
...***...
Raden Kanigara Lakeswara saat itu sedang memperhatikan Arya Susena yang Sedang berkomunikasi dengan penduduk Desa Sumur Tua.
"Saudara-saudara sekalian. Dalam situasi yang sedang memanas ini, kami tidak bisa terlalu dekat dengan kalian semua. Karena ada ancaman dari istana. Tentunya aku tidak mau kalian semua celaka." Arya susena memperhatikan mereka semua.
"Tapi arya, apakah tidak akan berbahaya buat kami nantinya?. Jika kau membantu kami?. Serta membunuh semua prajurit yang bertugas di desa ini?." Ia terlihat sangat khawatir dengan kondisi mereka.
"Karena itulah aku membunuh mereka semua supaya tidak ada yang melaporkan masalah ini pada pihak istana.
"Bagaimana jika pihak istana mencurigai desa ini?. Mereka pasti akan membumi hanguskan tempat ini?. Kami tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan mereka arya."
"Kalian tenang saja. Aku akan menjamin keselamatan kalian, karena itulah kalian jangan panik."
"Kami hanya takut saja arya. Kita semua mengetahui bahwa kerajaan sangat kejam. Kau sendiri telah mengetahui dengan jelas, berita yang beredar itu, kan?."
"Kalian tenang saja, aku dan teman-temanku akan datang untuk membunuh siapa saja yang telah berani mengusik kalian."
"Sejak kapan aku jadi temanmu?." Dalam hati Nismara masih kesal dengan itu.
"Dia ini seenaknya saja mengatakan aku temannya?. Sedangkan dia selalu saja membuat aku menjadi seperti budak." Dalam hatinya sangat tidak suka. "Kau ini sangat aneh sekali." Dalam hati Patari juga sebenarnya sangat kesal.
"Kalay begitu kalian silahkan istirahat di rumah masing-masing, atau boleh melanjutkan pekerjaan kalian. Semuanya telah aman." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.
__ADS_1
"Dia ini sangat aneh. Bisa ganas di saat yang bersamaan, dan kadang terlihat ramah luar biasa." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara hanya memperhatikan semua penduduk desa Sumur Tua yang pergi meninggalkan tempat itu.
Kembali ke masa itu, dimana Raden Kanigara Lakeswara memperhatikan bagaimana pertarungan yang dihadapi oleh Bajra dan Nismara. Keduanya sedang bertarung menghadapi para prajurit yang Sangat kejam pada rakyat. Nismara yang saat itu bertarung dengan sangat ganas tanpa ampun sedikitpun.
"Mereka ini benar-benar sangat ganas pada prajurit istana. Apakah mereka tidak sedikitpun rasa takut di hati mereka?." Dalam hati Raden kanigara Lakeswara sangat heran melihat itu.
"Heh!." Nismara menatap mereka semua yang terkapar dengan tatapan yang sangat meremehkan. "Hanya segitu saja?. Kemampuan yang kalian miliki?. "Tapi kalian malah berani menyerang aku?. Kalian ini tidak pandai membuat sandiwara yang lebih seru lagi apa?." Dengan nada sombong ia berkata seperti itu?. Apakah karena yang ia lawan adalah prajurit yang lemah?.
"Raden bisa melihat sendiri, bagaimana kebencian mereka terhadap rakyat sungguh sangat besar, sehingga mereka melakukan itu." Arya Susena menatap dengan Penuh kebencian. "Dari lahir telah menjadi yatim, namun setelah balita disuguhkan dengan pemandangan yang sangat mengerikan. Dimana kami dipaksa melihat ibu kami dibunuh di depan mata kami. Apakah menurut raden?. Kami telah salah melakukan ini semua?. Meskipun yang membunuh orang tua kami bukan mereka." Arya Susena mengepal kuat tangannya. "Tapi apakah adil rasanya?. Jika kami kini membalas semua rasa sakit itu pada mereka?." Hatinya terasa sangat sakit membayangkan masa lalu yang sangat menyakitkan baginya.
