PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 62


__ADS_3

***


Dewi Astagina sebenarnya masih bimbang, hanya saja Dharmapati Sardala Saguna dan Arya Restapati mencoba untuk meyakinkannya, bahwa Arya Susena baik-baik saja.


"Kalian yakin bahwa dia akan baik-baik saja?." Itulah yang ia tanyakan pada saat itu.


"Anakmu itu adalah pendekar yang sangat hebat yunda. Bahkan dia menguasai jurus pedang yang dimiliki kakang patih."


"Benarkah?."


"Benar sekali yunda. Siapapun telah mengetahui jika kakang patih memiliki kemampuan pedang yang sangat hebat."


"Aku tidak menduga itu." Raut wajahnya terlihat muram.


"Saat itu aku bertanya pada salah satu dari temannya."


Kembali ke masa ketika Arya Susena sedang bertarung dengan menggunakan kekuatan Patih Arya Saka.


Dua, tiga, empat, hingga lima jurus telah mereka mainkan. Kena pukulan dan tendangan bagi mereka saat itu belum membuat mereka kapok untuk melanjutkan pertarungan itu. Meskipun sesekali berhenti sambil mengambil nafas?.


"Heh!. Orang tua seperti kalian masih saja ingin membuat kejahatan?. Baru lima jurus saja kalian terengah-engah seperti orang tua rentan disuruh berlari keliling padang ilalang."


"Diam kau!. Itu karena kau mirip sekali dengan bajing lompat yang sangat liar!."


"Aku masih sanggup melayani kau dengan beberapa jurus lagi, jika kau masih penasaran dengan ilmu tapak sekat alam."


"Sudahlah orang tua. Sebaiknya kalian tidur di alam lain saja malam ini."


Deg!.


Tidur di alam sana?. Itu artinya Arya Susena sangat menginginkan kematian kedua orang itu?. Keduanya sangat marah mendengarkan ucapan itu.


"Hei!. Kau anak kemarin sore!. Aku tidak tahu itu atas keinginanmu sendiri atau suruhan orang lain untuk menghabisi kami?. Tapi aku tidak akan membiarkan kau melakukan apapun yang kau inginkan!."


"Aku beri kau peringatan. Segera pergi dari sini!. Aku tidak akan pernah mengampuni orang yang telah berani mengincar aku."


Ada kemarahan yang ditunjukkan keduanya saat itu. Darah mereka mendidih karena ada seorang pemuda yang tidak mereka kenali mengancam akan membunuh mereka?.


"Aku datang ke sini atas nama rakyat yang telah kau tindas. Dan atas nama kebencian pada orang-orang seperti kalian yang telah bernai melindungi penjahat bangsat!. Yang telah merenggut hak kebebasan rakyat yang telah kalian jadikan budak!."


"Ho?. Jadi kau ingin menegakkan keadilan dengan cara membunuh kami?. Sungguh nyali yang sangat besar. Kalau begitu akan kau tantang kau bertarung dengan aku." Senopati Uperangga saat itu mengeluarkan senjata andalannya yang selama ini ia simpan di dalam tubuhnya dengan menggunakan tenaga dalamnya. "Majulah!. Jika kau memang ingin membunuh aku!."


"Saya akan membantu gusti." Beguna juga mengeluarkan senjata andalannya.


"Kalau begitu mari ita adu senjata siapa yang lebih hebat."


Arya Susena juga tidak ingin kalah dari musuhnya?. Saat itu ia mengeluarkan pedang yang sangat langka. Senopati Uperangga dan Beguna sangat terkejut melihat dan menyaksikan pedang badai petir itu.

__ADS_1


"Bukankah pedang itu adalah pedang milik-?."


"Jadi kau masih ingat siapa yang memiliki pedang ini?. Artinya kau harus membayar nyawa dari pemilik pedang ini. Arya saka!."


"Arya saka?."


Keduanya sangat terkejut mendengarkan nama itu. Tentunya mereka sangat kenal dengan nama itu. Nama yang dulunya nama yang sangat harum di pelosok kerajaan ini. Tapi bagaimana mungkin anak muda itu memiliki pedang itu?. Saat pedang itu diayunkan?. Tampak ada kilatan petir yang menyambar, angin disekitar seakan-akan sedang mengantar aliran listrik yang sangat menyengat?.


"Kegh!."


Tubuh keduanya seakan-akan ditotok oleh aliran tenaga dalam yang sangat kuat, sehingga keduanya sama sekali tidak bisa bergerak.


"Sial!. Meskipun dia telah mati!. Namun kutukan yang ia katakan pada saat itu sangat benar." Dalam hati Senopati Uperangga ingat dengan kejadian saat itu. Ketika beramai-ramai membunuh Arya Saka!. Seorang patih raja yang sangat setia, namun, karena ada pemberontakan yang sangat besar?. Beliau terbunuh.


"Kalian harus menerima hukuman atas apa yang telah kalian lakukan pada beliau." Arya Susena telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membunuh keduanya.


Kembali ke masa ini.


