
...**"...
Kembali ke masa itu.
Arya Susena saat itu sengaja jalan terpisah dengan teman-temannya karena ia sedang malas berdebat dengan mereka yang selalu kabu jika ia marah?. Saat itu ia tidak sengaja melihat ada seorang pendekar wanita yang sedang menganiaya beberapa orang wanita dengan cara yang sangat kejam. Arya Susena langsung menghentikan itu dengan mencoba menegur pendekar wanita itu.
"Apa yang sedang kau lakukan padanya nini?. Apa kesalahan yang telah mereka lakukan padamu?. Sehingga kau menghajar mereka tanpa perasaan?." Matanya memperhatikan bagaimana mereka yang saat itu terluka parah setelah dihajar pendekar wanita itu?.
"Ini bukan urusanmu. Aku mau apakan mereka itu adalah hakku!."
"Tolong kami tuan. dia memaksa kami untuk menjadi seorang pendekar, yang nantinya kami dijadikan budak petarung. Kami tidak sanggup untuk itu tuan." Salah satu dari sepuluh orang wanita yang terluka parah itu mengadu.
"Diam kau!."
Duakh!.
Arya Susena menghentikan tangan pendekar wanita yang henda melayangkan pukulan kepada wanita yang telah mengadu itu. Tentunya itu membuat pendekar wanita yang bernama Ayu Pandan sangat tidak senang sama sekali.
"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan apapun yang akan aku lakukan."
"Kau yang seharusnya berhenti. Karena mereka sama sekali tidak mua kau paksa untuk menjadi pendekar. Kau jangan memaksa mereka yang sudah terluka sangat parah. Apakah kau tidak lihat bagaimana kondisi tubuh mereka saat ini?."
Ayu Pandan menepis kuat tangan Arya Susena, dan ia mundur dengan melompat ke belakang. "Kau akan aku beri pelajaran lain kali, jika kau masih saja ikut campur dengan apa yang aku lakukan." Ayu Panda segera meninggalkan tempat itu.
"Kurang ajar sekali wanita itu. Apakah dia tidak punya hati nurani?." Dalam hatinya sangat heran.
"Terima kasih tuan, terima kasih karena telah membantu kami."
Mereka semua mencoba untuk duduk, namun jika dilihat dari raut wajah mereka?. Tentunya mereka mengalami luka yang sangat dalam.
"Obati dulu luka kalian. Setelah itu katakan padaku apa yang telah terjadi."
"Baik tuan."
Mereka semua masuk ke dalam pondok yang tak jauh dari itu, kecuali Arya Susena yang masih berdiri di halaman depan pondok itu. Kenapa Arya Susena tidak masuk bersama mereka?. Karena ia sangat mengetahui jika tidak ada laki-laki di sana.
"Sebaiknya aku mencari informasinya terlebih dahulu. Biarkan saja mereka mengobati luka mereka." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat itu.
...***...
Sementara itu Ayu Pandan sangat kesal, karena ia tidak mendapatkan pendekar tambahan untuk ia jadikan budak petarung nanti malam?.
"Hah!. Benar-benar sangat menyebalkan sekali!." Teriaknya dengan suara itu keras. Ia banting semua barang-barang yang ada di sekitarnya saat itu.
Pada saat itu Jalak Suren baru saja masuk ke dalam rumah itu, ia sangat terkejut mendengarkan suara teriakan seseorang dan bantingan benda-benda yang ada di dalam rumah itu.
"Ayu pandan?. Kekasihku. Apa yang terjadi kepadamu?. Sehingga kau terlihat sangat marah dan membuang semua barang-barang yang tidak bersalah itu?."
Ayu Pandan mendekati kekasihnya dengan suasana hati yang sangat marah besar. "Tadi ketika aku hendak mencari satu, dua atau tiga pendekar wanita, yang akan aku jadikan budak bertarung untuk malam nanti gagal. Karena ada seseorang yang berani ikut campur dengan apa yang telah aku lakukan." Terlihat sangat jelas bagaimana raut wajahnya yang sangat marah itu.
