
...***...
Di bilik Ratu Arundaya Dewani.
"Sungguh ia tidak menduga sama sekali, jika kanda prabu kembali pada dinda. Dinda sangat cemas menunggu kanda." Ratu Arundaya Dewani menyandar dengan sangat mesra pada bahu prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
"Dinda tenang saja. Kanda kembali, itu karena kanda sangat mencemaskan dinda." Ucap mengalir begitu saja. "Maafkan kanda, karena kanda belum bisa kembali semudah itu." Ucap Prabu Maharaja Kanigara Maheswara sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi kenapa kanda meninggalkan dinda selama itu?." Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
"Harusnya kanda kembali secepatnya, hanya saja belum memiliki kesempatan." Matanya seakan-akan kosong menatap sekitarnya.
"Kita harus merebut kembali istana ini kanda. Dinda terpaksa menikah dengan kanigara rajendra, demi melindungi putra kita." Hatinya terasa sangat sakit saat memikirkan itu semua.
"Maafkan, jika kanda telah memberikan beban yang sangat berat pada dinda." Kata maaf yang saat itu terucap dari Prabu Maharaja Kanigara Maheswara.
...***...
Kembali ke pertarungan Arya Susena melawan patari dan Darsana. Saat itu mereka sama-sama menyiapkan pukulan tenaga dalam yang telah mereka keluarkan?.
Duar!!.
Terdengar suara letusan atau ledakan yang sangat kuat, namun kekuatan itu menuju arah belakang mereka?. Akan tetapi apa yang terjadi saat itu?. Setelah tenaga dalam mereka kerahkan, saat itu ada dua orang pendekar yang keluar dari arah belakang Arya Susena, dan sepasang pendekar dari arah belakang Patari dan Darsana?.
Deg!.
Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut ketika melihat itu. "Apa yang terjadi sebenarnya?. Siapa orang-orang yang keluar itu?." Dalam hatinya keheranan melihat itu.
"Akhirnya cecunguk busuk seperti kalian keluar juga." Arya Susena mendekati patari dan Darsana.
"Apa?. Jadi tujuan pertarungan mereka adalah untuk memancing mereka keluar?. Tapi bagaimana bisa arya susena mengetahui itu?." Raden Kanigara Lakeswara sangat tidak percaya dengan yang ia saksikan. "Tapi apakah harus seperti itu cara membuat musuh keluar dari persembunyiannya?." Raden Kanigara Lakeswara seperti kehilangan kata-kata.
"Raden jangan terkejut seperti itu. "Bajra hanya tersenyum saja. "Kemampuan arya susena, nini patari dan darsana mendeteksi keberadaan musuh menang sangat luar biasa." Lanjutnya. "Rasanya sangat bangga memiliki teman seperti mereka." Dalam hatinya merasa sangat kagum dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Apa tujuan kalian mengikuti kami. Apakah kalian berniat untuk mengganggu perjalanan kami?!."
"Bagaimana menurut kalian dengan ini?." Pendekar wanita itu melemparkan sebuah gulungan yang berisikan tentang Sayembara yang telah dikeluarkan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.
"Kami telah menemui banyak kelompok pendekar, kami menanyakan pada mereka." Matanya melirik ke arah mereka semua. "Mereka tidak mau mengaku jika mereka adalah kelompok dari pendekar kegelapan." Tatapannya berubah menjadi lebih tajam. "Apakah kalian yang dinamakan kelompok pendekar kegelapan?."
"Lantas?. Apa tujuan kalian?." Arya Susena mengamati mereka.
"Tentu saja kami akan membinasakan mereka seperti pada sayembara itu." Dengan sangat tegas ia berkata seperti itu.
"Kalian memang datang pada orang yang sangat tepat." Ucapnya dengan sangat santai. "Kami memang kelompok pendekar kegelapan. Lantas kalian mau apa?." Ia seperti sedang menantang mereka semua untuk bertarung.
Deg!.
