
...***...
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan keadaan sekitarnya, saat itu ia melihat bagaimana daun-daun yang menancap di tanah membentuk banyak aliran tenaga dalam yang saling terhubung. Dan apa yang terjadi saat itu?.
Zrr!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan ada aliran petir yang menyengat kakinya, mengalir ke dalam tubuhnya dalam jumlah yang sangat banyak?.
"Kegh!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merintih kesakitan. Akan tetapi ia tidak menyerah begitu saja. "Kurang ajar!." Saat itu ia alirkan tenaga dalamnya ke dalam kerisnya itu, setelah itu tebas semua jarum daun itu, sehingga tanah yang ada disekitarnya rengkah, menerbangkan semua jarum-jarum daun itu?. "Aku tidak akan kalah dengan jurus murahan kau mainkan!."
"Benarkah itu?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarkan suara itu sangat dekat?. Dan ternyata Arya Susena telah berdiri di belakangnya sambil mengarahkan pedang halilintar itu tepat di punggung kiri sang Prabu.
"Biasanya aku langsung membunuh mereka dengan sengatan halilintar dengan tegangan yang sangat dahsyat. Tapi sebelum kau mati, aku berikan kau kesempatan untuk melihat anakmu yang malang itu."
Deg!.
"Kau jangan main-main dengan aku!."
"Jangan bergerak!. Satu langkah saja kau bergerak?. Maka kau benar-benar aku bunuh."
"Kegh!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra meringis sakit, karena punggungnya yang ditusuk Arya Susena dengan pedang itu. Apa lagi kakinya sangat berat untuk digerakkan.
Sementara itu, hampir tengah hari di hutan larangan.
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda rasanya sangat kelelahan. Keduanya telah tergelempang bersama prajurit yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Raka?. Apakah kau masih bisa bertahan?."
"Aku masih bisa bertahan. Tapi tubuhku terasa sangat sakit sekali."
Namun saat itu mereka melihat ada gagak yang mendekati mereka, masuk ke dalam tubuh mereka?. Keduanya menghilang dari hutan Larangan, dan mereka telah berada di dalam halaman istana?.
"Kegh!." Keduanya meringkuk kesakitan.
"Putraku kanigara hastungkara?. Kanigara ganda?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat saat itu?. "Apakah kalian baik-baik saja?."
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sangat terkejut ketika mendengarkan suara Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, dan mereka mencoba untuk duduk.
Deg!.
Keduanya sangat terkejut ketika melihat kondisi Prabu Maharaja Kanigara Rajendra?.
"Ayahanda prabu!."
"Kegh!."
Mereka menjerit kesakitan karena mereka memaksakan diri untuk bangkit?. Akan tetapi pada saat itu tubuh mereka tidak memungkinkan mereka untuk bangkit?. Sehingga mereka kembali meringkuh kesakitan.
"Putraku!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat tidak tega melihat keadaan kedua anaknya yang seperti itu. Namun sangat disayangkan sekali, karena tubuhnya saat ini tidak bisa digerakkan. Tubuhnya sulit digerakkan, seakan-akan ada yang menjerat kakinya agar teta diam ditempat.
"Kau pasti sangat takut bukan?. Jika terjadi sesuatu pada mereka?."
"Diam kau bajingan. Jangan kau sentuh anakku!."
"Hm?. Memangnya kenapa kalau aku berani menyentuh anakmu?. Apakah kau akan membunuh aku?. Wah!. Aku sangat takut dengan ancamanmu gusti prabu."
"Bangsat!. Berani sekali kau mempermainkan-. Kegh!." Kembali ia meringis karena punggung kirinya dengan pedang yang mengalirkan aliran petir.
"Kau tidak usah berkata kasar padaku. Justru aku membawa mereka untuk menyaksikan bagaimana aku membunuh mereka di hadapan mereka. Akan aku tusuk jantungmu ini dengan pedang ini, dan setelah itu aku penggal kepalamu." Ia menyeringai dengan sangat lebarnya. Hawa kemarahan itu membuat ia semakin bersemangat, dan hawa panas yang selalu menyertai dirinya?.
