PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 53


__ADS_3

...***...


Darsana sangat terkejut ketika ia melihat kedatangan kedua pendekar wanita itu. Ia melihat ke arah Arya Susena yang sedang tersenyum penuh kemenangan.


"Bagaimana caranya dia mengetahui ini?." Dalam hatinya sangat heran dengan itu. "Kenapa kalian bisa ada di sini?."


"Tadi kami hanya berkeliling sebentar saja. Tapi rasanya di bagian barat sana tidak ada satupun orang di sana." Patari menjawab sambil menunjuk ke arah mana mereka datang tadi.


"Tidak ada orang di sana?." Arya Susena dan Darsana sangat heran dengan ucapan itu.


"Mungkin mereka selama ini bersembunyi di suatu tempat yang aman menurut mereka. Karena mereka takut dimintai pajak yang sangat tinggi."


"Ya, aku rasa itu adalah ucapan yang masuk akal juga."


"Jika dilihat dari situasi yang memang seperti itu. Tapi sangat kejam sekali memeras rakyat dengan cara memintai pajak yang sangat tinggi."


Tentu saja pada saat itu mereka merasa simpati dengan apa yang telah terjadi pada rakyat kerajaan Telaga Dewa. Apakah tidak ada satupun orang yang bisa membantu mereka keluar dari zona menyakitkan itu?. Namun pada saat itu Bajra datang, dan hampir saja membuat mereka tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana penampilan pemuda itu.


"Aku pikir kau tadi adalah orang gila yang tiba-tiba saja datang ke sini. Ahaha!."


"Diam kau darsana!. Akan aku robek mulutmu yang kurang ajar itu."


"Ahaha!. Maafkan aku." Darsana mencoba untuk menahan tawanya pada saat itu.


"Bagaimana mungkin kau mendapat ide untuk menyamar seperti itu?." Nismara bahkan juga ikut tertawa melihat bagaimana penampilan Bajra.


"Aku memang bukan ahli dalam menyamar secara sempurna seperti yang dilakukan oleh arya. Tapi setidaknya untuk mendapatkan informasi aku memiliki banyak cara untuk menyamar." Dengan sangat kesalnya ia mencoba merapikan kembali penampilannya.


"Ya. Memang sih. Tapi ilmu penyamaranmu itu sangat konyol sekali." Patari juga tidak saat menahan tawanya.


"Tertawa puas lah kalian. Selagi kalian bisa tertawa karena apa yang telah aku lakukan." Dengan sangat kesalnya ia berkata seperti itu.


"Ahaha!. Jangan terlalu cepat untuk merajuk."


Darsana, Nismara dan Patari semakin tertawa melihat raut wajah Darsana yang merajuk seperti anak kecil.


"Jadi apa yang telah kau dapatkan dari desa Tebing Tinggi itu?. Apakah kau telah mendapatkan informasi yang sangat menarik dari mereka?."


"Mereka memang berniat untuk melakukan pemberontakan, yang dipimpin langsung oleh Senopati jenar tapa."


"Lantas rencana seperti apa yang akan mereka lakukan?. Sehingga mereka percaya diri sekali untuk melakukan pemberontakan itu?."


"Dengan menggunakan jurus serap jiwa. Mereka rencananya akan melakukan pemberontakan besok malam."


"Kalau begitu kita tidak perlu menunggu besok malam. Langsung saja kita hajar mereka hari ini juga."


"Tapi jumlah mereka saat ini lumayan banyak di desa itu. Apakah kau yakin ingin menyerang mereka?."


"Sebagai pendekar kegelapan?. Apakah kau tidak yakin dengan kemampuanmu?."


"Heh!. Tentu saja aku sangat yakin dengan kemampuanku sendiri."


Ya. Setelah itu mereka langsung bergerak menuju desa Tebing Tinggi untuk melakukan penyerbuan. Mereka adalah pendekar kegelapan yang akan membunuh siapa saja tanpa belas kasihan jika itu mengancam keselamatan rakyat. Apakah mereka benar-benar akan melakukan itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di istana.


