
...***...
Nismara sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu, matanya menangkap sosok Arya Susena yang sedang terbaring di sampingnya.
"Kau bisa melihat sendiri anak panah itu."
"Memangnya itu anak panah apa?."
Nismara lihat ke arah anak panah yang telah ditunjukkan oleh Nini siluman Gagak Hitam.
"Itu adalah anak panah banaspati."
Deg!.
Nismara sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. "Bukankah anak panah banaspati adalah anak panah yang sangat berbahaya?. Bagaimana mungkin dia bisa selamat dari anak panah itu?."
Kembali ketika Nini siluman Gagak Hitam mencabut anak panah Banaspati dari paha kiri Arya Susena dan bahu kanannya.
Siluman Gagak Hitam terpaksa menyadarkan tubuh Arya Susena ke batu besar, karena anak panah Banaspati tidak bisa dicabut dalam keadaan berbaring. Apalagi arah anak panah itu dari belakang, sehingga Nini siluman Gagak Hitam terpaksa membuat Arya Susena bertumpu pada batu besar dengan menggunakan telapak tangannya.
Nini siluman Gagak Hitam mencoba untuk mencabut anak panah Banaspati yang berada di paha kiri Arya Susena. Dengan kekuatan tenaga dalamnya ia genggam kuat anak panah itu, perlahan-lahan ia mencoba mencabutinya.
"Kegh!." Arya Susena dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan oleh getaran dari panah banaspati itu. Tubuhnya sampai bergetar kesakitan ketika anak panah itu perlahan-lahan hampir keluar dari dagingnya itu. Hingga ketika Nini siluman Gagak Hitam mencabut paksa anak panah itu hingga tercampur dengan sempurna dari paha kirinya itu.
Cekh!.
"Eagkh!." Arya Susena berteriak dengan sangat kuatnya, karena tubuhnya terasa sakit hingga menggamang ke seluruh tubuhnya. Saat itu ia merasa seperti sedang dicabut oleh malaikat mau, sehingga ia mencengkeram kuat tumpuan batu yang ada di depannya saat itu.
"Bertahanlah arya susena. Tinggal satu anak panah lagi yang harus aku cabut dari bahu kananmu."
Namun sepertinya Arya Susena hampir tidak bisa menahan perasaan sakit itu. Tenaganya pada saat itu benar-benar melemah. Namun Nini siluman Gagak Hitam menyalurkan tenaga dalamnya agar Arya Susena tetap bertahan.
"Kalau begitu kau duduklah." Nini siluman Gagak Hitam dengan perasaan yang sangat cemas ia membantu Arya Susena untuk duduk bersila di tanah. "Atur tenaga dalammu dengan baik, karena aku ingin melanjutkan apa yang harus aku lakukan. Tidak baik jika anak panah banaspati terus berada di tubuhmu."
Arya Susena mencoba melakukan apa yang telah dikatakan oleh Nini siluman Gagak Hitam padanya. Meskipun kondisi tubuhnya pada saat itu benar-benar sangat lemah, akan tetapi pada saat itu ia tidak akan menyerah sedikitpun.
"Kalau begitu aku akan memulainya." Nini siluman Gagak Hitam menyentuh anak panah itu, tentunya ia aliri dengan tenaga dalamnya supaya anak panah itu tidak menyakiti Arya Susena.
"Kegh!." Arya Susena kembali meringis sakit karena anak panah itu seakan-akan hendak membakarnya.
"Sedikit lagi." Nini siluman Gagak Hitam benar-benar harus berkonsentrasi yang sangat tinggi.
Cekh!.
"Egakh!."
Kembali teriakan keras terdengar dari mulutnya, kali ini rumah sakitnya ya rasakan lebih kuat dari yang tadi sehingga ia tidak sadarkan diri.
"Arya susena!." Nini siluman Gagak Hitam sangat panik ketika melihat keadaan Arya Susena.
Kembali ke masa ini.