"Kau tidak akan bisa membunuh aku."
"Katakan padaku. Siapa yang mengatakan jika kau tidak bisa dibunuh?."
"Aku mohon padamu, jangan bunuh dia."
Deg!.
Tiba-tiba saja Ratu Aristawati Estiana datang diantara mereka?. Ia terlihat sangat sedih melihat bagaimana kondisi keluarganya saat itu.
"Maaf saja gusti ratu. Hamba tidak bisa menuruti permintaan gusti ratu. Karena banyak nyawa rakyat yang harus ia bayar dengan darahnya."
"Aku mohon!. Jangan bunuh kanda prabu." Ratu Aristawati Estiana memohon penuh dengan belas kasihan.
"Ibunda." Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda mencoba mendekati Ratu Aristawati yang dengan menyeret paksa tubuh mereka yang sangat sakit.
"Oh!. Putraku." Hatinya sangat iba dengan apa yang telah terjadi pada kedua anaknya.
"Aku mohon anak muda. Berikan ampunan pada kami." Dengan perasaan yang sangat sakit, ia mencoba untuk memohon?.
"Jangan rendahkan diri dinda dihadapan pemberontak busuk ini. Kanda tidak sudi meminta-."
__ADS_1
Cekh!.
"Uhukh!."
"Kanda prabu!."
"Ayahanda prabu!."
Mereka semua sangat terkejut, karena Arya Susena menusuk punggung kiri atas prabu Maharaja Kanigara Rajendra. Sehingga membuat mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena.
"Memangnya siapa yang mau mengampunimu?!. Apakah kau tidak dengar suara getaran pedang ini?. Bahwa pedang ini menginginkan kematianmu." Ia cabut dengan paksa pedang itu, hingga menimbulkan rasa sakit.
Brukh!.
Tubuh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra terjatuh ke tanah, tenaganya benar-benar tidak bisa digerakkan lagi.
"Kanda prabu!." Ratu Aristawati Estiana mendekati suaminya yang tergeletak tidak berdaya. Akan tetapi ia tidak bisa mendekat, karena tubuhnya ditotok lewat jarak jauh oleh Arya Susena.
"Maaf saja gusti ratu. Sepertinya aku memiliki ide yang sangat bagus." Arya Susena menyeringai dengan sangat lebarnya. "Aku sangat senang dengan apa yang aku pikirkan saat ini."
"Kau jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Suara Prabu Maharaja Kanigara Rajendra terdengar sangat lemah. "Jika kau berani membunuh dinda aristawati estiana di depan mataku, maka kau yang akan aku bunuh."
"Ibunda." Kedua kakak beradik itu juga sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi pada Ratu Aristawati Estiana.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu rajendra. Tapi sebaliknya." Ia ambil salah satu bulu dari sayapnya, dan saat itu telah berubah menjadi gagak. Namun bukan hanya itu saja, gagak itu masuk ke dalam tubuh Ratu Aristawati Estiana, dan telah mengubahnya menjadi kepribadian yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.
"Dinda!."
"Ibunda."
Mereka sangat terkejut melihat keadaan Ratu Aristawati Estiana yang saat itu sedang memegang pedang hitam yang sangat tajam.
"Kau akan mati di tanganku kanigara rajendra." Ia langkahkan kakinya menuju Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang sudah tidak berdaya lagi.
"Ibunda." Raden Kanigara Rajendra Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda menyeret tubuh mereka untuk menghentikan apa yang akan dilakukan ibunda mereka ada ayahanda mereka?.
"Dinda aristawati estiana." Hatinya sangat sakit, jika ia mati di tangan istri yang sangat ia cintai?.
"Bagaimana rasanya gusti prabu?. Apakah rasanya berdebar-debar seperti orang yang sedang jatuh cinta pada seseorang?."
"Diam kau!." Sang Prabu mencoba untuk menjauh dari Ratu Aristawati Estiana yang saat itu ingin membunuhnya?. Benarkah?.
...***...
