PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 68


__ADS_3

...***...


Pada saat itu Arya Susena, Nismara, Darsana, Patari, dan Bajra telah sampai disebuah tempat yang sangat aneh?.


"Bagaimana mungkin ada sebuah desa yang sangat ramai akan penduduknya?."


"Kalau begitu, kita harus mencari tahu apa yang telah terjadi di sini."


Tentu saja sangat bingung dengan keadaan desa yang sangat asing menurut mereka. Mereka sama sekali belum pernah mengetahui desa tersembunyi seperti desa yang baru saja mereka kunjungi.


"Kalau begitu kalian yang mencaritahu apa yang terjadi di sini." Setelah berkata seperti itu Arya Susena malah mengubah dirinya menjadi kucing hitam.


Deg!


Mereka semua sangat terkejut melihat perubahan itu. Setelah sekian lama?. Akhirnya dia menggunakan jurus perubahan yang sangat di luar akal manusia?.


"Karang ajar sekali dia ini. mentang bisa melakukan perubahan wujud?. Dia seenaknya saja menyuruh kita melakukan semua pekerjaan yang sangat menyebalkan ini?." Nismara adalah orang pertama yang akan protes dengan apa yang apa yang dilakukan oleh Arya Susena.


"Sudahlah. Bukan untuk pertama kalinya dia memperlakukan kita seperti ini, jadi kita memang harus terbiasa dengan apa yang dilakukan arya susena."


"Kucing liar itu, benar-benar sangat menyebalkan. Apakah dia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa memberikan beban kepada kita?!." Ingin rasanya Nismara membunuh Arya Susena untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.


"Sudahlah, tidak ada gunanya kita melakukan aksi protes padanya. Hanya akan membuang buang waktu saja."


"Benar yang dikatakan patari. Mari kita cari tahu apa yang ganjal di desa ini."


"Nanti kita panggang dia bersama-sama. Yang penting sekarang adalah kita mencari tahu apa yang terjadi di desa ini."


Patari, Darsana, dan Bajra mencoba untuk membujuk Nismara untuk tetap sabar dengan apa yang telah dilakukan Arya Susena kepada mereka semua.


"Hugh!." Nismara mencoba untuk menenangkan dirinya. "Rasanya memang tidak ada gunanya aku marah-marah." Ia melangkah meninggalkan tempat itu.


"Kau juga sama dengannya. Kalian sama-sama pemarah." Dalam hati Darsana, Patari, dan Bajra sedikit heran dengan sikap mereka yang mudah sekali terbawa amarah.


...***...


Di istana.

__ADS_1


Saat itu Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sedang berdiskusi dengan Patih Warsa Jadi. Keduanya masih merencanakan untuk pemulihan keadaan beberapa desa. Akan tetapi pada saat itu ada seorang prajurit yang masuk.


"Hormat hamba Gusti Prabu, Gusti Patih."


"Ya. Ada apa prajurit?."


"Mohon ampun Gusti Prabu. Di depan gerbang istana ada seorang laki-laki menangis sambil membawa anaknya yang sedang hamil tua. Mereka ingin bertemu dengan Gusti Prabu. Katanya meminta pertanggung jawaban dari Gusti Prabu."


Deg!.


Tentu saja ucapan prajurit itu membuat Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara dan Patih Warsa Jadi sangat terkejut. Untuk sesaat mereka berdua terdiam mendengarkan itu.


"Demi Dewata yang Agung. Suruh dia, eh mereka masuk. " Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara terlihat sangat gugup dengan apa yang ia dengar.


"Sandika gusti prabu." Prajurit itu langsung pergi meninggalkan tempat setelah ia memberi hormat.


"Pa-paman Patih jangan melihat say, aku seperti itu." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara semakin gugup dengan tatapan Patih Warsa Jadi yang seakan-akan sedang menghakimi dirinya. "Aku tidak mungkin menodai seorang wanita. Aku ini masih memiliki akal yang sehat jika ingin menyentuh seorang wanita." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara semakin kesal bercampur gugup.


Meskipun Patih Warsa Jadi tidak mengatakan apapun?. Namun firasat Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara mengatakan, jika sang Patih telah berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Mohon ampun Gusti prabu. Mereka telah datang. Ternyata prajurit itu memang membawa Seorang wanita muda?. Dan seorang bapak-bapak yang terlihat sangat murka?.


Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda yang sedang melakukan ronda?.