Nini siluman Gagak Hitam menghela nafasnya dengan pelan. "Aku pikir aku juga akan mati ketika aku menyalurkan tenaga dalamku kepadanya. Sungguh kekuatan yang sangat luar biasa dari anak panah Banaspati yang sebenarnya akan membakar tubuh siapa saja yang terkena anak panah itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Arya Susena benar-benar tewas karena anak panah Banaspati yang telah menancap di tubuhnya. "Satu anak panah Banaspati saja bisa langsung membunuh seseorang dalam waktu yang singkat, akan tetapi arya susena mendapatkan dua anak panah banaspati yang sangat ganas. Mungkin takdir belum menginginkan kematiannya, sehingga ia dapat diselamatkan."
...***...
Di kediaman Dewi Astagina.
Dharmapati Sardala Saguna dan Arya Restapati baru saja sampai di rumah. Tentu saja kedatangan mereka disambut dengan perasaan yang sangat cemas dari Dewi Astagina.
__ADS_1
"Duduklah adi sardala saguna, putraku." Ia hidangkan air untuk mereka.
Keduanya duduk dengan tenang sambil memperhatikan bagaimana raut wajah kegelisahan yang dirasakan oleh Dewi Astagina mengenai putranya.
"Apakah kalian telah menemukan keberadaan putraku arya susena?. Apakah keadaannya baik-baik saja?."
"Yunda tenang saja. Nanda arya susena saat ini baik-baik saja. Tadi aku bertemu dengannya di hutan larangan, katanya ingin melakukan tugas penting dari Gusti Prabu."
"Di hutan larangan?. Kenapa ia bisa berada di tempat berbahaya itu?."
"Aku tidak bisa memastikannya yunda."
"Kenapa kau tidak menyuruhnya untuk kembali?. Aku sangat mencemaskan keadaannya."
"Ibunda. Tenanglah. Adi arya susena pasti akan segera kembali. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena ada hal yang sangat penting harus ia selesaikan."
"Benar itu yunda. Setelah masalah itu selesai aku yakin dia akan segera menemui yunda."
Pada saat itu Dharmapati Sardala Saguna dan Arya Restapati berusaha untuk meyakinkan Dewi Astagina bahwa anak bungsunya itu akan baik-baik saja. Lagi pula mereka tidak bisa mengatakan yang sebenarnya apa yang telah terjadi kepada putra bungsunya itu. Mereka sangat yakin jika Dewi Astagina mengetahui kebenaran itu, wanita itu pasti akan segera ke hutan larangan untuk mencari keberadaan anaknya.
"Ibunda tenang saja. Percayalah jika putra bungsu ibunda itu akan baik-baik saja."
"Ya. Semoga saja seperti itu." Tentunya hatinya sangat gelisah karena ia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anaknya akan baik-baik saja.
...***...
Sementara itu di alam bawah sadar Arya Susena.
Pada saat itu ia seperti sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu sedang melakukan apa.
"Bukankah itu adalah dua pendekar yang memiliki hati yang sangat kejam?." Arya Susena melihat bagaimana Ayu Pandan dan Jalak Suren yang memperlakukan beberapa orang wanita dengan sangat kejam.
Di dalam penglihatan Arya Susena.
Duakh!.
"Fuih!." Jalak Suren meludah dengan garamnya karena ia merasakan ada yang aneh dengan lidahnya itu. Dan ketika ia seka?. Ternyata itu adalah darah yang berasal dari bibirnya yang sedikit robek. "Kunyuk busuk!. Berani sekali kau bermain dari jarak jauh kepadaku." Hatinya yang pada saat itu dipenuhi oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Kakang. Anak muda inilah yang aku katakan kepadamu sebelumnya. Dialah yang telah menghalangi aku untuk mencari pendekar wanita yang akan aku jadikan pendekar bertarung malam itu." Ayu Pandan masih ingat dengan penampilan anak muda yang berani menghalanginya.
