
...***...
Setelah hasil sidang itu diputuskan, mereka bertiga telah mendapatkan hukuman sesuai dengan ketetapan yang mereka sepakati. Saat itu keluarga inti dari kerajaan sedang berkumpul di satu tempat yang sama.
"Aku sungguh tidak menduga jika paman adalah paman dari musuhku." Raden Kanigara Hastungkara melihat tidak suka ke arah Arya Susena.
"Raden jangan berkata seperti itu. Kami melakukan ini semua karena strategi."
"Tapi aku tidak menduga sama sekali. Jika triasti adalah adik dari yunda dewi astagina."
"Selama ini aku memang tidak mengatakan kepada siapapun mengenai keluargaku. Aku hanya tidak ingin mereka mengetahui keluargaku."
"Hiduplah dengan damai di istana ini. Nikmati saja yang ada, jangan sampai terjadi perang lagi. Ataupun coba-coba melakukan pemberontakan." Arya Susena pada saat itu mengeluarkan ancaman yang tidak main-main kepada siapa saja. "Kalau begitu mengobrol lah satu sama lain. Saya mau keluar terlebih dahulu untuk menemui teman-teman saya."
"Apakah tidak sebaiknya, jika kau juga ikut di dalam pembicaraan ini, adi?."
"Maafkan aku kakang, ada hal yang sangat penting yang harus aku lakukan setelah ini." Tanpa menunggu respon dari mereka semua ia segera pergi dari sana.
"Sikapnya yang seperti itu mengingatkan aku kepada kakang patih yang selalu bersikap cuek kepada siapa saja. Namun pada dasarnya ia adalah sosok yang sangat perhatian kepada siapa saja." Dewi Astagina pada saat itu seperti melihat suaminya yang mirip sekali dengan kelakuan anak bungsunya itu.
"Bukan hanya wajahnya saja yang mirip. Hawa panas yang dimiliki oleh nanda arya susena sangat mirip sekali ketika mereka marah." Meskipun tidak terlalu mengenal banyak tentang Patih Arya Saka akan tetapi Ratu Arundaya Dewani sedikit mengetahui tentang Patih Agung itu.
Pada saat itu mereka masih merasa keberatan jika berkumpul di tempat yang sama. Karena mereka masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Kenapa yunda terlihat sangat murung seperti itu?. Apakah terjadi sesuatu pada yunda?."
"Ibunda tidak usah banyak berbasa-basi lagi. Bukankah ibunda sendiri telah mengetahui apa yang telah terjadi kepada kami?."
"Tenanglah raden. Tidak baik meninggikan suara kepada orang yang lebih tua kepada Raden."
"Diam kau paman. Aku sama sekali tidak ingin mendengarkan apapun perkataan dari orang pendusta seperti paman."
"Jaga ucapanmu Raden. Aku tidak akan segan-segan mengajukan hukuman yang lebih berat kepadamu, jika kau berani berkata kurang ajar kepada pamanku."
"Diam kau orang asing. Berani sekali kau mengancam adikku seperti itu."
"Aku mohon kepada kalian tenanglah. Tidak ada gunanya kita bertengkar di sini. Apakah kalian tidak ingat dengan apa yang telah dikatakan arya susena?. Bahkan jika kita saling membunuh, itu sama sekali tidak akan menggantikan nyawa orang-orang yang telah meninggal." Tegasnya. "Namun arya susena, sama sekali tidak akan segan-segan membunuh kita jika dia mengetahui masalah ini." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara tentunya sangat takut dengan ancaman itu. "Arya Susena bukanlah seorang manusia yang memiliki sikap sabar seperti yang dilakukannya ketika sedang itu. Dari bicaranya aku mengetahui jika ia berusaha untuk melindungi kalian dari hukuman mati."
