
...***...
Pertarungan yang sangat sengit sedang terjadi antara Arya Susena dengan Jalak Suren. Saat itu mereka benar-benar menggunakan tenaga dalam mereka untuk menjatuhkan musuh mereka.
"Sial!. Tenaga dalamku belum pulih karena aku menyalurkannya kepada nismara." Dalam hati Arya Susena sedikit kewalahan. "Sepertinya kapak yang kau miliki dapat menyerap hawa sekitarnya." Ia saat itu sedang menangkis semua ayunan kapak yang datang kepadanya.
"Heh!. Bagus kalau kau menyadarinya." Ia tampak menyaringnya dengan lebarnya. "Hebat kalau kau bisa menyadari, jika kapak ini dapat menyerap hawa murni seseorang." Lanjutnya. "Apakah kau mulai melemah karena tenaga dalammu telah berhasil disedot oleh kapak ini?."
Saat itu gerakan mereka sama-sama terhenti karena pedang dan kapak itu saling menekan kekuatan satu sama lain. Mereka saling menekan satu sama lain siapa yang lebih kuat dalam bertahan.
"Kau jangan bercanda kepadaku." Saat itu Arya Susena mencengkram kuat pergelangan tangan Jalak Suren, dan saat itu pula ia sengaja menjatuhkan pedang miliknya ke tanah?. Tidak, saat padang itu melayang sebelum jatuh ke tanah?. Dengan sangat cepat ia ambil pedangnya dengan menggunakan tangan kirinya. Saat itu ia tebas paha kiri Jalak Suren dengan sangat kuat, hingga pemuda itu berteriak kesakitan.
"Eagkh!." Ia mundur beberapa langkah, dan saat itu ia menjatuhkan kapak dari tangan. Paha kirinya terasa sangat ngilu setelah mendapatkan tebasan yang sangat dalam dari Arya Susena. "Kakiku!." Ia meraung penuh kesakitan, tenaga dalam ia memiliki seakan-akan sedang tersedot sangat banyak setelah mendapatkan tebasan itu.
Ctak!.
Deg!.
Arya Susena sangat terkejut, karena saat itu?. Saat itu dari arah belakangnya?. Ia menerima sebuah anak panah yang menancap di paha kirinya. Namun bukan hanya itu saja, ia juga menerima panah berikutnya tepat mengenai bahu kanannya.
"Egakh!." Arya Susena berteriak dengan sangat kencang, rasanya kulit tubuhnya terbakar hangus. Sehingga rasa sakit itu menjalar ke dalam tubuhnya.
Deg!.
Di saat yang bersamaan, Dewi Astagina dan Nini siluman Gagak Hitam dapat merasakan adanya ancaman bahaya yang sedang dihadapi oleh Arya Susena.
"Putraku arya susena." Saat itu bayangan Arya Susena yang sedang terluka parah hadir begitu saja. Dan parahnya ia seakan-akan sedang melihat anaknya itu sedang berdiri di hadapannya dalam keadaan panah yang menancap di tubuh anaknya. "Arya susena putraku!." Saat itu tangisnya pecah karena rasanya ia tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang seperti itu.
Sementara itu Nini siluman Gagak Hitam dapat melihat bagaimana keadaan Arya Susena yang sedang terluka parah?. "Sepertinya aku harus segera membantu anak itu. Tentunya aku tidak ingin kehilangannya." Nini siluman Gagak Hitam segera bersemedi, ia hendak menyalurkan tenaga dalamnya pada Arya Susena.
Kembali ke pertarungan.
Ranta Palu sangat senang karena dua panahnya telah tepat sasaran. "Kau tidak akan selamat setelah mendapatkan panah itu. Anggap saja itu adalah hadiah dari kami." Setidaknya itulah yang dikatakannya ketika ia melihat Arya Susena yang sudah tidak berdaya lagi.
