PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 36


__ADS_3

...***...


Malam  hampir saja berlalu, saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra memasuki sebuah ruangan yang sangat rahasia di dalam bangunan Istana yang sangat megah.


Matanya memperhatikan beberapa benda pusaka yang rasanya sangat cocok untuk gunakan. "Keris naga bumi. Keris yang memiliki sayatan yang sangat kejam, juga tombak raksa warna." Prabu Maharaja Kanigara mengingat bagaimana penjelasan dari seseorang yang selama ini telah merawat benda pusaka. "Akan aku gunakan keduanya untuk membunuh mereka semua." Dalam hatinya sedang memikirkan strategi seperti apa yang akan ia gunakan selama perang nanti.


Akan tetapi pada saat ia hendak menyentuh keris naga bumi?. Ada hawa gaib yang menolak dirinya?. Tentunya ia sangat bingung dengan apa yang ia rasakan saat itu. Ia mencobanya kembali, akan tetapi hasilnya tetap sama saja.


"Kurang ajar!. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa aku tidak bisa menyentuh keris ini?." Hatinya sangat marah, tidak terima jika benda pusaka itu malah menolak dirinya dengan cara yang seperti itu?.


"Jika kau ingin benda pusaka itu, maka kau hilangkan niat burukmu itu pada rakyatmu sendiri." Ada suara yang menasihatinya seperti itu?.


Deg!.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, saat itu matanya menangkap sosok kakaknya yang terlihat sangat berwibawa dengan mahkota yang ia kenakan saat itu?.


"Benda pusaka ini diciptakan oleh raja terlebih dahulu untuk melindungi rakyat telaga dewa. Namun kau ingin melakukan yang sebaliknya?. Maka sampai dunia ini terbalik pun, kau tidak akan pernah bisa menggunakan benda pusaka itu, jika hatimu berniat ingin menyakiti rakyat telaga dewa."


"Kau tidak usah mengatakan hal yang tidak mungkin aku lakukan. Akan aku habisi siapa saja yang tidak mau patuh pada ucapanku!."


"Kalau begitu, kau akan menerima apa yang telah kau tuai selama ini."


"Kau tidak usah menyumpahi aku maheswara!."


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat murka, ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang telah dikatakan oleh Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Ia lampiaskan semua amarah yang ia rasakan saat itu.


***


Sementara itu Ratu Arundaya Dewani saat ini sedang duduk di tepian tempat tidurnya, di temani oleh dua orang dayang yang diperintahkan oleh Ratu Aristawati Estiana untuk menemaninya.


"Apakah benar?. Kabar yang aku dengar?. Jika perang akan terjadi?."


"Benar gusti ratu. Karena itulah kami berada di sini untuk menemani gusti ratu."


"Bagaimana jika nanti tertangkap?. Sama seperti ketika kanda prabu maheswara yang memimpin istana ini?."


Tidak ada tanggapan dari kedua dayang tersebut, karena keduanya tidak mengetahui sama sekali bagaimana situasi yang mungkin dihadapi oleh ratu mereka.


"Jika terjadi sesuatu padaku nantinya, aku harap kalian jangan ikutan terkena dampak dariku yang lemah ini."


"Kami akan selalu bersama gusti ratu."


"Benar itu gusti ratu. Hamba tidak akan meninggalkan gusti ratu barang setapak."


Ratu Arundaya Dewani hanya dia saja, karena rasanya ia tidak memiliki harapan untuk hidup. Ia telah pasrah, karena kehilangan kedua orang yang sangat ia cintai. "Kanda prabu, nanda lakeswara. Bawalah aku bersama kalian." Dalam hatinya merintih pilu.


...***...


Di Wisma prajurit yang kini dipimpin oleh Patih Palasara Mada. Mereka sedang membicarakan rencana mereka untuk memenangkan perang itu.


"Telik sandi yang telah aku utus untuk memeriksa empat lokasi telah kembali. Tentunya akku ingin mendengarkan laporan dari kalian semua."


"Hamba gusti patih." Seruni, Darmani, Cengkani, dan Astani memberi hormat.


"Berdasarkan pengamatan hamba di bukit topan, di sana ada sekitar dua ratus orang pemuda yang kemungkinan semuanya akan ikut dalam perang itu gusti."


"Lalu bagaimana dengan persiapan mereka?. Senjata seperti apa yang mereka gunakan untuk perang?."


Seruni mencoba mengingat apa saja yang telah ia lihat pada saat itu. "Saat itu hamba melihat, jika mereka menggunakan golok, serta panah. Bahkan mereka menggunakan beberapa jebakan yang mungkin telah mereka persiapkan untuk kita gusti."


"Bagus, jika kau telah mengamati dengan sangat baik. Aku sangat suka dengan penglihatan yang bagus seperti itu."


"Hamba gusti patih."

__ADS_1


"Lantas bagaimana dengan keadaan bukit semak?. Apa yang kau lihat di sana darmani?."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Dari pengamatan hamba, mereka di sana tak lebih dari seratus lima puluh orang." Ia mengingat apa saja yang telah ia amati saat itu.


"Lanjutkan."