"Hahaha!. Sadis juga anak itu ternyata." Dewi Astagina dan Arya Restapati tidak menduga akan mendapatkan cerita seperti itu.


"Yang lebih parahnya adalah ketika dia mengerjai kakang patih warsa jadi sebelum menyerbu istana ini yunda." Dharmapati Sardala Saguna menghela nafasnya dengan sangat lelahnya.


"Dia melakukan itu pada paman Patih warsa jadi?."


"Dia itu memang sangat nekat. Sama halnya dengan kakang patih." Dewi Astagina tidak bisa membayangkan itu.


Di tempat persembunyian para pemberontak yang dipimpin oleh Senopati yang dulunya berjaya di masa Prabu Maharaja Kanigara Maheswara, mereka masih berdiskusi dan tinggal bergerak besoknya.


"Apakah kalian semua telah mengungsikan rakyat kota raja melalui jalur aman ini menuju bukit duri?."


"Kami telah melakukannya kakang. Kami telah mengungsikan mereka semua ke tempat yang sangat aman sesuai dengan rencana yang telah kita buat."


"Bagus." Senopati Warsa Jadi sangat lega. "Lantas?. Bagaimana dengan pendekar yang berjaga-jaga di desa?. Apakah mereka telah berada di sana?. Jangan sampai para prajurit yang melewati bukit topan, bukit semak, lembah curam, dan hutan larangan malah menyakiti para penduduk di sana."


"Semuanya telah waspada di sana kakang. Kami telah memastikan semuanya akan aman besok."


"Bagus adi. Lantas bagaimana dengan pengamanan kita mengenai istana besok?. Apakah semuanya aman?."


Namun semua itu belum ada jawaban, karena yang bertanggung jawab untuk memantau area istana hanya berani dilakukan oleh Arya Susena. Akan tetapi pemuda itu belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaanya?.


"Di mana arya susena?. Apakah belum kembali?."


Pertanyaan itu belum juga dijawab oleh mereka.


"Jadi di sini?. Kalian para pemberontak itu berada?."


Deg!.

__ADS_1


Mereka semua saat itu sangat terkejut ketika melihat sosok yang sangat mereka benci. Sehingga saat itu mereka semua berhamburan berlari ke belakang Senopati Warsa Jadi.


"Ba-ba-bagaimana mungkin dia ada di sini?."


"To-tolong ampuni kami."


"Kau!. Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?."


Baruh Tandan, Jande Ingaspati dan Bumi Teladan telah mencabut keris mereka untuk siap-siap menyerang.


"Kalian tidak usah panik seperti itu. Aku hanya datang menyapa saja. Bukankah kalian adalah musuhku?."


Senopati Warsa Jadi terlihat sedang menghela nafasnya, ketika itu jantungnya memang berdegup kencang. Apa lagi suasana mendadak tegang, namun pikirannya masih jernih saat itu.


"Kau jangan menakuti mereka dengan jurus murahanmu itu arya susena. Apakah kau ingin aku kepret kepalamu supaya kau tidak membuat ruangan ini kejang semua?."


"Hehehe. Maafkan saya paman warsa jadi." Tanpa perasaan ia malah cengengesan seperti itu?.


Apakah ia tidak menyadari jika jantung mereka semua hampir saja melompat dari tempatnya?.


"Kau arya susena?!."


Mereka semua tampak marah, apalagi pemuda itu memperlihatkan wujud aslinya pada mereka. Sehingga mereka benar-benar lega, dan kembali duduk. Begitu juga dengan ketiga senopati yang telah terlanjur mencabut keris mereka tadi.


"Untung saja kau memiliki wajah rupawan seperti mendiang gusti patih arya saka. Jika tidak?. Sudah aku lukai wajahmu itu dengan keris cakar harimau milikku ini."


"Hehehe, maafkan aku paman jande ingaspati."


"Baiklah. Kalau begitu kami ingin mendengarkan laporanmu mengenai kondisi istana."


"Mereka semua akan bergerak dengan jumlah pasukan yang sangat banyak." Jawabnya. "Sesuai dengan rencana kita. Sisa prajurit jaga di istana adalah prajurit yang ingin mendukung raden kanigara lakeswara. Jadi kita benar-benar aman bertarung dengan raja bodoh itu."


"Bagus kalau begitu. Dan kau gunakan wajah gusti prabu maharaja kanigara maheswara untuk membuat raja bodoh itu kebingungan."


"Tentu saja paman. Serahkan masalah itu padaku."


Kembali ke masa ini.


"Aku sebenarnya tidak percaya, jika saja kakang patih warsa jadi yang tidak menceritakan itu."


"Membuat jantung hampir lompat dari tempatnya. Anak itu memang sangat nekat sekali jika mengerjai orang lain."


"Bahkan kabar yang aku dengar, dia memiliki kemampuan malih rupa yang sangat sempurna."


Malam itu mereka hanya bisa menceritakan tentang Arya Susena saja dalam ucapan mereka.


...***...

__ADS_1


__ADS_2