PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 31


__ADS_3

...***...


Arya Susena, Patari, Darsa, Nismara, Bajra dan Raden Kanigara lakeswara telah sampai di tempat yang mereka tuju. Tentunya kedatangan warsa jadi.


"Syukurlah jika kalian telah sampai dengan selamat. Aku sangat cemas, jika terjadi sesuatu pada kalian." Sambutnya dengan senyuman yang ramah.


"Paman warsa jadi." Arya Susena memeluk laki-laki setengah baya itu dengan penuh kerinduan yang mendalam.


"Paman tidak usah cemas, kami bisa menjaga diri kami." Warsa Jadi membalas pelukan itu dengan eratnya.


"Aku percaya kau bisa menjaga dirimu." Ia merasa lega.


"Jangan lupakan kami paman." Ucap Patari dengan senyuman kecil.


Patari, Darsana, Nismara dan Bajra juga merindukan Warsa Jadi.


Warsa Jadi melepaskan pelukan itu, dan ia melihat ke arah empat pemuda lainnya yang menatap ke arahnya dengan senyuman ramah.


"Kalian datang juga?. Aku pikir kalian tidak akan datang." Ia tidak menduga akan melihat mereka, walaupun saat itu matanya menangkap ada seorang pemuda yang belum ia lihat sama sekali.


"Kami terpaksa ikut dengannya paman." Canda Darsana sambil menahan tawanya.


"Benar itu paman. Kami takut arya nyasar, dan lupa jalan menuju ke sini." Tambah Patari dengan tawa.


"Hmph!." Arya Susena memalingkan wajahnya. Ia sangat kesal dengan apa yang telah dikatakan oleh kedua temannya itu.


"Lihatlah paman, dia masih saja garang pada kami." Nismara tampak kesal juga.


"Ahaha!." Warsa Jadi hanya bisa tertawa melihat situasi seperti itu. "Ya sudah. Mari masuk." Ia menyuruh mereka untuk masuk.


"Terima kasih paman, permisi." Arya Susena mencoba melupakan sejenak apa yang telah terjadi.


Mereka semua masuk ke dalam, tentunya untuk bertemu dengan yang lainnya, para pejuang yang masih setia pada mendiang Prabu MAharaja Kanigara Maheswara.

__ADS_1


...***...


Sementara itu di Istana Kerajaan.


Ratu Arundaya Dewani saat itu sedang bersama Prabu MAharaja Kanigara Maheswara. Keduanya tampak seperti dahulu, ketika mereka masih bersama seperti dahulu.


"Apakah kanda prabu tidak mau makan?." Dengansuara yang sangat lembut ia bertanya.


"Kanda akan makan, jika dinda yang menyuapi dinda." Jawabnya dengan senyuman ramah.


"Dengan senang hati dinda akan menyuapi kanda." Suasana hatinya sedang berbunga-bunga mendengarkan ucapan Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.


"Ayahanda, ibunda." Saat itu ada suara yang semangat memanggilnya. "Selamat pagi ibunda, ayahanda." Sapa Raden Kanigara Lakeswara yang tampak sangat ceria pagi itu.


"Selamat pagi juga putraku." Balas Ratu Arundaya Dewani samil mengelus sayang anaknya yang berumur 10 tahun.


"Apakah nanda boleh ikut makan bersama ayahanda, juga ibunda?. Rasanya nanda sangat lapar sekali." Ucapnya dengan nada yang sangat manja.


"Tentu saja putraku. Mari ibunda suapi nanda." Ratu Arundaya Dewani tentunya sangat senang mendengarkan itu.


Sementara itu dari depan bilik Ratu Arundaya Dewani, ada dua orang emban yang merasa simpati dengan apa yang telah mereka lihat saat itu. Sungguh, hati mereka sangat sedih dengan apa yang telah terjadi pada Ratu mereka saat ini.


"Oh!.Dewata yang agung. Kami mohon jangan berikan kesedihan yang sangat berlarut-larut pada gusti ratu arundaya dewani, sehingga beliau mnejadi seperti ini." Sungguh, hatinya sangat iba dengan pemandangan yang seperti itu. Perasaan simpati yang sangat dalam yang ia rasakan saat itu.


