
...***...
Pertarungan masih berlanjut, dan tentunya Arya Susena saat titu sedang bertarung melawan sepasang pendekar. Sedangkan Raden Kanigara Lakeswara, Nismara, Darsana, Bajra dan Patari saat itu hanya bisa mengamati itu dari jarak yang cukup jauh.
"Bukan hanya kemarahannya saja yang membuat Sekitarnya menjadi panas, tapi jurus-jurus yang dia mainkan juga mengandung hawa panas."
"Jangan terlalu kagum raden. Nanti kita malah memiliki ambisi untuk membunuh arya susena, karena dia memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang lebih tinggi dari pada kita."
"Ucapanmu itu bahkan lebih menyeramkan dari pada pedang sukma naga bumi."
Mereka malah tertawa mendengarkan ucapan Raden Kanigara Lakeswara.
"Seberapa besar, ilmu kanuragan yang dia miliki?." Dalam hati Raden Kanigara sangat heran melihat Pertarungan Arya Susena yang sangat ganas. Pua lawan satu, namun tenaga dalam yang dimiliki Arya Susena cukup membuat kedua musuhnya Kewalahan menghadapinya.
Pukulan yang dilambari dengan tenaga dalam membuat Sarathina meringis kesakitan ketika pukulan mengenai punggung dan kedua bahunya.
"Eagkh!."
Tubuhnya hampir saja terguling ke tanah jika ia tidak ia tidak segera menahan tubuhnya. Namun saat itu pertarungan bukan hanya sampai di situ saja, Arya Susena menyadari sebuah sabetan pedang yang sangat tajam yang datang dari arah belakangnya dengan sangat cepat. Arya Susena segera menunduk dengan cepat, sehingga kepalanya masih aman. Arya Susena menghadiahi musuhnya dengan sebuah pukulan keras. Sayangnya musuh menyadari serangan itu, Bengka berhasil menahan pukulan itu, walaupun tangannya terasa kebas.
"Heh!. Tidak aku duga, orang sombong seperti kau memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi."
"Tidak usah banyak bicara. Aku tidak suka basa-basi dengan kau." Arya Susena kembali melayangkan sebuah pukulan.
Pertarungan kembali terjadi antara Arya Susena dengan Bengka yang sedikit kewalahan. Sementara itu Sarathina sedang mengatur tenaga dalamnya, rasanya tenaga dalamnya berkurang karena pukulan yang ia terima tadi.
"Sial!. Pendekar itu sangat kuat juga." Dalam hatinya sangat kesal. "Aku harus membantu kakang bengka." Ia segera bergabung dengan pertarungan itu.
Di sisi lain, Sareh tak dapat menahan kesedihan yang ia rasakan saat itu, sebab temannya Dempa sudah tidak dapat ditolong lagi. Sebab cambuk api yang ia miliki memang memiliki kekuatan hitam yang dapat membunuh siapa saja dalam satu lecutan saja. Hatinya sangat panas, tidak terima dengan apa yang telah terjadi?.
Deg!.
Darsana menyadari ada hawa hitam yang tidak biasa yang ia lihat dari Sareh, sehingga ia memutuskan untuk melompat ke arah Dempa.
"Mau apa dia?."
__ADS_1
"Tenang lah raden. Mungkin dia ingin bermain-main sebentar.
"Oh?. Begitu kah?."
Raden Kanigara Lakeswara mencoba memperhatikan apa yang telah dikatakan Nismara tentang Darsana yang mendekati musuh.
"Tuan ternyata memiliki ajian raga hitam. Tidak aku duga akan bertemu dalam keadaan seperti ini."
"Aku juga tidak menduga ada yang mengenali jurus ku ini." Ia alirkan tenaga dalamnya ke cambuk itu. "Kalau begitu kau yang akan merasakan ajian cambuk api hitam ku ini."
"Kurang ajar." Dalam hati Darsana sangat mengutuk itu.
Darsana melompat dengan sangat cepat, tentunya ia tidak ingin tubuhnya hangus terbakar karena cambuk api hitam itu.
CTAR!. CTAR!.
