
...***...
Pada saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sama sekali tidak menduga, jika Raden Kanigara Lakeswara masih hidup?. Tapi bagaimana?. Bagaimana bisa?.
"Bagaimana bisa kau masih hidup?. Apakah kau berani menipu aku lakeswara?."
"Saya melakukan itu demi mengetahui semua kebenaran itu. Karena saya sangat yakin, jika paman prabu telah mengancam ibunda saya untuk tidak mengatakan itu."
"Kurang ajar kau lakeswara!. Akan aku bunuh kau!."
Dengan penuh amarah yang membara, ia segera mencabut keris yang ada di selipan pinggang belakangnya. Hatinya yang saat itu sedang dipenuhi oleh kemarahan yang sangat luar biasa. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra langsung menyerang Raden Kanigara Lakeswara, akan tetapi serangan itu ditahan oleh Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
"Kurang ajar!. Kau masih ingin merasakan mati kedua kalinya?!. Hah?."
"Kau tidak usah banyak mengeluarkan amarahmu. Sebab amarahmu sangat tidak enak untuk dirasakan orang hidup." Ia memberi kode pada Raden Kanigara Lakeswara agar segera pergi meninggalkan tempat.
Sementara itu di gerbang Istana.
Senopati Warsa Jadi, Senopati Jande Ingaspati, Senopati Baruh Tanda, dan Senopati Bumi Teladan langsung masuk ke dalam istana tanpa hambatan sedikitpun. Dan kebetulan mereka melihat Raden Kanigara Lakeswara yang sedang keluar dari ruangan utama istana.
"Di mana arya susena?. Apakah dia telah berada di dalam?."
"Saat ini arya susena sedang berada di dalam paman. Saat ini dia sedang bertarung dengan gusti prabu."
"Kalau begitu kita langsung saja masuk."
"Lalu bagaimana dengan saya paman?."
"Kau juga masuk. Lihat bagaimana pertarungan kami nantinya."
"Baiklah paman."
Setalah itu mereka masuk semua ke dalam istana, dan di dalam istana Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedang berhadapan dengan Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
...***...
Sementara itu seribu pasukan yang dipimpin oleh Patih Palasara Mada telah sampai di bukit Topan.
"Serbu semuanya!. Serbu mereka yang telah berani memerangi kerajaan!." Teriaknya dengan suara yang sangat lantang, dan mereka langsung menyerang begitu saja?. "Heh!. Kalian akan terbunuh di sini. Aku yakin kalian akan mati terkubur di sini." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.
Namun apakah mereka tidak menyadarinya?. Bukit topan adalah salah satu tempat yang memberikan ilusi yang sangat mematikan pada siapa saja yang memiliki kegelapan yang ada di dalam hatinya.
"Mereka sangat mudah sekali masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh arya susena."
"Aku rasa benar yang dikatakan oleh gusti senopati jande ingaspati, bahwa sebenarnya arya susena itu adalah pendekar gila yang memiliki ide membunuh yang sangat mengerikan pada lawannya."
"Kalau begitu kita tidak susah payah lagi mengeluarkan tenaga dalam. Sebab tempat ini katanya adalah tempat yang angker di kerajaan telaga dewa. Aku yakin mereka akan mati karena membunuh diri mereka sendiri yang menganggap diri mereka adalah musuh, yang telah dibutakan oleh ilusi kegelapan yang tercipta dari bukit topan."
"Tapi arya susena berpesan pada kita semua, para pendekar. Bahwa kita tetap harus berjaga-jaga, jika mereka melarikan diri ke desa-desa dan membunuh para penduduk yang tidak berdosa."
"Kalau itu sih aku tahu. Hanya saja aku ingin melihat kematian mengenaskan mereka dengan cara yang tak terduga. Bagaimana menurutmu rencana yang dibuat arya susena?. Apakah adil bagi musuh?."