Deg!.


Tiba-tiba saja Raden Kanigara Hastungkara merasakan hal yang tidak enak sama sekali. Entah kenapa ia merasakan seperti ada yang menerkam tubuhnya secara tidak kasat mata.


"Ada apa rayi?. Kenapa kau terlihat pucat sekali?. Apakah kau sakit?." Raden Kanigara Ganda sangat cemas dengan keadaan adiknya yang mendadak diam, apa lagi raut wajahnya yang pucat pasi.


"Entah kenapa, aku merasakan firasat yang sangat buruk sekali raka."


"Apakah Raden sakit? Kalau Raden sakit?. Raden bisa istirahat."


"Tidak apa-apa paman. Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Meskipun jantungnya terasa berdegup aneh?. Namun ia sekuat hati untuk mencoba menahan perasaan aneh itu. Rasanya memang tidak enak sama sekali, tubuhnya menggamang aneh. "Apa yang akan terjadi kepadaku?. Kenapa aku merasakan firasat yang tidak baik ini?." Dalam hatinya merasa heran.


...***...

__ADS_1


Di tempat Pertemuan rahasia.


"Kita telah menyelenggarakan pengangkatan para pendekar untuk melawan arya susena nantinya."


"Sebisa mungkin kita harus menyaring dengan baik. Siapa yang layak untuk membela kerajaan ini. Sebab kabar yang aku dapatkan, arya susena bukanlah pendekar sembarangan."


"Kita harus memperhitungkan kekuatan yang dimiliki arya susena. Supaya kita tidak mengalami kekalahan yang telak darinya nantinya."


"Tentu saja. Arya susena bukanlah pendekar sembarangan. Tapi aku telah mendapatkan pendekar hebat, yang akan menandingi kemampuan arya susena."


"Bagus. Kalau begitu kita lakukan persiapan untuk memulai perang."


"Sebelum mulai perang, aku harap kita tetap waspada. Jangan sampai rencana ini sampai di telinga pendekar kegelapan, bisa mampus kita. Tentu saja rencana kita akan gagal total, jika kita sampai ketahuan oleh mereka."


Sepertinya ada ketakutan yang mereka rasakan saat itu. Mereka semua ingin merebut wilayah kekuasaan suatu kerajaan, akan tetapi pada saat itu mereka terhalangi oleh seseorang yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, sehingga mereka harus memikirkan cara yang sangat ampuh untuk menaklukkannya. Apakah mereka akan berhasil?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Di Istana


"Katakan kepadaku dengan jelas, permasalahan apa yang sedang kalian alami?. Kenapa tiba-tiba saja kalian memintaku untuk bertanggung jawab?." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sangat panik dengan apa yang telah ia terima tadi dari prajurit.


"Mohon ampun Gusti Prabu." Darman Sombali memberi hormat. "Maaf jika hamba datang dengan kabar yang kurang enak. Hamba hanya ingin meminta pertanggung jawaban dari Gusti Prabu, tentang apa yang telah terjadi pada anak hamba."


"Nanda Prabu?." Patih Warsa Jadi malah menyebut nama Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara, sehingga membuat sang Prabu terkejut, dan tentunya semakin takut dengan raut wajah yang diperlihatkan oleh sang Patih.


Deg!.


Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara terlihat panik?. Bahkan wajahnya terlihat pucat pasi saking takutnya dengan kenyataan aneh yang akan ia terima. "Ta-tapi aku tidak pernah melakukan hal aneh-aneh dengan anakmu tuan. Bahkan aku tidak kenal-." Kepalanya terasa pusing sambil mengingat kelakuannya selama belakangan ini?. "Sial!. Kenapa aku hanya ingat bagaimana arya susena yang telah menindas aku?." Dalam hatinya semakin kesal karena ia tidak pernah ingat berhubungan dengan wanita manapun?. "Hanya ada dua wanita galak yang mencoba bersikap baik padaku." Dalam hatinya ingat dengan Nismara dan Patari. Jika memang keluar dari Istana?. Itupun hanya satu bulan saja, tidak sampai hamil anak orang sampai sebesar itu.


"Mohon ampun gusti prabu, memang bukan Gusti prabu yang melakukan ibu. "Ia memberi hormat. "Tapi Raden kanigara hastungkara yang melakukan itu."


Deg!


Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara dan Patih Warsa Jadi sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar saat itu?. Apakah memang itu yang terjadi sebenarnya?.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2