
...***...
Pada saat itu mereka seperti sedang melihat malaikat kematian yang sangat menyeramkan.
"Arya susena. Sejauh mana dia melatih dirinya untuk belajar ilmu kanuragan?. Sehingga dia bisa menggabungkan dirinya dengan siluman gagak yang ada di dalam hutan larangan?." Senopati Bumi Teladan mencoba untuk bangkit, walaupun tubuhnya terasa sangat sakti.
"Ya, kau benar. Aku rasa kakang warsa jadi tidak pernah mengajarinya jurusan seperti itu."
"Sepertinya dia telah mengasah kemampuannya dengan sangat baik."
"Arya susena pernah memperlihatkan wujud seram itu padaku sekali." Raden Kanigara Lakeswara sangat ingat dengan apa yang terjadi pada saat itu.
"Heh!. Aku sama sekali tidak takut dengan wujudmu saat ini anak muda. Akan aku bunuh siapa saja yang telah berani menantang aku!."
"Aku suka dengan raut wajah kemarahan itu. Tidak usah banyak bicara. Maju saja."
Arya Susena maju, ia berhadapan dengan tiga pasukan jin yang tercipta dari keris yang digunakan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra. Sementara itu Senopati Bumi Teladan mencoba untuk mendekati senopati Warsa Jadi yang saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Kakang warsa jadi."
"Bagaimana dengan keadaanya?. Apakah masih bisa diselamatkan?."
"Kakang warsa jadi masih bisa diselamatkan. Nadinya masih ada, mungkin karena arya susena menyalurkan hawa murninya melalui gagak hitam yang masuk ke dalam tubuh kakang warsa jadi tadi."
"Ya, aku rasa kau benar. Kalau begitu kita mencari tempat yang aman."
"Raden, kau juga ikut dengan kami."
"Baik paman."
Tentunya mereka tidak ingin menjadi korban keganasan dari pedang Halilintar pembela raga itu. Mereka yang telah mengetahui keganasan dari pedang itu, pasti akan memilih mundur. Kecuali Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang saat itu tidak akan mundur barang setapak saja. Karena jika ia mundur?. Maka kerajaannya akan jatuh ke tangan pendekar kegelapan yang telah lama ingin melengserkan tahta yang ia duduki saat ini.
Sementara itu di kaputren.
"Triasti. Apakah yang terjadi sebenarnya?. Kenapa istana ini terdengar suara ribut?. Apakah kanda prabu sedang merencanakan sesuatu?."
"Mohon ampun gusti ratu. Saat ini mungkin saja gusti prabu sedang berhadapan dengan musuh. Apalagi di halaman istana saat ini sedang terjadi pertarungan."
"Apakah mereka akan membunuh kanda prabu?. Sama halnya yang telah ia lakukan pada raka prabu kanigara maheswara?."
"Jika masalah itu hamba tidak tahu gusti ratu."
"Kalau begitu aku ingin melihat kondisi kanda prabu."
"Hamba mohon jangan gusti."
Sardala Saguna atau namanya yang sekarang Triasti sedang mencegat Ratu Aristawati Estiana agar tidak mendekati pertarungan itu.
"Jangan halangi akau triasti. Aku ingin ke sana."
"Mohon ampun gusti ratu, apakah gusti ratu tidak melihat bagaimana sambaran petir yang terdengar dari halaman istana?. Itu sangat berbahaya gusti ratu. Hamba mohon tetaplah berada di sini."
"Tapi aku-."
"Tetaplah berada di sini yunda aristawati estiana. Jika yunda tetap memaksakan diri untuk ke sana, nanti yunda hanya akan menjadi beban untuk gusti prabu maharaja kanigara rajendra."
Ratu Aristawati Estiana memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Ratu Arundaya Dewani. "Apakah benar?. Aku hanya akan mejadi beban buat kanda praba nantinya." Dalam hatinya masih memikirkan itu dengan sangat tenang. "Baiklah kalau begitu, aku aka tetap di sini saja." Dengan berat hati ia berkata seperti itu demi menjaga kehormatan suaminya saat ini.