"Benarkah?. Siapa dia berani melakukan itu kepadamu?. Katakan kepadaku siapa yang telah berani menghalangimu untuk mencari budak petarung?."
"Aku juga tidak mengetahui orangnya. Namun dia adalah seorang laki-laki yang muda."
"Laki-laki?." Dalam hatinya mulai sangat waspada.
"Kau jangan melihat aku seperti itu. Bagiku kau adalah kekasih yang sangat aku cintai. Jadi tidak mungkin aku mencari lelaki lain. Sementara aku sedang mencari pendekar wanita untuk aku jadikan budak petarung." Wajahnya pada saat itu terlihat sangat cemberut.
"Hehehe. Aku hanya ingin memastikan apakah kau tidak tertarik dengan pemuda itu. Aku takut jika kau malah tergoda dengan pemuda itu nantinya."
"Sudahlah kakang. Aku sedang tidak ingin membahas hal yang lain. Hatiku sangat sakit karena pendekar itu malah menghalangi aku untuk mendapatkan budak untuk pertarungan malam ini."
"Kalau begitu aku akan membantumu mencari budak untuk kau jadikan petarung malam ini."
"Terima kasih kakang. Kau memang sangat baik kepadaku."
Suasana hatinya pada saat itu telah kembali menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Kembali ke masa ini.
...**...
Dewi Astagina masih saja belum tenang karena ia belum menerima kabar tentang anaknya. Hingga pada saat itu Arya Restapati anaknya datang.
"Ada apa ibunda?. Apakah ibunda masih mengkhawatirkan keadaan adi arya susena?." Ia ikut duduk bersama ibundanya.
"Ibunda sangat mengkhawatirkan kondisinya saat ini. Dalam penglihatan ibunda, saat ini kondisi adi mu itu sedang terluka parah." Suasana hatinya sangat tidak tenang karena ia belum melihat dan memastikan apakah anaknya benar-benar dalam keadaan sehat atau tidak.
"Kalau begitu nanda akan mencoba mencari keberadaannya ibunda. Lagi pula sebentar lagi akan malam, jadi ibunda tetaplah berada di sini."
"Cepat temukan keberadaan adi mu itu. Ibunda sangat takut jika terjadi sesuatu kepadanya."
__ADS_1
"Baiklah ibunda. Nanda pamit dulu. Sampurasun."
"Rampes."
Arya Restapati pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari keberadaan Arya Susena. Tentunya ia juga tidak ingin membuat ibunda hanya itu khawatir dengan kondisi adiknya yang entah bagaimana saat ini.
"Oh, Dewata yang Agung. Hamba hanya memohon kepadamu semoga saja anak hamba dalam keadaan baik-baik saja." Sebagai seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan bahwa kondisi anaknya tentunya ia hanya berharap anaknya akan baik-baik saja.
...**...
Sementara itu di istana.
Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara dan Patih Warsa Jadi saat itu baru mendengar kabar dari Senopati Bumi Teladan, tentang kepergian Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna yang sedang mencari keberadaan Arya Susena.
"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya paman?. Kenapa mereka malah mencari keberadaan arya susena?. Apakah telah terjadi sesuatu kepadanya?."
"Itu yang belum hamba ketahui Gusti Prabu. Hamba hanya mendengar keterangan dari salah satu prajurit yang melihat kepergian mereka bersama Gusti dewi astagina." Jawabnya. "Menurut keterangan dari salah satu prajurit yang mendengarkan percakapan mereka. Gusti dewi astagina telah mendapatkan firasat yang buruk mengenai putranya itu. Dalam penglihatan dewi astagina, beliau melihat bahwa anaknya sedang terluka parah."
Sontak mereka semua terkejut dengan apa yang mereka dengar pada saat itu.
