
...***...
Saat itu mereka semua telah berkumpul. Tentunya mereka akan menyusun rencana yang sangat matung, untuk persiapan yang lebih lanjut. Mereka tentunya harus mempersiapkan itu semua dengan sangat matang, agar tidak mundur di tengah jalan.
"Mohon maaf semuanya. Bukan saya yang muda ini tidak menghargai yang lebih tinggi dari saya untuk berbicara. Izinkan saya untuk menyampaikan rencana saya sebagai ketua muda dari kelompok pendekar kegelapan yang selama ini telah memantau istana." Arya Susena memberi hormat. "Untuk pertama, saya ingin memperkenalkan raden kanigara lakeswara pada kita semua."
"Saya kanigara lakeswara." Ia memberi hormat.
Mereka saat itu memperhatikan dengan sangat baik, dan mereka semua tidak menduga akan melihat secara langsung wajah Raden Kanigara Lakeswara.
"Memang sangat mirip dengan mendiang Gusti Prabu Maharaja Kanigara Maheswara."
"Ya, wajah itu memang sangat mirip sekali."
"Terima kasih, atas kesetiaan saudara-saudara terhadap mendiang ayahanda prabu Maharaja Kanigara Maheswara." Raden Kanigara Lakeswara kembali memberi hormat. "Pada awalnya memang saya tidak mengetahui sama sekali, jika saya adalah putra kandung dari prabu maharaja kanigara maheswara." Saat itu ia melihat ke arah Arya Susena. "Namun saat itu saya diberitahukan pendekar arya susena, saya tidak akan pernah mengetahui kebenaran itu sebelumnya." Dari pancaran matanya terlihat sangat jelas, ada kesedihan yang ia simpan saat itu.
Mereka semua hanya menyimak saja, karena mereka juga tidak akan menduga, jika akan terjadi seperti itu.
"Karena itulah, kami semua berniat mengembalikan tahta yang sah, pada raden."
"Benar yang dikatakan arya. Kami tidak ingin dipimpin oleh raja kejam seperti prabu Maharaja Kanigara Rajendra. Beliau adalah raja yang sangat kejam, tidak memiliki hati nurani untuk menilai harga diri manusia."
Raden Kanigara Lakeswara dapat melihat secara langsung bagaimana kesedihan yang mereka rasakan. Hatinya bergetar sakit membayangkan bagaimana mereka selama ini yang hidup di dalam sebuah tekanan yang sangat luar biasa yang dapat menghanguskan batin.
"Dalam kesempatan yang berharga ini kita semua telah sepakat, bahwa kita akan mengambil alih pemerintahan, dan tentunya kita akan mengembalikan kepada yang lebih berhak." Ia menatap mereka semua. "Tentunya sebagai rakyat yang setia pada raja yang sah, kita memiliki kewajiban untuk mengembalikan tahta itu, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan selama ini." Lanjutnya.
"Arya. Apakah kau telah menyiapkan jalur aman bagi kita semua untuk masuk Istana?."
"Betul itu arya. Jangan sampai rencana kita gagal karena kita diketahui oleh pihak istana."
__ADS_1
"Masalah itu jangan cemas. Saya telah menyiapkan semuanya. Apalagi setengah dari prajurit itu, akan bergerak atas perintah raden kamgara lakeswara."
Deg!.
Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut mendengarkan rey. "Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya?!. Sebenarnya apa yang telah ia rencanakan?. Dia ini sama sekali tidak bisa aku tebak." Dalam hatinya merasa sangat bingung.
"Bagus kalau begitu arya. Kami akan menyiapkan pasukan dari golongan pendekar, untuk menghadang para senopati, dharmapati."
"Terima kasih paman baruh tanda."
"Apakah kita akan menyerang istana dengan kekuatan prajurit istana?. Kita akan akan kalah dalam jumlah, meskipun setengah dari prajurit telah berpihak pada raden kanigara lakeswara. Saya pernah memimpin pasukan rahasia ketika menyerang kerajaan teluk pandan."
