
...***...
Arya susena pada saat itu telah sampai di rumah ibundanya. Tentunya kedatangannya disambut penuh dengan kehangatan oleh ibundanya.
"Oh, Putraku. Akhirnya kau datang juga." Ia hampir saja menangis karena perasaan rindu itu. Ia peluk erat anak bungsunya dengan kasih sayang.
"Maafkan saya ibunda. Saya baru bisa datang menemui ibunda."
"Ibunda sangat mencemaskan keadaanmu, Sebab, dalam bayangan penglihatan ibunda, kau terluka karena tertembak oleh anak panah yang sangat menyeramkan."
Deg!.
Arya Susena sangat terkejut mendengarkan ucapan ibundanya, begitu juga dengan Nismara, Patari, Bajra dan Darsana.
"Ibunda. Kenapa ibunda tidak mempersilahkan mereka untuk masuk?." Arya Restapati kebetulan berada di sana.
"Oh. Maafkan ibunda. Kalau begitu kita masuk saya." Dewi Astagina mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Bagaimana mungkin ibunda bisa melihat bayangan itu?." Dalam hatinya sangat panik dengan Ucapan bundanya. "Apakah itu yang dinamakan firasat seorang ibu yang sangat kuat terhadap anaknya?." Dalam hatinya baru kali ini merasakan dikhawatirkan oleh seorang ibu.
"Ternyata firasat seorang ibu memang sangat kuat. Pantas saja paman sardala saguna dan paman jande ingaspati sampai datang ke hutan larangan untuk menemukan keberadaan arya susena." Dalam hati Patari masih ingat dengan kejadian itu.
"Firasat seorang ibu itu memang tidak salah. Arya susena sangat beruntung memiliki seorang ibu yang sangat mencintai dirinya dengan kasih sayang dan cinta." Dalam hati Darsana merasakan perasaan iri di hatinya saat itu.
Saat mereka masuk ke dalam, ternyata Dharmapati Sardala Saguna juga kebetulan berada di sana bersama seseorang?.
"Oh?. Akhirnya kalian datang juga. Duduklah."
Mereka semua duduk di ruangan itu. Namun Arya Susena, Nismara, Patari, Bajra dan Darsana melihat ke arah wanita cantik yang sedang hamil?.
"Kenalkan, ini dinda dewi kasih. Istri paman."
"Nama saya dewi kasih. Salam kenal."
Tentunya saja Arya Susena, Nismara, Patari, Bajra dan Darsana sangat terkejut dengan apa yang telah mereka dengar.
"Cantik, sangat cantik. Sesuai dengan namanya." Bajra yang memberikan pujian itu.
"Tapi aku tidak menduga jika paman sardala saguna memiliki istri yang sangat cantik seperti bibi." Darsana memperhatikan itu dengan baik.
"Tapi kapan paman menikah?. Kenapa aku sama sekali tidak mengetahui itu?." Arya Susena sangat terkejut, dan bahkan tidak percaya.
__ADS_1
"Kami juga sangat terkejut. Apalagi jika paman mu ternyata memiliki dua orang anak lainnya." Dewi Astagina perlahan-lahan mencoba memberitahukan pada Arya Susena.
"Dua anak lagi?." Raut wajah Arya Susena terlihat sangat lucu ketika ia terkejut seperti itu.
"Ya. Sebenarnya aku sudah lama menikah, hanya saja aku belum mengatakan apapun kepadamu." Dharmapati Sardala Saguna malau terlihat malu-malu.
"Oh?. Gitu ya?. Syukurlah kalau paman lalu." Hanya seperti itu tanggapannya?. Tapi malah mengandung tawa mereka.
"Jangan berkata seperti itu arya susena. Kau kira aku ini tidak laki?." Dharmapati Sardala Saguna sebenarnya merasa tersinggung, hanya saja ia memaklumi situasinya.
"Lantas bagaimana dengan kakang restapati?. Jangan bilang kakang juga telah menikah."
Namun saat itu Arya Restapati malah terlihat malu-malu?.
"Aku baru mau melamarnya bulan depan, jadi aku rasa untuk saat ini aku belum menikah."
"Lalu bagaimana denganmu putraku arya susena?. Apakah kau juga akan menikah?." Dewi Astagina sangat penasaran.