"Arya susena mengatakan, kita boleh kasihan pada musuh, tapi
Kembali ke istana.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedikit kewalahan menghadapi jurus-jurus yang telah digunakan Prabu Maharaja Kanigara Maheswara, ia hampir saja tidak bisa mengimbangi jurus itu. Nafasnya sedikit ngos-ngosan setelah menggunakan dua, tiga jurus andalan miliknya.
"Bedebah!. Kau bukan maheswara!."
"Kenapa kau sangat yakin?. Jika aku bukan maheswara?."
"Sebab jurus yang kau gunakan sangat berbeda dengan jurus miliknya!."
"Ya. Kau benar. Aku bukanlah Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Karena aku adalah Patih Arya Saka!."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut ketika Prabu Maharaja Kanigara Maheswara telah berubah menjadi Patih Arya Saka?. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.
"Bedebah busuk!. Jadi kau menggunakan jurus Malih rupa?."
"Heh!. Aku menggunakan itu untuk mengingat kau kau pada dua orang tokoh penting yang telah mendirikan istana ini." Ada kemarahan yang ia tunjukkan saat itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kau menyerah saja raja kejam."
Deg!.
Ia semakin terkejut, ketika melihat siapa saja yang masuk ke dalam istana miliknya?.
"Kalian?. Bukankah kalian adalah bekas Senopati yang sangat setia pada maheswara?."
"Kami masih setia pada Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Dan hari ini kami akan menghentikan mu!. Raja kejam yang tidak memiliki perasaan hati nurani!."
"Diam kau warsa jadi!. Kau itu hanyalah bekas senopati tua yang tidak memiliki kekuatan apapun. Kau yang akan aku bunuh!. Karena kau telah berani melakukan pemberontakan padaku, dan aku sangat yakin!." Amarah sang prabu semakin membuncah, ketika mengetahui siapa saja yang hadir di sana. "Kau lah yang telah mempengaruhi lakeswara untuk mengetahui kebenaran, bahwa ia adalah putra dari maheswara."
"Sayang sekali, bukan paman warsa jadi yang memberi tahukan pada raden kanigara lakeswara. Tapi aku!."
Prabu Maharaja Kantor Rajendra sedikit terkejut mendengarnya. "Siapa kau sebenarnya?. Sehingga kau berani mengatakan itu padanya?."
"Aku adalah arya susena, putra dari gusti patih arya saka. Seorang patih terhormat yang telah kau bunuh dengan sangat kejam."
"Arya saka?. Aku ingat dengan nama itu. Dan juga arya susena yang katanya seorang pemuda yang telah berani memicu pemberontakan di wilayahku dengan kelompoknya dengan julukan pendekar kegelapan." Ia sedikit menyeringai lebar. "Jadi ini semua rencana yang telah kau buat?. Hebat sekali kau."
"Putra arya saka tentunya harus lah hebat, jika tidak mana mungkin dia bisa menyeret ribuan pasukan terkuat kerajaan telaga dewa untuk berperang melawan dirinya sendiri?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan firasat yang sangat buruk mengenai itu, hatinya bergejolak panas saat itu mengenai keempat lokasi itu.
"Gusti prabu tenang saja. Untuk kedua putra gusti prabu mungkin ada perlakuan khusus nantinya. Namun hamba tidak jamin jika yang lainnya akan selamat."
"Bedebah!."
Amarah sang prabu semakin memuncak saat itu. Hatinya sangat panas dengan apa yang ia dengar, hingga tanpa banyak bicara ia langsung menyerang Arya Susena yang masih dalam wujud Patih Arya Saka.
"Arya susena!."
Tentunya keempat Senopati agung itu tidak akan membiarkan Arya Susena bertarung sendirian, mereka juga mengejar Arya Susena dan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang lari keluar dari ruangan itu. Pertarungan antara Arya Susena dan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra tidak bisa dihindari lagi, karena kemarahan telah menguasai hati, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih lagi saat bertarung.
Next.
...***...
...***...
