
...***...
Keesokan harinya.
Pagi itu mereka telah berkumpul di suatu tempat yang sangat rahasia, di mana tempat itu digunakan untuk menyekap istri dari mendiang Patih Arya Saka.
Arya Susena merasakan perasaan yang sangat bergemuruh, ketika ia menatap pintu gerbang besar itu. Dengan menggunakan tenaga dalamnya, Arya Susena mecoba untuk menghancurkan keris yang memiliki tenaga dalam yang sangat dahsyat. Pada saat itu mereka semua menyaksikannya, bagaimana Arya Susena yang mencoba untuk membuka gerbang gaib itu dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.
"Aku harap kau bisa melakukannya arya susena." Dalam hati Nismara sangat berharap, jika Arya Susena mampu membebaskan ibundanya.
"Arya susena, meskipun kau terkadang sangat menyebalkan, tapi aku harap hari ini kau bisa melakukannya." Dalam hati Darsana, sangat khawatir. Apalagi Arya Susena baru saja menyembuhkan luka tenaga dalamnya.
"Arya susena, aku harap kali ini kau akan berhasil melakukan ini." Dalam hati Sardala sangat berharap, jika Arya Susena berhasil menghancurkan gerbang gaib itu.
Mereka semua sangat berharap, jika Arya Susena mampu melakukan tugasnya dengan baik. Sementara Arya Susena saat itu sedang bergemuruh, hatinya sangat gelisah.
"Putraku. Memangnya siapa anak muda itu?." Bisik Ratu Arundaya Dewani yang saat itu juga merasa penasaran dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena.
"Nanti nanda jelaskan ibunda." Balas Raden Kanigara Lakeswara, ia hanya ingin melihat apakah Arya Susena mampu melakukan itu?.
Tak berselang lama pintu itu berhasil dibuka oleh Arya Susena. Mereka yang melihat itu sangat terkejut, dan tidak percaya jika Arya Susena mampu melakukan itu.
"Arya susena." Nismara langsung membantu Arya Suena yang terlihat kesulitan setelah ia mengeluarkan semua tenaga dalamnya untuk mengebrak pintu itu.
"Arya susena." Sardala Saguna juga membantu Arya Susena untuk berdiri.
Sementara itu ada seseorang yang selama ini disekap di dalam bangunan itu?. Ia sangat terkejut dengan suara ledakan yang berasal dari pintu utama itu. Jantungnya berdebar-debar sangat kencang, ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengannya.
"Apa yang telah terjadi sebenarnya?. Apakah dia datang lagi?." Dalam hatinya sangat takut degan kedatangan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang selalu saja menyiksa dirinya.
Sementara itu di luar.
__ADS_1
"Paman, kakang restapati. Tolong periksa di dalam. Aku ingin memulihkan tenaga dalamku sebentar." Suaranya terdengar sangat pelan, apalagi wajahnya terlihat sangat pucat saat itu.
"Baiklah arya susena. Aku dan kakangmu masuk ke dalam untuk memeriksanya." Sardala Saguna dan Arya Restapati langsung masuk ke dalam untuk memeriksa, apakah memang ada orang di dalam atau tidak.
"Arya susena." Raden Kanigara Lakeswara mendekati Arya Susena.
"Aku baik-baik saja." Ia hanya tersenyum kecil.
"Bukankah kau anak muda yang waktu itu datang padaku?."
"Hamba gusti ratu."
"Wajahmu sangat mirip sekali degan patih arya saka. Apakah kau putranya?."
"Hamba adalah putra dari patih arya saka. Putra bungsu dari ayahanda patih arya saka, gusti ratu." Arya Susena begitu hormat pada Ratu Arundaya Dewani, membuat mereka yang berada di sana sangat heran.
"Oh, aku tidak menduga jika kau adalah putra dari patih arya saka." Tentunya saja sangat terkejut dengan apa yang telah ia dengar dari anak muda itu.
"Yunda dewi."
"Ibunda."