"Uhuk!." Arya Susena terbatuk keras ketika hawa panas itu seakan-akan telah merusak sel-sel tubuhnya dari dalam. Arya Susena terduduk di tanah sambil bertumpu dengan lututnya. "Kegh!. Kalian benar-benar meremehkan kemampuanku." Suaranya saat itu hampir saja tidak terdengar karena ia sedang menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
"Bajing busuk!." Jalak Suren juga terlihat sedang terduduk tak jauh dari Arya Susena. "Kau masih saja ingin menunjukkan kesombonganmu itu?. Apakah kau tidak mengerti bagaimana kondisimu saat ini?. Kau akan mati terbunuh jika kau masih saja bergerak ketika panah banaspati itu masih tertancap di tubuhmu." Ia mencoba bangkit untuk menyerang Arya Susena. Dengan kekuatan tenaga dalamnya yang hampir saja terkuras itu, ia masih memiliki ambisi untuk membunuh Arya Susena dengan tenaga dalamnya.
"Sebaiknya kau diam saja di situ. Panah berikutnya akan aku kenai jantungmu. Dengan begitu dia tidak akan bergerak untuk selama-lamanya." Ranta Palu benar-benar membidik anak panahnya tepat ke arah punggung kiri Arya Susena.
"Arya susena."
Deg!.
Arya Susena pada saat itu seperti sedang diterpa oleh angin yang segar. Tanpa mereka sadari ada seekor burung gagak hitam yang masuk ke dalam tubuh Arya Susena.
"Aku juga ingin membunuhnya dengan kekuatanku ini." Ucapnya sambil mengambil kapak miliknya.
"Kalau begitu kita lakukan bersama." Setelah ia berkata seperti itu ia melepaskan anak panahnya itu.
Sedangkan Jalak Suren sedang berjalan mendekati Arya Susena yang mengalami kesulitan untuk bergerak. Dengan kesempatan emas itu ia melayangkan kapaknya ke arah kepala Arya Susena?. Namun apa yang terjadi pada saat itu?.
...***...
Dewi Astagina masih saja belum tenang dengan apa yang ia lihat tadi. Hatinya sangat gelisah sehingga ia memutuskan untuk pergi menuju istana untuk menemui Adik dan anaknya. Kebetulan pada saat itu ia melihat adiknya yang sedang bersama Senopati Jande Ingaspati.
"Gusti dewi."
"Yunda dewi."
__ADS_1
Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna memberi hormat.
"Ada apa yunda dewi?. Kenapa yuda dewi terlihat sangat cerah sama sekali?. Apakah telah terjadi sesuatu?."
"Putraku arya susena. Saat ini aku dapat merasakan sesuatu hal yang buruk terjadi kepadanya." Ia hampir saja menangis dengan apa yang ia lihat tadi. "Aku melihat putraku terkena panah yang sangat berbahaya. Aku mohon selamatkan dia." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas bagaimana ketakutannya sebagai seorang ibu yang saat mengkhawatirkan anaknya.
Tentu saja itu membuat Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna sangat terkejut.
"Tenanglah yunda."
"Tenanglah Gusti dewi."
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika putra aku mengalami hal yang seperti itu dalam penglihatanku?." Suasana hatinya pada saat itu semakin kacau.
"Kalau begitu kami akan memastikan keadaannya Gusti. Kalau begitu Gusti akan kami antar ke rumah."
"Benar itu yunda. Kami akan memeriksa keadaan nanda arya susena, setelah kami mengantar yunda ke rumah."
"Oh putraku." Dalam hatinya masih belum bisa menenangkan dirinya jika ia belum melihat anaknya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
Senopati Jande Ingaspati dan Dharmapati Sardala Saguna segera mengantar Dewi Astagina ke rumahnya, karena mereka berdua juga sangat khawatir dengan keselamatan wanita itu.
Kembali ke pertarungannya.
