PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 63


__ADS_3

...***...


Arya Susena perlahan-lahan membuka matanya, ia baru saja merasakan bagaimana kondisi tubuhnya yang masih sakit.


"Sepertinya ada seseorang yang telah mengobati aku." Dalam hatinya berpikiran seperti itu ketika ia melihat kondisi tubuhnya yang tidak sesakit yang sebelumnya.


"Oh?. Kau sudah bangun arya susena?." Nini siluman Gagak Hitam tersenyum kecil melihat pemuda itu telah bangun.


"Jadi nini yang telah mengobati aku?."


"Ya, memang akulah yang telah mengobatimu."


"Terima kasih nini." Arya Susena merasa sangat lega. Akan tetapi pada saat itu matanya menangkap seseorang yang sedang tertidur di sampingnya.


"Sepanjang malam dia terus mengamatimu. Nismara sepertinya sangat memperhatikanmu dengan sangat baik."


"Jadi dia melakukan itu?." Arya Susena tersenyum kecil sambil memperhatikan Nismara.


"Ya. Jika saja aku tidak segera menyuruhnya untuk tidur?. Mungkin dia akan menunggumu sampai terbangun."


"Tapi sekarang kondisinya sudah baikan bukan?. Sebab luka dalam yang dialami pada saat itu juga sangat parah."


"Jika masalah itu kau tidak perlu khawatir lagi. Karena kondisinya akan baik-baik saja. Aku telah membersihkan luka dalamnya, jadi ia telah pulih seperti sedia kala."


"Terima kasih nini. Jika kami tidak ditolong oleh nini?. Kami tidak tahu bagaimana jadinya kami setelah menerima luka dalam itu."


"Bagiku kalian adalah keluarga yang harus aku lindungi. Setelah kedatangan kalian di hutan ini?. Hutan ini terasa sangat hidup. Rasanya aku benar-benar sangat bersyukur bertemu dengan kalian." Itulah yang ia rasakan pada saat itu.


"Tapi bagaimana mungkin kau bisa berhadapan dengan orang-orang yang berbahaya seperti itu?. Apalagi kau sampai menggunakan banyak tenaga dalam untuk menetralkan tubuhmu dari hawa panas panah banaspati." Ada perasaan cemas yang ia rasakan saat itu.


"Sebagai pendekar kegelapan, tentu saja aku memiliki banyak musuh."


Nini siluman Gagak Hitam hanya menghela nafasnya ketika ia mendengarkan jawaban dari pemuda itu.


"Aku memiliki pesan untukmu. Jika kau telah sadar, kau harus segera kembali ke rumah ibundamu. Karena beliau sangat khawatir kepadamu."

__ADS_1


"Baiklah. Jika memang seperti itu, aku akan ke rumah ibundaku."


Tentu saja pada saat itu ia akan menunggu Nismara bangun, tidak mungkin ia akan membiarkan Nismara sendirian di sana.


...***...


Di istana.


Pada pagi yang cerah itu mereka semua sedang berkumpul. Tentu saja mereka sedang menikmati kebersamaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


"Hari ini kita berkumpul sebagai saudara. Semoga saja sang hyang Widhi selalu memberikan keselamatan kepada kita semua."


"Nanda prabu benar. Semoga saja kita selalu merasakan kebahagiaan dengan apa yang kita rasakan sekarang."


Saat itu mereka telah mengikhlaskan apa yang telah terjadi di masa lalu. Dan masa sekarang mereka akan mengubah takdir yang penuh dendam dan perasaan benci. Meskipun rasa sakit itu masih ada, namun mereka semua mencoba untuk mengubahnya menjadi kasih sayang antara keluarga.


"Sudah saatnya kita memutuskan tali dendam yang terjadi di antara kita semua. Semoga saja kita senantiasa dapat merasakan kebahagiaan ini bersama-sama."


"Rayi prabu. Kita benar-benar harus melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Walaupun hati ini terasa sangat sakit, namun kita semua telah merasakan bagaimana sakit kehilangan orang-orang yang sakit saat cintai." Raden Kanigara Hastungkara benar-benar merasakan itu. "Karena itulah kita harus saling mendukung satu sama lain supaya kita bisa bangkit dari rasa sakit itu."


