PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 23


__ADS_3

...***...


Istana, Kaputren.


"Hormat hamba gusti ratu." Seorang prajurit memberi hormat.


"Ada apa prajurit?." Ratu Arundaya Dewani menghapus air matanya.


"Mohon ampun glasti ratu. Ada kabar duka yang akan hamba sampaikan pada gusti ratu."


Deg!.


Perasaan suasana hati Ratu Arundaya saat itu mulai tidak tenang. Hatinya bergetar sakit ketika pikirannya berkeliaran tak menentu. "Jika kau mengabarkan kematian putraku. Sebaiknya kau sampaikan terima kasihku pada kanda prabu maharaja kanigara rajendra. Terima kasih telah melepaskan kepergian putraku dengan jalan yang damai."


"Rayi." Ratu Aristawati Estiana sangat sedih mendengarkan ucapan Ratu Arundaya Dewani.


"Yunda. Aku mau masuk ke bilik ku terlebih dahulu."


"Rayi." Ia ingin mengejar Ratu Arundaya Dewani, akan tetapi ia penasaran dengan kabar duka apa yang hendak disampaikan prajurit itu. "Katakan padaku, kabar duka apa yang hendak kau sampaikan pada ratu mu?."


"Mohon ampun gusti ratu. Ini mengenai raden lakeswara yang terbunuh di jalan pintas menuju istana."


Deg!.


Ratu Aristawati Estiana sangat terkejut, hati nuraninya seakan-akan dipukul keras oleh Palu yang sangat keras.


"Apakah kau tidak salah dalam menyampaikan berita itu prajurit?!."


"Tidak gusti ratu. Sebab prajurit yang mengantar raden lakeswara yang mengatakannya secara langsung."


"Memangnya apa yang terjadi?. Tidak mungkin nanda lakeswara meninggal begitu saja!. Tidak becus!. Bagaimana mungkin kalian lalai?. Apakah ini yang direncanakan kalian semua untuk menyingkirkan putraku handa lakeswara?." Ratu Aristawati Estiana sangat sakit hati mendengarkan ucapan Prajurit sehingga ia membentaknya dengan suara yang keras. Ia tentunya mengetahui dengan sangat pasti ini adalah  bagian dari rencana Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.


"Menurut keterangan mereka. Saat itu mereka dihadang oleh kawanan perampok. Mereka mengatakan kawanan perampok itu memili dendam pada raden lakeswara. Mereka membawa lari raden lakeswara, ketika prajurit sedang sibuk menghadapi kawanan perampok itu gusti ratu."


"Oh!. Dewata yang agung. Bagaimana mungin ini bisa itu terjadi?." Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin itu kelalaian itu bisa terjadi?.


"Mohon ampun gusti ratu. Kalau begitu hamba pamit. Ada hal yang harus hamba urus." Prajurit itu pergi meninggalkan tempat.


"Oh!. Dewat ayang agung, semoga saja rayi arundaya dewani bisa melewati ini semua dengan hati yang lapang." Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sakit yang sangat luar biasa ketika menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi seperti itu.


...***...


Hutan larangan.


Senja telah menyapa, saat itu ada seekor gagak hitam yang terbang masuk ke dalam pondok atau rumah milik kelompok pendekar kegelapan.


Deg!.


Raden Kanigara Lakeswara terkejut melihat ada seekor gagak hitam yang berdiri dengan sangat santai di depan Arya Susena?.


"Kabar apa yang ingin kau sampaikan padaku?." Arya susena memasuki alam bawah sadar gagak hitam itu dengan Jurus yang ia miliki.

__ADS_1


"Bukan hanya nama saja. Bahkan arya susena menggunakan hewan kegelapan untuk mengumpulkan informasi?." Dalam hati Raden kanigara lakeswara merinding. Ia tidak menduga akan melihat hal yang menyeramkan seperti itu dihadapan nya?.


