
...***...
Pada saat itu mereka sangat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, dan mereka semua dengar.
"Kenapa Gusti Prabu terlihat sangat marah?. Bukankah mereka telah merebut tahta itu dari Gusti?."
"Heh!. Aku sama sekali tidak peduli dengan tahta itu. Jadi kalian jangan berani untuk melakukan pemberontakan terhadap Raja baru."
"Sepertinya ada yang salah." Dalam hati Senopati Jenar Tapa mulai merasakan ada yang janggal dari ucapan junjungannya itu. Perlahan-lahan ia mulai bangkit dan memberi kode kepada mereka untuk bangkit juga. "Siapa kau sebenarnya?. Jika kau adalah Gusti Prabu Maharaja kanigara rajendra?. Maka beliau tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu." Ia mengeluarkan pedang yang selalu ia selipkan di samping pinggang kirinya itu.
"Jika aku bukan rajamu?. Kalau menurutmu aku ini siapa?." Saat itu pula ia berubah menjadi seseorang.
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan melihat perubahan itu.
"Bukankah kau adalah pendekar arya susena?. Bagaimana mungkin kau berada di sini?. Berani sekali kau menipu kami!." Hatinya sangat panas dengan apa yang telah terjadi tadi. "Berani sekali kau meniru junjungan kami!."
"Heh!." Arya Susena mendengus sambil menyeringa lebar menatap mereka semua. "Orang yang telah membunuh raja kalian itu adalah aku. Jadi akulah yang memiliki kekuasaan tertinggi. Jika kalian masih ingin berniat untuk melakukan pemberontakan?. Maka aku yang akan membinasakan kalian."
"Jumawa!. Bedebah sinting!. Hyah!." Setelah berkata seperti itu ia tebas pedangnya ke arah Arya Susena dengan mengarahkan semua tenaga dalamnya?.
Namun saat itu Arya Susena dengan cepat menyadari serangan itu sehingga ia melompat dengan tingginya sehingga tubuhnya tidak terbelah menjadi dua. Namun dampak yang diakibatkan dari kekuatan tenaga dalam itu pondok itu meledak hancur berantakan.
Mereka semua yang berada di luar yang sedang bertarung tentunya sangat terkejut dengan apa yang telah mereka lihat saat itu. Di saat pondok itu meledak di saat itu pula mereka melihat ada Arya Susena yang melompat dari dalam pondok yang telah meledak itu.
Kini pondok yang tidak bersalah itu hanya tinggal separuhnya saja. Sementara yang bagian depannya tidak terlihat lagi, kecuali kepingan serpihan dari dampak tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Senopati Jenar Tapa.
"Arya!." Nismara mendekati Arya Susena yang sudah mengibas-ngibas pakaiannya karena ada beberapa debu yang menempel di pakaiannya.
"Kebetulan sekali kau berada di sini."
"Apakah dia yang bernama Senopati jenar tapa?."
"Ya, dialah orang yang telah membunuh ayah dan ibumu juga saudara-saudaramu."
Deg!.
Saat itu tubuhnya seperti kamu merasa menggamang, bergetar menerima rasa sakit di atas kenyataan pahit yang ia alami selama ini.
"Heh!. Jadi kalian benar-benar pendekar kegelapan?."
Tap!.
Arya Susena menahan pundak Nismara agar pendekar wanita itu tidak mengikuti kemarahan yang ia rasakan pada saat itu.
"Biarkan aku membunuhnya arya. Jangan kau tahan lagi aku. Biarkan aku yang membunuh biadab itu."
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Jika kau melawannya dalam keadaan marah maka kau yang akan merugi."
Nismara mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa amarah apapun saat itu. Akan tetapi pada saat itu hatinya memang panas jika memang orang itulah yang telah membunuh keluarganya.
"Hari ini aku datang bukan hanya untuk memberikan pelajaran kepadamu sebagai pemberontak. Aku datang pada hari ini kepadamu untuk membayar nyawa keluargaku yang telah kau bunuh."