"Oh?. Jadi kau?. Bocah kurang ajar yang telah berani menghalangi kekasihku?." Dari rawat wajahnya ia terlihat semakin geram.
"Aku sangat benci kepada orang-orang seperti kalian. Kalian pikir wanita itu untuk dijadikan budak petarung kalian?. Dan kau juga seorang wanita!." Arya Susena menunjuk kesal ke arah Ayu Pandan yang seakan-akan tidak bisa merasakan bagaimana terlukanya harga diri seorang wanita diperlakukan seperti itu. "Bagaimana jika aku yang memperlakukan kau seperti budak petarung?. Apakah kau masih bisa bertahan hidup untuk hari esok?."
"Bedebah!. Berani sekali kau berkas seperti itu kepadaku!." Dengan emosi yang membara ia segera melompat ke arah Arya Susena, pada saat itulah terjadi pertarungan antara keduanya.
"Heh!. Akan aku lihat seberapa kuatnya anak muda itu berhadapan dengan kekasihku." Jalak Suren pada saat itu sangat penasaran bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh Arya Susena.
Jika dilihat dari pukulan dan tendangan yang ia kerahkan ke arah Ayu Pandan?. Sepertinya pemuda yang ia amati memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang sangat tinggi sehingga ia berani menantang siapa saja.
...***...
Di istana.
Saat itu Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara hendak menuju wisma pribadinya. Akan tetapi pada saat itu ia melihat kedua saudaranya yang datang dengan raja tertentu.
"Raka kanigara hastungkara, raka kanigara ganda."
"Gusti Prabu." Keduanya terlihat bersujud?."
__ADS_1
"Apa yang raka lakukan?." Sang Prabu sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh kedua kakaknya itu.
"Sungguh maafkan atas apa yang telah kami lakukan selama ini kepadamu."
"Benar. Selama ini kami telah menyakiti hatimu. Sungguh ampuni perbuatan dosa kami terhadap Gusti Prabu."
"Raka, bangunlah." Sang Prabu mencoba untuk membantu kedua kakaknya itu untuk berdiri. "Ini sudah malam raka. Tidak baik berada di sini malam-malam."
"Maafkan atas kelancangan kami Gusti Prabu. Jika kami telah lancang berada di sini pada malam hari."
"Bu-bukan seperti itu maksudku raka. Kalau begitu mari masuk." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sangat panik dengan apa yang telah dikatakan oleh kedua kakaknya. "Karena sudah malam bagaimana kalau kita mengobrol di dalam saja?. Sebagai sesama saudara bagaimana kalau kita mengobrol di dalam saja supaya lebih baik." Dengan suara yang sangat ramah ia mempersilahkan kedua kakaknya itu untuk masuk ke dalam wisma pribadinya untuk membicarakan suatu hal.
Akan tetapi pada saat itu keduanya terlihat sangat ragu, karena pada dasarnya mereka tidak memiliki bahan pembicaraan apapun selain hanya meminta maaf pada saat itu.
...***...
Di Hutan Larangan.
Nismara pada saat itu sedang mencoba untuk mengompres tubuh Arya Susena yang terasa sangat panas.
"Itu adalah dampak pemulihan setelah terkena anak panah banaspati. Meskipun itu tidak berbahaya tetap kita tetap saja harus waspada."
"Sebenarnya dia bertarung dengan siapa nini?. Sehingga dia mengalami luka yang sangat parah seperti ini?."
"Melalui mata batin penglihatanku, pada saat itu dia berhadapan dengan seseorang yang memiliki dendam di masa lalu."
"Sebagai seorang pendekar kegelapan, tentu saja dia memiliki banyak musuh yang sangat sakit hati kepadanya. Aku telah menyaksikannya beberapa kali ketika ia berhadapan dengan pendekar-pendekar kegelapan lainnya." Nismara tentunya mengetahui bagaimana sepak terjang Arya Susena selama ini.
