
...***...
Masih di lingkungan istana?.
"Raka hastungkara yang telah melakukan itu?. Tanpa sadar Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara malah mengeluarkan suaranya dengan nada yang sangat tinggi, karena ia sangat terkejut. Begitu Juga dengan mereka semua yang terkejut ketika nama Raden Kanigara Hastungkara yang disebutkan?.
"Nanda Prabu?."
"Oh?. Maafkan saya paman. Saya, ah!. Aku sangat terkejut mendengarnya." Bibirnya sampai bergetar, bahkan matanya sampai melotot tidak percaya. "Hai nini."
"Hamba Gusti Prabu." Wanita yang datang itu terlihat sangat gugup dengan itu.
"Katakan padaku sebenarnya. Apakah benar?. Jika yang telah membuatmu hamil adalah raka hastungkara!." Tatapannya sangat menyeramkan, seakan-akan hendak memakan seseorang.
"Mohon ampun Gusti Prabu. Memang seperti itulah yang terjadi." Ia memberi hormat. Hamba telah dinodai pangeran kerajaan ini. Raden kanigara hastungkara." Ia menangis terisak menceritakan permasalah apa yang telah terjadi padanya. "Hamba sangat malu sekali Gusti. Hamba sangat malu dengan orang-orang, atas apa yang telah terjadi hamba." Ia Semakin menangis, merasa sedih dan mengenaskan atas apa yang menimpa dirinya.
"Sebagai orang tuanya, hamba juga sangat malu Gusti Prabu." Darman Sombali terlihat sangat terpukul atas apa yang telah menimpa anaknya. "Sungguh, hamba hanya ingin keadilan untuk anak hamba Gusti." Ia tidak dapat menahan tangisnya.
"Prajurit!." Suara Prabu Maharaja Lakeswara menggelegar di ruangan utama istana.
"Hamba Gusti."
Prajurit Yang kebetulan berada di sana langsung mendekati Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara yang tampak murka, Walaupun tidak separah Arya Susena yang dapat membuat manusia uap?. Tapi mereka saat itu takut melihat kemarahan yang telah diperlihatkan oleh sang Prabu.
"Bawa lima orang Prajurit lainnya. Katakan kepada raka hastungkara bahwa aku memerintahnya untuk kembali ke istana hari ini juga!."
"Sandika Gusti Prabu."
Setelah memberi hormat, prajurit itupun langsung bergegas meninggalkan tempat guna untuk segera melaksanakan perintah sang Prabu.
"Tenanglah nanda Prabu. Jangan mudah terbawa emosi." Patih Warsa Jadi mencoba untuk menenangkan Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara.
"Bagaimana mungkin aku bisa terang paman?. Ini menyangkut masalah kepercayaan." Suasana hatinya saat itu benar-benar sangat kacau. "Kenapa raka hastungkara sampai hati melakukan hal yang memalukan seperti itu?." Napasnya sampai tidak beraturan seperti itu karena menahan amarah yang ia rasakan. Jantungnya terasa sudah tidak normal lagi ketika berdetak kencang.
...***...
Di sebuah Desa yang cukup aneh?. Saat itu Nismara, Patari, Bajra, dan Darsana melihat ada kumpulan orang yang sedang menyaksikan beberapa orang sedang bertarung di sebuah arena?. Tanpa banyak bicara mereka langsung mendekatinya. Akan tetapi pada saat itu ada seseorang. yang mencegat mereka?.
"Maaf kisanak?. Dari perguruan mana? Apakah ingin mengikuti pertandingan ini ?."
Bajra melihat ke arah teman-temannya. "Apakah kita punya perguruan?." Bisiknya ke telinga Darsana, namun tidak ada tanggapan sama sekali.
"Jika kisanak ingin ikut, maka mendaftar lah terlebih dahulu. Tapi jika hanya sekedar melihat saja?. Lebih baik tinggalkan tempat ini." Pendekar wanita itu tampak galak, merasa berkuasa, sehingga berani berkata seperti itu.