Cambuk itu terus dilepaskan oleh Sareh yang sedang dikuasai kemarahan. Darsana benar-benar harus menghindari serangan itu dengan sangat baik, jika ia tidak ingin berakhir dengan sangat mengenaskan.
Tanpa banyak bicara Bajra, Patari dan Nismara langsung bergerak. Tentunya ia tidak ingin teman mereka mengahadapi bahaya sendirian.
"Begitu situasi gawat?. Mereka langsung bergerak dan saling membantu." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara sangat kagum dengan kebersamaan mereka. "Lalu apa yang akan akau lakukan dalam situasi seperti ini?." Dalam hatinya sedikit bimbang dengan keputusannya.
Sementara itu di istana.
Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara baru saja sampai di istana. Mereka baru-baru saja berjalan-jalan, sambil menikmati bagaimana rasanya berada di luar istana setelah sekian lama tidak kembali.
"Terima kasih paman triasti, hari ini sangat menyenangkan sekali bisa berjalan-jalan dengan paman."
"Sama-sama raden. Saya sangat senang karena raden menikmati jalan-jalan kita hari ini."
"Lain kali, kalau kami mau jalan-jalan lagi, kami akan meminta paman saja yang mengantar kami."
"Sandika raden. Hamba akan menemani raden kemana saja."
"Kalau begitu kami masuk dulu paman."
__ADS_1
"Selamat beristirahat raden."
Setelah itu kedua kakak beradik itu langsung masuk istana, karena merasa sedikit lelah setelah berkeliling di beberapa tempat bagus di kerajaan.
Sementara itu Prabu Maharaja Rajendra saat itu sedang menuju bilik Ratu Arundaya Dewani. Saat itu matanya menangkap Ratu Arundaya Dewani yang sedang merawat beberapa bunga yang berada di biliknya. Tentunya pemandangan itu membuat Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat heran melihat istrinya yang tampak biasa saja?. Seakan-akan tidak ada kesedihan yang ia perlihatkan saat itu?.
"Dinda arundaya dewani."
"Kanda prabu."
"Apakah benar dia arundaya dewani?." Dalam hati Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasa heran.
"Kenapa kanda melihat dinda seperti itu?. Apakah ada yang salah dengan dinda?."
"Oh!. Tidak. Tidak ada yang aneh sebenarnya."
"Apakah kanda membutuhkan sesuatu?. Sehingga kanda datang ke sini?."
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu mengernyit keningnya. "Bukankah dia sedang berduka/. Apakah dia sudah mulai tidak waras setelah kematian anaknya?." Dalam hatinya masih mencoba mencari jawaban atas apa yang telah ia pikirkan saat itu.
"Kanda hanya ingin mengatakan, jika pemakaman nanda lakeswara telah selsai. Apakah dinda tidak ingin melihat kuburannya?."
Ratu Arundaya Dewani terhenti sejenak, namun setelah itu ia mencoba bersikap biasa-biasa saja. "Bukankah pemakaman ananda lakeswara telah selesai semalam kanda?. Kenapa kanda malah mengatakan hari ini?." Senyuman itu senyuman seperti biasa saja. "Kanda ini aneh sekali." Ia kembali menyiram bunga yang tak jauh darinya.
"Apakah kau tidak merasa sedih karena kehilangan ananda lakeswara?."
"Apakah dengan menangis meraung-raung?. Ananda lakeswara akan kembali bangkit?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya, seakan-akan ia sedang ditampar oleh kenyataan yang menyakitkan.
"Dinda telah merasakan itu selama hampir tujuh belas tahun lamanya. Ketika kanda maheswara pergi meninggalkan dinda." Lanjutnya dengan senyuman yang sangat aneh, sambil menahan perasaan yang sangat sesak luar biasa. "Bertahun-tahun dinda menangis, nyata kanda maheswara tidak juga kembali. Jadi untuk apa dinda menangis?. Jika nanda lakeswara tidak akan kembali ke sini walaupun dinda menangis sampai keluar darah."
Deg!.
__ADS_1
Prabu Maheswara Kanigara Rajendra seperti sedang diuji kesabarannya dengan sikap Ratu Arundaya Dewani yang seperti itu. Ucapannya yang sebenarnya mengandung perasaan sedih yang sangat luar biasa, tapi ia mencoba untuk kuat.
...***...