
...***...
Sekitar sepuluh orang prajurit yang telah meronda di desa Sumur Tua, mereka hanya ingin memastikan apakah ada rakyat yang masih meminta bantuan dari kelompok pendekar kegelapan atau tidak.
"Hei!. Kalian!." Wanki memanggil beberapa teman-temannya.
"Ada apa kakang?." Ranki salah satu anak buahnya.
"Apakah kalian merasa ada yang aneh dengan desa ini?." Ia melihat sekitarnya.
"Saya rasa tidak ada yang aneh. Memangnya apa yang kakang lihat?." Ia terlihat bingung.
Plak!.
Kepalanya menjadi sasaran dari amukan Wanki yang terlihat sangat ganas.
"Kenapa kakang memukul saya?. Apa salah saya?." Ia meringis sakit.
"Apakah kau tidak lihat?. Tidak ada satupun penduduk di sini!. Tidak mungkin mereka semua pergi ke ladang!." Bentaknya dengan sangat keras. "Bahkan anak-anak dan ibuk-ibuk yang biasanya lalu lalang pun tidak terlihat di sini!." ya, itulah yang ia rasakan saat itu.
Ranki memnag tidak melihat siapapun di sana. "Memang agak aneh kakang." Ia berjalan beberapa meter ke depan, melihat rumah-rumah yang tertutup rapat. "Tidak ada tanda-tanda orang di sini kakang." Ia telah memastikannya.
"Kalau begitu kau panggil lima orang prajurit lainnya untuk memeriksa tempat ini." Wanki mulai merasakan keanehan. "Jangan sampai rakyat di sini melakukan pemberontakan."
"Baik kakang." Ranki pergi dari sana.
Akan tetapi beberapa langkah ia hendak meninggalkan tempat?.
Shukh!.
"Eagkh!."
"Ranki!."
Wanki sangat terkejut, tiba-tiba saja Ranki berteriak dengan sangat keras, ada sebuah belati kecil yang menancap di punggungnya.
"Kakang."
"Ranki!."
Wanki mencoba membantu Ranki untuk duduk, jantungnya berdetak kencang melihat bagaimana darah segar mengalir di punggung Ranki.
"Sakit sekali kakang." Ia meringis sakit.
__ADS_1
"Tenanglah ranki." Wanki mencoba untuk mencabut belati itu.
"Sepertinya ada penyusup di desa ini kakang." entah kenapa ia malah berpikiran seperti itu. "Sebab tidak mungkin rakyat lemah di desa ini berani melakukan ini." Lanjutnya.
"Kalau begitu aku yang akan mencarinya." Wanki membantu Ranki untuk berjalan.
"Aku rasa tidak perlu." Suara seorang wanita yang berbicara?.
Saat itu ada sekelebat bayangan yang melompat ke arah Wanki dan Ranki.
"Kalian tidak akan keluar dari sini dengan selamat." Sorot mata itu seperti seekor HArimau yang telah siap memangsa.
"Hei!. Siapa kalian?. Ada urusan apa kalian kemari?!." Wanki sangat panas melihat itu.
"Urusan kami adalah membunuh kalian yang telah berani masuk ke desa ini dengan menebarkan ketakutan pada desa ini. Kami tidak suka dengan itu." Senyumannya begitu manis untuk ukuran seorang pendekar wanita yang sangat galak.
"Bedebah!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!." Bentaknya. "Apakah kau tidak mengetahui sedang berhadapan dengan siapa?!. Hah?!." Hatinya semkin panas.
"Prajurit bodoh utusan raja kejam. Aku tahu itu." Darsana mendengus kecil.
"Kurang ajar!." Wanki sedikit berjongkok, menurunkan Ranki. "Tenanglah ranki. Tunggu akau sebentar di sini. Biar aku ringkus kedua cecunguk busuk ini." Ia membantu Ranki untuk terbaring di tanah.
"Kakang. Jangan terlalu lama. Aku bisa kehabisan darah." Suaranya hampir saja tidak terdengar.
"Apakah telingamu masih sehat darsana?." Patari tersenyum lebar. "Rasanya aku sangat takut mendengarkan ucapannya. Jika dia ingin mengalahkan aku dalam satu gebrakan?." Ia mendengus kesal.
"Ya, dia memang mengatakan seperti itu tadi. Lantas kau mau apa?. Dia itu prajurit pilihan loh?." Darsana malah membela Wanki?.