"Bagaimana?. Apakah kita ikut saja?." Bisiknya lagi.
"Terserah kau saja." Balasnya. "Aku ikuta saja." Darsana tampak pasrah.
"Namaku angin terkutuk. Aku berasal dari perguruan tapak iblis, dan mereka adalah teman-temanku." Dengan suara yang gahar dan berbeda dari yang sebelumnya?. Ia berkata dengan penuh percaya diri saat menyebutkan namanya?. "Tentu saja kami akan mengikuti pertandingan ini!." Lanjutnya dengan penuh semangat yang tinggi.
"Baiklah, jika memang seperti itu. Kalian boleh duduk di sana." Pendekar Bunga Hitam mempersilahkan mereka untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Bffhh!."
Sedangkan Nismara, Patari dan Darsana mencoba untuk menahan tawa mereka. Entah kenapa itu terdengar sangat lucu bagi mereka?.
"Bajra bangsat!. Bagaimana mungkin dia memikirkan ide itu untuk memenuhi hasrat penasaran yang ada di dalam dada kosongnya itu?." Dalam hati Nismara hampir saja mengeluarkan kata-kata itu, tapi ia tidak ingin dicurigai di wilayah musuh.
"Kau benar-benar setan bajra!. Perguruan tapak Iblis?. Kau jangan membuat lawakan di saat yang tidak tepat!." Dalam hati Patari juga sedang menahan perasaan yang sangat aneh.
__ADS_1
"Sepertinya kau telah tertular gilanya arya susena. Sehingga kau dengan percaya dirinya berkata seperti itu?. Aku rasa kau harus membereskan otakmu terlebih dahulu." Dalam hati Darsana tidak menduga dengan apa yang ia dengar saat itu. "Rasanya aku mendadak malu dengan sikap gila mu itu." Dalam hatinya tidak menduga jika Bajra bersikap aneh?.
Apakah yang akan terjadi setelah itu? Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Di kota raja kerajaan Tuah Mustika.
Raden Wardhana Raksa dan Nimas Asih Purnama benar-benar menikmati jalan-jalan yang santai itu. Keduanya tampak ceria setelah mengunjungi beberapa tempat. Bahkan saat itu terlihat ada beberapa kotak dan bingkisan yang ada di tangan Raden Wardhana Raksa.
"Terima kasih, karena Raden telah membawa saya ke tempat yang menyenangkan."
"Sama-sama nimas."
Suasana hati keduanya saat itu benar-benar telah berbeda, keduanya lumayan dekat dari yang sebelumnya.
"Tampaknya, Matahari telah condong ke barat. Bagaimana kalau kita mengunjungi satu tempat lagi?. Sebelum kita pulang?."
"Baiklah. Saya rasa tidak masalah."
Raden Wardhana Raksa memang memiliki niat yang sangat baik, sehingga ia ingin memanjakan Nimas Asih Purnama yang pada dasarnya adalah wanita muda yang sangat baik hati.
"Nimas mau ke mana?. Akan aku temani."
"Bagaimana sebelum pulang kita mencari tempat untuk membeli buah tangan? Aku dengar ada tempat yang bagus untuk memilih pernak-pernik cantik di sana."
"Baiklah. Kalau begitu kita langsung ke sana saja. Aku juga ingin membelikan satu untuk ibunda." Raden Wardhana Raksa tampak bersemangat, begitu juga dengan Nimas Asih Purnama.
Keduanya tampak menikmati hari itu dengan sangat baik, walaupun pada awalnya mereka tampak sangat kaku. Apakah akan terus berlanjut nantinya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
"Hormat kami Gusti Dharmapati, Raden."
"Ya. Ada apa prajurit?."
"Mohon ampun Gusti Dharmapati. Kami datang ke sini atas perintah dari Gusti prabu." Matanya melihat ke arah Raden Kanigara Hastungkara yang tampak gelisah.
"Gusti Prabu memerintahkan kami untuk membawa Raden kanigara hastungkara ke istana sesegera mungkin."
Deg!.
