PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 49


__ADS_3

...***...


Dengan perasaan yang berdebar-debar mereka semua menunggu apa yang akan dilakukan oleh Raden Kanigara Lakeswara. Akan tetapi pada saat itu Raden Kanigara Lakeswara saat itu menghampiri ibundanya, ia duduk bersimpuh di hadapan ibundanya dengan penuh keharuan.


"Tidak ada gelar yang sempurna selain menyanjungkan ibundanya. Tidak ada yang derajat yang lebih tinggi selain meninggikan derajat ibundanya. Mohon doa dan restu kepada ibunda yang telah membesarkan saya hingga sampai sekarang." Tanpa sadar pada saat itu ia telah meneteskan air matanya.


"Oh putraku." Ratu Arundaya Dewani memeluk anaknya dengan penuh keharuan.


"Terima kasih karena telah membesarkan saya dengan cinta dan kasih sayang ibunda. Tanpa belaian kasih sayang yang ibunda berikan kepada saya, mungkin saya tidak akan sanggup bertahan dalam tekanan hidupnya sangat luar biasa. Namun dengan adanya ibunda di samping saya, semuanya saya lewati meskipun terasa sangat pahit." Raden Kanigara Lakeswara sebenarnya tidak mengetahui apa yang akan ia sampaikan kepada ibundanya. Saat itu ia hanya mengikuti apa yang ada di dalam hatinya. "Mohon doa restunya ibunda, supaya nanda bisa melewati ini semua dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti yang ibunda ajarkan selama ini kepada saya."


"Melangkahlah lebih jauh lagi anakku. Lihatlah bagaimana orang-orang di sekitarmu. Sebagai seorang ibu tentunya aku akan merelakan apapun yang kalau kekal selama itu adalah hal yang baik." Saat itu ia lepaskan pelukannya, ia tangkup pipi anaknya dengan penuh kelembutan. "Lakukanlah tugasmu sebagai seorang raja yang baik. Janganlah engkau buat mereka menderita dengan keegoisan yang engkau miliki. Jadilah seorang raja yang dapat memenuhi semua rasa dahaga yang dirasakan oleh rakyatmu. Selimutilah rakyat dengan rasa hangat yang kau miliki, lindungilah mereka dengan payung hukum yang sangat adil. Jangan kau tajamkan mereka dengan pedangmu, atau dengan lisanmu yang sangat berbahaya daripada tajamnya pedang. Percayalah kepada amanat yang telah mereka berikan kepadamu, jangan engkau kecewakan mereka dengan janji-janji manismu hanya untuk membuat mereka merasa senang. Berikan apapun yang ada di tanganmu meskipun itu hanya sedikit, tapi berusahalah untuk memberikan yang lebih kepada mereka." Dengan penuh perasaan yang sangat haru ia memberikan pesan kepada anaknya.


"Di bawah bimbingan ibunda, di bawah bimbingan rakyat, nanda akan melakukannya dengan sepenuh hati." Ia sujud di bawah kaki ibunya. Setelah itu ia kembali menuju Arya Susena, ia akan mencabut keris pusaka yang bernama Keris Sukma Pemilih Raja.


Namun sebelum itu ia memberikan hormat pada Arya Susena yang telah berjasa padanya selama ini.


"Terima kasih aku ucapkan kepadamu, Raden arya susena. Karena engkau telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk memimpin negeri ini. Aku belum pernah menemukan orang yang baik sepertimu, orang yang menjunjung tinggi apa yang telah diamanatkan oleh orang-orang terdahulu."


"Kalau begitu segera cabut keris ini Raden. Kami semua telah mempercayai tampuk pemerintahan ini kepada Raden sebagai pewaris tahta yang sah."


Meskipun pada saat itu ia merasa sangat gugup, namun sebisa mungkin ia melakukannya dengan sepenuh hatinya. Ketika gagang keris itu dipegang oleh Raden Kanigara Lakeswara, suasana saat itu seperti sedang bergetar dengan hebatnya menyambut Raja baru. Mereka semuanya menjadi saksi apa yang telah terjadi pada hari itu, di mana Raden Kanigara Lakeswara telah dinobatkan sebagai raja baru kerajaan Telaga Dewa.