"Kalian tidak usah banyak bicara!. Berani sekali kalian merendahkan aku!." Wanki merasa terhina dengan ucapan mereka.
"Lihat?. Dia mulai marah padamu." Darsana mencolek kepala Patari dengan sangat isengnya.
"Kau ini sangat menyebalkan!." Saat itu tangannya melayang ke arah Darsana, akan tetapi pemuda itu menunduk.
Duakh!.
"Eagkh!." Wanki berteriak kesakitan, ia terkena pukulan keras itu.
"Ahaha!. Kau ini memukul ke arah mana?. Aku loh?. Masih depanmu." Darsana malah menertawakan Wanki yang terjungkang setelah mendapatkan pukulan keras itu.
"Diam kau bedebah!. Berai sekali kau menghindari serangan dariku!." Hati Patari sangat panas.
"Kalau kau belum puas?. Maka kau bisa mengejar aku." Darsana sengaja mengatakan itu, dan setelah itu ia langsung mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Ucapanmu itu tidak sesuai dengan apa yang kau katakan." Patari semakin tersulut emosi.
"Kegh!." Wanki meringis sakit, dadanya terasa sangat sakit. "Sial!. Aku hampir saja tidak bisa bernafas." Wanki mengatur tenaga dalamnya.
"Hei!. Jangan main kabur-kabur saja kau!." Patari masih saja mengejar Darsana yang menertawakan dirinya?.
"Kau itu kan pendekar?. Lah kok galak-galak gitu?. Ahaha!." Darsana semakin mengejek.
"Kurang ajar!. Rupanya kau ingin merasakan jurus yang akau rasakan!." Patari memainkan sebuah jurus yang sangat tidak biasa.
"Huwoh!. Kau ini memang sangat menyeramkan sekali nini." Darsana sedikit bergidik ngeri melihat itu.
"Kau rasakan jurus milikku ini." Ia telah sia-siap dengan jurusnya. "Jangan coba-coba untuk menghindari serangan dariku kali ini!." Matanya melotot tajam.
"Memangnya siapa yang takut sama seorang wanita pemarah seperti kau." Darsana terus bergerak, dan ia sampai di depan Wanki.
"Awas saja kalian!. Akan aku balas apa yang telah kalian lakukan padaku." Wanki mulai bisa bergerak, ia hendak menghajar Darsana yang membelakanginya. "Mati lah kau bajingan busuk!." di tangannya telah siap golok yang tajam.
"Serang aku kalau kau bisa." Darsana memanasi Patari yang telah siap-siap melepaskan pukulannya yang dilambari dengan tenaga dalam yang ia miliki.
"Kau rasakan ini!.. Hiyah!." Patari tidak tanggung-tanggung menyerang Darsana.
Namun disaat yang bersamaan, Wanki yang hendak menyerang Darsana dari belakang?.
"Maaf saja. Tubuhku masih mulus, aku tidak mau jadi korban amukan kalian berdua."Dengan santainya ia melompat ke atas. Sehingga ketika Patari melepaskan pukulan batu menghantam pohon itu malah mengenai dada Wanki dengan sangt telak
Duakh!.
"Egakh!." Wanki berteriak dengan sangat keras, dadanya seakan-akan terasa hancur setelah menerima hantaman itu. Ia terguling di tanah dalam keadaan terluka parah.
"Kakang!" Ranki sangat terkejut mendengarkan suara teriakan ketuanya. "Apa yang terjadi padamu kakang?." Dalam keadaan sakit seperti itu ia mencoba untuk bangkit.
"Uhuk!." Wanki muntah darah. "Sial!. Rasanya sangat sakit sekali." Dalam hatinya mengutuk apa yang telah ia alami.
"Huwoh!. Kau benar-benar menghajarnya nini." darsana malah bersorak kegirangan.
"Kenapa kau malah senang?. Kau ini tidak punya hati nurani sedikitpun." Patari masih marah.
Sementara itu Raden Kanigara Lakeswara bergidik ngeri melihat bagaimana cara mereka menghajar prajurit itu.
"Bagaimana menurut raden?. Masih belum puas?." Arya Susena malah tertawa melihat raut wajah Raden Kanigara Lakeswara yang melihat keganasan mereka.
Next.
__ADS_1
...***...