"Kau tidak usah mengacungkan pedang tumpulmu itu kepadaku. Sudah banyak yang telah aku bunuh, tentunya aku lupa dengan siapa saja yang telah aku bunuh selama ini."
"Jahanam!. Denawa!. Aku bunuh kau!." Setelah berkata seperti itu ia melompat ke arah Senopati Jenar Tapa. Hatinya yang pada saat itu sedang diselimuti oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Biarkan saja mereka melakukan pertarungan itu. Dan kalian adalah bagianku." Arya Susena tidak akan membiarkan siapapun juga mengganggu pertarungan itu.
Situasi di markas rahasia yang telah mereka buat pada saat itu sangat kacau dengan pertarungan yang mereka lakukan. Kelompok pendekar kegelapan yang sangat meresahkan membuat keributan dengan melakukan penyerbuan yang tidak terduga sama sekali.
...**...
Di istana.
Setelah melakukan pertemuan yang sangat penting, Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sedang beristirahat di pendopo bersama Senopati Agung yang lainnya.
"Meskipun selama satu bulan aku bersama mereka, aku sama sekali tidak menduga jika masalah-masalah yang seperti ini telah datang ke istana. Rasanya sangat memprihatinkan sekali paman."
"Dahulu, ketika Gusti Prabu Maharaja kanigara maheswara yang memerintah kerajaan ini. Masalah itu tidak terlalu berat dihadapi karena Gusti Prabu selalu melayani keluhan rakyatnya."
"Ya. Kakang benar. Seperti yang sama-sama kita ketahui, Raja kejam itu tidak akan mungkin menerima begitu saja keluhan yang terjadi di kalangan rakyatnya. Sementara itu pemungutan pajak semena-mena beredar di negeri ini sehingga menimbulkan ketakutan yang sangat luar biasa."
"Karena itulah kita harus membenahi semua ini Gusti Prabu. Jangan sampai kita memberikan tekanan yang memberikan penderitaan kepada rakyat." Senopati Jande Ingaspati merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi selama ini. "Sebagai seorang pemimpin yang memiliki kelebihan dan kepercayaan seharusnya ia dapat membantu kekurangan rakyat. Bukan malah sebaliknya."
"Ya. Paman Senopati jande ingaspati benar. Sebagai pemimpin yang diberikan kepercayaan untuk melindungi kerajaan ini. Tentunya bukan hanya sebagai pajangan saja tahta yang ia miliki, akan tetapi seharusnya ia gunakan untuk melihat bagaimana keadaan rakyat yang sesungguhnya."
"Kita mulai saja dengan pekerjaan yang ringan-ringan terlebih dahulu Gusti. Semoga saja kita dapat membantu meringankan beban rakyat."
"Semoga saja paman."
__ADS_1
Tentunya negeri itu butuh perhatian yang sangat besar dari raja yang memimpin sekarang. Tentunya mereka tidak akan berdiam diri saja setelah menerima jabatan itu. Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Jalak Suren.
Itulah nama pendekar yang telah mengincar Arya Susena pada saat. Cukup lama juga ya menyusuri desa itu, namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan pemuda itu.
"Harus ke mana lagi aku akan mencari keberadaan orang biadab itu?. Dia harus membayar nyawa kekasih yang sangat aku cintai." Hatinya semakin geram dengan apa yang telah ia rasakan saat itu.
Sebenarnya berapa besar kebencian yang ada di dalam hatinya?. Sehingga ia sangat menaruh dendam kepada Arya Susena?. Bahkan saat ini ia masih menggebu-gebu ingin segera mencari keberadaan Arya Susena. "Dendam ini harus segera aku selesaikan. Jika hari ini aku tidak bisa menemukan keberadaannya maka malam nanti aku tidak akan bisa tidur dengan tenang." Entah kenapa suasana hatinya yang berkata seperti itu.
Kembali ke pertarungan antara kelompok pendekar kegelapan dengan para pemberontak.
