
...***...
Dalam sunyinya malam Arya Susena yang saat itu dalam wujud kucing hitam sedang menjelajahi Istana kerajaan Tuah Mutiara yang merupakan kerajaan yang dulunya telah berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Telaga Dewa. Arya Susena mengelilingi Istana itu dengan hati-hati, dan saat itu ia menuju sebuah bangunan tua yang ada di dalam istana itu?. "Bagaimana mungkin ada bangunan tua berada di dalam sebuah istana?." Tentu saja itu menjadi tanda tanya yang sangat besar baginya. "Kalau begitu akan masuk ke dalam." Arya Susena melihat ada jendela di atas sana yang bisa ia gunakan untuk mengintip.
Deg!.
Arya Susena sedikit terkejut. "Aku mencium aroma yang sangat menyengat di sini." Dengan penciumannya yang tajam?. Arya Susena dapat Mencium aroma busuk yang tidak biasa.
Deg!.
Arya Susena sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu?. Mayat hidup?. "Bagaimana mungkin mereka menggunakan mayat hidup?." Dalam hatinya saat itu sangat bingung dengan aper yang ia lihat. Bahkan Arya Susena dengan sangat jelas mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Menurut kalian bagaimana?. Apakah mayat ini akan sangat berguna untuk melawan arya susena nantinya."
Deg!.
Arya Susena kembali terkejut dengan apa yang ia dengar. "Untuk melawan aku?." Dalam hati Arya Susene sangat bingung. "Apakah sebenarnya mereka sedang mengincar aku?." Dalam hatinya masih bingung dengan itu semua. "Aku harus menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya disini." Arya susena harus waspada dengan rencana mereka padanya.
"Tentu saja kita harus melakukan persiapan. Jangan sampai kita kalah dari arya susena."
"Jangan sampai itu terjadi."
"Luas wilayah ini akan kita gunakan untuk membunuh arya susena."
"Kalau begitu, lakukan persiapan yang matang untuk membunuh arya susena. "
Tampaknya mereka berambisi untuk membunuh Arya Susena yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Heh!. Jadi kalian ingin bertarung terlebih dahulu dengan arya susena dari pada bertarung dengan pihak istana?. Ini sangat menarik sekali." Dalam hati Arya Susena dengan bangganya berkata seperti itu. tu. "Baiklah, akan aku dengar rencana luar biasa kalian itu yang katanya untuk membunuh aku. Akan aku tunggu kalan dengan senang hati." Entah kenapa ia merasa penasaran dengan rencana mereka terhadap dirinya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu Prabu Maharaja kanigara Lakeswara sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia belum bisa memejamkan matanya walaupun hampir larut malam. Suasana hatinya yang saat itu sedang sangat kacau, ia sangat resah dengan apa yang telah disodorkan oleh kelakuan kakaknya Raden Kanigara Hastungkara.
"Aku memang melihat dan merakan jika raka kanigara hastungkara selalu jahat kepadaku di masa lalu. Tapi aku tidak menduga jika dia sampai tega menghamili anak gadis orang dan pergi begitu saja?." Ia tidak bisa membayangkan bagaimana itu bisa terjadi?. "Apa yang salah sebenarnya?." Dalam hatinya sangat resah, serba salah, dan heran. "Seandainya arya susena berada di sini?. Apa yang akan dra katakan kepadaku?." Dalam hatinya sangat sedih. "Arya susena, kau adalah orang yang akan memberikan aku nasehat yang baik jika aku merasa sedih." Saat itu ingatannya kembali ketika ia merasa gelisah dan masih belum terbiasa dengan apa yang telah dilakukan oleh kelompok pendekar kegelapan yang membunuh dengan cara yang sangat sadis. "Saat itu arya susena mengatakan kepadaku." Dalam hatinya.
Kembali ke masa itu.
Raden Kanigara Lakeswara sedang termenung, pikirannya sangat jauh, dan saat itu ia tidak menduga sama sekali akan menyaksikan secara langsung bagaimana pertarungan kelompok pendekar kegelapan yang tanpa ampun kepada musuh mereka.
"Bagaimana mungkin aku bisa sampai hati mengikuti orang-orang yang dengan sangat kejamnya membunuh seperti itu?." Dalam hatinya sangat gelisah.
Pletak!.
"Duh!." Raden Kanigara Lakeswara mengeluh sakit, ia merasakan kepala belakangnya terkena sesuatu yang sangat keras sehingga ia mengeluh sakit.
"Apa yang Raden lamun, kan?. Sehingga Raden terlihat seperti orang kehilangan nyawa." Ia memainkan batu kerikil kecil dengan sangat santainya.
"Kau?. Arya susena!." Raden Kanigara Lakeswara tampak kesal dengan apa yang telah dilakukan Arya susena. Dari tangannya terlihat sangat jelas sekali, ada batu kerikil?. "Kenapa kau malah melempari aku!. Apa masalahmu padaku?."
"Kenyataan apa?!." Ingin rasanya ia tonjok kepala Arya Susena dengan sekuat tenaga. "Kalau berbicara itu katakan dengan jelas!. Jangan gunakan bahasa isyarat!. Aku bukan telik sandi yang akan memecahkan setiap ucapanmu!." Raden Kanigara Lakeswara benar-benar sangat kesal pada Arya Susena.
"Kenyataan bahwa apa yang ditangkap mata, dan dinilai oleh hati itu ada perbedaannya jika tidak dilihat dari dua sisi. Dilihat dari pelakunya?. Dan dilihat dari pihak yang berlawanan."
"Aku belum mengerti dengan apa yang kau katakan."
