PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 30


__ADS_3

...***...


Sementara itu di sisi lain, di sebuah tempat perkumpulan yang Sangat tersembunyi. Mereka sedang membahas sesuatu yang sangat Penting?.


"Aku telah mendapatkan surat dari arya susena, bahwa ia akan membawa raden kanigara lakeswara!." Ia memperhatikan tiga orang yang duduk bersama dirinya.


"Benarkah itu kakang?." Baruh Tandan yang betanya.


"Arya Susena adalah anak muda yang dapat aku percayai untuk memantau istana. Jadi kalian tidak perlu cemas."


"Tapi kakang, menurut kabar yang beredar, bukankah seharusnya telah tewas dibunuh Para perampok?."


"Benar itu kakang. Kita semua telah mendengar kan berita itu dengan sangat jelas."


Warsa Jadi, mantan Senopati agung yang diberi amanah mendiang patih Arya Saka untuk menjaga anaknya. Memang memerlukan waktu yang cukup lama baginya. untuk mengumpul siapa saja yang masih setia pada mendiang Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.


"Kabar itu memang beredar luas, tapi murid kesayanganku, arya susena telah membuat berita itu menyebar.


"Jadi kakang mau mengatakan pada kami?. Jika arya susena telah merencanakan itu semua?." Baruh Tandan, juga salah satu senopati yang, selamat dari peperangan dadakan itu.


"Nanti kita sama-sama menanyakan masalah itu padanya. Karena arya susena belum menceritakan Semuanya dalam surat ini." Ucapnya sambil memperlihatkan pada mereka surat yang ditulis Arya Susena padanya.


"Tapi kapan bocah itu akan kembali kakang?."


"Jika tidak ada hambatan selama diperjalanan, mungkin mereka akan sampai besok. Jadi kita tunggu saja."


Mereka yang terlibat di dalam pembicaraan itu hanya mengangguk memahaminya dengan baik.


"Semoga saja kau kembali dalam keadaan baik-baik saja arya susena." Dalam hati Warsa Jadi Sangat cemas dengan keadaan Arya susena.


...***...


Kembali ke pertarungan Antara Arya susena dengan sepasang pendekar. Keduanya sangat gencar bertarung dengan, membuat Arya Susena mengeluarkan tenaga dalamnya. Akan tetapi pada saat itu mereka tidak melihat Arya Susena terlihat kewalahan menghadapi mereka, justru ia masih terlihat baik-baik saja?.


"Berapa banyak tenaga dalam yang kau miliki? Sehingga kau mengeluarkan tenaga dalam mu dengan sangat teratur?!." Bengka terus menyerang Arya Susena, nafasnya hampir saja putus, karena hampir saja tidak bisa mengimbangi Pergerakan Arya suena. Arya Susena nampak melompat ke belakang dengan salto beberapa langkah, setelah itu ia terlihat menyiapkan sebuah jurus bentuk pukulan. Tanpa di duga dengan gerakan yang sangat cepat?.


Duak!. Duak!.


"Eagkh!."

__ADS_1


Bengka dan Sarathina berteriak keras dengan penuh kesakitan yang sangat luar biasa, karena mendapatkan serangan yang sangat kuat. Tubuh keduanya terguling ke tanah, tidak dapat lagi menahan serangan dahsyat itu.


"Ohokh!."


Keduanya muntah darah karena pukulan kuat yang mengandung hawa panas yang sangat luar biasa. Dada, dan perut mereka


"Aku sudah muak dengan kalian." Arya susena menatap kesal pada Bengka dan Sarathina yang tergeletak di tanah setelah menerima pukulan hawa panas berapi dari Arya Susena. "Kalau mau bertarung, ya bertarung saja. Jangan banyak bicara, Kalian hanya mengham bat perjalananku saja. Ada perasaan kesal yang ia rasakan saat itu.


CTAR!. CTAR!.


Ayunan, Serta lecutan cambuk api telah meledak ledak begitu saja. Lecutan yang memberikan dampak yang sangat buruk bagi alam sekitarnya.


