PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 45


__ADS_3

...**...


Di ruangan pengobatan istana.


"Aku telah membantumu mengobati semua lukamu. Jadi kau segera beristirahat, jangan melakukan hal yang aneh-aneh lagi."


"Ya. Aku rasa kau benar. Terima kasih."


Nismara menghela nafasnya dengan sangat pelan. "Bisakah kau tidak tersenyum aneh seperti itu?. Rasanya sangat mengerikan sekali."


"Aku tidak tersenyum. Hanya saja aku sangat kesal, karena aku belum bisa membunuh Senopati yang telah membunuh keluargamu."


"Kita akan melakukannya bersama-sama. Sebab, kabar yang aku dengar. Dia tidak ikut dalam perang itu, karena dia sedang pergi ke luar."


"Kalau begitu setelah aku sembuh. Kita hajar bersama-sama."


"Terserah kau saja. Aku mau pergi dulu. Aku sangat mengantuk sekali."


"Baiklah."


Hanya seperti itu saja percakapan mereka saat itu?. Apakah mereka benar-benar memiliki perasaan satu sama lain?. Atau keduanya malu untuk mengatakan itu?.


Sementara itu Arya Restapati saat itu sedang bersama Sardala Saguna, juga yang lainnya sedang menjaga Senopati Warsa Jadi yang masih belum sembuh.


"Kenapa kau tidak membantu adikmu dalam perang ini?."


"Aku tahu paman akan bertanya seperti itu padaku."


"Adikmu menggunakan seluruh jiwa dan raganya untuk melakukan hal yang sangat besar. Apakah kau tidak melihat bagaimana rasa hormat mereka pada adikmu itu?."


Arya Restapati hanya diam saja, ia tidak bisa membantahnya. Ia memang tidak seperti adiknya Arya Susena.


"Ketika mereka hampir saja mati karena kelakuan mendiang kanigara rajendra?. Saat itu ia telah bertaruh hidup dan mati, jika ia tidak akan mengalami hal yang serupa." Hampir saja ia menangis dengan apa yang terjadi di masa lalu.

__ADS_1


"Maafkan aku paman. Mungkin aku tidak akan melakukan apa yang telah dikatakan adi arya susena." Ya. Baginya itu adalah hal yang sangat mustahil.


"Tapi setidaknya arya susena telah membuktikan, bahwa ia memang memegang teguh sumpah mendiang Gusti Patih arya saka. Aku rasa sumpah itulah yang membuat ia kuat selama ini." Senopati Bumi Teladan dapat merasakan itu.


"Dulu dia kadang aku gendong, kadang dia suka sekali bermanja-manja dengan kami. Rasanya aku tidak percaya dia mampu melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan."


Pada saat itu Senopati Jande Ingaspati, Senopati Bumi Teladan dan Senopati Baruh Tandan sedang mengingat bagaimana mereka membesarkan Arya Susena.


"Namun bukan berarti kamu membesarkannya untuk balas dendam. Akan tetapi saat itu memang ia yang ingin balas dendam atas semua yang telah terjadi."


"Ya. Dia mengatakan itu padaku. Bahkan ketika aku mengetahui di mana keberadaan yundaku yang telah disekap oleh kanigara rajendra."


"Jadi gusti Putri dewi astagina masih hidup?."


Mereka tidak menduga akan mendengarkan kabar bahagia itu.


"Aku belum memastikannya. Tapi kanigara rajendra lah yang mengatakannya dengan sangat jelas, bahwa dia menyembunyikan yunda di tempat yang sangat rahasia."


"Aku dan arya susena beberapa kali telah mencobanya. Akan tetapi kami belum berhasil menghancurkan telah itu."


"Aku rasa karena itulah arya susena mengatakan jika ia ingin mempelajari jurus ajian pelebur karang. Mungkin dia ingin menggantikan gerbang gaib itu."


"Tapi, bukankah sebuah tenaga dalam akan melemah?. Jika penggunanya tewas paman?."


Saat itu mereka semua melihat ke arah Arya Restapati yang bertanya seperti itu.