Namun setelah itu mereka tidak lagi membicarakan apapun selain diam. Saat itu mereka mencoba untuk meringankan beban yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka bisa akur dalam satu atap yang sama?. Apakah tidak memiliki pilihan lain?. Apakah seperti itu takdir mereka semuanya?.
Arya Susena saat itu sedang menuju ke halaman istana. Saat itu ia melihat keempat temannya sedang berlatih di halaman istana bersama beberapa prajurit.
"Apakah kalian menikmati latihan ini?."
"Arya susena?."
Mereka saat itu tidak menyangka didatangi oleh seseorang yang sangat penting?.
"Apakah kau merasa bosan berada di dalam?. Sehingga kau datang ke sini arya?."
__ADS_1
"Jika dilihat dari raut wajahmu, kau sama sekali tidak betah berada di sini."
"Bukan masalah betah atau tidaknya. Namun kita masih memiliki tugas yang harus kita selesaikan dengan cepat."
Saat itu mereka saling bertatapan satu sama lain, karena mereka sama sekali belum mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena kepada mereka.
"Balas dendam kematian keluargamu nismara."
Deg!.
Nismara pada saat itu sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena. Jantungnya pada saat itu berdetak dengan perasaan yang tidak normal.
"Jadi kau benar-benar telah mengetahui di mana keberadaan orang yang telah membunuh keluargaku?."
"Tentu saja aku telah mengetahui di mana keberadaannya dan siapa dia."
"Kalau begitu kita harus ke sana. Tugas kita sebagai pendekar kegelapan belum selesai. Sebelum kita menuntaskan dendam kita terhadap orang-orang yang telah membunuh keluarga kita."
"Kau benar darsana. Tugas kita sebagai pendekar kegelapan belum selesai. Orang tua kita mati kepalang tanah. Apalagi masih ada beberapa wilayah yang aku jamin masih dikuasai oleh orang-orang yang berkuasa."
"Tugas kita sebagai pendekar kegelapan adalah membersihkan itu semua di bawah kepemimpinan Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara."
"Ya. Aku sangat yakin bahwa apa yang telah kita lakukan telah menyebar di pelosok negeri ini. Sebab dari apa yang aku lihat?. Dan aku dapatkan dari beberapa informasi yang sangat penting, bahwa ada beberapa kelompok yang katanya orang-orang yang masih setia dengan raja kejam itu."
"Baguslah kalau begitu. Sekalian kita basmi mereka semua. Supaya mereka tidak berani lagi untuk mengganggu ketentraman rakyat Telaga Dewa."
Saat itu suasana hati mereka sedang bergejolak, dan mereka tidak akan membiarkan kejadian itu dilakukan oleh orang-orang yang masih setia dengan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
Saat itu Senopati Warsa Jadi dan beberapa orang Senopati lainnya berada di sana, mereka saat itu tidak sengaja mendengarkan percakapan Arya Susena dan teman-temannya.
"Kejahatan yang telah dilakukan oleh Senopati jenar tapa bukan hanya sekedar kejahatan membunuh saja terhadap keluarga kita paman. Akan tetapi banyak kejahatan yang telah dia lakukan, selain itu dia juga menggelapkan dana pajak yang keluar masuk ke istana." Arya Susena pada saat itu terlihat sangat geram, entah kenapa ia merasa ingin meledak mengingat apa yang telah ia dapatkan. "Tugas kami sebagai pendekar kegelapan masih belum selesai paman. Jika dia melakukan penarikan pajak untuk menggalang dana perang?. Maka itu akan menjadi pemicu kesengsaraan rakyat. Jadi kami benar-benar harus menumpasnya paman."
"Kalau begitu kalian harus cepat melakukannya. Tentunya Gusti Prabu akan membutuhkan kalian nantinya. Tidak mungkin akan terus-terusan terlibat dengan kami orang yang sudah tua ini. Cepatlah kembali."
"Jika masalah itu paman tenang saja. Kami akan segera kembali setelah masalah di sana selesai."