Kembali ke pertarungan yang sangat sengit itu. Arya Susena sepertinya tidak main-main lagi, saat itu ia berhasil menebas salah satu dari tiga makhluk gaib itu dengan menggunakan pedangnya.
"Kurang ajar!."
Kedua temannya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena. Mereka segera menyerang pemuda itu dengan kekuatan yang mereka miliki. Sedangkan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merapalkan mantram untuk menguatkan dua pasukan yang tersisa. "Kurang ajar, bagaimana mungkin dia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat seperti itu?." Dalam hati Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sama sekali tidak menduga itu.
"Kalian pasti akan aku bunuh." Arya Susena memainkan jurus pedang itu dengan sangat baik, sehingga kedua pasukan gaib itu sangat kewalahan untuk menghadapinya.
__ADS_1
Bukan hanya pukulan, ataupun tendangan saja yang mereka dapatkan dari Arya Susena, akan tetapi mereka dapat merasakan sengatan halilintar yang dapat menyakiti tubuh mereka.
"Kegh!." Saat itu tubuh mereka seperti mati rasa, sehingga kekuatan mereka melemah karena kekuatan mereka yang tidak seimbang.
"Kurang ajar!. Bagaimana mungkin kita bisa dikalahkan seperti ini?."
"Jangan menyerah, kita bunuh dia."
Keduanya masih saja berusaha untuk melawan Arya Susena?. Tapi siapa yang menduga saat itu ayunan dari pedang Arya Susena telah membuat tubuh mereka terbakar.
"Keghakh!."
Kedua pasukan gaib berteriak kesakitan, hingga suara itu menghilang seiringan dengan padamnya apai akibat tebasan dari Pedang Halilintar pembelah raga itu.
"Uhukh!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedikit terbatuk, dam ia memuntahkan darah segar dari dampak kalahnya ketiga pasukan jin keris pusaka. "Boleh juga ilmu kanuragan yang kau miliki anak muda." Ia menyeka darah yang menempel di sudut bibirnya.
"Aku telah bersumpah pada mendiang ayahandaku, bahwa aku akan membunuh orang yang telah membunuhnya."
"Kalau begitu lakukan sumpahmu itu. Biar kau juga ikut mati bersamanya."
Saat itu keduanya sedang menyiapkan diri untuk menyerang satu sama lain. Saat itu keduanya dengan senjata masing-masing ditangan saling menyerang. Arya Susena dengan jurus tapak aliran petir, sedangkan prabu Maharaja Kanigara Rajendra menggunakan jarum angin penusuk jiwa. Jurus yang mereka gunakan sangat berbahaya, yang satu memanfaatkan aliran tenaga petir, satunya lagi memanfaatkan angin.
Pukulan dan tendangan mereka layangkan ke arah musuh, bahkan sesekali terdengar dentingan senjata mereka yang beradu. Kali ini Arya susena memanfaatkan sayapnya untuk melompat ke atas, saat itu ia tebas daun dengan pedangnya itu, ia manfaatkan angin yang bertiup, namun bukan hanya itu saja, ia alirkan tenaga dalamnya ke dalam daun- daun yang berterbangan itu, sehingga daun-daun itu seperti memiliki nyawa. Menyerang Prabu Maharaja kanigara Rajendra seperti ribuan jarum yang untuk menusuk mangsanya. Akan tetapi sang Prabu tidak mudah menyerah, ia melompat ke samping untuk menghindari serangan itu. Tapi?. Daun-daun itu tidak menyerah, terus menyerang sang Prabu,
"Hyah!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra membuat benteng gaib dengan keris pusaka yang telah ia tambahkan dengan tenaga dalam yang ia milik.
Daun-daun itu tidak berhasil menyentuh tubuhnya, mereka yang seperti ribuan. Jarum itu hanya melewatinya saja. "Apakah hanya segini caja kemampuan yang kau miliki?." Ia melihat Arya susena yang sedang masih berada di atas.