Tiga orang wanita Agung sedang bersama saat itu. Ketiga wanita cantik yang masing-masing telah memiliki anak, dan saat ini mereka sama-sama telah kehilangan suami mereka.


"Kadang takdir kejam telah mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini. Meskipun sebelumnya kita sama-sama saling mengenal satu sama lain."


"Yunda benar. Dulu sebelum kita berpecah belah karena pasangan kita. Tentunya kita pernah berkumpul bersama seperti ini."


"Rasanya takdir memang sangat kejam, sehingga mempertemukan kita kembali dalam keadaan seperti ini."


Ratu Arundaya Dewani, Ratu Aristawati Estiana dan Dewi Astagina yang pada saat itu sedang berkumpul setelah sekian lama tidak bersama?. Tentunya mereka merasakan bagaimana nasib mereka saat itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan kondisi kita yang sekarang?. Kita sama-sama kehilangan sosok suami yang sangat kita cintai. Apakah lantas kita akan melakukan perpecahan hanya karena hal yang seperti itu?." Dewi Astagina yang memberikan pertanyaan seperti itu kepada keduanya.


"Aku tidak mengerti dengan urusan pemerintahan, namun yang saat ini kita telah mengalami dan merasakan bagaimana kehilangan orang-orang yang kita cintai. Aku rasa tidak ada salahnya jika kita berbaikan saja."


"Ya. Mari kita besarkan anak-anak kita di tempat ini. Jangan biarkan mereka menjadi korban keserakahan perebutan tahta." Ratu Aristawati Estiana sangat setuju dengan itu.


"Kalau begitu sama wanita yang memiliki putra, kita harus dengan hati-hati memberikan penjelasan kepada mereka."


"Aku harap mereka mengerti dengan situasinya sekarang. Jangan ada lagi darah air mata yang tumpah di kerajaan ini hanya karena perebutan tahta."


"Tentu saja kita berharap seperti itu. Seperti yang telah dikatakan oleh nanda arya susena. Jika kita merasa sakit hati, atas kehilangan orang-orang yang kita cintai. Membunuh seribu pasukan yang telah melakukan pembunuhan itu pun juga tidak akan membangkitkan orang yang telah tiada. Jadi yang kita lakukan selama ini hanyalah terjebak dalam lingkaran balas dendam yang tidak ada ujungnya itu."


"Ya, aku rasa ini saatnya kita keluar dari zona berbahaya itu. Sekarang kita tata kembali bagaimana hubungan kita yang telah retak ini menyatu dengan sangat baik."


Mereka saat itu benar-benar mendiskusikan bagaimana nasib mereka kedepannya. Apakah peran mereka sebagai seorang ibu dapat membantu perpecahan yang ada di kerajaan nantinya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...

__ADS_1


Lurah Jengir sepertinya masih belum terima dengan apa yang telah dilakukan oleh dua orang pendekar kegelapan yang telah membuat harga dirinya terhina. Saat itu ia sengaja menemui dua orang pendekar yang katanya memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.


"Permintaan apa yang kau inginkan dari kami?. Apakah kau memiliki kepengan uang yang sangat banyak sehingga keberani menghadap kami?."


"Jika masalah uang kalian tidak perlu khawatir. Aku tentunya memiliki banyak ketingan uang kita kalian mau. Tapi kalian harus memenuhi permintaanku."


"Katakan saja permintaan apa yang kau inginkan?. Tidak usah terlalu panjang lebar dalam menjelaskan urusanmu."


"Aku ingin kalian membunuh seorang pendekar kegelapan yang berada di desa ini."


Deg!.


Keduanya saat itu sangat terkejut dengan apa yang mereka.


"Untuk apa kau ingin menginginkan kematian pendekar kegelapan itu?. Apakah kau tidak mendengarkan kabar angin segar dari mereka?."