Tak selang berapa lama berlalu, Arya Susena telah kembali. "Seperti yang hamba duga raden."


"Masalah apa?."


"Pengumuman kematian raden telah tersebar dengan sangat cepat."


Deg!.


Raden kanigara Lakeswara telah ditampar oleh ucapan Arya Susena.


"Bagaimana dengan nasib ibundaku?. Jika aku tidak lagi masuk ke dalam istana?. Apa yang harus aku lakukan?." Raden Kanigara Lakeswara tentunya sangat cemas.


"Raden tidak perlu cemas mengenai keselamatan ibunda raden."


BRAKH.


Raden Kanigara Lakeswara memukul kuat meja itu, hingga ada retakan yang cukup besar, walaupun tidak sampai menghancurkan meja itu. "Kau menyuruh aku tenang?. Apakah kau tidak memiliki seorang ibunda?. Apakah kau tidak mengerti betapa sakitnya hatiku saat ini memikirkan keselamatan ibundaku?. Arya susena!." Teriaknya dengan sangat keras.


Deg!.


Entah kenapa ia merasakan hawa panas yang sangat berbeda saat itu, ditambah lagi?. Hawa hitam kegelapan yang diperlihatkan Arya Susena saat itu seperti hawa seorang iblis yang sangat mengerikan. Tubuh Raden Kanigara Lakeswara bergidik ketakutan, hingga rasanya ia terpaku di tempat. Tubuhnya terasa kaku tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Apakah menurut raden?. Hamba lahir dari hewan?. Atau lahir dari buah seperti dongeng putri cantik lahir dalam timun?." Hatinya terasa sangat sakit, panas, dan ingin marah.


"Sial!. Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?." Dalam hatinya mulai panik dengan apa yang la lihat, sebab gagak itu seakan-akan masuk ke dalam tubuh Arya susena dan membentuk sepasang Sayap yang sangat lebar?. "Siluman gagak." Dalam pikirannya terlintas seperti itu ketika melihat kondisi Arya susena.


"Apakah tujuanmu untuk membalaskan dendam atas kematian ayahandamu?!." Tanya Raden Kanigara Lakeswara.


"Ini bukan hanya balas dendam saja raden. Namun ini adalah tugas yang diberikan mendiang ayahanda patih untuk membebaskan rakyat dari penderitaan." Kemarahan yang ia rasakan saat itu naik turun, seakan-akan mempermainkan suasana hatinya. "Karena mendiang ayahanda patih telah mengetahui bagaimana perangai buruk yang dimiliki oleh kanigara rajendra." Arya Susena seperti sedang menyimpan dendam yang sangat besar Pada Prabu Maharaja Kanigara Rajendra. "Pengikut setia gusti prabu maharaja kanigara maheswara tentunya sangat mengetahui ini. Karena itulah kami sedang menghimpun kekuatan, untuk menyerahkan tampuk kekuatan yang sah pada raden." Arya Susena sedikit menceritakan semua yang mereka lakukan saat itu.


Tidak ada tanggapan apapun dari Raden kanigara Lakeswara, karena ia tidak menduga jika Arya Susena salah satu putra dari petinggi kerajaan yang dipimpin oleh raja yang sebelumya. Raden Kanigara Lakeswara tentunya tidak mengetahui itu semua, jika tidak diceritakan Arya Susena pada saat itu.


"Lantas?. Apa yang akan kalian lakukan jika tahta sah itu telah berhasil direbut?. Apakah kalian akan bersama-sama menyerang aku?." Ada perasan buruk yang ia rasakan.


