereka terguling ke tanah, entah kenapa hanya pukulan itu?. Membuat mereka tidak berdaya?. Kekuatan seperti apa yang telah digunakan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra untuk mengalahkan mereka?.
"Kegh!. Tubuhku sakit sekali." Raden Kanigara Lakeswara meringis sakit, dan ia melihat Arya Susena juga meringis kesakitan?.
"Kegh!." Saat itu Senopati Warsa Jadi meringis kesakitan, karena lehernya dicekik sangat kuat oleh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
"Kakang."
"Paman warsa jadi!."
Senopati Jande Ingaspati, Senopati Bumi Teladan, dan Senopati Baruh Tandan sangat cemas dengan apa yang telah terjadi pada Senopati Warsa Jadi.
"Apakah hanya seperti ini saja kekuatan yang kalian miliki?. Hm?. Sangat lemah sekali."
"Kegh!. Kau tidak akan bisa membunuh aku."
Cekh!.
"Kakang!."
Mereka semua sangat terkejut ketika melihat Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menikam perut Senopati Warsa Jadi dengan menggunakan keris pusaka?.
"Mati kau pemberontak busuk!."
"Uhuk!." Ia terbatuk darah, dan tubuhnya terjatuh ke tanah dengan kondisi yang sangat lemah.
"Kakang warsa jadi!."
Mereka bertiga tidak tinggal diam, tentu saja mereka mencoba untuk menyerang Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, namun sayangnya mereka terkena pukulan tenaga dalam dari sang Prabu, hingga tubuh mereka terjajar.
"Egakh!."
"Heh!. Kalian tidak akan bisa menghadapi aku dalam kondisi yang terluka seperti itu." Saat itu matanya sedang melihat ke arah Raden Kanigara Lakeswara yang sedang meringkuk kesakitan di tanah. Memang ia akui bahwa serangannya tadi menggunakan kekuatan gaib, sehingga mereka tidak bisa membendung kekuatan dari keris itu. "Sekarang giliranmu anak nakal." Ia mendekati Raden Kanigara Lakeswara, ketika itu ia cekik dengan kuat lehernya.
"Kegh!. Lepaskan aku."
"Siapa yang akan menuruti ucapan anak tidak tahu diri seperti kau?."
"Kau lah yang telah menyiksa aku selama ini."
"Kau akan aku siksa seumur hidupmu. Atau aku bunuh kau sekarang?."
"Lepaskan dia!. Jangan kau sentuh dia dengan tangan kotormu itu!."
"Lepaskan dia!."
"Jangan kau bunuh dia!."
"Kenapa wajah kalian terlihat pucat seperti itu?."
Suasana seketika tegang, karena Prabu Maharaja Kanigara Rajendra hendak menikam dada kiri Raden Kanigara Lakeswara. Apakah Raden Kanigara Lakeswara akan selamat dari tangan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Di Hutan Larangan.
Mereka semua telah kelelahan bertarung melawan pasukan bayangan, mereka tidak memiliki tenaga apapun saat itu. Termasuk Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda yang ikut memimpin pertarungan itu.
"Kurang ajar!. Kita yang memenangkan pertarungan itu, tapi kenapa kita yang kelelahan raka?."
"Entahlah rayi, rasanya ada yang aneh dengan dengan hutan larangan ini."
Nafas keduanya ngos-ngosan, mereka mudah lelah?. Apa yang terjadi sebenarnya?. Namun saat itu mereka melihat ada banyak burung gagak yang bertengger di pohon-pohon itu, sehingga membuat suasana menjadi mencekam. Tatapan mata mereka tajam, seakan-akan hendak memangsa mereka semua.
"Ada apa dengan burung gagak itu raka?. Aku merasakan firasat yang sangat buruk."
"Jangan hiraukan yang lain rayi, fokus saja pada pertarungan ini."
"Tapi mereka seakan-akan tidak ada habisnya raka. Aku heran, sebenarnya mereka ada berapa banyak?."
__ADS_1
Ya, keduanya sangat bingung dengan apa yang telah mereka lakukan saat itu, karena dari tadi mereka bertarung?. Tapi mereka seperti melihat orang yang sama.
Sementara itu di istana?.
"Jangan kau sentuh raja kami."
Deg!.
Saat itu mereka semua terkejut melihat keadaan Arya Susena yang sangat berbeda. Ia berdiri dengan hawa yang mengerikan, hawa kegelapan yang menyelimuti tubuhnya.
Khak!.
Saat itu ada seekor burung gagak yang hinggap di pundaknya.
"Bukankah itu gagak yang berasal dari hutan larangan?." Raden Kanigara Lakeswara ingat dengan warna gagak yang sangat hitam, dan memancarkan kegelapan yang sangat tidak biasa.
"Hutan larangan?. Jadi kedua raden kanigara hampir saja tergeletak tak berdaya?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya. Hingga tanpa sadar ia dorong begitu saja tubuh Raden Kanigara Lakeswara, hingga ia terjatuh ke tanah.
"Kegh!."