"Tentu saja aku mengetahui mereka. Tapi aku sangat sakit hati dengan apa yang telah mereka lakukan kepadaku tadi."


"Jadi mereka berada di desa ini?." Kedua pendekar itu juga terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh lurah Jengir.


"Katakan yang sejujurnya. Tidak mungkin mereka berada di sini, bukan?."


"Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sejujurnya." Lurah Jengir berusaha untuk meyakinkan keduanya bahwa apa yang telah ia katakan itu adalah sebuah fakta.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?."


"Tentu saja kita harus segera membunuhnya."


"Kalau begitu mari kita cari mereka."


"Ya."


Setelah itu mereka pergi dari sana dengan suasana hati yang dipenuhi dengan dendam masa lalu yang sangat menyakitkan.


"Hei!. Tunggu!. Aku belum selesai berbicara."


"Kau tidak usah banyak bicara. Kami akan membunuh mereka untukmu. Tapi jika kau berbohong dengan masalah kepengen itu?. Maka kau yang akan aku bunuh." Itulah ancaman yang ia lontarkan pada saat itu.


Deg!.


Lurah Jengir sangat terkejut dengan apa yang ia. "Para pendekar memang sangat kurang ajar. Mereka sangat senang sekali mengancam orang lain hanya karena memiliki ilmu kanuragan yang tinggi." Dengan perasaan yang sangat kesal ia berkata seperti itu. "Jika saja aku mampu melakukan itu?. Aku yang akan membunuh kalian para pendekar busuk." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat gelisah karena ia takut, jika kelompok pendekar kegelapan akan mencarinya.


...***...


Di sisi lainnya.


"Aku dapat merasakannya. Aku dapat merasakan hawa keberadaan orang itu lebih kental daripada hawa orang-orang sekitarnya." Dalam hatinya dapat merasakan bagaimana kekuatan tenaga dalam seseorang yang lebih kuat dari orang-orang sekitarnya. "Arya susena, kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan kepadaku." Ingatannya kembali kepada pertarungan dengan Arya Susena kala itu.


Kembali ke masa itu.


Pertarungan yang sangat dahsyat dilakukan oleh dua orang pendekar muda. Pertarungan yang membuat bolu kodok merinding melihat itu. Dengan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki?. Keduanya benar-benar membuat situasi di lokasi itu menjadi tempat yang lebih menyeramkan.


Arya Susena dengan jurus pedang halilintar miliknya, sedangkan musuh menggunakan panah petir yang memiliki aliran yang sama dengan milik Arya Susena. Benturan kekuatan tenaga dalam yang mereka lakukan saat itu menghasilkan kilatan petir yang sangat dahsyat. Kilatan petir yang menyambar-nyambar di sekitar itu, suara gluduk yang dihasilkan dari benturan kekuatan itu membuat jantung ingin lepas dari tempatnya. Keduanya telah mengerahkan kekuatan tenaga dalam mereka dengan jumlah yang sangat banyak. Namun saat itu mereka mengambil nafas untuk menyeimbangkan tubuh mereka supaya tidak mengalami kelelahan.


"Kurang ajar kau!. Ternyata ilmu tenaga dalam lumayan tinggi dari apa yang aku."


"Kau tidak usah banyak berbicara. Aku sama sekali tidak suka dengan orang yang banyak bicara." Saat itu Arya Susena memainkan sebuah jurus yang terlihat sangat merusak.


"Ternyata kau memiliki jurus jari penusuk Sukma."


"Heh!. Jurus inilah yang akan aku gunakan untuk mencolok kedua matamu itu supaya melihat kebenaran."


"Kalau kau berani majulah."