"Soal itu aku berpikir akan melangkah ke sana ibunda. Aku masih muda, biarkanlah kakang restapati yang menikah duluan ibunda." Ia mulai tersenyum lembut. Sehingga mereka semua dapat merasakan betapa sayangnya Arya Susena pada ibundanya Dewi Astagina.
Pada malam itu mereka bercerita banyak hal mengenai apa saja yang telah mereka rasakan selama ini, dan mereka semua saling berbagi pengalaman cerita yang telah mereka rasakan.
Arya Susena kecil 7 tahun.
Saat itu sedang memperhatikan paman Warsa Jadi yang sedang berlatih ilmu kanuragan. Dengan matanya ia memperhatikan dengan sangat baik, gerakan apa saja yang telah dilakukan oleh Paman Warsa Jadi. Namun saat itu Arya Susena bukan hanya sendirian saja, ada Nismara yang saat itu ikut bersamanya dalam menirukan gerakan Paman Warsa Jadi.
.
"Ya, bagus seperti itu arya. Kau sangat hebat dalam memainkannya."
"Lalu bagaimana dengan saya paman?." Nismara kecil tidak mau kalah.
"Kalau kau masih ada kekurangannya. Kuda-kudamu belum kuat untuk menjadi seorang pendekar."
"Tapi saya harus bisa paman." Nismara kecil terlihat sedang merajuk. "Jika arya susena bisa?. Kenapa saya tidak bisa?."
"Ahahaha!. Kau sangat bersemangat sekali. Paman sangat suka dengan orang yang pantang menyerah seperti kau."
"Kalau begitu ajari saya sampai bisa paman. Karena saya tidak ingin kalah dengan arya susena." Sorot matanya terlihat sangat serius, dan memiliki tekad yang sangat kuat.
"Ya sudah, lakukanlah gerakan tadi dengan sungguh-sungguh. Paman yakin kau bisa melakukannya."
__ADS_1
Dengan penuh kesabaran ia berkata seperti itu pada Nismara kecil, agar tidak membuat gadis kecil itu merasa iba.
"Aku pasti bisa menyaingi mu arya susena."
"Kalau begitu perlihatkan padaku."
"Tentu saja."
Saat itu Arya Susena dan Nismara benar-benar berlatih dengan sangat serius, keduanya sama sekali tidak mau mengalah satu sama lain. Meskipun pada akhirnya Arya Susena lah yang lebih unggul, namun itu tidak membuat Nismara menyerah begitu saja.
Satu, dua, tiga hari terus ia coba. Walaupun tubuhnya terasa sangat sakit saat belajar silat, Nismara masih mencobanya.
"Kau sangat hebat sekali cah ayu." Paman Warsa Jadi sangat bangga pada Nismara.
"Tapi aku masih belum semahir arya susena paman."
Saat itu mereka sedang istirahat di pondok, mereka baru saja belajar satu, dua jurus pagi itu. Dan kebetulan saat itu ada seorang wanita dewasa yang baru saja mendekati mereka.
"Selamat datang nini."
"Terima kasih kakang." Matanya memperhatikan gadis kecil yang terlihat sedang manyun.
"Anak kakang sangat tampan dan cantik sekali." Ia elus kepala Arya Susena dan Nismara dengan lembut.
"Ahaha!. Nini bisa saja." Ia hanya bisa tertawa saja.
"Apakah cah ayu ini yang akan menjadi muridku kakang?." Senyumannya mengembang begitu anggun.
"Ya, aku serahkan nismara padamu."
"Tapi kenapa paman?. Kenapa tidak tinggal bersama paman saja?. Apakah saya selama ini nakal?."
Paman Warsa Jadi tertawa mendengarkan itu. "Tidak. Tetapi sebagai sesama perempuan kamu lebih harus belajar bersama nini restu ayu. Beliau juga memiliki ilmu kanuragan yang sangat mempuni, jadi kamu bisa belajar dengan sangat baik dengannya, ya?."
Nismara kecil memperhatikan wanita cantik itu, ia belum menanggapinya. "Apakah aku bisa?." Dalam hatinya masih bingung dengan keputusannya.
"Nanti bibi ajarkan banyak hal kepadamu, bibi perempuan lainnya. Jadi bibi harap kamu akan belajar dengan serius." Bujuknya dengan pelan.
Kembali ke masa ini.
...***...
__ADS_1