"Arya!."
__ADS_1
Mereka semua sangat terkejut dengan ucapan Arya susena.
"Jadi kalian memang kelompok pendekar kegelapan?."
Keempat pendekar itu sama sekali tidak menyangka itu.
"Hei!. Apakah itu tidak apa-apa?. Apakah kita akan meng hadapi mereka?." Raden Kanigara Lakeswara sangat tidak mengerti, namun saat itu ia memasang kuda-kuda siaga untuk menyerang musuh.
"Arya. Kami serahkan padamu." Patari dan Darsana dengan sangat santai meninggalkan Arya Susena, mereka malah mendekati Bajra, Nismara dan Raden Kanigara Lakeswara yang tampak kebingungan.
"Kenapa kalian malah membiarkannya bertarung sendirian?." Raden Kanigara Lakeswara Menger nyit heran. "Apakah kalian tidak cemas dengan keselamatan arya susena?."
"Tenanglah raden." Nismara serius menatap ke depan. "Apakah raden tidak penasaran dengan ilmu Kanuragan yang dimiliki arya susena?." Ucapan itu terdengar seperti mengundang rasa penasaran Raden Kanigara Lakeswara.
"Aku memang sangat penasaran dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara.
"Jadi kami memang datang pada orang yang tepat?."
"Tidak usah banyak bicara." Arya susena melangkah maju. "Aku tahu kalian ikut sayembara itu karena kedudukan, juga harta yang tertulis pada lembaran itu." Lanjutnya, sambil memainkan sebuah jurus aneh.
"Baiklah. Kalau kau tidak suka tegur sapa terlebih dahulu."
"Aku harap kau tidak menyesal. Karena kau tidak mau berkenalan dulu dengan kami."
"Kita tangkap saja dia dulu, nanti kita tangkap yang lainnya."
"Kalian pikir?. Aku dan temanku akan mudah kalian tangkap?. Dan Menjadi batu loncatan kalian untuk mendapatkan kesenangan dunia?." Tiba-tiba saja udara sekitar telah berubah menjadi ganas.
"Heh!. Akhirnya setelah sekian lama akhirnya ia memainkan jurus itu." Dalam hati Bajra mengamati bagaimana Arya Susena memainkan jurus itu.
"Bagaimana mungkin angin sekitar tiba-tiba saja menjadi anh seperti ini?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara tidak menduga dengan apa yang ia rasakan saat itu.
"Kurang ajar!." Dempa, itulah nama seorang laki-laki yang berbadan besar. "Berani sekali kau merendahkan aku." Ucapnya sambil menghentakkan senjatanya yang berupa tongkat pemukul besi kematian. Itulah yang ia berikan nama untuk senjatanya miliknya.
"Maju saja kalau kau penasaran. Tidak usah mengumpat seperti orang bodoh." Ucap Arya susena terus memancing amarah musuhnya.
"Dengan senang hati." Dempa langsung maju menyerang Arya Susena.
"Tunggu!." Sareh juga ikut menyerang. "Aku tidak akan mungkin diam saja." Sareh mulai mengeluarkan senjata dalam bentuk cambuk api yang sangat panas.
"Apa yang harus kita lakukan kakang?. Apakah kita perlu ikut bertarung?" Sarathina sangat heran. Apa lagi saat itu matanya menangkap Dempa dan Sareh yang terlebih maju untuk menyerang Arya susena.
"Kita amati saja terlebih dahulu, mungkin kita dapat melihat sesuatu nantinya." Bngka tidak ingin terburu-buru. "Kita lihat seberapa kuat pemuda itu."
"Baiklah jika memang seperti itu kakang."