Saat itu Arya Suseno benar-benar maju, ia hadapi dengan beberapa pukulan ringan dan juga tendangan untuk membuat musuhnya kewalahan. Namun kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Arya Susena sangat dahsyat, sehingga yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah bertahan dari serangan-serangan yang bertenaga itu. Hingga pada saat itu Arya Susena berhasil memberikan sebuah tendangan tepat di depan wajah pemuda itu.


"Hyah!." Pemuda itu berhasil menangkisnya dengan kedua tangannya yang menyilang ke depan. Akan tetapi saat disayangkan sekali karena tendangan itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat kuat, hingga pemuda itu terjajar dan tersungkur ke tanah.


Namun bukan hanya itu saja, Arya Susena pada saat itu memanfaatkan kelengahan dari pemuda itu. Saat itu pula ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya tepat di jari telunjuk dan jari tengahnya itu, ia tusukkan kedua jarinya itu ke mata pemuda itu sehingga terdengar suara teriakan yang sangat keras.


"Keghakh!."


Pemuda itu meringkuk kesakitan ketika matanya mengalami luka yang sangat parah. Darah keluar begitu saja dari matanya yang telah ditusuk menggunakan jurus jari penusuk sukma.


"Mataku!. Mataku sakit sekali!. Eagkh!." Jeritan kepedihan terdengar begitu saja dari mulut pemuda itu. Suasana hatinya sangat panik ketika apa yang ia rasakan saat itu sangat nyata.


Brukh!.


Arya Susena sedikit menjatuhkan tubuhnya ke tanah, karena ia mengalami kelelahan yang sangat luar biasa. Tenaga dalamnya telah terkuras ketika berhadapan dengan pemuda itu.


Kembali ke masa ini.


Itulah yang diingat oleh pemuda itu, ingatan yang sangat pahit ketika ia berhadapan dengan seorang pendekar yang memiliki ilmu tenaga dalam yang cukup tinggi.


Di sisi lainnya.

__ADS_1


Ada juga seorang pendekar muda yang mengingat bagaimana pertarungannya dengan Arya Susena.


"Arya susena. Ketua dari pendekar kegelapan?. Nama itu akan aku singkirkan dari muka bumi ini. Karena aku sangat tidak terima dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku tiga tahun yang lalu." Ingatannya sangat kuat dengan apa yang telah terjadi kala itu. "Pertarungan yang sangat dahsyat yang telah terjadi di antara kami pada saat itu telah membuat aku kehilangan harga diriku." Hatinya kembali membara. "Aku tidak akan mengampunimu. Meskipun kabar yang aku dengar kau menjadi pendekar kegelapan sekalipun. Aku tidak akan pernah mengampuni mu." Dalam suasana hati yang sangat membara ia melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Arya Susena.


...***...


Sementara itu orang yang mereka cari saat itu sedang berada di gerbang benteng pada pemberontak. Saat itu mereka mengamati benteng yang terbuat dari kayu besar yang mengelilingi sebuah markas.


"Jadi mereka berada di sini?."


"Ya. Aku telah berhasil masuk tadi."


"Kalau begitu kita juga akan masuk."


"Masuk secara diam-diam?."


"Tidak perlu secara diam-diam. Kita ini adalah pendekar. Jadi langsung saja kita masuk dengan membuat keributan."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah berkata seperti itu mereka berlima langsung masuk dengan cara melompati benteng yang tingginya kira-kira 2 meter.


Deg!.


Saat itu mereka semua sangat terkejut ketika ada lima orang yang masuk dengan cara melompati benteng yang telah mereka buat.


"Kurang ajar!. Siapa kalian berani memasuki wilayah ini?."


Serda, salah satu anggota yang memiliki kemampuan cukup tinggi telah menegur mereka semua. Sekitar seratus orang pemuda yang berada di sana?. Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu. Tentunya pada saat itu mereka mulai waspada, karena mereka tidak menduga akan mendapatkan tamu yang tidak diundang sama sekali.


"Panggil Gusti Senopati. Sepertinya kita kedatangan tamu yang akan mengganggu kita."