Pada saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sama sekali tidak menduga, jika Raden Kanigara Lakeswara masih hidup?. Tapi bagaimana?. Bagaimana bisa?.
"Bagaimana bisa kau masih hidup?. Apakah kau berani menipu aku lakeswara?."
"Saya melakukan itu demi mengetahui semua kebenaran itu. Karena saya sangat yakin, jika paman prabu telah mengancam ibunda saya untuk tidak mengatakan itu."
"Kurang ajar kau lakeswara!. Akan aku bunuh kau!."
Dengan penuh amarah yang membara, ia segera mencabut keris yang ada di selipan pinggang belakangnya. Hatinya yang saat itu sedang dipenuhi oleh kemarahan yang sangat luar biasa. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra langsung menyerang Raden Kanigara Lakeswara, akan tetapi serangan itu ditahan oleh Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
"Kurang ajar!. Kau masih ingin merasakan mati kedua kalinya?!. Hah?."
"Kau tidak usah banyak mengeluarkan amarahmu. Sebab amarahmu sangat tidak enak untuk dirasakan orang hidup." Ia memberi kode pada Raden Kanigara Lakeswara agar segera pergi meninggalkan tempat.
Sementara itu di gerbang Istana.
Senopati Warsa Jadi, Senopati Jande Ingaspati, Senopati Baruh Tanda, dan Senopati Bumi Teladan langsung masuk ke dalam istana tanpa hambatan sedikitpun. Dan kebetulan mereka melihat Raden Kanigara Lakeswara yang sedang keluar dari ruangan utama istana.
"Di mana arya susena?. Apakah dia telah berada di dalam?."
"Saat ini arya susena sedang berada di dalam paman. Saat ini dia sedang bertarung dengan gusti prabu."
"Kalau begitu kita langsung saja masuk."
"Lalu bagaimana dengan saya paman?."
"Kau juga masuk. Lihat bagaimana pertarungan kami nantinya."
"Baiklah paman."
Setalah itu mereka masuk semua ke dalam istana, dan di dalam istana Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedang berhadapan dengan Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
__ADS_1
...***...
Sementara itu seribu pasukan yang dipimpin oleh Patih Palasara Mada telah sampai di bukit Topan.
"Serbu semuanya!. Serbu mereka yang telah berani memerangi kerajaan!." Teriaknya dengan suara yang sangat lantang, dan mereka langsung menyerang begitu saja?. "Heh!. Kalian akan terbunuh di sini. Aku yakin kalian akan mati terkubur di sini." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.
Namun apakah mereka tidak menyadarinya?. Bukit topan adalah salah satu tempat yang memberikan ilusi yang sangat mematikan pada siapa saja yang memiliki kegelapan yang ada di dalam hatinya.
"Mereka sangat mudah sekali masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh arya susena."
"Aku rasa benar yang dikatakan oleh gusti senopati jande ingaspati, bahwa sebenarnya arya susena itu adalah pendekar gila yang memiliki ide membunuh yang sangat mengerikan pada lawannya."
"Kalau begitu kita tidak susah payah lagi mengeluarkan tenaga dalam. Sebab tempat ini katanya adalah tempat yang angker di kerajaan telaga dewa. Aku yakin mereka akan mati karena membunuh diri mereka sendiri yang menganggap diri mereka adalah musuh, yang telah dibutakan oleh ilusi kegelapan yang tercipta dari bukit topan."
"Tapi arya susena berpesan pada kita semua, para pendekar. Bahwa kita tetap harus berjaga-jaga, jika mereka melarikan diri ke desa-desa dan membunuh para penduduk yang tidak berdosa."
"Kalau itu sih aku tahu. Hanya saja aku ingin melihat kematian mengenaskan mereka dengan cara yang tak terduga. Bagaimana menurutmu rencana yang dibuat arya susena?. Apakah adil bagi musuh?."