"Lalu aku bagaimana?" Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara masih saja bingung mau berbuat apa.


"Kegh!. Kita tinggalkan tempat ini." Bengka mencoba untuk membantu istrinya untuk bangkit.


Setelah itu mereka benar-benar langsung kabur dari sana.


"Waduh! Kabur tu?" Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara sangat bingung. "Ternyata arya susena memang sangat kuat." Dalam hatinya sangat kagum melihat itu.


"Heh!. Lagak kalian saja yang ingin menantang orang lain. Tapi setelah dikepret langsung kabur." Dengan perasaan yang sangat kesal ia langsung mendekati Bajra, Darsana, Patari, dan Nismara yang masih berhadapan dengan Sareh yang tampak kewalahan menghadapi jurus-jurus mereka yang sangat aneh.


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut mendengarkan ancaman itu, tentunya Arya Susena bukan lah tipe orang yang akan berbaik hati, ataupun sekedar bercanda saja. Arya Susena tetaplah Arya Susena yang akan melakukan apapun yang ia sukai, dan ia akan membunuh siapa saja yang tidak ia sukai.


"Lakukan dengan cepat!. Aku tidak mau menunggu lama."


Deg!.


Saat itu mereka merasakan hawa panas yang tidak biasa. Dan tentunya mereka telah hafal dengan situasi yang seperti itu.


"Kalian tidak akan pergi dengan selamat dari sini."


Cekh!.


"Kegh!."


Deg!.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya mereka dikejutkan oleh Arya Susena yang telah menusuk dada kiri Sareh dengan menggunakan pedang penusuk sukma.


"Ohokh!." Ia muntah darah, dada kirinya terasa sangat sakit, namun ia tidak menyadari serangan yang sangat cepat itu.


"Kau tidak usah banyak bicara. Aku sangat muak dengan orang menghambat perjalananku." Dengan perasaan yang sangat kesal ia berkata seperti itu.


Sareh tergeletak begitu saja di tanah, ia telah pergi ke alam sana, karena jantungnya yang ditusuk oleh Arya Susena.


"Lanjutkan."


"Tunggu!."


Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Aya Susena yang saat itu melanjutkan perjalanannya.


"Ya sudah, sepertinya ia dalam masalah yang mungkin tidak kita ketahui sama sekali."


Mereka hanya pasrah saja, ketika Arya Susena yang sedang tidak ingin diajak untuk main-main lagi.


***


Di sisi lainnya.


Di sebuah tempat yang cukup ramai?. Di sana ada seorang pendekar yang sedang duduk sendirian.


"Maaf tuan, saya memiliki pesan untuk tuan."


"Terima kasih."


"Sama-sama tuan."


Setelah itu pelayan rumah makan itu pergi meninggalkan tempat, karena ia tidak mau mengganggu seseorang yang sedang menikmati makanan mereka.


Karena sangat penasaran, pemuda itu langsung saja membuka dan membaca surat itu.


"Apa kabar kakang arya restapati?. Apakah kakang masih suka berkelana mencari kebebasan hidup yang lebih damai lagi?. Ini aku arya susena. Aku yang ingin bertemu dengan kakang. Akan aku tunjukkan pada kakang suatu hal yang sangat menarik nantinya. Karena itulah kakang temui lah aku di tempat paman warsa jadi. Temui lah aku di tempat itu, aku harap kakang mau datang."


Setidaknya seperti itulah bunyi isi surat yang ternyata berasal dari Arya Susena?.


"Memangnya apa yang akan kau tunjukkan padaku adi arya susena?. Apakah kau akan mengajak akau untuk dengan para orang tua yang memiliki dendam pada mereka yang membela mendiang Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara?. Dan mendiang ayahanda kita arya saka?. Dan ibunda kita yang entah bagaimana nasibnya saat ini." Hatinya sangat sedih dengan apa yang telah terjadi di dalma hidupnya yang penuh luka yang dalam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2