Ketika anak panah dan kapak itu hendak mendarat ke tubuh Arya Susena?. Tiba-tiba saja ada sebuah kekuatan yang sangat besar melindungi tubuh Arya Susena. Sehingga serangan itu mental?. Begitu juga dengan tubuh Jalak Suren yang berdekatan langsung dengan Arya Suseno pada saat.
Duakh!.
Tubuh Jalak Suren terpental dengan sangat kuatnya sehingga ia menabrak pohon yang berada di belakangnya.
"Egakh!." Saat itu tubuhnya terasa sangat sakit yang sangat luar biasa sekali sehingga ia hampir saja tidak bisa bergerak lagi.
"Aku ini adalah pendekar kegelapan." Arya Susena melihat ke arah panah yang menancap di paha kirinya. "Kau pikir itu hanyalah sekedar nama saja?." Setalah itu ia membalikkan tubuhnya ke arah Ranta Palu yang terlihat sangat takut dengan perubahan wujud Arya Susena pada saat itu. "Kekuatan kegelapan lah yang telah menuntun aku selama ini untuk melakukan hal-hal yang bisa aku lakukan untuk membela rakyat. Kau pikir kelompok pendekar kegelapan itu hanyalah nama biasa saja?. Fyuh!." Saat itu ia tiup salah satu bulu yang ada di punggungnya ke arah tubuh Ranta Palu.
Cekh!.
"Kegh!." Ranta Palu sedikit meringis ketika ia merasakan ada benda tajam yang menggores tubuhnya saat itu. Dan saat itu pula ia merasakan tangannya kesemutan hingga ia melepaskan panahnya itu.
"Kau akan mati hari ini juga." Arya Susena mengambil pedang Wira Bagaskara yang sempat iya abaikan yang tadi.
"Sial!. Kenapa tiba-tiba saja tubuhku tidak bisa bergerak?!." Saat itu Ranta Palu sangat panik ketika Arya Susena mendekatinya. Apalagi tangannya saat itu terlihat ada goresan luka yang mengeluarkan darah.
"Kau pikir aku akan mengampuni apa yang telah kau lakukan terhadap rakyat pada saat itu?." Arya Susena berhenti tepat di hadapan Ranta Palu yang semakin ketakutan. "Kau telah melakukan pembunuhan yang sangat keji, hanya untuk memancing aku keluar?." Hatinya sangat panas dengan masa itu. "Jika kau saja tidak melarikan diri pada saat itu?. Aku yakin kau akan aku bunuh pada saat itu." Ia arahkan ujung pedangnya di leher Ranta Palu.
"Kegh!." Ranta Palu mencoba untuk memberontak. Tentu saja ia tidak ingin dibunuh begitu dengan mudahnya oleh Arya Susena yang terlihat menyeramkan saat itu.
"Sebaiknya kau tidak usah melawan. Karena pada saat ini kau telah aku totok dari jarak jauh tadi." Ia menyeringai dengan penuh kemenangan.
"Kau!. Pengecut!. Berani sekali kau bermain curang seperti itu padaku!." Ia sangat geram.
"Katakan itu pada dirimu!. Kaulah yang telah menyerang aku secara diam-diam terlebih dahulu." Arya Susena tersenyum kecil. "Apakah kau tidak melihat anak panah yang masih menancap di bahu kananku ini?." Dengan sangat santainya ia memainkan anak panah yang masih menancap di tubuhnya itu. "Apakah kau tidak sadar diri dengan apa yang telah kau ucapkan itu?. Pengecut busuk yang berteriak pada dirinya sendiri." Ia tepuk-tepuk pelan pipi Ranta Palu, seakan-akan ia sedang mempermainkan pemuda itu.
"Bajingan." Hatinya sangat memanas dengan apa yang telah ia dengar.
"Sekarang aku berikan dua pilihan kepadamu. Kamu mati dengan pedang wira bagaskara milikku ini?. Atau kau ingin mati dengan?." Arya Susena saat itu mengambil panah yang tergeletak begitu saja di tanah. "Kau ingin mati dengan senjatamu sendiri?." Arya Susena mundur sekitar tiga meter dari Ranta Palu yang semakin panik dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena.