Mereka semua hampir saja tidak berkedip menyaksikan bagaimana perubahan Raden Kanigara Lakeswara yang kini telah berubah menjadi pakaiannya menjadi seorang Raja agung. Dari perubahan penampilan itu, mereka semua telah menangkap bahwa Raden Kanigara Lakeswara memang pemilik tahta yang sah. Tanpa membuat waktu yang lebih lama lagi Arya Susena langsung melangkah beberapa langkah menjauhi Raden Kanigara Lakeswara, saat itu ia memberi hormat pada Raden Kanigara Lakeswara atau yang kini telah berubah gelarnya.


"Hormat hamba Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara." Dengan suara yang sangat keras ia memberi hormat kepada Raja baru.


Mereka semua sempat tercengang melihat apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena yang menaruh hormat kepada Raja baru.


"Hormat hamba Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara." Saat itu Senopati Warsa Jadi yang telah sembuh pada saat itu juga memberi hormat.


"Hormat kami Gusti Prabu." Mereka semua juga ikutan memberi hormat kepada Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara. Kecuali Ratu Aristawati Estiana, Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara yang pada saat itu masih belum percaya dengan apa yang mereka.


"Aku rasa ada yang salah dengan acara ini. Aku yakin mereka semua telah memanipulasi apa yang telah terjadi pada hari ini." Dalam hatinya sangat tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Bagi Raden Kanigara Ganda itu sebuah mimpi yang sangat menyeramkan baginya.

__ADS_1


"Padahal ayahanda Prabu telah mempercayai aku sebagai penerus raja berikutnya." Dalam hati Raden Kanigara Hastungkara tidak bisa menerima apa yang telah ia lihat hari itu.


"Aku sama sekali tidak menduga, jika pemilihan Raja memang seperti itu. Aura raja yang sah, memang terlihat sangat berbeda dari apa yang aku lihat dari kanda Prabu Maharaja kanigara rajendra." Dalam ingatannya tentunya sangat berbeda dari apa yang ia lihat.


"Hadirin yang berbahagia. Kita semua telah memiliki Raja baru. Dan saat ini kita pastikan tidak akan ada yang berani memberontak lagi. Barang siapa yang berani memecah belah kan pemerintahan yang dipimpin oleh Gusti Prabu Maharaja kanigara lakeswara, maka aku arya susena yang akan menghabisinya." Dengan hawa yang membunuh sangat luar biasa ia tunjukkan kepada mereka.


Deg!.


Mereka semua saat itu sangat terkejut dan takut melihat penampilan Arya Susena seperti malaikat maut, dengan sepasang sayap hitam yang membentang menghiasi punggungnya itu.


"Dia ini bukan hanya gila di medan pertempuran, akan tetapi dia akan gila di pertemuan. Rasanya aku tidak percaya jika dia adalah putra dari Gusti Patih arya saka." Dalam hati Senopati Warsa Jadi benar-benar merinding melihat penampilan itu.


"Jika Prabu Maharaja kanigara lakeswara dijaga arya susena, aku yakin raja-raja tetangga tidak akan berani mengusiknya." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.


"Baiklah hadirin yang berbahagia. Hari ini kita akan memutuskan hukuman yang pantas untuk keluarga yang telah ditinggalkan oleh keluarga mendiang kanigara rajendra."


Deg!.


"Kalian tidak berhak melakukan apapun terhadap kami."


"Jika kalian berani melakukan sesuatu terhadap kami, tentu saja kami akan melawan. Tidak akan aku biarkan kalian menyentuh ibundaku."


