
...***...
...***...
Saat itu Nismara sedang mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Arya Susena yang menurutnya agak aneh. Saat itu ia hanya melihat Arya Susena yang sedang terbaring di batu besar, matanya terpejam karena kondisinya yang masih dalam pemilihan.
"Kenapa aku bisa hidup bersama orang panas seperti dia?. Apa yang istimewa dari dia?. Sehingga aku ikut dengannya yang jelas-jelas pemuda yang sangat aneh." Dalam hatinya sangat bingung dengan dirinya.
Kembali ke masa itu.
Pagi itu Arya Susena sedang berlatih di halaman belakang. Pagi itu ia sedang bersemangat, itulah alasan kenapa ia ingin latihan. Beberapa jurus ia mainkan untuk mengeluarkan keringatnya. Sesekali ia melompat, dan mengerahkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya untuk menyalurkan tenaga dalamnya. Akan tetapi, siapa yang menduga, jika Nismara saat itu sangat terkesan, ia sangat kagum dengan gerakan-gerakan olah kanuragan yang dilakukan oleh Arya Susena.
"Meskipun aku benci pada laki-laki, kenapa padanya aku tidak bisa benci sama sekali?." Dalam hatinya sat itu berpikir tentang alasan kenapa ia benci. "Sepertinya ada yang salah dengan diriku ini. Atau ada sesuatu yang salah dengan hatiku ini?." Dalam hatinya saat itu sedang bertarung dengan akal pikirannya yang bergejolak. Hingga tanpa sadar i a malah berkata sesuatu yang sangat aneh pada Arya Susena. "Sebenarnya ilmu apa yang telah kau lambari pagi ini arya susena?. Sehingga aku hampir terkesan padamu." Ucapnya tanpa sadar.
Arya Susena langsung menghentikan apa yang telah ia lakukan saat itu. Ia melompat ke arah Nismara, ingin memastikan sekali lagi atas apa yang dikatakan oleh Nismara padanya. "Katakan sekali lagi, apa yang kau katakan tadi."
Deg!.
"Memangnya aku berkata apa tadi?. Kau jangan meminta yang aneh-aneh padaku!."
Wajah gadis itu memerah padam, ia sangat malu sekali karena ucapannya didengar oleh Arya Susena. Dalam hatinya mengutuk mulutnya yang keceplosan. "Dasar mulut kurang ajar!. Akan aku robek kau nanti!." Dalam hatinya sangat mengutuk apa yang telah ia katakan tadi.
"Baiklah. Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh." Arya Susena mengalah. "Aku tahu kau adalah pendekar wanita yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Meskipun aku tadi dengan sangat jelas mendengarkan apa yang kau ucapkan tadi." Dalam hatinya sangat menghormati apa yang telah dilakukan Nismara.
Untuk sesaat kedua insan tersebut melupakan apa yang telah terjadi, dan kali ini merek telah fokus kembali dengan apa yang telah mereka rencanakan.
__ADS_1
"Apakah kau telah selesai latihan?."
"Ya, aku rasa seperti itu. Apakah kita memiliki pekerjaan baru?."
"Setelah mengisi perut kita di pagi hari, aku rasa bajra mendapatkan informasi baru."
"Baiklah. Jika memang seperti itu maka akan kita lakukan."
Setelah itu keduanya masuk ke dalam, untuk menemui yang lainnya. Mereka memiliki pekerjaan baru yang harus segera dilakukan.
Kembali ke masa ini.
Rasanya pipinya memerah dengan sangat sempurna mengingat apa yang telah terjadi pada saat itu.
"Sial!. Kenapa aku malah ingat dengan kejadian itu?." Dalam hatinya sangat bingung dengan dirinya. "Padahal aku saat itu hanya terkesan dengan ilmu kanuragan yang dia miliki, tapi kenapa aku malah tertarik pada orangnya?. Aku rasa ada yang salah dengan diriku ini." Ia menepis semua perasaan aneh yang ia rasakan saat itu. Hatinya sangat tidak mau mengakui mengakui apa yang telah ia rasakan pada Arya Susena?.
Kembali ke masa itu.
"Kau telah melakukan banyak hal arya. Kau bertindak sejauh ini untuk apa?." Ada perasaan kagum yang terselip di hatinya saat itu.
"Aku hanya ingin melakukannya saja." Jawabnya dengan cuek seperti biasanya. Seakan-akan tidak ada ucapan yang menarik yang akan ia bahas saat itu.
"Menurutku, dengan kemampuan yang kau miliki, kau bahkan bisa menjadi raja, jika kau mau." Entah kenapa pikirannya saat itu mengarah ke sana. Ia sedang membayangkan Arya Susena yang menjadi raja yang sangat gagah, dan perkasa.
"Sayangnya aku tidak mau. Karena menjadi raja itu sangat rumit. Aku tidak mau bersama orang yang suka menjilati mukaku dengan bau liur mereka yang sangat busuk." Arya Susena tentunya akan memberikan jawaban seperti itu, karena ia sama sekali tidak ingin melibatkan dirinya dengan hal-hal yang rumit. Salah satunya menjadi raja yang akan mengurus sebuah negeri besar, baginya itu lebih merepotkan dari pada mengurus pendekar jahat.
__ADS_1
Nismara malah tertawa mendengarkan ucapan itu, ia tidak menduga akan mendengarkan jawaban seperti itu dari Arya Susena. Entah kenapa ada yang lucu dari ucapan Arya Susena yang secara terang-terangan menolak kedudukan itu. Padahal ia bisa menguasai apapun dengan menjadi raja. Tapi kenapa malah menolak begitu saja?. Sementara itu banyak orang di luar sana yang ingin menjadi seorang raja.
"Tapi, bukankah kau ingin membalaskan dendammu pada orang yang telah membunuh ayahanda, ibunda, juga rayimu?. Apakah kau masih ingin memiliki niat yang seperti itu?." Saat itu ia juga ingat dengan ucapan mereka sebelumnya.
"Jika kau berkata seperti itu, tentunya aku sangat ingat. Bahkan perasaanku saat ini sangat mendidih sampai ke jantungku." Saat itu sorot matanya telah berubah menjadi lebih serius dari yang sebelumnya.
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk membunuhnya. Aku telah mengetahui di mana ia tinggal." Arya Susena telah mendapatkan informasi itu dari orang yang sangat ia percayai.
"Benarkah?." Nismara hampir saja tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar.
"Apakah wajahku ini wajah tukang pembohong?." Arya Susena dengan raut wajah lucu malah bertanya seperti itu.
"Bukan wajah pembohong, tapi wajah tukang pemarah yang tidak ada obatnya." Balas Nismara sambil mengembungkan pipinya dengan sangat lucunya.
"Bfh!."
Saat itu Arya Susena bukannya marah, justru ia malah tertawa mendengarkan paa yang telah dikatakan Nismara saat itu.
"Jadi aku seperti itu di matamu ya?. Ahaha!." Ia berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa.
"Ya, aku rasa memang seperti itu." Balasnya dengan juteknya.
Kembali ke masa itu.
"Kau telah menepatinya arya susena." Dalam hatinya saat itu merasa sangat sedih dengan kondisi Arya Susena. "Kau yang telah menyelamatkan aku. Tapi kenapa sekarang malah kau yang terluka arya?." Hatinya sangat tidak tega dengan apa tang telah terjadi pada Arya Susena. "Bangun lah arya susena. Aku yakin kau adalah orang yang sangat kuat." Dalam hatinya masih merasa sedih dengan kondisi Arya Susena saat itu.
__ADS_1
...***...