Saat itu Nismara yang sedang berhadapan dengan Senopati Jenar Tapa. Dengan jurus yang ia miliki ia terus mencoba untuk membunuh musuhnya. Tak jarang keduanya mengadu ilmu tenaga dalam yang mereka miliki untuk menjatuhkan satu sama lain. Sepertinya kekuatan mereka sangat seimbang sehingga saat ini mereka belum mengalami luka-luka yang berarti.
Sepakan pukulan dan tendangan mereka arahkan, dan bahkan sesekali mereka mengadu kesaktian yang mereka miliki. Hingga pada saat itu mereka terpaksa mundur karena dampak ledakan dari kekuatan tenaga dalam yang mereka kerahkan.
"Kurang ajar!. Ternyata gak cukup kuat juga cah ayu."
"Diam kau bajing busuk!. Aku tidak perlu mengucapkan kata apapun kepadamu selain membunuhmu!." Setelah itu ia setengah berlari menyerang musuhnya.
"Ternyata kau bukanlah tipe wanita yang mau diajak bicara."
Kembali mereka melakukan pertarungan yang sangat hebat. Nismara menggunakan pedang yang telah diberikan Arya Susena kepadanya. Saat itu ia merasakan kekuatan tenaga dalam yang sangat kuat mengalir melalui pedang itu.
"Akan aku bunuh dia menggunakan pedang ini." Dalam hatinya saat itu berkobar memiliki hasrat untuk membunuh orang yang telah membunuh keluarganya.
Kembali ke sebelum mereka melakukan tugas itu.
Nismara baru saja keluar dari kaputren. Akan tetapi ia tidak menduga saat itu ia melihat Arya Susena yang sedang memegang sebuah senjata.
"Gunakan ini untuk membunuh Senopati jenar tapa."
"Aku memiliki senjata sendiri untuk membunuhnya."
"Menurut paman Senopati warsa jadi, pedang ini milik ayahandamu. Maka gunakan pedang ini untuk membunuhnya."
Deg!.
Saat itu perasaannya sedang bergejolak ketika pemuda itu mengatakan bahwa itu adalah pedang milik ayahnya?.
"Pedang ini dititipkan ayahmu pada paman Senopati warsa jadi untuk alat balas dendam atas kematiannya. Jadi tugasmu sekarang adalah meneruskan balas dendam itu kepadanya."
Deg!.
Entah kenapa saat itu ia seakan-akan melihat sosok ayahnya?. Atau itu hanyalah khayalan fantasi saja?. Tapi sosok itu terasa sangat nyata berdiri di hadapannya saat itu.
"Aku yakin kau bisa melakukan itu. Kau adalah putri yang sangat aku cintai di dunia ini." Dengan senyuman yang sangat menawan sosok yang ia lihat saat itu tersenyum kepadanya.
"Ayah."
Seperti ada suatu kekuatan yang menarik dirinya untuk memeluk sosok ayahnya itu?. Namun kenyataannya pada saat itu ia sedang memeluk Arya Susena. Sehingga pemuda itu tampak kebingungan, dan terlihat berwarna merah di pipinya karena malu tiba-tiba saja dipeluk oleh Nismara.
"Kenapa kau malah memanggil aku ayah?. Aku ini bukan ayahmu." Dalam hatinya sangat gugup. Walaupun sebenarnya ia tidak mengetahui apa yang telah dilihat oleh Nismara ketika itu.
Kembali ke pertarungan.
Pertarungan mereka benar-benar sangat sengit, keduanya sama sekali tidak mau mengalah satu sama lain. Nismara yang saat itu seakan-akan sedang dituntun oleh seseorang dengan menggunakan jurus pedang yang sangat berbahaya. Ayunan pedang yang ia mainkan saat itu seperti sayatan angin yang hendak menebas apa saja.
"Kurang ajar!. Dari mana bocah sialan ini mendapatkan kekuatan!." Dalam hati Senopati Jenar Tapa mulai merasakan kegelisahan ketika ia hampir saja tidak bisa mengimbangi kecepatan pedang itu.
Deg!.
Iya sangat terkejut ketika melihat sosok Senopati Badana Sakti, sosok yang telah lama menghilang dari dunia ini. Namun pada saat itu ia tidak menduga sama sekali akan melihat kembali sosok itu.