"Ya. Kita semua telah merasakan bagaimana rasa sakit akibat kehilangan orang-orang yang kita cintai. Karena itulah kita harus mengubah takdir itu dengan cara yang berbeda."


"Ya. Ibunda sangat setuju. Kita hentikan permusuhan yang akan menimbulkan darah di antara kita semua. Mari kita ganti dengan senyuman yang akan kita ukir secara perlahan-lahan."


"Ya, aku setuju itu rayi arundaya dewani. Tali permusuhan itu harus segera kita putuskan dengan cara kebersamaan kita saat ini."


Entah kenapa suasana pada saat itu berubah menjadi suasana yang haru, walaupun mereka tidak meneteskan air mata. Namun suasana hati mereka saat itu sedang bergemuruh untuk menenangkan diri mereka agar tidak terlihat menangis merintih, merasakan kesedihan yang mendalam setelah merasakan bagaimana kehilangan orang-orang yang mereka cintai.


...***...


Di Hutan Larangan.


Darsana, Patari, dan Bajra saat itu melihat ada seekor gagak yang datang kepada mereka.


"Ada pesan dari arya susena. Katanya ia akan menunggu kalian sore ini di depan hutan larangan. Dia akan mengajak kalian pergi ke rumah ibundanya."

__ADS_1


"Jadi dia menyuruh kita untuk ikut dengannya?."


"Aku rasa memang seperti itulah yang terjadi. Aku rasa dia juga telah bangun, jika dia tidak mau mungkin dia tidak akan menyuruh gagak ini untuk menyampaikan pesan kepada kita."


"Ya, kau benar."


Gagak hitam itu kembali terbang pergi meninggalkan mereka semua.


"Sore ini?. Apakah dia masih membutuhkan waktu istirahat yang cukup sehingga dia menyuruh kita sore ini untuk menemuinya?."


"Lupakan saja. Tidak usah menebak apa yang dia lakukan saat. Yang penting kita pergi saja menemuinya nanti sore." Bajra sangat malas membahas apapun tentang Arya Susena.


...***...


Sementara itu Arya Susena dan Nismara sedang memperhatikan apa yang telah dikerjakan oleh Nini siluman Gagak Hitam. Saat itu iya sedang melakukan beberapa gerakan untuk memperlihatkan kepada mereka sebuah jurus yang dapat mereka gunakan ketika berhadapan dengan musuh yang lumayan kuat.


"Gerakannya cukup aneh. Namun mengandung hawa hitam yang sangat luar biasa. Apakah menurutmu aku bisa mempelajari jurus itu secara cepat?."


"Aku yakin kau bisa melakukan itu."


Arya Susena dan Nismara benar-benar memperhatikan bagaimana gerakan jurus itu. Gerakannya itu memang aneh, namun jika dilihat dari hawa kegelapan yang muncul ketika memainkan jurus itu?. Tampaknya jurus itu bukanlah jurus yang biasa.


Tak berselang lama, Nini siluman Gagak Hitam menghentikan jurus yang ia mainkan saat itu. Ia mengatur tenaga dalamnya dengan perlahan-lahan supaya lebih teratur. Setelah itu ia mendekati Arya Susena dan Nismara.


"Kalian hanya perlu mengingat gerakannya saja. Kalian bisa memperagakan itu bila kalian ada kesempatan waktu. Kalianlah yang menentukan kapan latihan itu."


"Bagaimana kalau kami keliru dalam menggunakan jurus itu?."


"Tidak ada yang keliru dalam sebuah gerakan jurus. Namun kalian bisa menambah atau mengurangi gerakan itu sesuai dengan kemampuan ilmu kanuragan yang kalian miliki, serta tenaga dalam yang mendukung gerakan itu."


Hanya seperti itu saja penjelasannya, karena ia percaya jika kedua pendekar yang memiliki ilmu ekonomi yang tinggi itu bisa menggunakan jurus itu dengan sangat baik.


Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2