Tentu saja mereka semua terkejut, tidak menduga sama sekali jika Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara akan memberikan perintah seperti itu?.
"Apakah nanda Prabu mengatakan sesuatu pada kalian?. Atas dasar apa Raden kantgara hastungkara di bawa ke istana?."
"Mohon ampun gusti Dharmapati. Kami hanya diperintahkan membawa Raden kanigara hastungkara ke istana, sebab saat itu Gusti Prabu sedang murka."
"Sedang murka?."
Dharmapati Sardala Saguna, Raden Kanigara Garda dan Raden Kanigara Hastungkara tentunya sangat terkejut dengan ucapan itu.
"Kenapa rayi Prabu bisa murka?."
"Maaf Raden, sebaiknya langsung datang ke istana saja. Hamba tidak berani menyampaikannya di sini."
"Baiklah. kami akan segera ke istana."
"Mari Paman."
__ADS_1
"Mari."
Setelah itu mereka semua beranjak dari sana, tentu saja tujuan utama mereka adalah menuju Istana.
"Entah kenapa perasaanku mengatakan akan ada masalah yang tidak mengenakkan yang aku dapatkan nantinya." Dalam hati Raden Kanigara Hastungkara merasakan Firasat buruk yang akan menimpa dirinya.
...***...
Arena Pertarungan. Nismara, Patari, dan Bajra Sedang melihat ke arah Darsana.
"Tidak, jangan pernah berpikiran untuk aku yang akan bertanding pertama." Tolaknya dengan cepat.
"Jika bukan kau yang pertama?. Lalu siapa?"
"Ya. Kau saja yang pertama!."
"Diam kau nismara!. Bagaimana kalau kau saja yang pertama?."
"Kenapa harus aku?!."
Sempat terjadi perdebatan antara Nismara dan Darsana. Keduanya tampak sama bersikeras menunjuk siapa yang pertama tampil?.
"Anggap saja kau melepaskan stres yang kau rasakan?." Darsana tampak kesal. "Aku sedang malas bertarung, dan kalian jangan meraksa aku untuk bertarung duluan." Ingin rasanya ia kuliti mereka semua. "Kenapa selalu aku yang kalian paksa jika tidak ada arya susena?." Darsana sampai ngomel-ngomel saking kesalnya.
"Baiklah. Kalau begitu aku duluan yang akan bertarung." Nismara akhirnya mengalah. "Menghilangkan amarah dalam Pertarungan ini tidak buruk juga."
"Mantab!. Itu yang aku suka." Darsana sangat senang mendengarnya. "Kalian ini benar-benar sangat keterlaluan. Jika arya susena tidak ada, kalian malah semena-mena padaku." Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang telah mereka lakukan padanya.
"Sepertinya kau akan." Bisik Patari.
"Berisik. Kau juga tidak mau bertarung duluan." Darsana merajuk.
"Hehehe."
"Sepertinya kau Sangat hebat kali ini." Bajra malah mengacungkan jempolnya ke arah Darsana.
"Diam kau." Darsana masih kesal.
"Hehehe."
Sementara itu Nismara meja ke meja panitia, karena sepertinya pertandingan yang ia saksikan saat itu hampir saja berakhir. Nismara juga melihat ada seorang pemuda yang rupawan, pemuda itu juga mendekati meja panitia yang akan menjadi juri Penyelenggara Pertandingan.
"Apakah pertandingan berikutnya adalah kalian?." Pendekar Bunga Hitam memastikan.
"Ya, tentu saja." Nismara terlihat galak.
"Dengan Senang hati." Pemuda itu tampak bersemangat, karena akan berhadapan dengan seorang pendekar yang sangat cantik.
"Baiklah. kalau begitu kalian langsung saja masuk ke arena."
Kedua pendekar itu langsung melompat ke dalam arena pertandingan dalam arena pertandingan.
"Sebelum bertanding?. Bagaimana kalau kita kenalan terlebih dahulu?."
"Tidak usah."
"Galak sekali."
Next.
__ADS_1
...***...