Suasana pada saat itu memang terlihat sangat tegang, karena mereka semua siaga untuk melakukan pertarungan. Akan tetapi Arya Susena dengan santainya berkata. "Selama ini kami telah merasakan bagaimana rasa sakit kehilangan orang-orang yang kami cintai. Bahkan ketika sebelum kami lahir ke dunia ini, begitu banyak nyawa yang telah dikorbankan oleh orang-orang terdahulu untuk melindungi orang-orang yang dicintainya. Jadi kau tidak perlu mengajarkan kami bagaimana kasih sayang melindungi seorang ibu." Saat itu ia tetap tajam keduanya. "Sebelum kau kehilangan seorang ayah, bahkan kami yang tidak mengerti apapun telah duluan kehilangan ayah kami di saat kami di dalam kandungan kami. Dan begitu kami terlahir ke dunia ini, kami tidak bisa bertemu dengan sosok ayah kami." Betapa hancurnya hatinya saat itu mengetahui kenyataan yang menyakitkan itu. "Jika saja kau mengetahui, bahwa kehilangan yang kami rasakan itu menyakitkan. Tentunya itu adalah akibat perbuatan ayahmu yang merasa dirinya adalah berkuasa atas diri kami. Dan dengan tanpa perasaan dia telah membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa hanya untuk memenuhi hasrat gilanya itu." Suasana hatinya pada saat itu sangat tidak tenang. "Jika kau takut akan kehilangan sosok ibundamu. Apakah kau bisa melihat kami semua bagaimana kami kehilangan sosok ibunda yang sangat kami dambakan selama ini. Kau pikir berapa banyak wanita yang telah tewas ketika pemberontakan yang telah dilakukan oleh ayahandamu?. Begitu banyak darah yang tumpah dari sosok wanita yang kita sebut sebagai ibunda, sosoknya seharusnya memeluk kita dalam kehangatan. Selama ini kami tidak merasakannya, itu semua akibat perbuatan dari ayahandamu yang sangat beringas itu." Dengan nada yang penuh penekanan yang berkata seperti itu. "Kau tidak perlu mengajarkan kami bagaimana caranya melindungi seorang ibu yang sangat kucintai. Bahkan kami kelompok pendekar kegelapan melindungi wanita yang ada di dunia ini untuk mengungkapkan rasa sedih yang ada di hati kami ketika kami kehilangan sosok ibunda. Dan kau bisa membayangkan bagaimana seorang anak menangis ketika ia melihat ibundanya di pantai di depan matanya. Dan kau bisa membayangkan bagaimana rasa sakit itu saat kau merasakan ibundamu terancam saat ini. Jadi kau tidak perlu mengajarkan kepada kami bagaimana seorang anak yang seharusnya melindungi ibundanya." Tanpa sadar saat itu ia hampir saja menangis dengan kata-kata yang telah ia ucapkan. Sorot matanya tertuju kepada ibundanya yang selama ini tidak ia ketahui bagaimana nasibnya.


Suasana pada saat itu seketika menjadi haru, bagi yang merasakan apa yang diucapkan oleh Arya Suseno adalah sebuah kebenaran yang sangat mendalam untuk dirasakan.


"Apakah kau lihat wanita yang ada di sana?."


Mereka semua melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Arya Suseno pada saat itu.