"Oh!. Gusti ratu. Sungguh, malang sekali nasib gusti ratu setelah kepergian mendiang gusti prabu maharaja kanigara maheswara." Dalam hati Sinu merasa bersimpati yang sangat dalam. "Dan sekarang gusti ratu telah kehilangan putra gusti ratu, raden kanigara lakeswara. Jika hamba berada di posisi gusti ratu, hamba juga tidak akan sanggup. Mungkin hamba akan mengakhiri hidup ini." Sinu tidak dapat menahan kesedihan yang la rasakan saat itu.


Begitu juga dengan Uli temannya yang melihat Ratu Arundaya Dewani yang sedang berhalusinasi tentang kedua orang yang sangat ia cintai. "Hamba harap Gusti Ratu lebih kuat menghadapi ini." Dalam hatinya hanya bisa melihat itu, karena ia tidak sanggup untuk menyadarkan Ratu Arundaya Dewani, bahwa apa yang ia lihat itu adalah ilusi semata yang tercipta dari hatinya yang berduka sangat dalam.


...***...


Di bilik Ratu Aristawati Estiana.


Kabar itu juga telah ia dapatkan, tentunya ia sangat terkejut dengan pengaduan Ilis, salah satu emban yang menjaga Ratu Arundaya Dewani.

__ADS_1


"Apakah benar yang kau katakan itu?!" Hatinya berdebar-debar tidak menentu.


"Ampun gusti ratu. Bukan hanya hamba saja yang melihat itu, tapi ada beberapa orang juga yang melihatnya. Kami sangat tidak tega melihatnya gusti ratu." Ucapnya sambil meneteskan air mata kesedihan.


"Demi dewata yang agung. Ini tidak bisa dibiarkan. Kasihan dia, kau yakin dia mengalami sesuatu, sehingga berhalusinasi seperti itu." Ratu Aristawati Estiana tidak menduga akan mendapatkan kabar aneh tentang Ratu Arundaya Dewani.


"Lalu apa yang akan kami lakukan gusti ratu?. Kasihan sekali nasib gusti ratu arundaya dewani, jika kita biarkan seperti itu." Perasaan a Ratu Aristawati Estiana.


"Kalau begitu, kay lanjutkan saja pekerjaan. Aku hendak menemu kanda Prabu." Ratu Aristawati Estiana tidak dapat lagi menahan perasaan cemasnya, ia segera pergi dari biliknya.


"Sandika gusti ratu." Ilis langsung mengerjakan perintah Ratu Aristawati Estiana.


***


Di Wisma Para Putra Raja tinggal. Saat itu Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara sedang latihan bersama. Keduanya tampak sangat serius dengan latihan olah. Kanuragan dan ilmu kadigdayaan. Raden Kanigara Ganda yang saat itu sangat gencar menyerang, namun Raden Kanigara Hastungkara dengan gerakan yang sangat gesit menahan semua serangan yang datang padanya. Mereka yang melihat itu benar-benar kagum dengan kehebatan yang dimiliki oleh kedua kakak beradik itu.


"Sungguh sangat luar biasa sekali." Ia sampai bertepuk tangan melihat itu. "Gerakan yang sangat cepat, serta pertahanan yang sangat kuat yang diperlihatkan keduanya memang sangat luas biasa." Ia memuji kehebatan kedua kakak beradik itu. "Aku sangat yakin gusti prabu akan bangga melihat ini." Senopati Semat Praja sangat memuji kehebatan keduanya.


"Tidak salah, gusti prabu memiliki penerus seperti ini. Aku yakin kerajaan ini akan menjadi kerajaan yang akan ditakuti." Senopati Rajasa Dirga juga kagum melihat itu. Latihan itu benar-benar sangat memukau siapa saja yang melihatnya.


"Ya, itu sangat benar sekali." Senopati Semat Praja tersenyum kecil.


Setelah mengeluarkan beberapa jurus, keduanya saling memberi hormat.


"Raka sangat hebat sekali. Aku hampir saja tidak bisa mengimbanginya." Raden Kanigara Hastungkara tertawa kecil.


"Ah!. Kau juga hebat rayi." Balasnya.


"Hormat kami raden." Senopati Semat Praja dan Senopati Rajasa Dirga mendekati mereka.


"Sungguh, latihan yang sangat luar biasa raden." Pujinya dengan penuh kekaguman.


"Terima kasih paman senopati." Hanya itu balasnya saat itu.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2