"Raden jangan berpikiran seperti raja kejam itu. Bagi kami yang mungkin tidak mengenal prabu maharaja kanigara maheswara itu adalah ambisi bodoh yang tidak berguna." Balasnya. "Tapi bagi rakyat dan para orang tua kami yang merupakan pengikut setia gusti prabu maharaja kanigara maheswara?. Tentunya menyelamatkan amanat yang sangat berharga demi menyelamatkan masa depan kerajaan ini ke arah yang lebih baik." Lanjutnya dengan perasaan yang sangat sesak. "Jika raden memang tidak mau mendapatkan tahta itu?. Setidaknya kami dapat menunjukkan seseorang untuk menjadi raja baru, dan membentuk sistem kerajaan yang lebih baik dari yang sekarang." Arya Susena tidak basa-basi lagi. "Ingat lah raden. Manusia ini tidak ada yang baik, atau pun jahat sepenuhnya. Bahkan jika memang saya orang jahat?. Sangat mudah bagi saya membunuh raden. Ketika raden memasuki wilayah hutan larangan ini?. Raden benar-benar akan pulang dengan nama saja. Jika raden terkena cakaran gagak hitam ini?." Ia mengelus sayap hitam yang menghiasi punggungnya. "Saya jamin raden akan mati di tempat." Lanjutnya dengan seringaian yang menyeramkan.


"Sudah aku duga. Kau bukanlah pendekar sembarangan arya susena." Raden Kanigara Lakeswara harus waspada dengan apa yang akan dilakukan Arya Susena padanya.


Sementara itu Darsana dan Bajra yang Mencari beberapa kayu?. Mereka telah mendapatkan kayu yang sangat cocok untuk membuat bilik Raden Kanigara Lakeswara. Akan tetapi pada saat itu mereka malah membicarakan tentang Arya Susena.


"Aku tidak menduga sama sekali, jika arya susena akan melibatkan raden lakeswara dalam pertarungan kita nantinya."


"Dia itu benar-benar barah sintingnya. Kau tidak usah heran lagi dengan sikapnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya melibatkan raden kanigara lakeswara dalam kelompok kita ini."


"Tapi?. Bukankah yang mengatakan jika ada pengumuman untuk membunuh kita semua itu adalah kau bajra?."


"Ya. Memang aku yang mengatakannya." Balasnya. "Terus masalahnya apa?." Ia membalikkan pertanyaan itu.


"Tentunya raden lakeswara akan dianggap Sebagai pemberontak negara. Karena telah bergabung dengan kita." Jawabnya sambil memasukkan beberapa potong papan ke dalam gerobak.

__ADS_1


"Kau ini pikirannya sempit sekali." Ucapnya dengan sangat heran. "Aku mulai mengerti dengan apa yang telah kau katakan." Ia melihat ke arah temannya. "Aku sekarang mengerti kenapa kadang arya susena marah padamu." Lanjutnya sambil mengambil alih membawa gerobak kayu.


"Hah?. Kau ini bicara apa bajra?"


"Sudahlah. Ini sudah malam, aku ingin istirahat. Apakah kau tidak lelah?. Aku juga merasakan lapar." Bajra enggan menjawabnya.


"Kau ini ya?. Suka sekali membuat aku merasa penasaran dengan apa yang kau katakan."


Tidak ada tanggapan apapun dari Bajra, karena ia malas menjawabnya. "Kau ini sangat menyebalkan sekali. Ingin rasanya aku membuat peti mayat untukmu bajra."


Di sisi lain Nismara dan Patari boru Saja kembali ke pondok mereka dengan membawa banyak makanan.


"Selamat malam raden." Patari menghidangkan beberapa makanan di hadapan Raden Kanigara Lakeswara.


"Selamat malam juga nini." Balas Raden Kanigara Lakeswara dengan senyuman ramah.


"Maaf jika kami hanya bisa menyajikan makanan seperti ini pada raden. Patari merasa sungkan, akan tetapi ia malah kena cubit Nismara. "Apa sih?" Bisik Patari dengan sangat kesalnya.


"Tidak usah merasa sungkan seperti itu." Balas Nismara sangat kesal.


