PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 67


__ADS_3

...***...


Di Dalam kawasan yang sangat mewah, saat itu ada dua insan manusia yang sedang bersama. Mereka terlihat sangat serasi walaupun masih muda, dan belum mengerti apa itu cinta dalam hubungan antara wanita dan pria.


"Ibunda mengatakan kepada saya, seorang wanita bukan hanya dilihat dari bentuk kecantikan fisiknya saja. Tapi dilihat dari sikap?. Dari perbuatannya?. Serta dari perasaan yang ia sampaikan kepada orang lain melalui ucapannya." Raden Wardhana Raksa tersenyum lembut ketika menatap wajah cantik Nimas Asih Purnama.


Mereka adalah anak-anak bangsawan yang akan dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Kalangan bangsawan memang seperti itu, selalu menjadikan anak sebagai alat untuk sebuah tujuan yang memenuhi hasrat dunia mereka.


"Betapa beruntungnya Raden memiliki seorang ibunda yang dapat memberikan nasehat yang baik. Kelak saya juga ingin merasakannya."


"Memangnya ibunda nimas tidak ada?."


"Ibunda saya ada. Hanya saja selalu mengajari saya bersikap sopan, duduk tenang layaknya barang pajangan ketika semua mata tertuju padamu."


Raden Wardhana Raksa malah tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Nimas Asih Purnama. Baginya itu terdengar sangat lucu, sehingga ia tidak dapat menahan tawanya.


"Apakah ucapan saya mengandung sebuah lawakan?. Sehingga Raden tertawa puas seperti itu?." Ada perasaan tidak enak yang ia rasakan.


"Ahahaha!. Maaf, jika tawa saya membuat nimas merasa tersinggung." Raden Wardhana Raksa mencoba menghentikan tawanya, dan bahkan mencoba untuk bersikap biasa saja.


Pada saat itu muncul perasaan canggung diantara mereka. Mungkin untuk pertama kalinya bagi mereka?. Makanya mereka tidak tahu harus berbicara seperti apa dalam pertemuan itu. Akan tetapi Raden Wardhana Raksa mencoba untuk mengubah suasana canggung itu menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.


"Oh iya?. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?. Mungkin ada tempat bagus untuk kita singgahi." Dengan senyuman yang ramah, ia mengulur kan tangannya. "Ada beberapa tempat makanan dan belanja yang bagus di kerjaan ini. Apakah nimas mau jalan-jalan dengan saya?."


"Baiklah. Sepertinya tidak ada salahnya menerima uluran baik darimu Raden." Nimas Asih Purnama mencoba melupakan apa yang telah terjadi tadi. "Mungkin benar apa yang ditertawakan Raden Wardhana raksa tadi, bahwa itu memang terdengar lucu. Seorang putri bangsawan hanya akan menjadi pajangan saja." Dalam hatinya sangat bingung dengan itu. Ia dapat merasakan seperti itu, ia memang merasakan bagaimana kehidupannya sebagai seorang putri dari bangsawan yang selalu menjadi pusat perhatian.


...***...


Arya Susena merasa puas setelah berhasil menghajar mereka.


"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini."


"Baik."


Keduanya pergi dengan tunggang langgang, tentu saja mereka sangat takut setelah mereka dipermainkan seperti itu oleh Arya Susena.


"Hufh. Akhirnya berakhir sudah." Dalam hati Darsana menghela nafas dengan yang sangat lelah.


Akan tetapi pada saat itu Arya Susena malah memberi kode pada mereka agar diam di tempat masing-masing. Tentu saja itu membuat mereka merasa bingung dengan sikap Arya Susena yang semakin aneh.


"Hei!. kalian semuanya!. Tidak usah kalian bersembunyi!. Aku dapat melihat keberadaan kalian dengan sangat jelas." Teriak Arya Susena dengan suara yang sangat keras.


Deg!.


Mereka Semua yang mendengarkan itu, tentu saja sangat terkejut termasuk mereka yang mengintip di balik-balik pohon.


"Memangnya dia manggil siapa?. Apakah ada orang yang mengintip kami?." Dalam hati Nismara mulai waspada dengan apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena.


"Baiklah!. Jika kalian masih saja belum mau keluar?. Maka aku akan memaksa kalian untuk keluar!."


Mereka akhirnya keluar, setidaknya ada lima orang yang keluar dari persembunyian mereka. Tentu saja Nismara dan yang lainnya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu. Apakah mereka musuh yang akan menyerang mereka di saat mereka sedang memiliki urusan yang sangat penting?.

__ADS_1


"Bukankah kau pendekar kabut bukit gejolak?."


"Ternyata kau masih ingat denganku arya susena."


"Aku masih ingat, karena kau yang waktu itu mencoba menghentikan aku." Dengan sangat kesalnya ia berkata seperti itu.


"Memangnya kau kenal dengan mereka arya?." Darsana sangat heran. Saat itu mereka mendekati Arya Susena karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


"Mereka semua adalah orang-orang yang pernah berhadapan denganku dalam sebuah pertarungan hidup dan mati."


"Aku tidak ingin ingat lagi dengan masa lalu, tapi kau memang sangat kuat. Aku tidak akan kalah jika kita bertarung suatu hari nanti."


Ternyata mereka semua kenalan Arya Susena yang pernah terlibat pertarungan dengan mereka?.