"Mereka memanfaatkan hutan semak yang memiliki duri tajam untuk membuat jebakan gusti. Setelah itu mereka gunakan bambu runcing untuk membunuh kita semua."


"Hm. Rencana itu terdengar kejam juga." Ucapnya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan saat itu. "Teruskan cengkani."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Lembah curam pati terlihat sangat berbahaya gusti. Karena memiliki batu runcing yang sangat tajam. Bahkan bisa membelah kepala manusia jika tertimpa batu itu gusti. Hamba rasa mereka akan memanfaatkan batu itu sebagai senjata. Namun jumlah pemuda yang berada di sana lebih kurang seratus orang."


Mereka yang mendengarkan itu sedikit merinding, tidak bisa membayangkan bagaimana kepala mereka terbelah menjadi dua karena batu runcing yang tajamnya seperti pedang?.


"Lanjutkan astani."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Di hutan larangan, hutan yang sangat terkenal dengan keangkeran hutannya. Mereka memanfaatkan serangan gagak yang mungkin bisa mencabik siapa saja yang masuk tanpa izin di sana, kecuali pemuda yang tinggal tak jauh dari hutan larangan."


"Mereka cukup pintar juga memanfaatkan alam untuk berperang menghadapi kita semua yang jauh berpengalaman berperang."


"Benar itu gusti patih. Dengan jumlah mereka yang tidak seberapa itu?. Mereka pikir bisa mengalahkan kita semua?. Rasanya mereka terlalu banyak bermimpi. Kasihan."


Saat itu mereka malah tertawa keras mendengarkan apa yang telah dikatakan senopati Branta Jaya. Sementara itu tanpa mereka sadari, Arya Susena sebenarnya telah berhasil menyusup di antara mereka semua?.


"Heh!. Aku ingin mendengarkan strategi kalian menghadapi pasukan gaib. Telik sandi yang kau kirim memang pintar mengamati itu semua dengan diam-diam. Tapi apakah telik sandimu sepintar aku?. Yang dengan sangat mudahnya duduk diantara kalian yang saat ini mengatakan rencana bodoh kalian itu." Dalam hati Arya Susena tertawa puas dengan kebodohan mereka yang sama sekali tidak menyadari keberadaanya di sana.


Dengan sangat mudahnya ia masuk dengan menggunakan jurus malih rupa, menjadi siapa saja yang ia inginkan, sambil mendengarkan rencana mereka yang hendak menyerbu empat lokasi perang.


"Mari kita lihat nani." Dalam hatinya sangat penasaran sekali.


...***...


...***...


Malam  hampir saja berlalu, saat itu Prabu Maharaja Kanigara Rajendra memasuki sebuah ruangan yang sangat rahasia di dalam bangunan Istana yang sangat megah.


Matanya memperhatikan beberapa benda pusaka yang rasanya sangat cocok untuk gunakan. "Keris naga bumi. Keris yang memiliki sayatan yang sangat kejam, juga tombak raksa warna." Prabu Maharaja Kanigara mengingat bagaimana penjelasan dari seseorang yang selama ini telah merawat benda pusaka. "Akan aku gunakan keduanya untuk membunuh mereka semua." Dalam hatinya sedang memikirkan strategi seperti apa yang akan ia gunakan selama perang nanti.


Akan tetapi pada saat ia hendak menyentuh keris naga bumi?. Ada hawa gaib yang menolak dirinya?. Tentunya ia sangat bingung dengan apa yang ia rasakan saat itu. Ia mencobanya kembali, akan tetapi hasilnya tetap sama saja.


"Kurang ajar!. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa aku tidak bisa menyentuh keris ini?." Hatinya sangat marah, tidak terima jika benda pusaka itu malah menolak dirinya dengan cara yang seperti itu?.


"Jika kau ingin benda pusaka itu, maka kau hilangkan niat burukmu itu pada rakyatmu sendiri." Ada suara yang menasihatinya seperti itu?.


Deg!.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, saat itu matanya menangkap sosok kakaknya yang terlihat sangat berwibawa dengan mahkota yang ia kenakan saat itu?.


"Benda pusaka ini diciptakan oleh raja terlebih dahulu untuk melindungi rakyat telaga dewa. Namun kau ingin melakukan yang sebaliknya?. Maka sampai dunia ini terbalik pun, kau tidak akan pernah bisa menggunakan benda pusaka itu, jika hatimu berniat ingin menyakiti rakyat telaga dewa."


"Kau tidak usah mengatakan hal yang tidak mungkin aku lakukan. Akan aku habisi siapa saja yang tidak mau patuh pada ucapanku!."


"Kalau begitu, kau akan menerima apa yang telah kau tuai selama ini."


"Kau tidak usah menyumpahi aku maheswara!."


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat murka, ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang telah dikatakan oleh Prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Ia lampiaskan semua amarah yang ia rasakan saat itu.


***


Sementara itu Ratu Arundaya Dewani saat ini sedang duduk di tepian tempat tidurnya, di temani oleh dua orang dayang yang diperintahkan oleh Ratu Aristawati Estiana untuk menemaninya.


"Apakah benar?. Kabar yang aku dengar?. Jika perang akan terjadi?."