Sementara itu Jalak Suren yang mencoba bergerak?. Saat itu matanya terbelalak terkejut, ketika matanya itu menangkap sosok Arya Susena dengan sepasang sayap hitam di punggungnya?.
"Apa yang akan kau lakukan bedebah?!." Kenal suaranya yang sangat serak ia berteriak dengan sangat keras ke arah Arya Susena.
__ADS_1
"Ho?. Rupanya kau masih hidup?. Aku pikir kau tadi telah mati." Matanya menyipit melihat kondisi Jalak Suren.
"Bagaimana mungkin kau masih memiliki kekuatan dengan keadaan panah menancap di tubuhmu?." Jalak Suren sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada saat itu.
"Heh!. Itulah keistimewaannya. Aku ingin spesial, Jadi kalian tidak usah banyak berbicara lagi." Ia membidikkan anak panah itu tepat ke dada Jalak Suren yang sedang bersandar di pohon yang ada di belakangnya.
"Kau memang iblis!. Hanya iblis yang mampu bertahan setelah mendapatkan panah itu." Nafasnya sedang tidak beraturan, detak jantungnya pada saat itu berpacu seakan-akan iya dapat merasakan ancaman bahaya yang akan ia dapatkan.
"Bagaimana kalau kau dulu yang akan aku coba untuk menguji kekuatan panah ini yang sesungguhnya?." Arya Susena benar-benar mengarahkan panah itu ke arah Jalak Suren.
"Sial!. Tubuhku benar-benar sangat sakit sehingga tidak bisa ku gerakkan sedikitpun." Jalak Suren mulai panik. Karena Arya Susena terlihat sangat serius dengan apa yang ia ucapkan.
"Bajing tengik!. Berani sekali kau menggunakan panah ku itu untuk membunuh orang lain." Ranta Palu sangat tidak terima dengan apa yang akan dilakukan oleh Arya Suseno pada saat itu.
"Kau tenang saja. Setelah aku berhasil menancapkan panah ini ke jantungnya?. Maka kau dapat giliran pula." Setelah berkata seperti itu iya tarik kuat busur itu sehingga secara otomatis terlihat panah api yang siap ia lepaskan.
"Arya susena!." Dengan sekuat tenaga Ranta Palu ingin menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Arya Susena, akan tetapi tubuhnya benar-benar sangat tidak bisa digerakkan.
"Kau terima hukuman ini dariku." Setelah berkata seperti itu ia lepaskan anak panah itu, dan benar saja. Anak panah itu menancap tepat di dada Jalak Suren.
Ctakh!.
"Uhuk!." Jalak Suren terdiam setelah menerima panah itu, ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Jalak Suren hanya bisa menerima takdir yang akan ia hadapi setelah itu. Takdir kematian yang sangat menyakitkan yang pernah ia terima. Karena kondisi tubuhnya hangus terbakar oleh panah banaspati itu.
"Ho?. Aku tidak menduga jika seperti itu dampak yang akan terjadi jika kau terkena karena banaspati?." Arya Susena melihat bagaimana kondisi tubuh Jalak Suren yang terbakar hampir tidak bersisa itu. "Sepertinya kau memiliki senjata yang sangat hebat." Kali ini ia melihat ke arah Ranta Palu yang berkeringat dingin setelah apa yang ia lihat pada saat itu.
"Aku tidak akan mengampunimu!. Berani sekali kau menggunakan panah itu tanpa izin dariku." Hatinya masih saja panas, apalagi kondisinya yang saat itu tidak bisa bergerak sama sekali.
"Apakah kau tidak menyadari bagaimana kondisimu sekarang?." Arya Susena mengibaskan sayapnya itu ke arah Ranta Palu, sehingga pemuda itu dapat merasakan terpaan angin yang mengarah ke tubuhnya.