Salah satu dari mereka masuk ke dalam pondok yang berada di tempat itu.


"Tidak perlu banyak basa-basi lagi. Segera saja kita hajar mereka."


"Ya. Mari kita mulai saja tugas kita."


Saat itu Darsana, Patari, Bajra, dan Nismara mulai menyerang duluan. Saat itu suasana menjadi kacau balau karena pertarungan itu. Mereka semua saling bertarung saling menyerang satu sama lain, sedangkan Arya Susena sedang mengamati pondok kecil yang berada di dalam benteng itu.


"Bagaimana kalau aku berikan kejutan kepada mereka?." Dalam hatinya merasa tertarik ingin melakukan sesuatu. Ia langkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pondok itu dengan menggunakan jurus malih rupa. Kali ini siapa yang akan ia tiru?.


Sementara itu di dalam pondok.


"Lapor Gusti."


"Ada apa?. Cepat katakan."


"Di depan ada keributan Gusti. Sepertinya ada lima orang pendekar yang ingin berbuat kerusuhan di dalam benteng kita Gusti."


"Kurang ajar!." Senopati Jenar Tapa sangat kesal dengan apa yang ia. Setelah itu ia melangkah meninggalkan pondok?.


Deg!.


Namun saat itu mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu?.


"Oh?. Gusti prabu?."


Mereka semua saat itu sangat terkejut melihat kedatangan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra?. Jadi Arya Susena telah mengubah penampilan yang menjadi Prabu Maharaja Kanigara Rajendra?.


"Hormat kami Gusti Prabu." Mereka semua memberi hormat kepadanya.


"Bukankah kabar yang kami dengar?. Bahwa Gusti prabu telah tewas dalam penyerangan yang telah dilakukan oleh pendekar kegelapan?." Senopati Jenar Tapa terlihat sangat bingung dengan apa yang ada di hadapannya saat itu. "Bahkan kabar itu telah tersebar di pelosok negeri ini Gusti."


"Apakah kau percaya begitu saja dengan berita yang beredar itu?." Dengan nada yang sedikit tinggi ia berkata seperti itu.


"Oh!. Tidak Gusti Prabu. Hamba sangat tidak percaya dengan berita yang beredar itu. Hamba percaya aja Kak Gusti Prabu adalah orang yang sangat kuat. Jadi tidak mungkin bagi mereka untuk mengalahkan Gusti Prabu." Itulah yang ia yakini saat itu.


"Bagus, kalau kau masih tidak percaya."


"Lalu kemana Gusti selama ini?. Bukankah tahta pemerintahan telah diambil oleh anak Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara?. Bagaimana mungkin Gusti menyerahkan tahta begitu saja kepada anak kemarin sore itu?." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi.


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika dia telah mengalahkan aku?."


"Tentu saja hamba ingin merebut kembali tahta itu Gusti. Hampa tidak rela jika ada orang yang memerintah negeri ini selain Gusti Prabu." Ia kembali memberi hormat. "Hamba akan menggulingkan tahta itu dengan rencana yang telah hamba buat. Hamba telah melakukan persiapan yang sangat matang untuk menyerbu istana. Jika Gusti Prabu berkenan maka gosip Prabu bisa ikut dengan kami untuk merebut kembali tahta itu.


Namun saat itu apa yang terjadi?. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menodongkan sebilah pedang yang sangat tajam, dan sorot matanya saat itu sangat berbeda.


"Apa artinya ini Gusti Prabu?. Apakah Gusti Prabu tidak ingin merebut kembali tahta itu?."


Mereka semua merasa heran melihat apa yang telah dilakukan oleh Prabu Maharaja Kanigara Rajendra?.


"Aku yang akan membunuh kalian jika kalian berani melakukan pemberontakan."


Deg!.

__ADS_1


Tentu saja mereka semakin terkejut dengan apa yang diucapkan Raja mereka.


...***...


__ADS_2