"Heh!. Jangan senang dulu. Lihatlah sekitar mu gusti prabu."
Bagaimana kelanjutannya?. Apakah Arya Susena menang?.
...***...
Arya Susena on.
Kelompok pendekar kegelapan telah bergerak, mereka telah berada di desa Rambi, desa yang kini sedang mengalami nasib yang sangat malang. Desa yang katanya dijarah oleh para perampok yang sangat ganas. Bukan hanya merampok saja, tapi mereka membawa anak gadis desa. Sungguh tindakan yang sangat kejam, dan sangat tidak manusiawi.
Saat ini mereka sedang memantau di mana lokasi para perampok itu sedang bercokol, sebelum mereka melanjutkan aksi mereka. Namun sayangnya meraka tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para kawanan perampok itu. Tanpa banyak bicara?. Arya Susena berubah menjadi kucing hitam, dengan santainya ia melompat dalam wujud kucing hitam.
"Kurang ajar sekali anak ini. Dia bisa melakukan itu dengan cepat, dari pada aku yang rajanya mengumpulkan informasi." Dalam hati Bajra.
"Jurus itu sangat kurang ajar sekali. Dia lebih unggul dari pada kami." Dalam hati Nismara.
"Jurus yang sangat merepotkan buat musuh, namun menguntungkan bagi lawan. Tapi bagiku itu adalah jurus yang sangat pengecut!. Dasar tidak jantan sama sekali!." Dalam hati Patari.
"Dia ini memang sangat pandai membuat orang lain merasa minder dengan apa yang telah dia lakukan. Rasanya ingin aku mengutuknya." Dalam hati Darsana merasa heran.
Mereka sebenarnya sangat kagum dengan kesaktian yang dimiliki oleh Arya Susena, hanya saja ada perasaan kesal, dan perasaan iri yang terselip di hati mereka. Kita lupakan sejenak apa yang mereka rasakan, karena ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Arya Susena memang di atas mereka, jadi mau tak mau mereka harus mengakui itu.
Arya Susena yang berada di dalam wujud kucing pun telah berhasil masuk ke dalam tenda kawanan perampok dengan aman, tanpa ada satu orangpun yang merasa curiga. Arya Susena dengan sangat leluasa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Apakah kalian telah menyebarkan berita tentang itu?. Berita tentang kawanan perampok yang melakukan aksi mereka atas perintah dari raden kanigara lakeswara?."
"Kakang tenang saja. Kami telah melakukannya dengan sangat baik. Warga desa rambi sangat percaya, dan mereka sangat ketakutan sekali kakang."
Mereka malah tertawa setelah mendengarkan ucapan itu?. Seperti ada hal yang sangat lucu, sehingga mereka tertawa sangat puas. Pada saat itu mereka berbicara dengan sangat lancar, tanpa menyadari jika ada seseorang yang menyimak pembicaraan itu.
"Seperti yang aku duga sebelumnya. Ini ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan." Dalam hati Arya Susena sangat marah luar biasa.
"Panas. Kenapa cuaca tiba-tiba saja panas kakang?."
"Entahlah adi. Rasanya tempat ini hampir saja terbakar saking panasnya."
Saat itu mereka semua kepanasan, sehingga pergi meninggalkan tenda besar itu untuk mendinginkan suhu tubuh. Sedangkan Bajra, Nismara, Patari, dan Darsana dapat melihat, serta menebak alasan kenapa mereka semua keluar dari tenda itu dalam keadaan kepanasan.
__ADS_1
"Aku rasa si arya itu memang gila!. Ketika marah?!. Udara sekitar jadi panas. Aku rasa saat ini dia sedang sangat marah, meskipun aku tidak mengetahui dengan jelas, alasan kenapa dia marah."
"Mungkin dia sedang mendengarkan rencana jahat dari kawanan perampok itu. Sehingga dia kepanasan."
"Kadang aku merasa arya memang sangat menyeramkan dari malaikat maut."