"Kau bicara apa anak muda?. Apakah kau berani menyentuh anakku?."
"Kalau ia kau mau apa?."
"Kau jangan memancing amarahku anak muda. Sayangilah nyawamu saat ini." Ucapnya sambil mengeluarkan tiga pasukan gaib yang sangat mengerikan.
Saat itu ada burung gagak lainnya yang mendekati tubuh Senopati Warsa Jadi, dan gagak itu masuk ke dalam tubuhnya. Tentunya itu membuat mereka semua terkejut, namun yang lebih mengejutkan adalah?. Ketika gagak yang bertengger di pundak Arya Susena masuk ke dalam tubuhnya. Saat itu juga Arya Susena seperti malaikat kematian yang sangat menyeramkan.
"Kau tidak aku izinkan untuk membunuh raja sah!. Kau yang akan membayar nyawa orang-orang yang telah kau bunuh." Ia mengeluarkan pedang halilintar pembelah raga.
Deg!.
"Bagaimana mungkin kau memiliki pedang itu?."
"Kau tidak usah terkejut!. Ini adalah pedang kutukan yang akan aku gunakan untuk membunuh siapa saja yang telah membunuh ayahandaku. Itulah sumpahnya!."
Saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat ingat dengan sumpah yang telah disebutkan oleh Patih Arya Saka saat itu, hatinya sangat bergetar mendengarkan sumpah itu.
"Sial!. Kenapa tiba-tiba saja udara menjadi panas?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan ada yang aneh dengan apa yang ia rasakan.
"Panas ini berasal dari kekuatan tenaga dalam yang dia keluarkan Gusti Prabu."
"Hawa panas ini adalah luapan tenaga dalamnya yang berlebihan."
"Panas yang dapat menyerap tenaga dalam musuhnya Gusti."
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga jika ada kekuatan yang seperti itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
...***...
Saat itu mereka berhadapan dengan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, sepertinya sang prabu sedikit terdesak, sehingga ia kewalahan berhadapan dengan mereka.
"Kalian sangat kurang ajar!. Berani sekali kalian bermain keroyokan."
"Katakan itu pada saat kau mengeroyok ayahandaku!. Ayahanda Patih arya saka!. Orang yang telah kau bunuh dengan sangat kejam!." A
"Kau juga telah melakukan hal yang sama pada mendiang Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara kala itu. Jadi kau tidak usah merengek rajendra."
"Kau akan menerima akibat perbuatan yang kau lakukan semua ini."
"Kalian lah yang akan menerima hukuman dariku."
Setelah berkata seperti itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menggunakan jurus angin topan membawa petaka?. Tentunya pasangan mereka saya saat terhalang oleh angin itu.
"Kalian akan merasakan akibat pemberontakan yang telah kalian lakukan padaku!."
Angin semakin kencang, seakan-akan mereka saat itu berada di tengah badai yang sangat dahsyat.
"Kegh!. Sial!. Aku tidak bisa melihat apa-apa."
"Apa yang harus kita lakukan kakang?."
"Kita lakukan sesuatu untuk menghentikan ini. Arya susena!. Lakukan sesuatu."
Namun tiba-tiba saja mereka mendapatkan pukulan yang sangat kuat dari arah belakang mereka.
Duakh!.
"Egakh!."
Tubuh mereka terguling ke tanah, entah kenapa hanya pukulan itu?. Membuat mereka tidak berdaya?. Kekuatan seperti apa yang telah digunakan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra untuk mengalahkan mereka?.
"Kegh!. Tubuhku sakit sekali." Raden Kanigara Lakeswara meringis sakit, dan ia melihat Arya Susena juga meringis kesakitan?.
"Kegh!." Saat itu Senopati Warsa Jadi meringis kesakitan, karena lehernya dicekik sangat kuat oleh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
"Kakang."
"Paman warsa jadi!."
Senopati Jande Ingaspati, Senopati Bumi Teladan, dan Senopati Baruh Tandan sangat cemas dengan apa yang telah terjadi pada Senopati Warsa Jadi.
"Apakah hanya seperti ini saja kekuatan yang kalian miliki?. Hm?. Sangat lemah sekali."
"Kegh!. Kau tidak akan bisa membunuh aku."
__ADS_1
Cekh!.
"Kakang!."
Mereka semua sangat terkejut ketika melihat Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menikam perut Senopati Warsa Jadi dengan menggunakan keris pusaka?.
"Mati kau pemberontak busuk!."
"Uhuk!." Ia terbatuk darah, dan tubuhnya terjatuh ke tanah dengan kondisi yang sangat lemah.
"Kakang warsa jadi!."
Mereka bertiga tidak tinggal diam, tentu saja mereka mencoba untuk menyerang Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, namun sayangnya mereka terkena pukulan tenaga dalam dari sang Prabu, hingga tubuh mereka terjajar.
"Egakh!."