Sardala Saguna dan Arya Restapati sangat terkejut ketika melihat ada seorang wanita yang sudah sangat lama tidak mereka lihat?.
"Kalian siapa?." Dengan suara yang sangat lemah ia bertanya pada kedua orang asing menurutnya.
"Apakah yunda tidak ingat padaku?. Aku ini adalah rayimu, sardala saguna."
"Saya adalah anakmu ibunda. Anak yang sangat merindukanmu ibunda."
"Rayiku?. Anakku?." Dewi Astagina mencoba mengingat kedua orang yang tidak pernah ia lihat selama beberapa tahun ini?.
__ADS_1
"Benar itu yunda. Ini aku sardala saguna rayimu." Hatinya sangat sedih melihat bagaimana kondisi kakak perempuannya itu.
"Benar itu ibunda, ini aku arya restapati anak ibunda." Arya Restapati tidak dapat lagi menahan perasaan sedih yang telah ia simpan selama ini.
"Oh, rayi, anakku arya restapati." Dewi Astagina memeluk dua orang yang sangat berharga di dalam hidupnya. Perasaan rindu yang sangat membuncah di dalam hatinya saat itu. Ia tidak menduga akan melihat kembali anak dan adik laki-lakinya itu pada saat itu?. Benarkah itu adalah keluarganya?. Anaknya Arya Restapati yang terlihat sudah tumbuh dewasa. Apakah selama itu ia disekap oleh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
"Aku sangat merindukan yunda. Aku tidak menduga jika selama ini yunda berada di sini." Sardala Saguna telah mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu. "Syukurlah jika yunda masih hidup. Aku sangat takut, jika yunda selama ini telah tiada di tangan raja kejam itu." Hatinya sangat bergetar sakit mengingat itu semua.
"Ananda juga sangat merindukan ibunda. Sudah sangat lama ananda ingin bertemu dengan ibunda." Arya Restapati saat itu mengeluarkan tangisannya yang selama ini ia tahan.
"Aku juga sangat merindukan kalian berdua. Selama ini aku selalu memimpikan pertemuan ini." Dengan suaranya yang sangat lemah itu, Dewi Astagina mencoba menyampaikan apa yang ia rasakan saat itu. Sungguh, hatinya sangat perih mengingat apa yang telah ia alami selama ini.
Kembali di luar.
Raden Kanigara Lakeswara saat itu baru saja selesai menyalurkan tenaga dalamnya pada Arya Susena. Keadaanya telah membaik dari yang sebelumnya, tentunya itu membuat mereka semua sangat senang.
"Kenapa mereka sangat lama sekali kembali?." Senopati Jande Ingaspati sangat heran dengan apa yang terjadi saat itu.
"Kalau begitu kita susul saja ke dalam paman."
Namun ketika mereka hendak masuk ke dalam, saat itu pula mereka melihat ada tiga orang yang baru saja keluar dari dalam. Perasaan Arya Susena saat itu sangat membuncah, karena ia tidak menduga akan melihat seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini?. Apakah benar yang ia lihat saat itu?.
"Kakang patih?." Dewi Astagina sangat terkejut ketika melihat Patih Arya Saka?. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk Arya Susena yang ia anggap itu adalah suaminya Patih Arya Saka?. "Kakang patih?. Ternyata kakang patih selama ini masih hidup?." Hatinya bergetar sangat sakit dengan ingatan masa lalunya yang sangat menyakitkan.
Sedangkan mereka semua yang melihat dan mendengar itu sangat cemas, apalagi Arya Susena yang tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya.
"Ternyata benar apa yang telah dikatakan mereka, aku ini sangat mirip sekali dengan ayahanda arya saka. Bahkan ibunda menganggap aku sebagai ayahanda patih arya saka." Dalam hatinya saat itu mencoba untuk menekan perasaan sakit hatinya. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja di pipinya, ia peluk wanita itu dengan sangat eratnya.
Next
...***...
__ADS_1