"Firasa seorang ibu tidaklah salah. Terkadang firasat itu lebih kuat dari apapun yang sedang mengkhawatirkan anaknya."
"Lalu bagaimana dengan pendapat paman Patih?. Apakah kita harus mencari keberadaan arya susena hanya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja?."
"Jika memang adi jande ingaspati dan adi sardala saguna sedang mencari keberadaannya?. Kita tunggu saja bagaimana sabar dari mereka."
"Hamba rasa apa yang dikatakan kakang patih benar. Kita tunggu saja kabar dari jande ingaspati, juga sardala saguna."
"Baiklah. Jika memang seperti itu. Semoga saja semuanya baik-baik saja tanpa adanya yang dikhawatirkan."
Mereka semua hanya berharap keadaan Arya Susena akan baik-baik saja. Tentu saja mereka akan khawatir jika terjadi sesuatu terhadap pendekar yang sangat mumpuni itu.
...***...
Di depan Hutan Larangan.
Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna saat itu sedikit merinding melihat bagaimana kondisi Hutan Larangan.
"Aku tidak menyangka jika mereka selama ini bersembunyi di sini?. Rasanya sangat menyeramkan sekali dari apa yang aku duga selama ini."
"Sudahlah adi sardala saguna. Sebaiknya kita mencoba untuk masuk ke dalam, mungkin saja mereka telah membuat rumah di dalam hutan."
"Kalau begitu kakang saja yang duluan berjalan di depan. Rasanya aku tidak sanggup untuk masuk ke dalam hutan ini kakang."
"Paman Senopati jande ingaspati?. Paman Dharmapati sardala saguna?."
Deg!.
Keduanya sangat terkejut ketika ada yang punya pemerintah saat itu.
"Bfuuh!."
Patari, Bajra dan Darsana malah tertawa melihat bagaimana raut wajah keduanya yang ketakutan pada saat itu.
"Dasar anak kurang ajar!. Berani sekali kalian menertawakan kami!."
"Maafkan kami paman. Habisnya raut wajah paman berdua sangat lucu sekali."
"Tapi apa yang membuat paman berdua datang ke sini?. Tidak biasanya paman berdua datang ke sini?."
"Di mana arya susena?. Kami ke sini untuk mencari keberadaannya. Sebab yunda dewi, ibundanya sangat cemas dengan keadaannya."
Untuk sesaat mereka terdiam dengan pertanyaan Dharmapati Sardala Saguna.
"Kenapa kalian malah diam saja?. Di mana anak itu berada?."
"Maaf paman. Kami baru saja ingin menyusulnya ke desa tebing tinggi. Karena dia sedang bertarung dengan seorang pendekar yang menantangnya paman."
"Kalau begitu kita sesuai dia ke sana."
"Baiklah kalau begitu paman."
Akan tetapi pada saat ketika mereka hendak meninggalkan Hutan Larangan?. Pada saat itu ada seekor gagak yang mendekati mereka, dan sosok itu telah berubah bentuk menjadi wanita yang sangat cantik.
"Arya susena saat ini sedang aku obati, karena dia mengalami luka yang cukup dalam setelah melakukan pertarungan."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Nini siluman Gagak Hitam.
"Lalu di mana dia sekarang?. Apakah dia sudah bangun?. Atau pingsan?." Dharmapati Sardala Saguna sangat cemas dengan kondisi keponakannya.
__ADS_1
"Setidaknya membutuhkan beberapa hari untuk dia sadar. Karena dia menerima dua tembakan panah banaspati di tubuhnya."
"Panah banaspati?."
Tentu saja mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar saat itu.
"Anak panah banaspati bukanlah anak panah biasa. Tubuh seseorang akan terbakar seketika panah itu menancap ke tubuhnya."
"Apakah kondisinya akan baik-baik saja setelah anak panah banaspati itu menembus tubuhnya?."
"Apakah kamu bisa melihat kondisinya?."
