
...****...
Pagi telah menyapa mereka semua, dan saat itu mereka semua sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah desa yang tak jauh dari hutan larangan.
Deg!.
Raden Kanigara Lakeswara dapat merasakannya, ada seseorang yang dari tadi terus memperhatikannya.
"Raden akan terbiasa nantinya. Mereka hanya menyapa raden saja."
"Raden tenang saja. Sebab pawangnya arya susena, jadi mereka tidak akan berani menempel pada raden."
Deg!.
"Ucapanmu itu membuat aku semakin takut darsana."
"Ahaha!. Ucapan hamba biasa saja."
"Sudahlah. Jangan membuat raden lakeswara tidak nyaman."
Duakh!.
Patari memukul kepala Darsana dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan gadis gendeng!."
"Aku tidak takut dengan mata lebarmu itu. Jika kau ingin bermain-main dengan aku. Maka kejar lah aku." Ia melompat ke atas pohon dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
"Kau jangan pengecut seperti itu gadis gendeng!. Akan aku kejar kau!." Darsana juga melompat mengejar Patari yang terlihat sangat bersemangat.
"Raden tenang saja. Mereka tidak berkelahi yang sesungguhnya." Arya Susena hampir saja tertawa melihat ke arah Raden Kanigara Lakeswara.
"Memangnya apa yang mereka lakukan?." Bingung?.
"Artinya tak jauh dari sini ada beberapa orang prajurit yang menjaga kawasan ini. Karena itulah mereka ingin memeriksa dengan pasti."
"Bisa seperti itu ya?." Raden Kanigara Lakeswara saat itu sangat terkesan.
"Kalian periksa sekitar, apakah ada anak-anak, wanita, orang tua rentan?. Jika ada maka bawa ke tempat aman, sebelum kita mengusir mereka semua."
Tanpa banyak bercerita panjang lebar Nismara dan Bajra bergerak dengan sangat cepat.
"Raden boleh melihat bagaimana mereka bergerak. Tapi jangan lupa untuk menyamar." Arya Susena langsung berubah wujud menjadi pemuda biasa?.
__ADS_1
"Seberapa besar ilmu kanuragan yang ia miliki?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara sangat heran dengan itu.
"Akan berbahaya jika mereka melihat raden masih hidup, sedangkan kabar yang beredar raden telah meninggal."
"Baiklah kalau begitu."
Raden Kanigara Lakeswara langsung mengubah penampilannya. Tentunya ia juga ingin melihat bagaimana kelompok pendekar kegelapan beraksi.
...***...
Istana.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra mendatangi Ratu Arundaya Dewani.
"Tidak usah dinda menangisi yang telah pergi." Ia berdiri tepat di depan Ratu Arundaya Dewani.
"Kanda prabu tidak akan pernah merasakan bagaimana saya melalui semua ini dibawah tekanan kanda prabu." Menahan perasaan sesak di dadanya.
"Kau jangan berkata seperti itu dinda. Tidak baik kalau kau melawan padaku." Tersenyum kecil, kesabarannya masih aman.
"Apakah kanda juga akan membunuh saya?. Sama seperti kanda membunuh kanda prabu maheswara?. Membunuh putra saya nanda lakeswara?." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, serta hatinya yang sangat sakit luar biasa. "Kenapa tidak bunuh saja saya sekalian?. Supaya tidak ada lagi wanita yang bernama arundaya dewani di dunia ini. Jika hanya menyimpan rasa sakit." Ada perasaan sakit, dan amarah yang ia sampaikan.
Hatinya sangat hancur ketika mengatakan kalimat itu. Ia tidak memikirkan lagi apa akibat dari ucapannya itu nantinya akan membuatnya kehilangan nyawanya?.
"Aku bahkan akan menguji rasa cinta yang kau miliki." Ia memalingkan wajahnya. "Kau mengatakan padaku, jika kau mencintai aku?. Tapi kau malah membuat aku menderita seperti ini." Nafasnya terlihat naik turun karena menahan emosi yang bergejolak.