"Paman jande ingaspati tidak perlu cemas." Arya Susena tersenyum ramah. "Tujuan utama kita bukan berperang dengan para prajurit istana yang mungkin memiliki jumlah yang paling banyak. Tapi tujuan utama kita adalah mengarahkan para para prajurit meninggalkan istana, walaupun tidak sepenuhnya meninggalkan istana." Arya Susena telah menyiapkan sebuah gambaran peta mengenai lokasi istana. "Kita akan mengiringi para prajurit dengan menggunakan jurus malih rupa. Tentunya para prajurit istana akan mengikuti perintah pemimpin mereka, kan?."
Mereka semua benar-benar menyimak apa yang telah disampaikan Arya Susena. Mereka tidak pernah mendengarkan penjelasan perang yang seperti itu, bahkan warsa jadi yang merupakan senopati perang yang sangat sepuh diantara mereka.
"Setengah dari prajurit itu tentunya adalah prajurit yang telah menyatakan setia pada raden kanigara lakeswara. Sehingga kita tidak memiliki masalah yang sangat sulit untuk keamanan istana. Mereka hanya berjaga-jaga saja jika ada prajurit lainnya yang merasa ganjal dengan kondisi istana saat itu." Lanjutnya. "Sementara itu, kita masuk melalui jalur ini. Tentunya dengan menyamar menjadi prajurit istana. Supaya kita lebih mudah berbaur dengan yang lainnya. Di saat itulah kita bisa langsung bertemu dengan kanigara rajendra yang biasanya akan berkumpul bersama anak-anaknya."
"Tapi bagaimana caranya kau bisa masuk ke dalam istana arya?. Hingga saat ini kau masih kembali dengan keadaan hidup."
"Benar itu arya. Bagaimana caranya kau masuk ke istana tanpa diketahui prabu maharaja kanigara rajendra?."
"Saya memiliki ilmu jurus malih rupa yang sangat sempurna yang merupakan jurus dari mendiang ayahanda arya saka. Dengan itu saya bisa saja mengubah diri saya menjadi apa saja yang saya inginkan."
"Ya, kau benar. Mendiang gusti patih arya saka adalah pengguna jurus malih rupa yang sangat sempurna. Bahkan beliau bisa merubah dirinya menjadi cicak sekalipun untuk mengelabui orang lain."
Dalam pertemuan itu pula mereka membahas yang lainnya. Mereka akan bergerak dalam waktu satu purnama ke depannya. Tentunya mereka akan membutuhkan waktu, karena mereka tidak ingin bersikap ceroboh. Mereka tidak ingin kehilangan orang-orang yang berharga bagi mereka dalam perang itu.
...***...
__ADS_1
Di Istana.
Ratu Aristawati Estiana saat itu terlihat sedang terburu-buru mendatangi Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
"Kanda prabu."
"Dinda aristwati?. Ada apa dinda?."
"Ada hal yang sangat penting yang hendak dinda sampaikan pada kanda."
"Kalau begitu duduklah." Prabu Kanigara Rajendra mempersilahkan istinya untuk duduk. "Memangnya apa yang telah terjadi?. Sehingga dinda tampak gelisah seperti itu?."
"Ini masalah rayi arundaya dewani."
"Kenapa?. Apa yang telah terjadi padanya?."
"Emban mengadu, jika kerap melihat rayi arundaya sedang berhalusinasi kanda."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut mendengarnya.
"Bagaimana mungkin itu terjadi?."
"Dinda rasa itu adalah bentuk gangguan tekanan batin yang sudah tidak dapat ia tahan lagi kanda. Sehingga ia berhalusinasi."
"Kalau begitu akan kanda pastikan sendiri. Akan kanda periksa, apakah dinda arundaya dewani memang seperti itu."
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra segera pergi dari ruangan itu. Tentunya ia ingin memastikan, apakah yang dikatakan oleh Ratu Aristawati Estiana itu benar atau tidak.
__ADS_1
"Rasanya tidak mungkin." Dalam hatinya masih ragu dengan apa yang telah disampaikan Ratu Aristawati Estiana padanya.
...***...