"Kalau begitu kau harus pamitan kepada ibundamu. Beliau akan merasa khawatir jika kau pergi begitu saja tanpa pamitan kepadanya."
"Nanti saya akan pamitan pada ibunda."
Setelah itu mereka membahas beberapa masalah yang terjadi di desa dan wilayah kerajaan tertentu yang ada kemungkinan akan menjadi pemicu para pengikut mendiang Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang akan melakukan pemberontakan.
...***...
Di hutan Alas Tepuk.
Pada saat itu ada sekelompok orang yang sedang merencanakan pembalasan atas apa yang telah terjadi kepada pihak istana.
"Saudara-saudaraku. Kita tidak akan terima, jika pendekar kelompok kegelapan lah yang telah merencanakan peperangan yang membinasakan saudara-saudara kita." Senopati Jenar Tapa yang ternyata memimpin pasukan itu. "Saudara-saudara kita telah tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan, akibat dari rencana mereka yang ternyata lebih hebat daripada yang kita duga."
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kita lakukan Gusti?. Tidak mungkin rasanya kita berdiam diri saja di sini. Kita adalah bagian istana, jika istana dikuasai oleh musuh artinya kita tidak bisa lagi masuk ke istana dengan bebas seperti dulu."
"Kita akan melakukan penyerbuan secara diam-diam. Kita berikan kejutan kepada mereka siapa yang lebih berhak untuk memimpin istana."
"Benar itu Gusti. Jangan biarkan orang-orang busuk itu menguasai istana yang telah kita bangun."
"Kalau begitu mari kita kerjakan bagian yang seharusnya kita kerjakan." Setidaknya saat itu ia mengusulkan rencana yang sangat matang untuk melakukan pemberontakan terhadap istana.
"Kita benar-benar harus bisa merebut kembali istana. Karena kabar yang aku dengar, raden kanigara ganda dan Raden kanigara hastungkara masih hidup. Jika kita berhasil melakukan itu, maka kita akan memberikan tahta agung kepada salah satu putra mendiang Gusti Prabu Maharaja Rajendra."
"Kalau begitu mari kita susun rencana yang harus kita lakukan untuk besok. Kita benar-benar harus mempersiapkannya secara matang."
"Ya. Itu pasti."
Setelah itu mereka benar-benar mempersiapkan segala kemungkinan yang akan mereka hadapi saat itu. Apakah akan terjadi perang lagi?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Wisma tamu.
Untuk sementara waktu Dewi Astagina ditempatkan di wisma tamu. Karena sesungguhnya tempat kediaman Patih bukanlah di istana, melainkan ada tempat khusus yang telah disediakan oleh istana. Akan tetapi tempat itu pada saat sekarang masih didiami oleh keluarga Patih Palasara Mada. Namun bukan itu yang harus di bahasa itu, karena Arya Susena pamitan kepada ibundanya.
"Untuk sementara waktu ibunda tetaplah berada di sini. Ibundakan diawasi oleh paman sardala saguna, dan juga kakang arya restapati."
"Lalu kau akan pergi ke mana putraku?. Kita baru saja berkumpul, dan kenapa kau mau pergi?." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas bahwa ia sangat sedih jika anaknya akan pergi menjauh darinya.
"Untuk saat ini nanda memiliki tugas yang sangat penting ibunda. Tugas ini tidak bisa nanda tunda lagi, sebab masih ada bibit pemberontakan yang berada di wilayah kekuasaan Prabu Maharaja kanigara lakeswara. Itu adalah sebuah kewajiban yang akan nanda lakukan, untuk menentukan pilihan nanda mau ke mana."
"Kalau begitu pergilah dengan hati-hati. Ibunda tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu."
"Ibunda tenang saja. Aku akan selalu menjaga diriku dengan baik. Justru ibunda lah harus waspada, setelah apa yang telah terjadi kepada ibunda." Hatinya sangat sakit.