"Tentunya aku sangat mencintaimu dinda." Ia genggam tangan Ratu Arundaya Dewani dengan sangat lembut. "Karena kau mencintaimu, makanya aku ingin melihat bagaimana kau menderita. Merasakan bagaimana perasaanku saat kau lebih memilih kanda maheswara dibandingkan aku yang saat itu hanya sebatas senopati?." Entah kenapa perasaannya sangat sesak, hingga ia tidak bisa lupa dengan bayangan yang ia rasakan.
Tidak ada tanggapan dari Ratu Arundaya Dewani, karena ia telah mengetahui dengan sangat jelas. "Demi dewata yang agung. Ternyata ini adalah dendam masa lalu yang sangat merugikan." Dalam hatinya sangat miris dengan apa yang telah terjadi selama ini. "Oh kanda prabu maheswara, nanda lakeswara. Berikan aku kekuatan agar akau tidak mengambil jalan yang salah untuk menyusul kalian nantinya." Dalam hatinya sudah sangat putus asa.
...***...
Sementara itu di sisi lain?.
Raden Kanigara Ganda dan Raden Kanigara Hastungkara saat itu berada di kota raja sambil melihat pemandangan kota raja.
"Semua orang yang melihat kita langsung menunduk raka."
"Kau benar rayi. Aku yakin mereka sangat takut dengan kekuasaan yang ayahanda miliki sehingga mereka menaruh hormat pada kita."
Keduanya turun dari kuda yang mereka tunggangi tadi. Tentunya mereka keluar dengan beberapa orang prajurit serta satu orang penasihat yang mungkin akan memberi arahan pada mereka nantinya.
"Paman triasti."
__ADS_1
"Hamba raden."
"Apakah tempat makan yang enak di kota raja?. Kebetulan kita berada di pasar kota raja."
"Ada raden."
"Kalau begitu tunjukkan pada kami paman."
"Sandika raden. Kalau gitu ikut mari ikuti hamba."
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda hanya ikut saja, karena mereka ingin merasakan makan di luar istana.
"Raden kejam itu datang, apakah kita perlu melakukan sesuatu pada keduanya?."
"Kau jangan coba-coba uji nyali. Aku tahu kau hidup miskin, tapi jangan bunuh diri seperti itu."
Plak!.
Ia geplak pipi temannya itu dengan sangat kesalnya, sehingga temannya itu meringis sakit.
"Nyali orang miskin kadang lebih kuat dari pada seorang pejabat yang takut mati. Mereka takut mati karena meninggalkan harta."
"Karena kita miskin, makanya jangan meninggalkan beban hutang pada keluarga. Kasihan kalau yang datang prajurit istana, mereka bukan mati jasad karena tusukan pedang. Tapi mati hati karena sikap kejam dari perbuatan serta ucapan mereka yang tidak manusiawi."
Kedua pemuda itu mengatakan apa yang mereka rasakan saat itu, sungguh mereka adalah rakyat yang selama ini hanya menginginkan keadilan.
Di Desa Sumur Tua yang sangat dekat dengan hutan larangan.
"Kami ada sedikit rezeki, jika paman dan bibi mau datang saja ke sumber sumur tua."
"Benarkah itu nak?. Kalian tidak berbohong, kan?."
"Kami akan dikutuk dewata agung, jika kami berani menipu kalian."
"Kalau begitu akan kami antar paman dan juga bibi, supaya percaya dengan apa yang telah kami katakan ini."
Dari jarak jauh Raden Kanigara Lakeswara memperhatikan apa yang telah dilakukan Nismara dan Bajra.
"Kenapa kalian mau melakukan ini?."
"Raden sendiri yang harus menemukan jawaban itu. Sebab raden adalah calon raja masa depan yang akan memegang semua harapan rakyat." Hanya seperti itu jawaban dari Arya Susena.
Next.
__ADS_1
...***...