...***...
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan keadaan sekitarnya, saat itu ia melihat bagaimana daun-daun yang menancap di tanah membentuk banyak aliran tenaga dalam yang saling terhubung. Dan apa yang terjadi saat itu?.
Zrr!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merasakan ada aliran petir yang menyengat kakinya, mengalir ke dalam tubuhnya dalam jumlah yang sangat banyak?.
"Kegh!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra merintih kesakitan. Akan tetapi ia tidak menyerah begitu saja. "Kurang ajar!." Saat itu ia alirkan tenaga dalamnya ke dalam kerisnya itu, setelah itu tebas semua jarum daun itu, sehingga tanah yang ada disekitarnya rengkah, menerbangkan semua jarum-jarum daun itu?. "Aku tidak akan kalah dengan jurus murahan kau mainkan!."
"Benarkah itu?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarkan suara itu sangat dekat?. Dan ternyata Arya Susena telah berdiri di belakangnya sambil mengarahkan pedang halilintar itu tepat di punggung kiri sang Prabu.
"Biasanya aku langsung membunuh mereka dengan sengatan halilintar dengan tegangan yang sangat dahsyat. Tapi sebelum kau mati, aku berikan kau kesempatan untuk melihat anakmu yang malang itu."
Deg!.
"Kau jangan main-main dengan aku!."
"Jangan bergerak!. Satu langkah saja kau bergerak?. Maka kau benar-benar aku bunuh."
"Kegh!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra meringis sakit, karena punggungnya yang ditusuk Arya Susena dengan pedang itu. Apa lagi kakinya sangat berat untuk digerakkan.
Sementara itu, hampir tengah hari di hutan larangan.
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda rasanya sangat kelelahan. Keduanya telah tergelempang bersama prajurit yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Raka?. Apakah kau masih bisa bertahan?."
"Aku masih bisa bertahan. Tapi tubuhku terasa sangat sakit sekali."
Namun saat itu mereka melihat ada gagak yang mendekati mereka, masuk ke dalam tubuh mereka?. Keduanya menghilang dari hutan Larangan, dan mereka telah berada di dalam halaman istana?.
"Kegh!." Keduanya meringkuk kesakitan.
"Putraku kanigara hastungkara?. Kanigara ganda?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat saat itu?. "Apakah kalian baik-baik saja?."
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sangat terkejut ketika mendengarkan suara Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, dan mereka mencoba untuk duduk.
__ADS_1
Deg!.
Keduanya sangat terkejut ketika melihat kondisi Prabu Maharaja Kanigara Rajendra?.
"Ayahanda prabu!."
"Kegh!."
Mereka menjerit kesakitan karena mereka memaksakan diri untuk bangkit?. Akan tetapi pada saat itu tubuh mereka tidak memungkinkan mereka untuk bangkit?. Sehingga mereka kembali meringkuh kesakitan.
"Putraku!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat tidak tega melihat keadaan kedua anaknya yang seperti itu. Namun sangat disayangkan sekali, karena tubuhnya saat ini tidak bisa digerakkan. Tubuhnya sulit digerakkan, seakan-akan ada yang menjerat kakinya agar teta diam ditempat.
"Kau pasti sangat takut bukan?. Jika terjadi sesuatu pada mereka?."
"Diam kau bajingan. Jangan kau sentuh anakku!."
"Hm?. Memangnya kenapa kalau aku berani menyentuh anakmu?. Apakah kau akan membunuh aku?. Wah!. Aku sangat takut dengan ancamanmu gusti prabu."
"Bangsat!. Berani sekali kau mempermainkan-. Kegh!." Kembali ia meringis karena punggung kirinya dengan pedang yang mengalirkan aliran petir.
"Kau tidak usah berkata kasar padaku. Justru aku membawa mereka untuk menyaksikan bagaimana aku membunuh mereka di hadapan mereka. Akan aku tusuk jantungmu ini dengan pedang ini, dan setelah itu aku penggal kepalamu." Ia menyeringai dengan sangat lebarnya. Hawa kemarahan itu membuat ia semakin bersemangat, dan hawa panas yang selalu menyertai dirinya?.