"Mungkin bagi yang umum seperti itu raden. Tapi yang ini agak lain. Karena pagar gaib yang diciptakan oleh kanigara rajendra menggunakan benda pusaka. Jadi tujuan utamanya adalah menghancurkan benda pusaka itu dengan tanaga dalam yang sangat besar. Tidak sembarangan bisa melakukannya, atau nyawamu yang akan menjadi taruhannya."


"Jika mendengarkan ucapan paman, rasanya emang sangat mengerikan."


"Semoga saja arya susena mampu melakukan itu nantinya."


"Dengan kemampuan yang ia miliki aku, aku harap dia mampu melakukan itu."

__ADS_1


Hanya itu saja harapan mereka.


...**...


Sementara itu Arya Susena sedang memperhatikan sebuah pintu yang sangat besar, matanya tak lepas dari pintu yang kini sedang dipagari oleh kekuatan gaib yang sangat dahsyat.


"Untuk saat ini aku harus memulihkan tenaga dalamku terlebih dahulu. Aku tidak mau mati konyol sebelum bertemu dengan ibundaku." Dalam hatinya mencoba untuk bersikap sabar.


Namun saat itu ia tidak menyangka didatangi oleh Raden Kanigara Lakeswara.


"Apa yang kau lakukan di sini arya susena?. Ini hampir tengah malam. Apakah kau tidak istirahat?."


"Aku hanya memastikannya. Jika tempat ini tidak dihancurkan oleh kanigara rajendra."


"Selama aku berada di istana ini. Aku sama sekali tidak mengetahui adanya tempat ini."


"Itu karena Raden sibuk berlatih. Hamba melihat semuanya dengan menyamar."


Raden Kanigara Lakeswara menghela nafasnya dengan resah. "Aku tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kau bisa masuk ke dalam istana ini. Tapi aku akui kau adalah pendekar yang sangat hebat." Ia sampai mengacungkan jempolnya. "Dan satu sal yang membuat aku tersadar." Ia melirik ke arah Arya Susena. "Jika memang kau adalah anak dari paman patih arya saka, artinya kau juga keturunan bangsawan. Jadi kau jangan panggil aku raden, panggil saja namaku, arya susena. Karena kita memiliki derajat yang sama."


Arya Susena tidak menanggapinya, oa hanya diam saja. "Bangsawan ya?." Hatinya merasa sakit mengingat semuanya. "Aku adalah anak yang dibesarkan oleh dendam yang membara. Disuguhi dengan rasa sakit, serta meminum bara api yang membakar hati dan jiwa. Jadi rasanya aku sangat malu jika disebut sebagai anak bangsawan jika selama ini aku telah menodai tanganku dengan darah bangsawan yang keji." Dadanya terasa sakit, sesak, dan ingin marah. Semuanya telah terjadi di dalam hidupnya, langkahnya yang selama ini hanya dipenuhi dengan perasaan dendam yang sangat membara. "Aku besar dengan semua rasa sakit yang tidak akan bisa aku bagikan kepada siapapun. Bahkan nismara, darsana, patari, bajra, yang sama-sama hidup menderita tidak akan memberikan rasa sakit itu padaku." Ya, itulah yang mereka rasakan meskipun mereka mengalami hal yang serupa. Namun belum tentu mereka merasakan sakit yang sama meskipun keadaan yang membuat mereka menderita.


"Ya. Kau benar arya susena. Meskipun kita sama-sama menderita, namun belum tentu kita memiliki perasaan sakit yang sama." Raden Kanigara Lakeswara mencoba memahami apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena. "Tapi setidaknya kita sama-sama berjuang untuk menghilangkan perasaan sakit itu. Kita sama-sama mencoba untuk menekan perasaan sakit ketika melihat orang lain menderita."


"Ya. Mungkin aku akan setuju."


"Kalau kau memiliki kesulitan, aku harap dapat membantumu suatu hari nanti."


"Terima kasih atas tawarannya Raden."


Pada malam itu, keduanya hanya berbincang-bincang saja, mungkin mereka sedang menjalin hubungan yang lebih dekat lagi sebagai sahabat?. Benarkah?. Serius?. Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2