__ADS_1


"Benar gusti ratu. Karena itulah kami berada di sini untuk menemani gusti ratu."


"Bagaimana jika nanti tertangkap?. Sama seperti ketika kanda prabu maheswara yang memimpin istana ini?."


Tidak ada tanggapan dari kedua dayang tersebut, karena keduanya tidak mengetahui sama sekali bagaimana situasi yang mungkin dihadapi oleh ratu mereka.


"Jika terjadi sesuatu padaku nantinya, aku harap kalian jangan ikutan terkena dampak dariku yang lemah ini."


"Kami akan selalu bersama gusti ratu."


"Benar itu gusti ratu. Hamba tidak akan meninggalkan gusti ratu barang setapak."


Ratu Arundaya Dewani hanya dia saja, karena rasanya ia tidak memiliki harapan untuk hidup. Ia telah pasrah, karena kehilangan kedua orang yang sangat ia cintai. "Kanda prabu, nanda lakeswara. Bawalah aku bersama kalian." Dalam hatinya merintih pilu.


...***...


Di Wisma prajurit yang kini dipimpin oleh Patih Palasara Mada. Mereka sedang membicarakan rencana mereka untuk memenangkan perang itu.


"Telik sandi yang telah aku utus untuk memeriksa empat lokasi telah kembali. Tentunya akku ingin mendengarkan laporan dari kalian semua."


"Hamba gusti patih." Seruni, Darmani, Cengkani, dan Astani memberi hormat.


"Berdasarkan pengamatan hamba di bukit topan, di sana ada sekitar dua ratus orang pemuda yang kemungkinan semuanya akan ikut dalam perang itu gusti."


"Lalu bagaimana dengan persiapan mereka?. Senjata seperti apa yang mereka gunakan untuk perang?."


Seruni mencoba mengingat apa saja yang telah ia lihat pada saat itu. "Saat itu hamba melihat, jika mereka menggunakan golok, serta panah. Bahkan mereka menggunakan beberapa jebakan yang mungkin telah mereka persiapkan untuk kita gusti."


"Bagus, jika kau telah mengamati dengan sangat baik. Aku sangat suka dengan penglihatan yang bagus seperti itu."


"Hamba gusti patih."


"Lantas bagaimana dengan keadaan bukit semak?. Apa yang kau lihat di sana darmani?."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Dari pengamatan hamba, mereka di sana tak lebih dari seratus lima puluh orang." Ia mengingat apa saja yang telah ia amati saat itu.


"Lanjutkan."


"Mereka memanfaatkan hutan semak yang memiliki duri tajam untuk membuat jebakan gusti. Setelah itu mereka gunakan bambu runcing untuk membunuh kita semua."


"Hm. Rencana itu terdengar kejam juga." Ucapnya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan saat itu. "Teruskan cengkani."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Lembah curam pati terlihat sangat berbahaya gusti. Karena memiliki batu runcing yang sangat tajam. Bahkan bisa membelah kepala manusia jika tertimpa batu itu gusti. Hamba rasa mereka akan memanfaatkan batu itu sebagai senjata. Namun jumlah pemuda yang berada di sana lebih kurang seratus orang."


Mereka yang mendengarkan itu sedikit merinding, tidak bisa membayangkan bagaimana kepala mereka terbelah menjadi dua karena batu runcing yang tajamnya seperti pedang?.


"Lanjutkan astani."


"Hamba gusti patih." Ia memberi hormat. "Di hutan larangan, hutan yang sangat terkenal dengan keangkeran hutannya. Mereka memanfaatkan serangan gagak yang mungkin bisa mencabik siapa saja yang masuk tanpa izin di sana, kecuali pemuda yang tinggal tak jauh dari hutan larangan."


"Mereka cukup pintar juga memanfaatkan alam untuk berperang menghadapi kita semua yang jauh berpengalaman berperang."


"Benar itu gusti patih. Dengan jumlah mereka yang tidak seberapa itu?. Mereka pikir bisa mengalahkan kita semua?. Rasanya mereka terlalu banyak bermimpi. Kasihan."


Saat itu mereka malah tertawa keras mendengarkan apa yang telah dikatakan senopati Branta Jaya. Sementara itu tanpa mereka sadari, Arya Susena sebenarnya telah berhasil menyusup di antara mereka semua?.


"Heh!. Aku ingin mendengarkan strategi kalian menghadapi pasukan gaib. Telik sandi yang kau kirim memang pintar mengamati itu semua dengan diam-diam. Tapi apakah telik sandimu sepintar aku?. Yang dengan sangat mudahnya duduk diantara kalian yang saat ini mengatakan rencana bodoh kalian itu." Dalam hati Arya Susena tertawa puas dengan kebodohan mereka yang sama sekali tidak menyadari keberadaanya di sana.


Dengan sangat mudahnya ia masuk dengan menggunakan jurus malih rupa, menjadi siapa saja yang ia inginkan, sambil mendengarkan rencana mereka yang hendak menyerbu empat lokasi perang.


"Mari kita lihat nani." Dalam hatinya sangat penasaran sekali.


...***...

__ADS_1


__ADS_2