Tidak ada jawaban dari Raden Kanigara Lakes wara karena ia tidak dapat memikirkan Pertanyaan dadakan itu. "Apa yang harus aku jawab jika memang seperti itu?." Dalam hatinya tidak bisa menemukan jawaban apapun.
"Raden masih memiliki nasib yang baik, karena terlahir dari lingkungan istana. Sementara kami lahir di desa terpencil?." Ingatannya kembali pada masa itu. "Hanya menunggu keberuntungan saja. Walaupun kami tidak mengetahui dengan pasti bagaimana nasib raden selama di istana seperti apa." Arya Susena tentunya tidak mau menyalahkan Raden Kanigara Lakeswara begitu saja hanya karena nasibnya yang seperti itu. "Mulai sekarang raden harus melihat, bagaimana kejamnya para prajurit suruhan istana yang membuat rakyat menderita." Ada api kemarahan yang ia perlihatkan saat itu.
"Semua jawaban itu ada pada diri raden sendiri. Hingga tiba saatnya kami hanya mengantar raden saja pada posisi itu." Hanya itu jawaban dari Arya Susena yang telah melihat banyak hal yang sangat menyakitkan yang terjadi selama ini. "Raden dan hati nurani raden yang akan menjawabnya semuanya."
Kembali ke masa ini.
...***...
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda baru saja selesai menikmati makanan yang Sangat enak yang disajikan di sana. Mereka makan begitu sangat lahab, mereka tidak bisa membayangkan ada tempat makan yang sangat enak di kota raja?.
"Bagaimana menurut raden?. Apakah enak?." Triasti melihat bagaimana kedua pangeran raja yang terhormat makan dengan sangat lahapnya?.
__ADS_1
"Tentu saja paman." Raden Kanigara Hastungkara yang menjawab. "Makanan ini bahkan hampir saja menyaingi masakan istana." Matanya menangkap semua makanan yang tadinya sangat penuh?. Sekarang telah habis?. "Bagaimana bisa paman mengetahui tempat ini?. Paman jarang terlihat keluar istana." Ada perasaan penasaran yang menyelimuti hatinya saat itu.
"Benar itu paman. Kenapa paman tahu tempat makan seenak ini?." Begitu juga dengan Raden Kanigara Ganda.
"Dulunya paman seorang prajurit yang suka meronda di wilayah ini. Jadi paman mengetahui tempat ini." Ia teringat bagaimana kondisi saat itu.
Raden Kanigara Hastungkara, dan Raden Kanigara Ganda saling melihat satu sama lain. Entah kenapa pada saat itu mereka tertawa?. Apa yang membuat keduanya malah tertawa?. Apakah ada sesuatu yang lucu dari ucapannya?.
"Kenapa raden berdua malah melihat Paman Seperti itu?." Triasti mengernyit heran. Tentunya itu membuat Triasti semakin bingung?. "Apakah ada yang aneh dengan ucapan Paman?." Ia kembali bertanya.
"Ahaha!. Sebenarnya tidak salah paman." Terlihat Raden Kanigara Hastungkara sedang berusaha untuk menahan tawanya.
"Lantas kenapa raden malah tertawa?. Aneh sekali." Triasti belum mengerti kenapa keduanya masih tertawa?.
"Hanya saja aku tidak bisa membayangkan bagaimana paman makan disini. Apakah paman datang bersama prajurit lainnya?" Jawabnya sambil menahan tawanya. Juga bayangannya bagaimana kondisi pamannya saat itu?.
"Oh?. Jika masalah itu, memang kadang Paman mengajak mereka. Kadang Paman sendiri saja datang ke sini." Mulai mengerti apa yang dikatakan Raden Kanigara Hastungkara.
"Aku harap mereka tidak minta bayar ke paman, karena paman yang mengajak mereka ke sini." Raden Kanigara Ganda juga tidak dapat menahan tawanya?. "Aku tidak bisa membayangkan, jika mereka pergi begitu saja setelah makan."
"Olala. Raden kenapa malah berpikiran sampai ke sana." Triasti benar_benar dibuat melongo melihat kedua pangeran raja yang terhormat tertawa lepas seperti itu?.
...***...
__ADS_1