"Apa yang ingin aku sampaikan itu bahwa yang jahat itu bukan hanya tindakan saja, tetapi ucapan seseorang." Arya Susena terlihat sangat tegas. "Ucapan seseorang dapat mengubah angin segar menjadi angin bencana jika dua belah pihak tidak mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam persoalan yang mereka hadapi, atau pihak ketiga yang akan menyelesaikan masalah itu." Lanjutnya. "Pihak ketiga atau kami sebagai kelompok pendekar kegelapan, jika kami tidak mencari tahu masalah yang terjadi antara rakyat kecil dengan kaum agung?. Kami hanyalah alat membunuh yang sia-sia dan kelompok pembangkang kepada istana." Arya Susena terus menjelaskan. "Jika dilihat dari sudut pandang kaum agung, kami adalah orang paling jahat, dan kamu tentunya menyadari itu."
Raden Kanigara Lakeswara terdiam sejenak, ia sedang memproses ucapan Arya Susena yang berbeda dari kebanyakan manusia normal. "Lantas?. Kenapa kalian melakukan itu jika kalian memang menyadari itu jahat?."
"Karena kami juga melihat mereka adalah orang-orang yang lebih jahat lagi. Mereka adalah orang-orang yang pantas mati, karena mereka telah melakukan kegiatan yang tidak manusia. Seperti menculik anak orang untuk dijadikan budak, bahkan mereka dengan teganya mempekerjakan manusia lainnya dengan cara yang manusiawi." Jawabnya. "Tentu saja orang-orang yang seperti itu harus kami tumpas. Jika kami biarkan?. Maka akan banyak nyawa yang terbunuh tanpa adanya perlawanan. Lalu dimana pihak istana?. Mereka hanyalah penerima uang dari hasil pajak yang disuguhkan kaum agung kepada pihak istana. Apakah menurut Raden itu adil?."
Raden Kanigara Lakeswara belum memberikan tanggapan, karena tanpa sadar ia setuju dengan apa yang dikatakan Arya Susena.
__ADS_1
"Jika mata kita bisa melihat dan menilai seseorang itu jahat karena mereka secara terang-terangan membunuh musuh?. Lalu bagaimana dengan mereka yang dapat membunuh orang lain dengan menggunakan kata?." Arya Susena duduk di samping Raden Kanigara Lakeswara.
"Bagaimana mungkin orang lain bisa membunuh seseorang dengan kata?." Raden Kanigara Lakeswara sangat heran. "Tidak mungkin."
"Kata, lebih tajam dari pada pedang. Kata bahkan dapat membunuh ribuan nyawa." Lanjutnya.
Apakah kau memiliki bukti untuk itu?."
"Salah satu contoh, kata." Jawabnya dengan tenang. "Raden mengatakan jika semuanya aman. Kondisi wilayah yang Raden pimpin semuanya aman, Raden mengatakan itu pada pihak istana. Tapi kenyataannya wilayah itu hampir seperti neraka dunia bagi rakyat yang Raden pimpin."
"Tapi bukankah rakyat bisa melaporkannya pada pihak istana?."
"Tidak semudah itu. Sebab Raden telah membungkam rakyat itu dengan pedang. Dan menyiap pihak istana dengan kata dan uang. Apa yang Raden katakan pada pihak istana untuk menutupi itu semua?."
"Wilayah kami baik-baik saja, dan ini adalah bukti pendapatan yang kami hasilkan sebagai buktinya. Jadi tenang saja, kami semuanya akan aman dan tidak terlalu membutuhkan keasaman di desa itu." Raden Kanigara Lakeswara mencoba merangkai kata-kata itu?. "Mungkin seperti itu kata yang akan aku gunakan."
"Nah, betul sekali." Balasnya. "Dan apakah Raden mengerti kenapa pemberontakan itu bisa terjadi?. Bagaimana kanigara rajendra bisa menguasai kerajaan selama tujuh belas tahun ini?."
Raden Kanigara Lakeswara menggelengkan kepalanya, karena ia sama sekali tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi.
"Sama seperti kata kaingara rajendra yang mengatakan, bahwa kerajaan karang utara akan menyerang kerajaan telaga dewa?. Tapi malah dia yang memimpin penyerangan pada saat itu." Ia tampak menghela nafasnya. "Kata itu lebih menyeramkan dari pada pedang yang paling tajam di dunia ini." Tatapannya sangat jauh, terasa sangat kosong, dan hampa.
Kembali ke masa ini.
Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara menghela nafasnya dengan sangat lelahnya.
"Arya susena memang terlihat sangat luar biasa." Ucapnya dengan penuh kekaguman. "Tapi tunggu." Tiba-tiba saja ta memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena?. "Kata lebih tajam dari pada pedang yang ada tajam di dunia ini." Dalam hatinya sedang memikirkan itu. "Aku tidak boleh gegabah dalam bertindak nantinya." Dalam hatinya mencoba untuk memikirkan itu semua dengan kepala yang dingin. "Ya, aku harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala yang dingin, jangan sampai aku terbawa amarah hanya karena mendengarkan ucapan satu pihak saja. Aku juga harus mendengarkan penjelasan dari raka kanigara hastungkara, supaya aku bisa menilai dengan baik nantinya." Dalam hatinya mencoba memikirkan caranya. "Aku harus mengetahui apa yang telah terjadi pada kedua pihak, agar aku tidak salah dalam bertindak. Kata arya susena seperti itu, aku harus melihat dari dua sisi yang sedang bersebelahan. Supaya aku dapat menilai dengan baik mana yang salah dan mana yang benar."
Apakah akan berhasil dengan aman?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
__ADS_1