"Beliau adalah seorang wanita yang bergelar nama ibu, nama ibunda. Beliau adalah bukti nyata bagaimana seorang wanita yang selama ini tegar menghadapi siksaan hidup selama bertahun-tahun tinggal di sebuah tempat yang sangat menurutnya itu adalah sebuah neraka dunia." Seketika hatinya saat itu sangat hancur membayangkan bagaimana rasa takut yang dirasakan oleh ibundanya. "Kalian juga lihat bukan?. Bagaimana sosok wanita yang sangat tegar, dari Gusti Ratu arundaya dewani. Sosok ibu yang merelakan harga dirinya menjadi seorang istri raja yang telah merenggut suaminya. Bagaimana bentuk tegar yang dirasakan oleh Gusti Ratu arundaya dewani yang membesarkan anaknya di bawah tekanan seorang suami yang memiliki hati batu." Saat itu ia benar-benar telah meneteskan air mata. "Dan lihatlah bagaimana perjuangan seorang anak yang telah dibesarkan oleh tekanan hidup yang sangat luar biasa di lingkungan istana. Namun dengan tangan kecilnya itu ia mencoba untuk melindungi ibundanya. Jadi kau tidak perlu mengajarkan kepada kami bagaimana caranya melindungi seorang ibunda dari musuh keji. Dan kami tentunya merasakan bagaimana kehilangan seorang ibunda yang sangat kami kasihi." Matanya menatap pemuda-pemuda yang telah kehilangan ibundanya. "Dan lihatlah mereka yang kehilangan sosok ibunda yang sangat mereka cintai selama ini. Apakah menurutmu kami tega membunuh seorang ibunda yang telah melahirkan kami dengan susah payah. Hati kami belum hati batu, yang tidak merasakan bagaimana pedihnya ketika kehilangan sosok ibunda yang sangat kami sayangi. Kami tidak akan melakukan apapun yang akan merugikan kalian. Bersyukurlah kami merasakan bagaimana perasaan kehilangan itu. Jadi kau tidak perlu mengajarkan kami bagaimana cara melindungi seorang ibu." Dengan perasaan yang sesak ia berkata seperti itu.


"Ibunda Ratu tenang saja. Kami semua tidak akan memberikan hukuman mati, atau hukuman buangan terhadap ibunda." Kali ini Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara bersuara. "Bagi kami adalah perdamaian kerajaan ini kami lakukan demi menjaga harkat dan martabat manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah diajarkan oleh sosok seorang ibunda kepada anaknya. Itu semua tergantung ibunda mau berpijak ke mana."

__ADS_1


"Jadi intinya apa lakeswara?!. Kau jangan bertele-tele dalam berbicara.


Mereka semua saat itu geram mendengarkan ucapan itu. Hampir saja mereka mencabut pedang mereka jika tidak diberi aba-aba oleh Arya Susena.


"Sebagai seorang anak yang memiliki hati nurani yang menjunjung tinggi harga diri seorang ibu, kami akan membebaskan hukuman apapun terhadap Gusti Ratu aristawati estiana, namun tidak dengan kalian berdua." Ia tatap tajam Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara. "Sebagai hukuman yang sangat ringan, kalian akan dijadikan sebagai prajurit abdi yang melakukan tugas untuk menjaga keamanan istana ini. Daripada hukum mati kalian berdua, yang nantinya akan menimbulkan kesedihan kepada Gusti Ratu aristawati estiana, maka kami akan memberikan keringanan kepada kalian berdua untuk memberikan pengabdian yang sangat luar biasa kepada istana ini."


Deg!.


Mereka semua tidak menduga jika hukuman seperti itulah yang akan diterima oleh sisa dari keluarga memberontak itu?.


"Apakah hukuman itu tidak terlalu ringan arya?. Bagaimana suatu hari nanti mereka juga menimbulkan bibit pemberontakan?."


"Benar itu arya. Seharusnya kita tidak memberikan hati kepada mereka. Aku sangat yakin setelah ini mereka akan melakukan pemberontakan."


"Benar itu arya. Bunuh saja mereka!. Jangan dikasih hati!."


Namun saat itu Arya Susena memberikan kode kepada mereka agar diam sejenak. "Apakah kalian tidak dengar itu?. Itu adalah hukuman yang ringan yang kami berikan kepada kalian." Ia berusaha untuk menahan dirinya. "Jika aku mau menuruti keinginanku untuk membunuh kalian, maka dengan sangat mudah aku lakukan." Lanjutnya.


"Kau jangan sombong dulu." Raden Kanigara Hastungkara sangat kesal.


"Apakah kalian ingat dengan sosok ini?." Arya Susena saat itu mengubah penampilannya.


Deg!.


"Bukankah kau kasim yang selalu membawa kami berburu di hutan?."


"Bagus, kalau raden ingat."


"Kau."


Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2