"Kau?!. Bukankah kau adalah badana sakti?." Setelah berkata seperti itu ia melompat sambil salto menghindari semua serangan dari nismara yang seperti orang yang kesurupan menyerangnya.
Ayunan pedang itu semakin kuat meskipun Senopati Jenar Tapa melompat salto untuk menghindari ayunan pedang itu. Dan saat itu ia memiliki kesempatan untuk melompat ke atas pohon yang tidak jauh dari tempat ia bertarung itu.
"Kau sudah lama tiada badana sakti!. Bagaimana mungkin kau bisa hidup kembali?." Teriaknya dengan penuh amarah.
Deg!.
Nismara sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. "Jadi kau lah orang yang telah membunuh ayahku?. Ibuku?. Juga saudaraku?." Saat itu amarahnya sangat memuncak.
"Kau?." Senopati Jenar Tapa juga sangat terkejut ketika ia melihat ada yang salah dengan pandangannya saat itu. "Apakah tadi itu aku salah lihat?." Dalam hatinya merasa gugup dengan apa yang telah ia katakan tadi.
"Jadi kau yang telah membunuh ayahku?!." Ia salurkan tenaga dalamnya ke dalam pedangnya, setelah itu ia tebas ke depan dengan kekuatan yang sangat.
Hawa tenaga dalam yang dihasilkan tebasan itu memberikan dampak yang sangat tidak baik. Namun Senopati Jenar Tapa masih beruntung karena ia menyadari serangan itu dan ia melompat ke pohon yang lainnya.
__ADS_1
"Kurang ajar!. Serangannya bukan serangan yang main-main." Ia mulai panik.
"Heh!. Masih selamat kau rupanya." Hati Nismara saat itu sedang dipenuhi oleh kemarahan yang membuat dadanya semakin sakit.
"Aku harus menggunakan jurus andalanku. Pukulan tapak beracun. Akan aku hanguskan tubuhnya dengan pukulanku." Dalam hatinya sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar.
Sementara itu Darsana, ia telah berhasil mengalahkan hampir seperempat prajurit yang menyerangnya. Begitu juga dengan Patari, Bajra, dan Arya Susena. Dengan kekuatan yang mereka miliki, melawan prajurit kelas teri seperti itu tidak akan menguras tenaga mereka terlalu banyak. Bahkan dengan sadisnya mereka membantai semua prajurit itu tanpa belas kasihan.
"Kenapa kalian malah mundur?. Bukankah kalian berniat untuk memberontak?. Majulah. Jika kalian masih berniat untuk memberontak." Ancaman itu keluar dari mulut Darsana yang terlihat sangat bersemangat untuk mengalahkan mereka semua.
"Heh!. Prajurit lemah seperti kalian mana mungkin bisa mengalahkan kami. Di mana semangat kalian yang katanya telah siap untuk menyerang kami?." Patari dengan menggunakan jurus selendang lipatan kematian menghajar mereka tanpa ampun.
Mereka yang masih tersisa di sana saat ketakutan dengan apa yang mereka lihat saat itu. Keganasan pendekar kegelapan sungguh di luar dugaan mereka semua.
Sementara itu Nismara dan Senopati Jenar Tapa masih saja mengandung ilmu kekuatan mereka. Saat itu mereka sedang menyiapkan jurus andalan yang akan mereka gunakan untuk membinasakan musuh mereka. Ketika kesempatan itu datang, Nismara dengan tebasan kematian hendak menebas pinggang Senopati Jenar Tapa?. Namun sangat sayang sekali, Senopati Jenar Tapa berhasil menghindari itu dengan lompat salto, dan saat kesempatan untuk ia dapatkan ia arahkan pukulan itu tepat di dada Nismara.
Duakh!.
"Uhukh!."
Nismara terpaku di tempat, saat itu ia merasakan tubuhnya sangat sakit hingga ia terbatas memuntahkan darah.
"Heh!. Kau ini masih bau kencur. Berani sekali kamu lawan aku cah ayu."