"Kau tidak akan bisa membunuh aku."
"Katakan padaku. Siapa yang mengatakan jika kau tidak bisa dibunuh?."
"Aku mohon padamu, jangan bunuh dia."
Deg!.
Tiba-tiba saja Ratu Aristawati Estiana datang diantara mereka?. Ia terlihat sangat sedih melihat bagaimana kondisi keluarganya saat itu.
"Maaf saja gusti ratu. Hamba tidak bisa menuruti permintaan gusti ratu. Karena banyak nyawa rakyat yang harus ia bayar dengan darahnya."
"Aku mohon!. Jangan bunuh kanda prabu." Ratu Aristawati Estiana memohon penuh dengan belas kasihan.
"Ibunda." Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda mencoba mendekati Ratu Aristawati yang dengan menyeret paksa tubuh mereka yang sangat sakit.
"Oh!. Putraku." Hatinya sangat iba dengan apa yang telah terjadi pada kedua anaknya.
"Aku mohon anak muda. Berikan ampunan pada kami." Dengan perasaan yang sangat sakit, ia mencoba untuk memohon?.
"Jangan rendahkan diri dinda dihadapan pemberontak busuk ini. Kanda tidak sudi meminta-."
Cekh!.
"Uhukh!."
"Kanda prabu!."
"Ayahanda prabu!."
Mereka semua sangat terkejut, karena Arya Susena menusuk punggung kiri atas prabu Maharaja Kanigara Rajendra. Sehingga membuat mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena.
"Memangnya siapa yang mau mengampunimu?!. Apakah kau tidak dengar suara getaran pedang ini?. Bahwa pedang ini menginginkan kematianmu." Ia cabut dengan paksa pedang itu, hingga menimbulkan rasa sakit.
Brukh!.
Tubuh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra terjatuh ke tanah, tenaganya benar-benar tidak bisa digerakkan lagi.
"Kanda prabu!." Ratu Aristawati Estiana mendekati suaminya yang tergeletak tidak berdaya. Akan tetapi ia tidak bisa mendekat, karena tubuhnya ditotok lewat jarak jauh oleh Arya Susena.
"Maaf saja gusti ratu. Sepertinya aku memiliki ide yang sangat bagus." Arya Susena menyeringai dengan sangat lebarnya. "Aku sangat senang dengan apa yang aku pikirkan saat ini."
"Kau jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Suara Prabu Maharaja Kanigara Rajendra terdengar sangat lemah. "Jika kau berani membunuh dinda aristawati estiana di depan mataku, maka kau yang akan aku bunuh."
"Ibunda." Kedua kakak beradik itu juga sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi pada Ratu Aristawati Estiana.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu rajendra. Tapi sebaliknya." Ia ambil salah satu bulu dari sayapnya, dan saat itu telah berubah menjadi gagak. Namun bukan hanya itu saja, gagak itu masuk ke dalam tubuh Ratu Aristawati Estiana, dan telah mengubahnya menjadi kepribadian yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.
"Dinda!."
"Ibunda."
Mereka sangat terkejut melihat keadaan Ratu Aristawati Estiana yang saat itu sedang memegang pedang hitam yang sangat tajam.
"Kau akan mati di tanganku kanigara rajendra." Ia langkahkan kakinya menuju Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang sudah tidak berdaya lagi.
"Ibunda." Raden Kanigara Rajendra Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda menyeret tubuh mereka untuk menghentikan apa yang akan dilakukan ibunda mereka ada ayahanda mereka?.
"Dinda aristawati estiana." Hatinya sangat sakit, jika ia mati di tangan istri yang sangat ia cintai?.
"Bagaimana rasanya gusti prabu?. Apakah rasanya berdebar-debar seperti orang yang sedang jatuh cinta pada seseorang?."
"Diam kau!." Sang Prabu mencoba untuk menjauh dari Ratu Aristawati Estiana yang saat itu ingin membunuhnya?.
__ADS_1
...***...