"Janganlah engkau ingat lagi masa lalu yang menyakitkan itu anakku." Dengan kelembutan kasih sayang sebagai seorang ibu ia genggam tangan anaknya. "Jika engkau mengingat masa lalu yang menyakitkan itu, maka engkau tidak akan bisa melangkah maju. Karena rasa sakit hati yang kau rasakan akan membuatmu semakin menderita." Saat itu ia berusaha untuk tersenyum walaupun terasa pahit.
"Ibunda." Arya Susena mencium tangan ibunda dengan penuh kasih sayang. "Perjuangan nanda selama ini adalah untuk mencari keberadaan ibunda." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Rasa ingin bertemu dengan ibunda telah memuncak selama ini. Perasaan yang sangat kuat, apalagi ketika nanda melihat banyak wanita yang bergelar kan tahta ibu yang mendekap anaknya dalam pelukan yang hangat." Sebisa mungkin iya menahan perasaan sesak. "Rasanya sangat sakit ibunda, rasanya nanda sangat iri kepada mereka semua yang memiliki sosok ibu yang mendekap mereka dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang." Kembali ia cium tangan ibunda dengan penuh keharuan.
"Oh putraku." Dengan tangannya yang lembut ia usap air mata yang mengalir di pipi anaknya. "Selama ini ibunda juga membayangkan bagaimana ibunda mendekap mu putraku." Ia peluk anaknya dengan penuh kerinduan yang sangat mendalam. "Setelah proses persalinan itu, hati ibunda sangat sakit ketika ibunda tidak melihat dirimu di sisi ibunda." Terdengar suara sesegukan tangis dari Dewi astagina. Pelukannya semakin erat, bayangan masa lalu yang menyakitkan telah membuat ia menderita. "Ibunda tidak menyangka jika engkau akan tumbuh sebesar ini. Ibunda hanya selalu membayangkan engkau adalah bayi kecil yang ibunda lahirkan saat itu." Tangisnya pecah, ya tidak dapat lagi menahan perasaan sakit yang mendera dadanya.
"Nanda berjanji, setelah semua masalah yang ada di hadapan nanda selesai. Maka nanda akan terus bersama ibunda, tunggulah barang beberapa saat di sini ibunda." Arya Susena melepaskan pelukannya. Ia usap air matanya, ia mencoba untuk bersikap tegar saat itu.
"Memangnya apa yang akan ananda lakukan?. Apakah Ananda akan meninggalkan ibunda lagi?."
"Hanya sebentar saja ibunda. Ada tugas penting yang harus nanda kerjakan dalam waktu singkat."
"Kalau begitu berhati-hatilah putraku. Jika terjadi sesuatu kepadamu, ibunda akan merasa sakit nak."
"Anda akan baik-baik saja ibunda."
Arya Susena pada saat itu merasakan ada kesedihan yang sedikit perlahan-lahan mulai lepas di dalam dadanya. Kerinduannya akan sosok ibu, sosok wanita yang disebut sebagai ibu yang telah melahirkan dirinya. Apakah saat ini ia merasa bahagia karena telah bertemu dengan ibunya?. Tentu saja ia sangat bahagia ketika bertemu dengan ibunya. Hatinya sangat gembira luar biasa. Hatinya yang kini mulai diisi dengan kehangatan juga kerinduan, dan rasanya ia telah memiliki tempat berpijak untuk kembali. Kembali kepada seorang ibu yang menantikan kepulangannya, karena selama ini ia seperti seorang pengembara yang tidak memiliki arah tujuan. Meskipun pada dasarnya ambisinya adalah menumpaskan orang-orang bangsawan yang memiliki watak jahat. Tapi apakah itu misi yang ia emban selama ini?. Tapi tugas itu ia dapatkan dari siapa?. Mengapa selama ini ia merasa tugas itu sangat penting baginya?. Simak terus ceritanya agar dapat menemukan jawaban yang benar.
__ADS_1
...***...