"Kalian semua tidak perlu khawatir. Seperti yang telah aku katakan tadi, bahwa aku telah berhasil menyembuhkan arya susena. Walaupun dia akan bangun membutuhkan beberapa hari."
Mereka semua semakin terkejut dengan apa yang telah mereka dapatkan mengenai Arya Susena. Mereka tidak menduga sama sekali jika pemuda itu akan mengalami luka yang sangat parah?. Namun setelah memberitahu kabar Arya Susena dalam keadaan terluka parah?. Nini siluman Gagak Hitam kembali ke wujud berdagang dan ia pergi begitu saja tanpa menunggu bagaimana reaksi mereka saat.
"Memangnya dia itu tadi siapa?. Kenapa dia malah berubah menjadi gagak?."
"Kalian ini tinggal bersama siluman gagak?."
"Tadi itu memang siluman gagak. Dialah yang telah menjaga area ini, dan arya susena telah bekerja sama dengannya untuk menjaga area ini."
"Kalian ini aneh-aneh saja."
Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna sangat merinding dengan apa yang terjadi saat itu.
"Lalu apa yang akan aku katakan kepada yunda dewi mengenai anaknya?."
"Katakan saja untuk saat ini kami ada tugas penting yang harus kami kerjakan. Masalah arya susena, katakan saja dia akan baik-baik paman. Supaya bibi dewi tidak khawatir."
"Benar itu paman. Nanti kalau arya susena telah sadar. Kami akan menyuruhnya untuk segera menemui bibi dewi."
"Baiklah kalau begitu. Sampaikan kepadanya jika ibundanya sangat ingin bertemu dengannya jika dia telah bangun nantinya."
"Tentu saja akan kami sampaikan paman."
"Ya. Kalau begitu kami akan kembali ke istana."
"Jika terjadi sesuatu kalian secara kabari kamu."
"Ya, paman tenang saja."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan Hutan Larangan, tentu saja mereka akan segera kembali ke istana. Karena mereka semua sangat khawatir, jika Dewi Astagina masih mencari keberadaan anaknya.
"Jadi arya susena terluka?."
"Tapi aku tidak bisa melihat di mana tempat alam sukma gagak siluman itu. Apakah kalian mengetahui di mana tempatnya?."
Darsana dan Patari malah kompak menggelengkan kepala mereka, karena pada dasarnya mereka sama sekali tidak mengetahui di mana lokasi itu berada. Ketiganya sama-sama menghela nafas lelah dengan kondisi mereka yang saat itu.
"Kalau begitu kita tunggu saja mereka di pondok. Karena nismara juga sedang diobati nini siluman gagak hitam."
"Karena tidak punya pilihan lain, aku rasa kembali ke pondok bukanlah hal yang buruk."
Setelah itu mereka kembali ke pondok untuk beristirahat. Karena percuma saja mereka mencari keberadaan Arya Susena yang mungkin saja bersama Nini siluman Gagak Hitam.
Sedangkan di tempat Nini siluman Gagak Hitam.
Perlahan-lahan ia membuka matanya, rasanya cukup lama sekali ia tertidur sehingga merasakan tubuhnya yang sakit-sakit?. Ia mencoba untuk duduk, ia mencoba untuk melihat sekitar apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya. Saat itu ia melihat bagaimana seseorang yang menatapnya.
"Bukankah nini adalah nini siluman gagak hitam?."
"Bagus kau masih ingat aku."
"Apakah Nini yang telah menyelamatkan aku?."
"Anggap saja seperti itu."
"Terima kasih nini."
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Tapi berterima kasihlah kepada seseorang yang sedang terbaring di sampingmu."
Deg!.
Ia sangat terkejut ketika melihat Arya Susena yang sedang terbaring di sampingnya saat itu.
"Apa yang terjadi kepadanya nini?. Apakah dia sedang terluka parah?."
"Seperti yang kau lihat." Hanya itu balasannya saat itu.
Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...***...