Deg!.
Seketika tubuhnya merinding aneh ketika merasakan angin aneh yang membawa hawa hitam.
"Seharusnya kau menyadari bagaimana posisimu saat ini. Jadi kau tidak usah banyak berbicara." Arya Susena mengarahkan panah itu telah ke dada Ranta Palu. "Aku tidak membutuhkan pengampunanmu. Karena sebentar lagi kau akan menyusul temanmu itu." Ia menyeringai lebar.
"Aku akan mengutukmu, bahkan sampai kematianku."
"Kalau begitu aku akan segera memberikan hadiah kematian kepadamu." Tanpa banyak berbasa-basi lagi ia lepaskan anak panah itu dan menancap tepat di dada Ranta Palu.
Ctakh!.
"Uhuk!." Ranta Palu dapat merasakan bagaimana panasnya panah itu membakar tubuhnya.
"Kurang ajar kau arya susena. Aku bersumpah akan membunuhmu bahkan ketika aku telah berada di alam baka sekalipun." Dengan suaranya yang sangat lemah itu ia mencoba mengancam Arya Susena.
"Matilah kau bersama dendammu itu. Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan." Arya Susena memang tidak peduli sama sekali bagaimana kondisi musuhnya pada saat itu.
"Uhuk!." Arya Susena terbatuk, karena ia merasakan sakit yang sangat luar biasa sekali di dalam tubuhnya. Sakit yang sangat tidak biasa yang ia rasakan ketika ia merasakan aliran tenaga dalamnya bolehkah kau kembali.
Saat itu sayap yang ada di punggungnya berubah menjadi gagak, dan gagak itu telah berubah menjadi Nini siluman Gagak Hitam. Dengan sangat cepat ia bawa Arya Susena dari sana, karena ia sangat cemas dengan keselamatan Arya Susena.
Begitu sampai di tempatnya ia langsung menyandarkan tubuh Arya Susena, ia sangat cemas karena panah yang masih menancap di paha kiri belakang, dan bahu kanannya itu akan menancap semakin dalam. Tentunya itu akan berakibat fatal nantinya bagi keselamatan Arya Susena.
"Bertahan lah arya susena. Kau jangan sampai mati di sini." Hatinya sangat gelisah dengan apa yang terjadi. Namun sebisa mungkin ia akan berusaha untuk menyelamatkan Arya Suseno dari keadaan yang genting seperti itu. "Aku yakin kau mampu bertahan. Karena panah ini sebenarnya akan memakan habis nama seseorang jika telah tertancap di tubuhnya." Ia mencoba untuk menetralkan api dari anak panah Banaspati yang ada di paka kiri Arya Susena. Dengan kekuatan tenaga dalam yang ia miliki sebagai bangsa siluman, ia dapat menyerap api itu dengan baik sehingga tidak dapat mempengaruhi tubuh serta tenaga dalam yang dimiliki oleh Arya Susena.
Setidaknya Arya Susena harus bersyukur memiliki teman yang begitu sangat baik kepadanya. Tidak semua pendekar yang memiliki hubungan baik dengan kaum bangsa jin yang dengan sukarela membantu dirinya dalam keadaan terluka parah seperti itu. Bersyukurlah iya karena pada dasarnya jin dan manusia bisa saja berbeda arah jika tidak memiliki tujuan yang sama. Tapi apakah menurutmu Nini siluman Gagak Hitam memiliki arah yang sama dengan Arya Susena?. Tapi dalam hal apa mereka memiliki tujuan yang sama?. Belum dijelaskan bagaimana tujuan yang sama itu. Bagaimana dengan kelanjutannya?. Apakah Arya Susena bisa bertahan dengan dua panah banaspati yang menancap di tubuhnya?. Bagaimana kelanjutan dari kisah ini?. Temukan jawabannya.
...*** ...
__ADS_1