"Arya susena mengatakan, kita boleh kasihan pada musuh, tapi
Kembali ke istana.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedikit kewalahan menghadapi jurus-jurus yang telah digunakan Prabu Maharaja Kanigara Maheswara, ia hampir saja tidak bisa mengimbangi jurus itu. Nafasnya sedikit ngos-ngosan setelah menggunakan dua, tiga jurus andalan miliknya.
"Bedebah!. Kau bukan maheswara!."
"Kenapa kau sangat yakin?. Jika aku bukan maheswara?."
"Sebab jurus yang kau gunakan sangat berbeda dengan jurus miliknya!."
"Ya. Kau benar. Aku bukanlah Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Karena aku adalah Patih Arya Saka!."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut ketika Prabu Maharaja Kanigara Maheswara telah berubah menjadi Patih Arya Saka?. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.
"Bedebah busuk!. Jadi kau menggunakan jurus Malih rupa?."
"Heh!. Aku menggunakan itu untuk mengingat kau kau pada dua orang tokoh penting yang telah mendirikan istana ini." Ada kemarahan yang ia tunjukkan saat itu.
"Sebaiknya kau menyerah saja raja kejam."
Deg!.
Ia semakin terkejut, ketika melihat siapa saja yang masuk ke dalam istana miliknya?.
"Kalian?. Bukankah kalian adalah bekas Senopati yang sangat setia pada maheswara?."
"Kami masih setia pada Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Dan hari ini kami akan menghentikan mu!. Raja kejam yang tidak memiliki perasaan hati nurani!."
"Diam kau warsa jadi!. Kau itu hanyalah bekas senopati tua yang tidak memiliki kekuatan apapun. Kau yang akan aku bunuh!. Karena kau telah berani melakukan pemberontakan padaku, dan aku sangat yakin!." Amarah sang prabu semakin membuncah, ketika mengetahui siapa saja yang hadir di sana. "Kau lah yang telah mempengaruhi lakeswara untuk mengetahui kebenaran, bahwa ia adalah putra dari maheswara."
"Sayang sekali, bukan paman warsa jadi yang memberi tahukan pada raden kanigara lakeswara. Tapi aku!."
Prabu Maharaja Kantor Rajendra sedikit terkejut mendengarnya. "Siapa kau sebenarnya?. Sehingga kau berani mengatakan itu padanya?."
"Aku adalah arya susena, putra dari gusti patih arya saka. Seorang patih terhormat yang telah kau bunuh dengan sangat kejam."
"Arya saka?. Aku ingat dengan nama itu. Dan juga arya susena yang katanya seorang pemuda yang telah berani memicu pemberontakan di wilayahku dengan kelompoknya dengan julukan pendekar kegelapan." Ia sedikit menyeringai lebar. "Jadi ini semua rencana yang telah kau buat?. Hebat sekali kau."
"Putra arya saka tentunya harus lah hebat, jika tidak mana mungkin dia bisa menyeret ribuan pasukan terkuat kerajaan telaga dewa untuk berperang melawan dirinya sendiri?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan firasat yang sangat buruk mengenai itu, hatinya bergejolak panas saat itu mengenai keempat lokasi itu.
"Gusti prabu tenang saja. Untuk kedua putra gusti prabu mungkin ada perlakuan khusus nantinya. Namun hamba tidak jamin jika yang lainnya akan selamat."
"Bedebah!."
Amarah sang prabu semakin memuncak saat itu. Hatinya sangat panas dengan apa yang ia dengar, hingga tanpa banyak bicara ia langsung menyerang Arya Susena yang masih dalam wujud Patih Arya Saka.
"Arya susena!."
__ADS_1
Tentunya keempat Senopati agung itu tidak akan membiarkan Arya Susena bertarung sendirian, mereka juga mengejar Arya Susena dan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang lari keluar dari ruangan itu. Pertarungan antara Arya Susena dan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra tidak bisa dihindari lagi, karena kemarahan telah menguasai hati, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih lagi saat bertarung.