Raden Kanigara Lakeswara hanya memperhatikan itu, karena saat ini ia seperti menjadi tamu?. Namun entah bagaimana dengan nasibnya setelah ini.


"Duduklah nini." Raden Kanigara Lakeswara mempersilahkan Nismara dan Patari untuk duduk. "Maaf jika kedatangan saya telah membuat masalah disini."


Deg!.


Entah kenapa keduanya tidak tega melihat raut wajah Raden Kanigara Lakeswara yang seperti itu.


"Sama sekali tidak keberatan raden." Patari langsung duduk di depan Raden Kanigara lakeswara. "Silahkan dimakan raden. Mumpung masih panas." Lanjutnya sambil mengambil piring, nasi, plus lauk. "Semoga saja raden suka dengan masakan kami, meskipun tidak seenak masakan istana." Setelah itu ia serahkan pada Raden Kanigara Lakeswara.


"Terima kasih nini." Balasnya sambil mengambil piring itu.


"Sama- Sama raden." Patari malah tersipu malu melihat senyuman Raden kanigara Lakeswara.


"Ini anak tadi kesurupan dimana?. Katanya sangat benci dengan orang agung?." Dalam hati Arya Susena dan Nismara heran dengan sikap yang ditunjukkan Patari.


Nismara juga ikut duduk, ia mengambil piring, nasi plus lauk, tanpa banyak berbicara ia serahkan pada Arya Susena. "Malam besok kau harus menyerahkan banyak kepengan uang padaku. Karena bahan makanan di desa sudah mulai naik. Karena mereka mendapatkan tekanan harga pajak yang sangat tinggi untuk pajak rumah, dagangan, serta bahan baku yang masuk ke desa." Ucapnya dengan kaku.


"Baiklah. Besok kita akan bergerak di sana." Balas Arya Susena.


Namun saat itu Bajra dan Darsana datang dengan raut wajah kelelahan. "Syukurlah masih sempat makan malam." Bajra langsung mengambil piring miliknya.


"Malam ini sepertinya akan hujan. Jadi malam ini aku tidur di bilik bajra saja. Raden silahkan tidur di bilik hamba." Ucapnya sambil mengambil piring, lauk dan air putih. Suaranya saat itu terdengar seperti seseorang yang sangat kelelahan, dan orang yang sangat kelaparan.


"Baiklah. Terima kasih, atas kebaikan kalian. Maaf,jika aku telah membuat kalian kerepotan" Ia merasa sangat terharu, dan tidak enak d saat yang bersamaan.


"Kalau begitu malam ini kita istirahat dulu. Besok kita langsung berangkat ke desa terdekat untuk memeriksa keadaan." Arya Susena memperhatikan mereka semua. "Sebab, ada banyak prajurit yang berjaga-jaga di setiap desa. Aku takut mereka diperintahkan untuk menyiksa rakyat. Kita bunuh saja bagi mereka yang berani menyiksa rakyat." Lanjutnya. Setelah itu la lanjut makan, ia memang lapar, sebab satu hari ini la belum makan apapun.


"Baiklah, Jika Memang seperti itu." Balas mereka, selain Raden Kanigara Lakeswara.


"Sebenarnya apa yang tujuan mereka membentuk kelompok ini? Apakah hanya untuk mengusik ketenangan raja? Atau mereka memang ingin membantu rakyat?. Akan aku lihat bagaimana aksi mereka." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara Sangat cemas, penasaran, dan takut dengan apa yang akan mereka lakukan. "Bahkan ayahanda ah, tidak aku harus memanggil apa setalah aku mengetahui siapa dia yang sesungguhnya?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara merasa iba dengan kenyataan itu. "Tapi dia menikahi ibuku. Dan kini aku menjadi anak dari pamanku sendiri?. Sangat membingungkan sekali." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang telah ia alami selama ini?. Apakah masih bisa disebut sebagai keluarga?.

__ADS_1


...***...


__ADS_2