"Heh!. Kalian tidak akan bisa menghadapi aku dalam kondisi yang terluka seperti itu." Saat itu matanya sedang melihat ke arah Raden Kanigara Lakeswara yang sedang meringkuk kesakitan di tanah. Memang ia akui bahwa serangannya tadi menggunakan kekuatan gaib, sehingga mereka tidak bisa membendung kekuatan dari keris itu. "Sekarang giliranmu anak nakal." Ia mendekati Raden Kanigara Lakeswara, ketika itu ia cekik dengan kuat lehernya.
"Kegh!. Lepaskan aku."
"Siapa yang akan menuruti ucapan anak tidak tahu diri seperti kau?."
"Kau lah yang telah menyiksa aku selama ini."
"Kau akan aku siksa seumur hidupmu. Atau aku bunuh kau sekarang?."
"Lepaskan dia!. Jangan kau sentuh dia dengan tangan kotormu itu!."
"Lepaskan dia!."
"Jangan kau bunuh dia!."
"Kenapa wajah kalian terlihat pucat seperti itu?."
Suasana seketika tegang, karena Prabu Maharaja Kanigara Rajendra hendak menikam dada kiri Raden Kanigara Lakeswara. Apakah Raden Kanigara Lakeswara akan selamat dari tangan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Di Hutan Larangan.
Mereka semua telah kelelahan bertarung melawan pasukan bayangan, mereka tidak memiliki tenaga apapun saat itu. Termasuk Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda yang ikut memimpin pertarungan itu.
"Kurang ajar!. Kita yang memenangkan pertarungan itu, tapi kenapa kita yang kelelahan raka?."
"Entahlah rayi, rasanya ada yang aneh dengan dengan hutan larangan ini."
Nafas keduanya ngos-ngosan, mereka mudah lelah?. Apa yang terjadi sebenarnya?. Namun saat itu mereka melihat ada banyak burung gagak yang bertengger di pohon-pohon itu, sehingga membuat suasana menjadi mencekam. Tatapan mata mereka tajam, seakan-akan hendak memangsa mereka semua.
"Ada apa dengan burung gagak itu raka?. Aku merasakan firasat yang sangat buruk."
"Jangan hiraukan yang lain rayi, fokus saja pada pertarungan ini."
"Tapi mereka seakan-akan tidak ada habisnya raka. Aku heran, sebenarnya mereka ada berapa banyak?."
Ya, keduanya sangat bingung dengan apa yang telah mereka lakukan saat itu, karena dari tadi mereka bertarung?. Tapi mereka seperti melihat orang yang sama.
Sementara itu di istana?.
"Jangan kau sentuh raja kami."
Deg!.
Saat itu mereka semua terkejut melihat keadaan Arya Susena yang sangat berbeda. Ia berdiri dengan hawa yang mengerikan, hawa kegelapan yang menyelimuti tubuhnya.
Khak!.
Saat itu ada seekor burung gagak yang hinggap di pundaknya.
"Bukankah itu gagak yang berasal dari hutan larangan?." Raden Kanigara Lakeswara ingat dengan warna gagak yang sangat hitam, dan memancarkan kegelapan yang sangat tidak biasa.
"Hutan larangan?. Jadi kedua raden kanigara hampir saja tergeletak tak berdaya?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya. Hingga tanpa sadar ia dorong begitu saja tubuh Raden Kanigara Lakeswara, hingga ia terjatuh ke tanah.
"Kegh!."
"Kau bicara apa anak muda?. Apakah kau berani menyentuh anakku?."
"Kalau ia kau mau apa?."
"Kau jangan memancing amarahku anak muda. Sayangilah nyawamu saat ini." Ucapnya sambil mengeluarkan tiga pasukan gaib yang sangat mengerikan.
Saat itu ada burung gagak lainnya yang mendekati tubuh Senopati Warsa Jadi, dan gagak itu masuk ke dalam tubuhnya. Tentunya itu membuat mereka semua terkejut, namun yang lebih mengejutkan adalah?. Ketika gagak yang bertengger di pundak Arya Susena masuk ke dalam tubuhnya. Saat itu juga Arya Susena seperti malaikat kematian yang sangat menyeramkan.
"Kau tidak aku izinkan untuk membunuh raja sah!. Kau yang akan membayar nyawa orang-orang yang telah kau bunuh." Ia mengeluarkan pedang halilintar pembelah raga.
Deg!.
"Bagaimana mungkin kau memiliki pedang itu?."
"Kau tidak usah terkejut!. Ini adalah pedang kutukan yang akan aku gunakan untuk membunuh siapa saja yang telah membunuh ayahandaku. Itulah sumpahnya!."
Saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat ingat dengan sumpah yang telah disebutkan oleh Patih Arya Saka saat itu, hatinya sangat bergetar mendengarkan sumpah itu.
"Sial!. Kenapa tiba-tiba saja udara menjadi panas?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan ada yang aneh dengan apa yang ia rasakan.
"Panas ini berasal dari kekuatan tenaga dalam yang dia keluarkan Gusti Prabu."
"Hawa panas ini adalah luapan tenaga dalamnya yang berlebihan."
__ADS_1
"Panas yang dapat menyerap tenaga dalam musuhnya Gusti."
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga jika ada kekuatan yang seperti itu?.