Dempa dengan menggunakan tongkat pemukul best kematian. Tongkat besar yang dihiasi paku-paku tajam itu melayang ke arah tubuh Arya susena. Akan tetapi Arya susena saat itu telah menghalau pukulan itu dengan menggunakan tenaga dalamnya. Sehingga pukulan yang bertubi-tubi yang hampir saja mengenai dadanya dapat ia tahan dengan kekuatannya. Namun bukan hanya itu saja, Sareh tidak mungkin berdiam diri saja melihat pertarungan itu. Sareh juga ikut bertarung, ia lepaskan satu lecutan yang sangat kuat ke arah Arya Susena dan Dempa.
Sangat disayangkan sekali, saat itu Arya Susena menyadari serangan itu, dan saat itu dengan gerakan yang sangat cepat Arya Susena memberikan sebuah hadiah sepakan ke lutut Dempa dengan sangat kuat, sehingga laki-laki itu tertunduk?.
__ADS_1
"Kegh!."
Dan saat yang bersamaan Arya Susena melompat tinggi sehingga cambuk yang dilepaskan Sareh mengenai tubuh Dempa.
CTAR!.
"Keghakh!."
Dempa berteriak sangat keras. Tubuhnya sangat panas, sangat sakit, dan kulitnya melepuh hangus terbakar.
Deg!. Mereka semua sangat terkejut melihat pemandangan yang seperti itu.
"Dempa!." Sareh langsung mendekati Dempa yang terguling di tanah.
Beda lagi dengan Nismara, Bajra, Darsana dan Patari yang malah bersorak, dan tepuk tangan melihat adegan yang. menegangkan itu.
"Pertunjukan yang sangat hebat arya." Bajra melambaikan tangannya ke arah Arya Susena.
"Pertunjukan katanya?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara bergidik ngeri dengan ucapan Bajra. "Tapi arya susena sangat hebat sekali. Dia memanfaatkan serangan cepatnya untuk mengalihkan perhatian musuh, dan siapa yang menduga serangan itu malah mengenai musuhnya." Raden Kanigara Lakeswara memperhatikan itu dengan sangat teliti.
"Apa yang harus kita lakukan kakang?. Apakah kita akan mampu mengalahkan bocah itu?."
"Maju saja nini. Bukankah kau tadinya memang ingin bertarung dengan aku?." Dengan sangat santainya ia memainkan buku-nuku jarinya. "Kenapa kau malah terlihat ragu seperti itu?. Apakah kau takut dengan bocah seperti aku?."
"Kunyuk busuk!. Akan aku hajar mulutmu itu."
"Siapa yang kau sebut kunyuk busuk?!." Arya Susena langsung melompat ke arah Sarathina yang tampak terkejut dengan serangan dadakan yang dilakukan Arya Susena.
"Kurang ajar!. Aku juga harus membantunya." Bengka tentunya tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja, sehingga ia ikut bertarung.
"Ada apa raden?." Nismara hampir saja tertawa melihat raut wajah Raden Kanigara Lakeswara.
"Dia marah hanya karena dipanggil kunyuk busuk?."
"Dia memang seperti itu raden. Darahnya akan selalu meledak-ledak jika ada yang berani mengatakan hall yang seperti itu."
"Dia itu kalau bertarung sangat ganas, jadi kami memilih mundur saja jika bertarung satu gelanggang colong pelayu bersamanya."
"Apakah dia sangat ganas?. Sehingga kalian takut padanya?."
"Raden bisa melihat sendiri bagaimana dia bertarung."
Itulah alasan kenapa Patari dan Darsana mempersilahkan Arya Susena untuk bertarung seorang diri, bukan berarti mereka tidak peduli sama sekali pada pemuda itu. Hanya saja cara bertarung yang diperlihatkan Arya Susena agak lain dari yang lain.
Sementara itu Sareh sedang berusaha untuk mengobati temannya yang terkena serangannya tadi. Tenaga dalamnya telah ia salurkan pada temannya itu, akan tetapi pada saat itu tidak ada pengaruh sama sekali.
"Kurang ajar!. Kenapa tidak bisa diobati sama sekali." Dalam hatinya sangat marah yang sangat luar biasa.
...***...
__ADS_1