"Lantas?. Apa yang akan kalian lakukan dengan bertemu di sini?. Aku harap kalian tidak berniat ingin menantang aku."


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut melihat tatapan Arya Susena yang sangat menyeramkan.


"Kami datang ke sini untuk memberitahu kepadamu, bahwa ada seorang pendekar jahat yang sedang mencari pendekar lainnya. Jadi kau harus berhati-hati jika bertemu dengannya."


"Kami telah-."


"Kalian dulu juga orang-orang kejam. Tidak usah banyak bicara." Arya Susena berjalan meninggalkan mereka. "Sebaiknya kalian banyak-banyak berbuat kebaikan."


"Tunggu!. Kalian mau ke mana?."


"Kami memiliki urusan yang lebih penting dari pada mendiskusikan cara membunuh pendekar jahat itu." Setelah berkata seperti itu Arya Susena segera melompat menjauh dari mereka. Tentunya disusul oleh teman-temannya yang sama sekali tidak memiliki urusan apapun dengan kelima pendekar itu.


"Dia masih sembong seperti sebelumnya."


"Tapi dia memang sangat kuat. Aku tidak dapat mengalahkannya, dan bahkan aku hampir saja tewas karena berhadapan dengannya." Ia terlihat menghela nafasnya.


"Kabar yang aku dengar, dia adalah anak dari seorang Patih."


"Pantas saja dia sombong. Ternyata dia adalah seorang anak petinggi istana."


"Tapi ayahandanya tidak memegang pemerintahan era ini. Ayahandanya tewas ketika Raja kejam itu mengambil alih istana."


"Sudahlah, jangan terlalu banyak berdebat."


Setelah it mereka juga pergi meninggalkan tempat itu.


...***...


Di kediaman Dewi Astagina.


Ia baru saja kembali ke rumahnya, ia melihat adik iparnya yang sedang duduk sendirian?.


"Yunda."

__ADS_1


"Sepertinya kandungamu sebentar lagi."


"Yunda benar. Sebentar lagi mau lahiran."


"Kalau begitu aku akan mengatakan pada adi sardala saguna, bahwa dia harus tetap bersamamu. Kondisi yang sekarang sangat rentan, jadi benar-benar dijaga dengan baik."


"Saya tidak apa-apa yunda. Saya hanya tidak ingin membuat kanda sardala saguna terbebani dengan tugasnya yang sedang banyak."


"Kau memang istri yang sangat baik." Dewi Astagina tersenyum lembut. "Terima kasih, karena kau telah memahami adi sardala saguna."


"Dewata Agung yang telah memberikan saya orang yang baik untuk saya. Justru saya yang sangat bersyukur telah diselamatkan oleh kanda sardala saguna." Ia masih ingat dengan apa yang terjadi pada hari itu.


Kembali ke masa lalu.


Pada masa yang mencekam yang seperti itu, ada beberapa desa yang hidup di bawah tekanan pemerintahan yang benar-benar kejam. Saat itu Sardala Saguna diperintahkan untuk memeriksa desa yang masih setia dengan Prabu Maharaja Maheswara. Pada saat itu ada seorang wanita muda yang berlari ketakutan, namun siapa sangka ia malah menabrak Sardala Saguna?.


"Ampun tuan. Sa-saya tidak sengaja." Gadis itu terlihat sangat takut dengan apa yang ia alami sebelumnya.


"Hei!." Teriak dua orang pemuda di belakangnya.


"Tuan. Tolong selamatkan saya." Ia bersembunyi di belakang Sardala Saguna yang saat itu bernama Triasti.


"Tuan. Serahkan gadis itu. Jangan membuat masalah dengan kami." Bentak salah satu dari mereka.


"Memangnya mau kalian apakan gadis ini?."


"Mereka mau menjual saya tuan. Saya mohon selamatkan saya." Gadis itu semakin kuat memeluk kuat Sardala Saguna sambil memohon meminta pertolongan kepadanya.


"Kau tidak usah-."


Deg!.


Kedua pemuda itu sangat terkejut ketika Sardala Saguna memperlihatkan kepada mereka sebuah lencana resmi dari pemerintah. Kedua pemuda itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih, karena tuan telah menolong saya."


"Kenapa mereka melakukan perbuatan kejam itu?."


"Mereka hendak menjual saya untuk dijadikan budak."


"Sungguh keterlaluan sekali atas apa yang telah mereka lakukan kepadamu." Sardala Saguna sangat tidak menduga akan mendapatkan keterangan seperti itu dari seorang wanita yang katanya akan dijual menjadi budak?.


Kembali ke masa ini.


"Seperti itulah pertemuan kami saat itu yunda." Hatinya memang sangat sakit mengingat kejadian itu, akan tetapi setidaknya ia bertemu dengan orang yang sangat baik. Orang yang telah menyelamatkan hidupnya dari kekejaman dunia.


"Syukurlah jika memang adi sardala saguna yang telah menyelamatkanmu."


"Tentu saja saya sangat bersyukur kepada sang hyang Widhi yang telah mempertemukan saya dengan orang yang sangat baik." Dari lubuk hatinya yang paling dalam tentunya ia sangat bahagia bertemu dengan orang baik.


...***...

__ADS_1


__ADS_2