"Kalian ini terlalu berlebihan dalam menilainya."
Setidaknya seperti itulah yang terjadi pada saat itu. Dengan kekuatan yang aku miliki aku bisa melakukan apa saja termasuk yang menyalurkan hawa panas kepada mereka semua ketika aku sedang marah.
Nismara on.
Apakah kau tidak menyadari jika hawa panas mu itu sangat tidak enak untuk kami rasakan?. Kau jangan sembarangan juga bertindak. Atau kau sengaja ingin membunuh kami dengan cara yang seperti itu?.
Raden Kanigara Lakeswara on.
Ya. Aku rasa dia memang memiliki niat yang seperti itu. Rasanya sangat tidak enak sekali, dan aku rasa dia memang memiliki niat yang tidak baik terhadap kita semua.
Bajra on.
Sepertinya kalian jangan memancing amarahnya di sini. Nanti kita yang berkumpul di sini bisa terbakar olehnya. Aku tidak mau mati konyol hanya karena berkumpul satu tempat dengannya dan mati dengan cara yang tidak wajar seperti ini. Aku tidak ingin mati gentayangan hanya karena menerima hawa panas yang ia tebarkan.
Darsana on.
Ya, kau benar Bajra. Aku tidak ingin mati konyol karena kemarahan yang ditebarkan. Aku masih lajang dan belum menikah. Aku masih ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang wanita kepadaku di kemudian hari kelak. Jadi kalian jangan memancing amarahnya yang seperti itu, cobalah kalian bertenang diri terlebih dahulu.
Patari on.
Kalau berbicara seperti itu sih gampang. Hanya saja sikapnya yang memang seperti itu. Jika dia memang marah maka suasana akan menjadi panas. kalian jangan coba-coba untuk memancing amarahnya.
Arya Susena on.
Kalian ini sedang berbicara tentangku?. Apakah kalian memang ingin merasakan bagaimana kemarahan yang aku rasakan?.
Raden Kanigara Lakeswara on.
Aku harapkan jangan sampai melakukan itu Arya Susena. Aku juga belum menjadi raja, jadi kau jangan menebarkan kemarahanmu seperti itu. Kami semua masih ingin hidup di sini.
Sepertinya mereka semua memang sangat takut dengan kemarahan yang telah ditunjukkan Arya Suseno kepada mereka. Apakah mereka sanggup bertahan jika terlalu lama berada di lingkungan di mana area sana mengeluarkan hawa panas yaitu?.
Raden Kanigara Lakeswara on.
Sepertinya aku ingin melihat bagaimana kondisi Hutan Larangan ini. Aku harus terbiasa dan berbaur dengan alam secepatnya sehingga aku tidak melakukan hal yang.
Nismara on.
Aku juga hendak memeriksa apakah makanan kita masih ada atau. kalian tetaplah disini jika kalian mampu, kalau aku sih pasti tidak sanggup.
Bajra on.
Aku akan memeriksa apakah panah permintaan masih ada atau tidak?. Kalian jangan sampai mati konyol di sini.
Patari on.
Aku juga ikut denganmu Nismara. Kau ini sangat menyebalkan sekali. Kenapa kau marah kabar sendirian?.
Darsana on.
Aku juga, apakah persediaan kayu bakar kita malam ini masih ada atau tidak. Kalau kau masih betah di sini?. Aku rasa itu tidak masalah.
Arya Susena on..
Heh!. Ternyata mereka semua kabur dan tidak berani berlama-lama berada di sini. Jika kalian hanya pandai berbicara saja?. Kalian semua sangat menyebalkan, akan aku tebarkan kemarahanku sampai radio sekali yang berdiri saat ini. Akan aku tunjukkan kepada kalian bagaimana aku marah yang sesungguhnya. Bisa jadi malam ini aku akan menikmati daging manusia yang sangat lezat. Ahahaha!. Sangat menyenangkan sekali!.
Arya Susena, Raden Kanigara Lakeswara, Nismara, Patari, Bajra, dan Darsana off.
__ADS_1