"Uhukh!." Kembali ia terbatuk, dan memuntahkan darah segar.
Saat itu tubuhnya oleng, ia tidak dapat lagi merasakan bagaimana kondisi tubuhnya saat itu yang seakan-akan mati rasa.
Deg!.
Arya Susena saat itu tidak sengaja melihat bagaimana Senopati Jenar Tapa yang berhasil memberikan sebuah pukulan yang sangat keras ke tubuh Nismara. Tanpa banyak berpikir, Arya Susena menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya, dan setelah itu iya arahkan ke Senopati Jenar yang masih berada di depan Nismara.
Duar!.
"Eagkh!."
Tubuhnya terpental jauh, dan yang lebih parahnya adalah membentur pohon yang berada di belakangnya.
"Nismara!." Arya Susena langsung mendekati Nismara yang terlihat sedang kesakitan setelah mendapatkan pukulan yang sangat mematikan itu.
"Kegh!." Tubuhnya semakin terasa sakit ketika Arya Susena mencoba membantunya untuk duduk?. Arya Susena menyandarkan tubuh Nismara pada pelukannya.
"Nismara?." Detak jantungnya berdetak tidak stabil melihat keadaan Nismara yang seperti itu.
"Nismara!." Darsana, Patari, dan Bajra sangat terkejut melihat keadaan Nismara. Mereka semua meninggalkan para prajurit yang tersisa.
Sementara itu Senopati Jenar Tapa yang setelah menerima serangan tadi?.
"Uhuk!. Ia terbatuk dan memuntahkan darah hitam yang sangat kental. "Kurang ajar!. Ternyata aku mendapatkan serangan kegelapan." Dalam hatinya sangat panik dengan kondisi ayah rasakan saat itu. Sebagian tubuhnya mulai menghitam karena serangan tenaga dalam yang dilakukan oleh Arya Susena bukalah serangan yang biasa.
"Nismara. Bertahan lah." Arya Susena mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya, tentunya ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Nismara.
Bajra, Darsana, dan Patari sangat takut melihat situasi seperti itu. Namun saat itu amarah mereka sangat memuncak. Saat itu pula mereka melihat ke arah Senopati Jenar Tapa yang masih meringkuk di tanah.
"Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan kepadanya."
"Aku tidak akan mengampuni. Kau harus mati di tanganku."
"Jadi kau?. Yang telah berani melukai temanku?."
Mereka bertiga langsung mendekati Senopati Jenar Tapa yang saat itu masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Ia merasakan adanya ancaman yang sangat berbahaya dengan mendekatnya mereka ke arahnya.
"Kalian benar-benar pengecut. Berani sekali kalian ingin mengerami aku, ketika aku dalam kondisi yang seperti ini."
"Tidak usah banyak bicara kau."
Ketiganya langsung mengeluarkan senjata andalan mereka masing-masing. Hati mereka pada saat itu sedang dipenuhi oleh kemarahan yang tidak biasa. Kemarahan yang datang dari hati mereka setelah melihat teman mereka terluka.
Deg!.
Senopati Jenar Tapa terlihat sangat ketakutan, ketika ia merasakan hawa membunuhnya sangat luar biasa dari mereka.
"Jangan lakukan. Aku mohon pada kalian." Perasaan takut mulai menghantui dirinya ketika ia melihat mereka yang siap-siap ingin membunuh dirinya?.
"Kau sama sekali tidak mendengarkan permohonan ampun orang tua kami pada saat. Bagaimana mungkin kami akan mendengarkan rintihan busukmu itu."
"Sekarang kau terima kematianmu."
"Mati lah kau bajing busuk!."
Patari, Bajra, dan Darsana benar-benar tidak memiliki perasaan apapun saat menebas tubuh Senopati Jenar Tapa. Mereka tanpa perasaan telah membunuh Senopati Jenar Tapa yang sebenarnya pada saat itu sudah tidak bisa melawan lagi. akan tetapi karena kemarahan yang mereka rasakan pada saat itu?. Mereka tidak lagi mendengarkan suara teriakan keras itu.
__ADS_1
...***...