"Dia adalah pendekar yang sangat kuat. Anak muda yang lahir dari bara api dendam yang telah menguasai tubuhnya. Dendam bara api yang menguatkan tubuhnya ketika ia menerima serangan apapun dari pihak luar." Nini siluman Gagak Hitam tentunya dapat merasakan bagaimana hawa hitam yang kadang mempengaruhi tenaga dalam Arya Susena.
Kembali alam bawah sadar Arya Susena.
Saat itu matanya benar-benar melihat bagaimana pertarungan yang ia lakukan pada saat itu. Bagaimana gandasnya pertarungan yang ia lakukan kepada dua orang pendekar itu.
Duakh!. Duakh!.
Arya Susena kalau berhasil menghajar Jalak Suren dengan memberikan pukulan yang kuat ke arah tubuh Jalak Suren, dan bahkan tendangan pun diarahkan ke tubuh musuh. Jurus pukulan bayangan hitam miliknya cukup membuat dada Jalak Suren lupa cara untuk bernapas dengan baik. Jalak Suren benar-benar sangat tidak berkutik dengan apa yang telah ia terima pada saat itu.
"Hyah!." Ayu Pandan tentunya tidak tinggal diam, saat itu ia mengarahkan sebuah tendangan yang sangat keras ke arah Arya Susena. Sangat disayangkan sekali pemuda itu menyadari serangan itu dan menangkisnya.
"Sekarang giliranmu." Setelah berkata seperti itu ia cengkram kuat pergelangan kaki itu dan ia hentakan ke tanah, sehingga wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Arya Susena padanya. Posisinya yang pada saat itu split ke depan?. Hingga ia tidak bisa bergerak dengan kondisinya yang sekarang?.
Meskipun kondisinya yang seperti itu, Ayu Pandan lantas menerima begitu saja?. Dengan cepat ia menyalurkan hawa murninya ke telapak tangannya ke tubuh Arya Susena, hingga terjajar ke belakang?. Ayu Pandan segera bangkit dan melompat beberapa meter untuk menjaga.
Arya Susena sedikit merinding karena hawa murni dari perempuan itu telah mempengaruhi hawa murninya. Dengan cepat Arya Susena kembali mengatur hawa murninya agar tidak kacau.
"Boleh juga kau!." Setelah berkata seperti itu ia kembali memainkan jurusnya. Tak berselang lama ia melompat ke arah Arya Susena, dan lebih tepatnya tubuhnya seperti melayang di udara sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan.
Arya Susena menyadari serangan itu bukanlah serangan biasa. Arya Susena juga memainkan jurus andalannya untuk menghentikan serangan dari Ayu Pandan.
"Kegh!. Kurang ajar!. Tubuhku benar-benar sakit semua. Siapa sebenarnya anak muda itu?. Mengapa dia memiliki tenaga dalam yang sangat kuat?." Jalak Suren mencoba untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya.
Namun saat itu ia sangat terkejut ketika ia melihat kekasihnya itu dihajar habis-habisan oleh Arya Susena dengan menggunakan pedang aneh. Pedang yang memancarkan hawa petir yang sangat berbahaya, hawa petir yang dapat membuat seseorang mati rasa.
"Kegh!." Ayu Pandan meringis sakit dengan kondisi tubuhnya yang seperti sedang tersengat oleh ribuan petir yang sangat berbahaya.
"Terima lah kematianmu." Arya Susena dengan pedang halilintar pembelah raga menebas tubuh Ayu Pandan.
"Ayu pandan!." Jalak Suren yang memperhatikan itu merasakan luka yang sangat dalam di hatinya karena ia tidak sanggup melihat bagaimana keganasan yang diperlihatkan oleh Arya Susena.
__ADS_1
"Ya, aku ingat dengan kejadian itu." Dalam hatinya sangat ingat, dan ia malah melihat apa yang terjadi di masa lalu melalui alam bawah sadarnya?. "Wanita kejam itu telah melakukan hal yang salah. Karena itulah aku membunuhnya." Arya Susena tidak akan pernah lupa itu.
...***...